Sehingga Agama ini Hanya Milik Allah Semata

Sehingga Agama ini Hanya Milik Allah Semata


Amir Istisyhadiyin Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi Rahimahullah

Diterjemahkan oleh : Al-Akh Abu Mortar Al-Jatimy

Al Qo’idun Group

Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya.
Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, manusia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam.

Amma Ba`du…

Wahai umat Islam…

Terimalah sebuah kabar gembira, sebentar lagi negara Al-Quran akan lahir. Garis-garis waktu subuh mulai merekah setelah melalui gelapnya malam yang panjang, dan setelah mimpi buruk di kegelapannya dilalui oleh umat ini sejak awal. Dengan anugerah dan bimbingan Alloh, putra-putra terbaik kalian berhasil mematahkan gempuran Amerika sekaligus menghancurkan kesombongannya yang semu. Kekuatan tiran Amerika yang tak henti-hentinya memerangi agama Islam di bumi Irak itu kini tak ubahnya seperti boneka yang mempertontonkan keberingasan “mengerikan” di sana-sini yang hampir saja terguling hanya dengan tusukan jarum.

Amerika datang sembari berangan-angan dan bermimpi untuk disambut dengan karangan dan taburan bunga, bak disambutnya para penakluk budiman. Ia tidak mengerti kalau “akar Keislaman” masih menancap kuat dalam lubuk hati yang paling dalam, di mana tak seorang pun raja yang bengis atau penguasa yang keras –apapun bentuknya—untuk memadamkannya atau mencabutnya dari dasar jiwa. Amerika dikejutkan dengan keberadaan sesosok umat yang hidup dan pemuda muslim yang mulai dan punya harga diri, yang tidak mau dihinakan dan tidak rela dengan kelaliman. Tidak lama kemudian, Amerika bertangisan dan jatuh terjerembab sembari menjilati luka-lukanya. Baru lah nampak di hadapannya, ternyata ufuk itu gelap, dan ternyata umat ini tidak bisa dikalahkan.

Akhirnya mereka menggunakan cara lain, yaitu melancarkan makar dan tipu daya yang mereka memang sudah ahli dalam hal itu, melalui kerjasama dengan orang-orang munafik dan pengkhianat yang berasal dari orang-orang yang sekulit dengan kita. Telah dimulai barisan baru berupa tipu muslihat yang bertujuan untuk mencabut sumbu jihad dan memadamkan sumbernya dari hati orang-orang beriman.

Tentang Pemerintahan “KARZAI-ISME”:
Sebuah teori pemikiran menuai respon positif dan keberhasilan nyata di Afghanistan… maka, eksperimen ini harus kembali diulang. Umat Islam di sini, di Irak, harus kembali ditipu dan dibuatkan makar baru untuknya, berupa pemerintahan Irak yang demokratis. Sungguh, alangkah cepat semua itu berlalu. Di balik permainan ini, Amerika menginginkan beberapa urusan:

Pertama: Menyelamatkan darah orang Amerika “yang mahal dan tinggi nilainya”. Tentara Amerika sendiri telah membuktikan bahwa mereka adalah makhluk paling penakut dan lemah, serta menjadi sasaran “empuk” bagi pedang-pedang mujahidin. Mujahidin berhasil “memanen” kepala-kepala mereka. Tekhnologi mutakhir dan senjata pemusnah yang cerdik itu tak mampu melindungi mereka dari luka-luka. Atas dasar ini, maka hendaknya yang melindungi mereka adalah para budak berkulit coklat, para milisi yang murah harganya, yaitu yang berasal dari masyarakat “dunia ketiga”. Mereka dipakai sebagai tameng untuk Amerika untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan mujahidin. Mereka juga harus menjadi pasukan “penyapu ranjau” dan pasukan terdepan dalam bertempur melawan umat mereka sendiri. Sebab mereka lebih mampu dan dahsyat dan lebih mematikan dalam berperang melawan mujahidin. Sementara “si tuan Amerika” tinggal bersenang-senang di pangkalan-pangkalan militernya, jauh dari api peperangan. Lihatlah Amerika, mereka menggiring ribuan orang-orang seperti ini untuk menginjak umat Islam dengan memberikan imbalan seonggok dunia dan secuil harta yang –pada aslinya— mereka curi dari kekayaan dan kandungan alam negeri yang dermawan ini juga (Irak).

Kedua: Saksi sejarah dan pengalaman terkini menunjukkan bahwa penjajahan “tidak langsung” merupakan senjata yang lebih efektif dalam menghadapi umat ini. Jika tadinya orang kafir asing memimpin langsung dalam merampok umat dan merampas harta kekayaannya serta memperbudaknya, maka sebagai gantinya sekarang yang melakukan semua itu hendaknya adalah orang-orang munafik yang warna kulit dan logat bahasanya sama dengannya. Lihatlah negara-negara Arab di sekeliling kita yang dikendalikan dari Gedung Putih melalui agen-agen penghubung yang “sangat tulus” kepada para majikannya. Mereka menghinakan umat dan menimpakan kenistaan dan kerendahan kepadanya, serta menjualnya di pasar budak dengan harga yang murah. Mereka persembahkan putra-putra umat sebagai korban penyembelihan “sang majikan”, Amerika. Dengan demikian, eksperimen ini harus kembali diulang di Irak.

Ketiga: Belum lama ini, Collin Powell dengan terang-terangan menegaskan, di hadapan sebuah gerakan organisasi Yahudi, “Perang kita terhadap Irak adalah untuk membebaskan Israel dari bahaya Irak.” Karena ternyata Amerika tak mampu melakukan tugas ini, maka mereka mesti melimpahkannya kepada orang-orang munafik yang sekulit dengan kita, sebab itu lebih kuat dan lebih mampu. Bukankah “si mata satu” Mossa Diyan, dulu pernah mengatakan, “Negara-negara Arab itu kedudukannya seperti anjing-anjing yang menjaga kita.” ?! Bukankah orang-orang murtad dari kalangan mereka yang sekulit dengan kita telah melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya serta menjaga Israel dengan penjagaan yang begitu ketat? Lihatlah Iyadh Allawi, yang telah berjanji, dan kini bersiap-siap, untuk melaksanakan tugas yang sama. Maka, diserahkan sajalah tugas itu kepadanya.

Keempat: Semakin cepatnya daerah gembala Pemilu gaya Amerika berkembang, maka harus dibarengi dengan pencapaian-pencapaian target –walaupun semu—dari si penggembala sapi. Demikianlah semua permasalahan dan masa depan umat ini diperlakukan, untuk menjadi sekedar lembaran-lembaran kertas pemilu di tangan para penggembala sapi.

Di sini, kami katakan kepada pemerintahan Amerika dan negara-negara di dunia yang berada di belakangnya:

1. Di sini, kami tidak berjihad demi membela tanah air atau batas-batas territorial semu negara yang dihasilkan oleh perjanjian Sieksy-Piccot. Kami juga tidak berjihad dengan tujuan agar thoghut Arab menempati posisi thoghut Barat. Akan tetapi jihad kami lebih tinggi dan lebih luhur, kami berjihad agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya menjadi milik Alloh.” Dan siapa saja yang melawan tujuan kami ini dan menghadang di atas jalan menuju tujuan tersebut, maka ia menjadi sasaran pedang-pedang kami –siapapun namanya dan setinggi apapun nasab keturunannya—.

Sesungguhnya, kami memiliki agama yang diturunkan oleh Alloh sebagai neraca penilai dan pemutus hukum, kata-katanya adalah pemutus, dan hukumnya bukanlah main-main. Itulah nasab hakiki yang menghubungkan antara kami dan manusia lain. Dengan memuji Alloh, sesungguhnya neraca-neraca penilai kami berdasarkan ajaran langit, hukum-hukum kami berdasarkan Al-Quran, dan keputusan-keputusan kami berdasarkan petunjuk Nabi. Seorang Amerika yang muslim adalah saudara yang kami cintai, sementara orang Arab yang kafir adalah musuh yang kami benci, walau pun kami dan dia berasal dari rahim yang sama.

2. Setiap muslim adalah saudara yang akan kami bela dan lindungi. Dan hendaknya setiap umat Islam di manapun ia berada mengetahui bahwa kami belum –dan tidak akan pernah—berani membunuh seorang muslim yang darahnya terlindungi, atau menumpahkan darah yang haram. Itu mustahil dan tidak akan pernah mungkin kami lakukan.

3. Telah berlalu bagi umat ini masa menyusu kepada kehinaan dan kerendahan. Telah berlalu pula masa di mana masa depannya yang dijanjikan dicuri oleh tangan-tangan kaum munafik yang sekulit dengan kita. Di masa lampau, umat telah mengorbankan segala yang mahal maupun yang murah, mereka berperang, bertanding, dan berjihad melawan orang kafir penjajah, akan tetapi tanpa disadari dan dengan begitu polosnya, tanpa sedikitpun terdapat rasa cemburu, mereka mengizinkan kaum oportunis munafik untuk menerima tampuk kekuasaan dan menempati posisi kepemimpinan. Akibatnya mereka memberlakukan umat Islam dengan perlakuan yang orang kafir asing sekalipun tidak mampu melakukannya walau hanya sebagian kecil. Pengalaman pahit ini senantiasa hadir dalam benak kami dan tergambar di depan mata kami. Dan kami tidak akan pernah membiarkan itu terulang kembali, dengan izin Alloh.

Dengan memuji Alloh, putra-putra terbaik kalian berhasil menghidupkan kembali fiqih (pemahaman) para pendahulu kita yang sholeh (salafus sholeh) dalam memerangi kelompok-kelompok yang murtad, dan berhasil melaksanakan hukum Alloh terhadap orang-orang murtad dan menolak untuk melaksanakan syariat-syariat Alloh. Dan jihad kami akan terus berlanjut, tidak memilah antara orang kafir barat atau orang murtad arab, sampai khilafah islamiyah kembali ke muka bumi atau kami binasa karenanya.

4. Adapun kamu, hai yang menjadi tentara dan polisi; sadarlah bahwa engkau telah mengulang kejahatan-kejahatan yang sama dengan sebelumnya. Sebelum ini, kalian telah rela menjadi “sepatu” bagi si thoghut Saddam Husein, yang ia pakai untuk menginjak kemuliaan dan kehormatan umat Islam. Denganmu lah ia menteror keamanan masyarakat, dan dengan senjatamu lah ia membunuhi rakyat tak berdosa. Kisah yang terus berulang ini selalu kita temui di mana pun kita melihat sepanjang sejarah dunia Islam; para tirani yang zalim menyiksa dan menghinakan umat yang lemah. Semua itu melalui kamu, wahai tentara.

Adapun kami, kami tidak akan pernah membiarkan kalian menghancurkan harapan-harapan kami pada jihad penuh berkah ini. Kami tidak akan mengizinkan kamu menguasai masa depan cemerlang kami, di mana tanda-tanda awal kehadirannya mulai muncul di ufuk. Kami telah menghukumi kamu dengan hukum Al-Quran: “Sesungguhnya Firaun, Haman, dan pasukan keduanya itu adalah orang-orang yang keliru.” Dan kami akan coba berlakukan kepada kalian ketentuan ilahi: “Maka Kami siksa Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami campakkan mereka di lautan…”

5. Setiap kali aku teringat saudari-saudari kami yang tadinya bebas kini di penjara kaum salibis, dan setiap kali terlintas pada pandanganku foto seorang wanita yang kehilangan anaknya yang dipaksa untuk menenggak gelas yang dipenuhi air mani para penyembah salib, maka seolah-olah bumi ini mengguncang diriku. Dan aku berjanji kepada Alloh untuk membalasnya kepada setiap tangan yang ikut andil dalam melakukan persekongkolan ini.

Aku menangis karena wanita-wanita itu, celakalah ia…
Ia digiring ke pengasuhan-pengasuhan hina dari orang-orang jahat…
Kemarin kalian masih bebas…

dan Tiada satu pun tangan yang berani mendekat, jauh sejauh bintang di langit…
Dan hari ini, kita merasakan menjadi tawanan…
Mereka merasakan kehinaannya…
Lalu mereka menangis dengan tangisan budak, seperti pohon `Andam…

Dan aku tak habis-habisnya merasa keheranan, bagaimana mungkin seorang muslim yang bebas yang di dalam dirinya masih ada agama, sementara ia melihat kehinaan seperti ini, masih rela untuk menjadi tentara para penyembah salib itu, atau menjadi polisinya orang-orang kafir itu?! Sudah hilangkah perasaan dalam diri mereka, sudah terlepaskah mereka dari agama mereka?! Sungguh kami telah berjanji kepada Alloh dan kami mengambil sumpah yang besar pada diri kami, untuk tidak bersikap lunak dan mundur sampai kami berhasil menyelamatkan wanita-wanita itu dan kami membalas dendam terhadap kehormatan yang diperkosa dan harga diri yang dijatuhkan.

6. Adapun kamu, wahai Iyadh Allawi…maaf, wahai tuan perdana menteri “yang terpilih secara demokratis”; sesungguhnya kami telah siapkan untukmu racun mematikan dan pedang yang siap memenggal, kami juga telah penuhi untukmu gelas yang menyeruakkan semerbak dan aroma kematian. Kamu telah berhasil lolos berkali-kali –tanpa kau sadari— dari ranjau yang telah ditepatkan dan kami pasang untukmu. Akan tetapi, kami berjanji kepadamu untuk menyelesaikan langkah hingga akhirnya. Kami tidak akan merasa letih atau bosan sampai kami “minumkan” kepadamu gelas yang telah kami minumkan kepada Izzuddin Salim, atau kami yang binasa karenanya. Karena kalian adalah symbol-simbol kejahatan, pentolan-pentolan kekafiran, dan symbol pengkhianatan serta kehinaan. Kalian adalah orang-orang munafik, “…mereka itu pada hakikatnya adalah musuh, maka waspadailah mereka. Semoga Alloh binasakan mereka, bagaimana bisa mereka terpaling.”

7. Waspadalah…sekali lagi waspadalah dari sebuah makar besar, yang disusun oleh Amerika bersama “Karzai” Irak yang baru, yang bertujuan untuk mencuri kemenangan yang dihasilkan oleh putra-putra kalian di Fallujah. Bukan rahasia lagi bagi kalian, bahwa Amerika telah menyiapkan penjara-penjara militer yang besar, ia berniat menghinakan semua lelaki Fallujah dan memperkosa kehormatan-kehormatan mereka karena ingin membalas dendam dari kehormatannya yang diinjak-injak di gerbang pintu masuk kota tersebut.

Akan tetapi, mereka dikagetkan –ini berdasarkan kesaksian para komandan dan pemimpin mereka sendiri—dengan keberanian dan kepahlawanan yang sulit dicari kesamaannya dalam sejarah. Maka melesetlah panah mereka, dan kekuatan mereka mundur dalam keadaan hina. Maka semakin besar saja kedengkian dan kemarahan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk “menculik” rasa senang dari kemenangan itu, tapi dengan bekerjasama dengan orang-orang murtad yang sekulit dengan kami, demikian juga –yang menyedihkan— dengan beberapa tetua kabilah yang telah terlepas dari agamanya, dengan alasan karena diriku ada di Fallujah. Padahal asumsi mereka itu dusta. Orang-orang dungu itu tak tahu bahwa aku berjalan-jalan dengan leluasa di negeri Irak –dengan anugerah Alloh—.

Aku bisa bertamu ke tempat kerabat dan saudara-saudaraku di seluruh penjuru negeri ini. Sebenarnya, semua yang mereka lakukan hanyalah alasan untuk melakukan balas dendam. Hendaknya kalian selalu waspada, mata kalian mengarah kepada musuh sementara jari-jari kalian berada pada pelatuk senapan, “dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal-amal kalian.”

8. Adapun engkau, wahai umatku tercinta; menurutku tidak ada lagi ada orang yang masih berakal yang mempercayai kebohongan sistem demokrasi yang sering dijanji-janjikan, setelah terdengarnya “jeritan-jeritan penjara Gharib” dan skandal pelecehan yang menimpa tahanan di Guantanamo. Dan hanya kepada Alloh kami mengadukan sikap diam dan tak mau membantu yang mengherankan dari umat ini –ulamanya, dai-dainya, mau pun orang-orang awamnya—. Ada apa sebenarnya dengan dirimu, wahai Umat Islam! Apakah kamu rela berlama-lama dalam kehinaan dan takluk dalam kenestapaan?! Ketidak pedulian dan sikap “masa bodoh” ini…sampai kapan?

Adapun kalian wahai ulama-ulama penguasa, mengapakah tidak kalian keluarkan fatwa untuk memanjatkan doa qunut demi melawan Amerika seperti ketika kalian keluarkan fatwa untuk memanjatkan doa guna melawan para mujahidin di Jazirah Muhammad Shollallohu `alaihi wa Sallam? Sungguh kalian telah mengingatkan kami –dengan fatwa yang kalian keluarkan tersebut—mengenai kelakuan Bal`am bin Ba`uro`, ketika ia dibujuk oleh kaumnya agar mendoakan kehancuran Nabi Musa `Alaihi `s-Salam. Mereka terus membujuknya sehingga akhirnya ia pun memanjatkan doa tersebut. Akhirnya Alloh menghukumnya –karena ia mengetahui ilmu tentang ayat-ayat Alloh— dengan menjadikan lidahnya senantiasa terjulur. Kami juga memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala agar memperlakukan kalian dengan tindakan yang sama. Karena kalian telah mengikuti langkah dan jejaknya.

Wahai umat Islam…

Kita tidak membutuhkan pelajaran mengenai arti-arti kebebasan mau pun tekhnik-tekhnik pemerintahan dari para “penggembala sapi”; sungguh Alloh telah cukupkan kita dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi –sholawat dan salam semoga tercurah kepada beliau. “Tidakkah cukup bagi mereka, bahwa Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) yang dibacakan kepada mereka…?” Benar, demi Alloh, Alloh telah mencukupi dan memberi kesembuhan… Benar, demi Alloh, Alloh telah mencukupi dan memberi kesembuhan.

Dan terimalah kabar gembira yang akan membuatmu senang, wahai umat Islam, dengan pertolongan Alloh tanda-tanda awal datangnya kemenangan telah mulai datang. Kedepan, bakal berlangsung baku serang dan duel antara kita dengan orang-orang kafir dan murtad. Dan Alloh Maha memenangkan urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dan segala puji hanya milik Alloh robb semesta Alam.

Abu Mus’ab Al-Zarqawi

sumber : Situs Jihad Al-Qo’idun

Add comment 29 June 2008

Di Manakah Orang-orang Perwira?

Di Manakah Orang-orang yang Perwira ?


Amir Istisyhadiyin Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi Rahimahullah

Diterjemahkan oleh : Al-Akh Abu Mortar Al-Jatimy

Al Qo’idun Group

Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya.

Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, manusia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam.
Amma Ba`du…

Umatku… wahai umat pembawa pedang dan pena…

Mengapakah pedang dan mata pena kalian terpatahkan? Padahal kalian dulu adalah kaum yang mulia di atas bintang gemintang. Mengapa hari ini kalian terjerembab di bawah kaki para agresor dan debu-debu kuda penjajah?

Umatku yang mulia…

Kali ini aku berbicara kepada kalian tentang sebuah masalah yang membuat diriku sedih. Tidakkah kalian dengar desisan ular yang sedang mengendap-endap dalam gelapnya kelalaian kalian? Ia hendak menerkam masa depan kalian..

Umatku yang tercinta…

Biarkan aku lontarkan perkataan yang tercampur oleh tanahku, tetapi lafadznya meluncur dengan bahasa langit.

Biarkan aku menasehatimu di persimpangan jalan yang sulit. Agar engkau mengetahui dengan jelas akan sebuah petunjuk…agar engkau kumpulkan kembali kekuatanmu…sebab aku khawatir, kita akan menyesal di saat penyesalan tidak lagi berguna.

Sungguh, semua orang, baik yang jauh maupun yang dekat, telah sama-sama mengetahui adanya persekongkolan syetan; yaitu segi tiga kekuatan kafir dan makar di negeri dua aliran sungai (Irak dan sekitarnya):

Pertama: Amerika, si pengusung bendera salib.

Kedua : Orang-orang Kurdi yang tergabung dalam milisi Basymarqoh, yang didukung oleh militer yahudi. Di bawah pimpinan dua boneka AS, Al-Barzani dan Tholabani.

Ketiga: Orang-orang Rafidhah (Syiah). Musuh kaum sunni (Ahlussunnah), yang dalam hal ini diwakili oleh pasukan militer bulan purnama (Failiq Badr), dan partai yang Dakwah, yang pada hakikatnya menyeru kepada syetan.

Adapun pimpinan mereka, si pengkhianat, Iyadh Allawi, insya Alloh telah menjadi target anak panah kami.

Hai pengkhianat! Hentikan sendawamu terhadap kami. Hentikan angin perutmu terhadap sesamamu. Lalu tunggulah…. Maka yang terbersit pada wajahmu telah dekat dengan kami, atas izin Alloh. Maka tunggulah malaikat maut ketika dirimu berada di gundukan pasirmu bersama tongkat penyanggamu, yaitu teman-temanmu tukang berkelakar dari kalangan anggota pemerintahanmu.

Jika kamu bersama para pengemban salib, maka kami bersama Alloh yang Maha mengabulkan doa lagi Maha dekat. Dan kamu tidak akan bisa lari dari Alloh di bumi ini, sungguh hari esok sangat dekat bagi orang yang menunggunya.

Umatku….

Inilah hakekat Rofidhoh, pelaku sejarah hitam
“Masih saja dimunculkan kisah setiap hari yang diceritakan
dan kata-kata tentang seorang pelayan yang dibuat-buat
Dialah pengkhianat umatnya yang melemparkan tali ke arahnya
Berupa tipuan-tipuan, hingga ia pun terjerat.
Seperti serigala yang mengarahkan pandangan beracun kearahmu,
Walaupun ia tampil sebegitu elok….
Alangkah jauh beda antara pemuda yang hatinya
Dipenuhi rasa yakin dengan orang yang sekedar mengaku dan berkoar-koar
Pelaku kesesatan tak hentinya berbuat angkuh
Dadanya sempit terlipat lantaran kedengkian….”

Sungguh pemimpin kafir salibis telah mempraktekkan peribahasa: “Singsingkan baju, kenakan sarung, lalu gunakan kulit Harimau,” dengan menyerang Najaf, padahal Najaf merupakan tujuan sebenarnya, ataukah mereka bersiap-siap menyerang yang lain?

Umatku….

Nanti dulu, perhatikan baik-baik. Najaf bukan tujuan utama mereka, akan tetapi tujuan utama mereka adalah Segi Tiga Wilayah Sunni, yang penduduknya memiliki tekad kuat dan semangat tinggi.

Dan aku bersumpah demi Dzat yang telah meninggikan tujuh lapis langit, yang mematahkan leher para thoghut, dan yang menghinakan tengkuk mereka, bahwa kepala Amerika telah tersungkur ke tanah di sini. pahlawan-pahlawan kita telah menginjaknya sehingga mitos tentangnya tak ubah seperti fatamorgana.

Sungguh, merekalah rekan-rekan mujahidin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Merekalah yang menimpakan kehinaan kepada pasukan sekutu. Menamparnya dengan tamparan yang tak terlupakan, memberikan pelajaran yang membuat mereka terpanggang dalam api dan membuat mereka menggelepar kesakitan karenanya sampai saat ini.

Pelajaran yang menjungkirkan bendera-bendera mereka, mengguncang pijakan-pijakan kaki mereka, dan membuyarkan fikiran mereka hingga rasa takut menyelinap pada persendian mereka, dan keputus asaan menggerogoti tulang mereka. Bagaimana tidak? Sementara para pahlawan kita telah menghajar mereka habis-habisan hingga mereka lihat sendiri kepengecutan serdadu Amerika.

Yach, begitulah! Mereka bermaksud menakut-nakuti kita dengan menghancurkan kota Najaf. Begitulah biasanya para pengecut, mereka sengaja mengawali serangan terhadap para penduduk di sana untuk mengembalikan denyut kehidupan pada diri serdadu-serdadunya yang “mati”, sebelum menyongsong pertempuran membara melawan kaum sunni.

Seperti itulah kebiasaan orang kafir:
“Dan hampir saja orang-orang kafir itu menggelincirkan kamu dengan pandangan-pandangan mereka”, dalam rangka menurunkan bendera tauhid yang tengah berkibar di tanah Irak dibalik kedok bantuan palsu yang mereka berikan.

Wahai pemuda Islam di Irak, bahkan di berbagai negeri Islam….

Wahai yang bingung mencari kehidupan sejati….

Wahai yang rindu untuk menolong agama Alloh….

Wahai yang mau menyerahkan nyawa dihadapan Tuannya….

Di sini ada hidayah dan petunjuk. Di sini ada hikmah dan kelurusan. Di sinilah puncak kenikmatan berkorban dan berjihad. Maka segeralah engkau bergabung dengan “Bataliyon Bisu” untuk berjuang di bawah panji sang pemuka para Nabi.

Wahai umat Islam….

Bukankah bangsa-bangsa mengerumuni kalian layaknya orang makan mengerumuni nampan makanannya? Lantas, mengapakah ditolak keberadaan sekelompok mujahidin yang datang dari penjuru dunia, padahal mereka telah tinggalkan semua, dari yang berharga hingga yang murah, mereka jual nyawa demi meraih sesuatu yang mahal, untuk menjadi garda depan pelindung kehormatan umat, sekaligus penghalang yang kuat yang dihadapannya kesombongan dari bualan Amerika tumbang?

Wahai umat Islam….

Hingga kapan kalian tertipu oleh gema terompet barat dan antek-anteknya di negeri kita ini? bagaimana bisa kalian mau mendengar para penghancur keadilan? Keadilan apalagi yang tersisa pada orang yang berlumur kotoran, mengenakan pakaian tipu daya, dan kelakuannya dipenuhi pengkhianatan?

Umatku, bagaimana bisa kamu masih percaya terhadap kedustaan jahat mereka terhadap putra-putramu yang telah menggadaikan masa depannya dengan kondisi saat ini, padahal telah mereka persembahkan nyawanya di bawah deringan peluru orang-orang kafir dalam rangka membela kehormatan dan menjaga agamamu?!

Wahai umatku….

aku memohon ampun kepada Alloh! Umatku tak kunjung beranjak dari ranjang wanita pingitan.

Bahkan, wahai orang-orang yang perwira, kapankah kalian akan berdiri satu barisan, padahal muslimat-muslimat suci di sembelih di hadapan kalian dan air mani kejahatan bermain-main ke sana ke mari di depan mata kepala kalian, dan orang-orang kafir yang hina itu menggigit kehormatan kalian lalu ia bersembunyi?!

Inilah Penjara Abu Ghroib, coba tanyalah ia….

Duh, sedihnya jiwaku, tatapan-tatapan gamang, hati-hati yang penuh emosi, dan luka yang terus tergores di setiap hati. Dan orang yang mendengar tidak sama dengan orang yang melihat langsung.

Wahai orang-orang yang kesatria….

Sampai kapan kalian hanya sekedar tidak bisa tidur dan mencucurkan air mata, padahal kalian telah dihinakan sedemikian rupa, kalian hanya berucap: La Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah! Lalu memejamkan mata, seolah semuanya hanya tembakan tanpa penembak?!

Duh, menyesal sekali, wahai orang-orang yang kesatria….
“Aku masuk menemui keperwiraan, sementara ia menagis,
Lalu kutanya: Mengapakah, si pemudi menangis?
Ia menjawab: Bagaimana aku tidak menangis sementara keluargaku
Semuanya mati di bawah makhluk-makhluk Alloh…”
Setelah aib memalukan ini, katakan padaku, wahai umatku,
kapankah kamu kibaskan debu kehinaan?
Kapan kamu patahkan rantai nestapa?
Kapan kamu lepas belenggu perbudakan?
Lantas, kapan kalian pasang pelana kuda-kuda kemuliaan?

“Umatku, kenistaan sementara tak henti-hentinya kita ucapkan:
Bahwa kita adalah putra-putra para pemuka.
Sementara Al Quds tengelam tercabik-cabik kesedihan
Dan rintihannya bergema berulang-ulang
Sampai kapan semangat kita digerogoti hawa nafsu
Dan kita terus dihancurkan oleh rintihan dan kesedihan?”
Adapun kalian wahai para mujahidin yang terasing….
Demi Alloh, belum pernah jalan-jalan dakwah itu terbentang dengan taburan bunga ataupun wewangian.
Sungguh, harga ajaran-ajaran dakwah itu besar.

Harga dari memindahkan prinsip kepada dunia nyata adalah timbunan daging yang terpotong-potong dan banjir darah. Dan tidak ada yang mampu menyalakan pelita masa depan yang cerah dalam kegelapan ini selain para mujahidin dan syuhada`.

Alangkah indah kata-kata itu,”Aku telah berhasil (menang), demi Robb Ka`bah.”

Aduhai, indahnya aroma surga, sungguh indah. Akan tetapi, dimana orang yang jujur kepada Alloh lalu Allohpun membenarkan (kejujuran)nya?

Sungguh lembut lantunan sang Nabi kalian SAW, ditengah beratnya menempuh perjalanan, ia berujar kepada jarinya yang terluka:
“Kamu hanyalah jari yang berdarah, dan apa yang kau alami adalah di jalan Alloh.”

Nabi kita itu, wajahnya terluka. Patah gigi gerahamnya, dan pelindung kepada yang mulia remuk.

Saudara-saudaraku…, Wahai yang diwajahnya terpancara air muka kebahagiaan, dan yang singgasananya menyibakkan cahaya kemuliaan….

Sungguh, beruntunglah kalian, demi Alloh.

Sungguh, bahagialah kalian, demi Alloh.

Ikatan unik apakah gerangan yang mengikat hati-hati kalian, sehingga senyum manis kalian mampu membalikkan roh kehidupan pada hati yang mati. Hendaknya kalian merasa bahagia dengan kondisi kalian saat ini, yang berbeda dengan kondisi kebanyakan orang. Maka, waspadalah akan penyakit bosan, janganlah kalian utamakan keinginan mencari selamat, sebab akibat dari langkah mundur adalah penyesalan.

Naudzubillah.

Percayalah kepadaku jika kukatakan kepada kalian: bahwa aku tidak pernah menyaksikan orang yang di zalimi memaafkan orang lain akan aniaya terhadap dirinya, zuhud dan sederhana dalam haknya, selain mujahidin dan jihad mereka. Meski begitu, kalian tidak akan rugi. Kebathilan memang memiliki giliran, dan kebenaran akan menang pada waktunya nanti. Intinya adalah sadar sesaat, setelah itu kesudahan yang baik. Dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal usaha kalian.

“Majulah, jangan rela dengan hidup susah….

Orang yang tidak maju ke depan tidak akan berhasil meraih kenikmatan.”

Apakah kalian mengira, bahwa jenderal pemegang kendali Amerika itu lebih baik kondisinya daripada Abu Jahal, ketika ia dibuat “mabuk” dengan senjata dan perlengkapannya lalu ia bersumpah untuk tidak pulang sebelum ia tabuh rebana dan ia tenggak arak? Tapi sungguh, ia tidak pulang kecuali dengan kepala terpenggal dan kekalahan memalukan diselimuti kehinaan.

Sungguh, musuh kita kebingungan bagaimana mencerai beraikan kekuatan kalian. Akhirnya, tak ada cara lain menurut mereka selain melakukan teror mental dengan senjata-senjata modern mematikan yang mereka miliki. Para penyembah materi itu tidak mengerti bahwa kekuatan yang didukung morilnya dari Alloh tidak bisa dibuyarkan oleh badai ataupun tekhnologi Amerika.

Katakan padaku wahai Ahli dzikir pagi dan sore, apalah artinya rudal-rudal nuklir, senjata-senjata kimia, dan gas-gas beracun mereka dihadapan sebuah untaian kalimat yang menakjubkan, sebuah kalimat yang – demi Alloh – mampu meluluh lantakkan kekuatan senjata apapun, keagungannya mampu melenyapkan kecerdikan segala bidikan dan perencanaan. Di hadapannya semua desingan peluru orang-orang kafir terpatahkan. Ringan diucapkan namun bermanfaat bagi manusia: “Bismillahilladzi laa yadhurru ma`a ismihi syai`un fil ardhi wa laa fis samaa`I wa huwas Samii`ul Alim”, yang mengerti keagungan kalimat ini hanyalah orang yang kontinyu mengucapkannya setiap pagi dan sore.
Ini satu kalimat saja dari cahaya kenabian, mampu melindungimu dari serangan mematikan rudal-rudal. Lalu bagaimana dengan orang yang tak hentinya melantunkan dzikir-dzikir pagi dan sore.

Musuh-musuh kita mengira jika suatu musibah menimpa kami maka kami akan berucap: “Seandainya kita dulu begini, tentu begini….”

Mari wahai para pemuda generasi Muhammad bin Abdulloh….

Tunjukkan praktek nyata kepada mereka, bukan kata-kata, mengenai firman Alloh Ta`ala: “Katakanlah: Seandainya kalian berada di rumah-rumah kalian, tentu orang-orang yang sudah dibariskan terbunuh akan keluar menuju tempat pembaringannya….”

Jelaskan kepada mereka dengan kenyataan, terangkan dengan indahnya keberanian, tentang makna hadits Nabi kalian: “….Dan ketahuilah, apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tidak akan menimpamu”. Setelah itu katakan kepada mereka: “Matilah dengan kedongkolan kalian, kami tidak akan tertimpa selain apa yang sudah ditulis Alloh untuk kami. Dan sesungguhnya peluru yang disana telah ditulis akan mengenaimu tidak akan meleset darimu”.
Kemudian, renungkan pada perang apakah persenjataan kaum muslimin lebih unggul daripada persenjataan orang-orang musyrik? Setelah itu perhatikan bagaimana hasil yang dicapai dalam perang Hunain!.

Sungguh, aku heran dengan orang-orang yang berfikiran dangkal yang mengukur jihad kami berdasarkan perhitungan duniawi, dengan uang, perlengkapan dan persenjataan. Setelah itu ia sebarkan pengaruh-pengaruhnya, lalu ia hias kebathilan-kebathilannya dengan bahasa simpatik, dengan harapan ada “telinga tak sehat” yang mau mendengar, atau “pena” yang bisa dibayar. Orang-orang bodoh itu tidak tahu, bahwa akidah kami ditolong oleh Robb langit. Jika mereka menakut-nakuti kamu dengan “sampah-sampah” mereka, katakanlah: Bukankah Alloh telah cukupkan (lindungi) hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang lebih rendah dari-Nya….”

Jika mereka berlagak dihadapan kamu, maka ingatlah: “Adapun buih maka ia akan lenyap sebagai sesuatu yang tidak berguna….”.

Jika engkau merasa ngeri dengan kekuatan senjata, perlengkapan, informasi, dan tulisan-tulisan yang mereka miliki, maka ingatlah selalu firman Alloh SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan membelanjakannya, setelah itu menjadi penyerahan buat mereka, setelah itu mereka dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan ke neraka Jahannam”.

Jika pesawat-pesawat mereka berlalu lalang dengan angkuh sepanjang udara, maka katakan kepada pilotnya, pembuatnya dan orang-orang yang mengirimnya, katakan kepada mereka semua: “Wahai sekalian jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Alloh).” Alloh lebih tinggi dan lebih kuat serangannya daripada jet-jet tempur kalian.

Jika kalian menghadapi mereka secara terbuka lantas jumlah mereka membuatmu takut, maka bertakbirlah dihadapan mereka sembari mengatakan: “Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak, dengan izin Alloh….”.

Terakhir, jika jerat-jerat syaithon mulai muncul untuk menimbulkan keraguan pada keyakinan terhadap pertolongan Alloh, segera pangkaslah semua itu dengan firman Alloh SWT: “Alloh menetapkan: Pasti Ku-menangkan Aku dan Rosul-rosul-Ku….”.

Mereka tidaklah mengerti keislaman kita sebenarnya, maka tunjukkan kepada mereka akan islam kita. Dan jangan sampai kalian tertipu kata-kata manis dan ungkapan-ungkapan palsu. Perlihatkan kepada mereka, siapakah anak cucu Kholid, Mutsanna, Amru dan Musa.
Inilah pertempuran Qodisiyah, tatkala perang sedang sengitnya berlangsung, kematian menggigit para pahlawan, isteri Sa`ad yang bernama Salma berteriak – Sa`ad menikahinya setelah mantan suaminya, Mutsanna meninggal – ia berteriak karena tidak menemukan “Mutsanna” yang bisa mengendalikan tentara dan pasukan kuda untuk bertahan dihadapan musuh. Ia berseru: “Waa Mutsannaaah…., duh, sedihnya aku karena Mutsanna, tidak ada Mutsanna lagi hari ini. Duh, sedihnya aku karena Mutsanna, tidak ada mutsanna lagi bagi kaum muslimin hari ini. Mereka itu mirip semua, tapi tidak ada seperti Mutsanna seorangpun buat mereka”.

“Sejarah tak henti menceritakan kisahnya kepada kita….
Sudah berapa pembicaraan yang kita riwayatkan dengan teriring kerinduan….
Sudah berapa kisah yang membuat kami terpesona karena perasaan cinta….
Dan semakin mempesona kita tatkala kita ulang kembali….
Parit-parit itu, wahai Baghdad, telah berubah menjadi nyanyian….
Tanahmu seolah melantunkan dan pasir sebagai bibirnya….
Dan kuda-kuda Alloh pun membuatku terpesona pada….
Sebuah pertempuran, dimana Alloh lah penolongnya….
Ringkikannya di atas jalan kebenaran menguasai diriku….
Betapa banyak rasa rindu yang kubuang karenanya….

Inilah Al Mustanna, ia siram tanah negeri ini dengan darahnya….
Dan kedua matanya yang langsung menyaksikan berbagai peristiwa….
Ia tidak meminjam mata lain, atau bibir lain….
Dan kedua telinganya tidak mau mendengar penyesatan….
Wujudmu yang besar, wahai Baghdad, dilindungi oleh….
Pedang Al Mutsanna yang diterangi oleh cahaya kebenaran….
Cahaya diatas matahari di pagi hari….
Dan cahaya di atas purnama di sore hari….”.

Semoga Alloh merohmati Musa bin Nashir, sang penakluk Maghrib dan yang merampungkan penaklukan Spanyol. Bagaimana ia bisa menang, ketika Kholifah bertanya kepadanya, “Apa yang kau jadikan pelindung dalam pertempuran dari urusan-urusan musuhmu?”

Musa menjawab, “Tawakkal dan berdoa kepada Alloh, aku menempati sebuah lembah sembari menghadirkan rasa takut (kepada Alloh) dan sabar. Aku berlindung dengan pedang dan tameng sembari memohon kepada Alloh dan berharap kemenangan kepada-Nya”.

Kholifah berkata kepadanya, “Kalau begitu beritahu aku perihal bangsa Romawi?”

Ia berkata, “Mereka itu singa-singa kandang, lari mundur jika di atas kuda, seperti wanita di atas kendaraan. Jika melihat kesempatan mereka memanfaatkannya, jika melihat kemenangan seperti kawanan kambing yang pergi ke gunung-gunung, mereka tidak melihat kekalahan sebagai aib”.

Benar wahai Musa, tepat sekali perkiraanmu. Engkau menyebutkan sifat yang betul dan cerita yang benar. dan alangkah mirip antara malam dan gulita, alangkah mirip antara Amerika dan kaum Romawinya.

Maka demi Alloh, tak mungkin Dia kan menterlantarkan kalian, wahai para Ghuroba`. Bagaimana mungkin Robb kita akan menterlantarkan orang yang berjuang meninggikan kalimatNya dan menolong agama-Nya. Demi Alloh, Alloh tak kan menyia-nyiakan kalian sementara kalian telah keluar dihadapan musuh kalian dan kalian tinggalkan isteri dan anak-anak kalian. Alloh tidak akan menterlantarkan kalian karena kalian telah meninggalkan kelezatan, syahwat, keluarga, dan tetangga kalian, karena keinginan kuat untuk meraih jannah Robb kalian. Alloh tidak akan menghinakan kalian karena kalian telah keluar berperang dalam rangka mencari keridhoan Alloh, kalian berdakwah kepada Alloh atas ilmu, memerintahkan yang ma`ruf, melarang yang munkar, sholat di malam hari dan puasa di siang hari, kalian sambung tali silaturrahmi dan kalian bela syariat Islam, kalian bela kemuliaan dan kalian perangi kehinaan. Maka selama kalian berada di atas kebenaran, bergembiralah. Demi Alloh, Alloh tak kan menghinakan kalian.

Dan kalian pasti akan kalahkan Amerika, demi Alloh, kalian pasti akan mengalahkan Amerika walau setelah waktu yang lama, sampai nantinya Amerika berubah seperti “tahi lalat” pada “pipi” sejarah zaman.

Hiburlah diri kalian dengan sebuah riwayat dalam sejarah Nabi kalian, bahwa beliau pernah berkata kepada Ka`ab bin Malik: “Robbmu tak pernah lupa pada sebuah bait syair yang kau ucapkan”.

Ka`ab berkata, “Apa itu?” Rosululloh SAW bersabda, “Lantunkan wahai Abu Bakar”. Maka Abu Bakar berkata:

“Si dermawan mengira kan mengalahkan tuhannya….
Pasti tukang mengalahkan itu akan terkalahkan oleh yang maha menang….”.

Takutlah kepada Alloh akan agama kalian, akan saudara-saudara dan diri kalian. Takutlah kepada Alloh perihal akidah dan kehormatan kalian, jangan sampai islam di serang dari arah kalian, sebab perang dihadapan kalian adalah menentukan, pasukan sekutu kembali datang, musuh begitu terbakar semangatnya, maka semangat kita harus diasah dan tekad harus dibangkitkan menuju puncak ketinggian. Jangan sampai kerakusan mereka terhadap dunia mereka mengalahkan keinginan kuat kalian dalam menjaga agama kalian.

Sesungguhnya kalian berada diantara dua kebaikan: Syahid mendapatkan rezeki atau kemenangan yang dekat.

Teriakkan dari hati terdalam kalian:
“Dan aku tak kan pernah berdamai dengan kalian….
Selama aku masih punya kuda….
Dan jariku masih memegang pedang dengan erat…

Inilah seruan dari lubuk hatiku yang paling dalam:
Kepada singa-singa di Baghdad dan Al Anbaar….
Kepada para pahlawan di Diyala dan Samarra….
Dan kepada singa-singa di Mosul dan Syamal….

Bersiaplah selalu untuk berperang. Tajamkan pendengaran kalian. Tajamkan penglihatan kalian! Sadarlah selalu terhadap apa yang akan terjadi di sekeliling kalian. Hendaknya tangan kalian selalu berada pada pelatuk senapan, sebab dihadapan kalian terhampar sahara yang sepi, malam yang kelam dan kerusuhan yang sengit.

Setelah itu, milik kalianlah kemenangan, dengan izin Alloh, jika kalian bersabar dan mempertahankan kesabaran. Dan yakinlah dengan Alloh. Bersabarlah, pertahankan kesabaran kalian, ber ribathlah, dan bertawakkalah kepada Alloh agar kalian beruntung.

Lihatlah, api sudah mulai menyala di Irak, dan pijar panasnya akan semakin besar, dengan izin Alloh, sampai pasukan Salib terbakar di Dabig.

Wahai pahlawan-pahlawan Islam di semua penjuru Irak….
Lihatlah, kekuatan kafir telah membidik kita dari satu arah dan telah menyiapkan jerat-jerat makar dengan bekerjasama dengan kaum pemecah belah dan munafik.

Untuk menghinakan kaum lelaki, memperkosa kesucian wanita, mengkangkangi kehormatan, dan meninggikan Salib di atas tanah kita dan di kolong langit kita. Maka janganlah kalian berkompromi dalam urusan agama kalian. Jangan dengarkan kata-kata manis bernada simpatik yang ingin mengendurkan kalian dari mati syahid atau kemenangan.

Jika dengan tikaman yang kita sarangkan pada musuh kita di sana sini mereka masih juga bersikeras, berkoar dengan penuh kesombongan bak bertempurnya singa, melecehkan masyarakat dan berlaku brutal, lalu bagaimana jika mereka memegang kendali kekuasaan di Irak dan kapal yang ia tunggangi melenggang mulus tanpa terjangan badai ombak?

Sungguh jika musuh kita menang, akan mereka rusak tanaman dan keturunan. Akan menjajah negeri dan tidak menjaga kekerabatan dan janji pada orang beriman, mereka mencari keridhoan kalian dengan mulut mereka padahal hatinya menolak dan mereka akan menimpakan kehidupan pahit kepada kaum muslimin.

“tak ada kata damai sampai kuda terjatuh oleh tombak dan serpihan daging ini terkoyak…

Maka katakanlah sebagaimana para pahlawan seperti kalian mengatakan, gembirakan selalu diri kalian karena tidur dan terjaga kalian semuanya bernilai pahala, insyaAlloh. Para pahlawan itu mengatakan:

“Dikala para dermawan kikir, maka kami adalah tumbal bagi agama….
Di atas jalan ini para perwira berdendang dengan….
Kata-kata fasih berupa pengorbanan….
Kemenangan bisa diraih dengan darah, tombak dan baju besi….”

Setelah ini seluruh dunia harus tahu bahwa manhaj kami tak kenal keterbudakan dan tak rela dijual belikan di tempat tawar menawar. Dengan pertolongan Alloh kami akan terus berjalan, walaupun jalan ini panjang dan kesukaran semakin berat. Walaupun pengkhianat semakin banyak. Permasalahannya jauh lebih besar lagi, sesungguhnya ini perihal Robb semesta alam, perihal surga Firdaus.

Siapa yang tak bisa mendengar bunyi pena atau kata-kata menggema, maka harus diperdengarkan dengan hunusan pedang.

“Jika mulut ini bimbang, maka luka kami yang bicara….”

Sesungguhnya rahim yang telah melahirkan Kholid akan terus mengandung dan melahirkan yang semisal, walaupun arogansi kebathilan mendera.

“Sungguh kami adalah umat yang memiliki asal yang baik….
Pada akhlaknya tak terdapat aib atau penyimpangan….
Luka bisa saja membuatnya sakit, tapi tak mengguncangnya….
Kedua kakinya boleh terjepit belunggu, namun tak menjatuhkannya….
Jika mereka diserang budak-budak cemeti, hendaknya mereka yakin….
Bahwa kami akan usir mereka dari tempat mereka masuk….
Kebenaran adalah bekal kami memerangi kebathilan mereka….
Dan pedang adalah hujah kami jika memang perlu hujah….
Agresor dari Timur dulu menyerang, akhirnya tergulung….
Agresor barat melewati hal yang sama, dan akan tergulung juga….
Tak tersisalah mereka dan bekas-bekas negeri mereka….
Selain legenda yang dibumbui laknat-laknat….
Singa-singa takkan diam dengan luka yang dideritanya….
Selama masih bergerak darah iman di tubuh mereka….”

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu satu pasukan, maka teguhlah dan ingatlah Alloh banyak-banyak agar kalian berhasil”.

“Dan Alloh Maha menang atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Wal Hamdu Lillahi Robbil `Alamiin.

Abu Mus’ab Al-Zarqawi

sumber : Situs Jihad Al-Qo’idun

Add comment 29 June 2008

Surat dari Penunggang Kuda Somalia

Segala puji milik Allah, sholawat dan salam keatas penghulu para Nabi dan Rosul, Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma Ba’d :

Allah berfirman : “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun”(At Taubah : 39).

Ini adalah surat yang kami kirim dari Asy Syababul Mujahidin (para pemuda mujahidin) kepada saudara kami para pemuda ‘Al Qoidun’ (yang duduk-duduk) yang mencintai jihad akan tetapi terhalang oleh udzur bagi diri mereka. Terkadang jiwanya membisikinya agar menyelesaikan kuliah baru kemudian berangkat berjihad. Terkadang jiwanya mengatakan aku menikah terlebih dahulu baru kemudian aku pergi berjihad. Dia mencari-cari suatu pekerjaan lalu kemudian membangun sebuah rumah dan kemudian menikah. Atau dia menanti-nantikan sebuah pesawat yang dikirimkan mujahidin khusus untuk mengangkutnya dari rumah langsung menuju Kandahar atau Baghdad atau Dagestan atau Mogadhisu.. Tidak! dan ini tidak akan pernah terjadi!

Sesungguhnya, semenjak tahun-tahun yang telah lalu, sedikit sekali dari umat ini yang memahami problematika umat dan perang salib yang diumumkan dengan gamblang dalam setiap kesempatan. Dan sekarang, setelah peperangan melawan salibis diumumkan oleh mujahidin di setiap tempat, dan terjadilah bencana yang menimpa Amerika dan sekutunya, lalu kekuatannya menjadi lemah dan mulai goyah yang sebentar lagi akan tumbang – dengan izin Allah. Para pemuda mulai beranjak menuju problem tersebut dan setelah jelas bagi mereka berbagai klaim ulama-ulama suu’ dan para penjual dien, dan setelah tersingkap konspirasi pemerintahan mereka dan lenyapnya berbagai syubhat mukhodzdziliin (para penggembos), para pemuda muwahhid dari berbagai tempat mulai menyambut penyeru jihad.

Lalu muncullah, dengan sangat disayangkan, perkumpulan-perkumpulan pemuda yang tak terhitung yang mencintai jihad akan tetapi mereka menjadikan diri mereka hanya sekedar pencinta jihad atau dengan istilah yang lebih jelas “Jamahir” yang memberi tepuk tangan bagi mujahidin dan hanya menantikan berbagai aksi berani mereka melawan Amerika dan antek-anteknya dengan penuh takjub. Hati mereka tidak tergerak untuk menolong mustadh’afin (orang-orang lemah) atau ikut bergabung dengan mujahidin dan syuhada’, akan tetapi hanya mencukupkan diri dengan mengikuti perkembangan berita mujahidin dan memekikkan takbir seusai menyaksikan sebuah operasi mujahidin. Sebagian mereka membanggakan diri bahwa mereka memiliki banyak koleksi film-film mujahidin, dimana mereka merasakan kecapaian saat mengumpulkannya dari internet. Sebagian lagi menisbahkan dirinya dengan “komentator olah raga” di berbagai forum olah raga lalu berkomentar bahwa ini tidak bagus dan semestinya begini, harus begitu, dengan cara begini agar lebih ok.. dan seterusnya.

Maaf wahai saudara-saudaraku.. Aku tidak bermaksud dengan hal yang menghalanginya sebagai udzur dan dunia menjadi sempit, sementara dia mencari-cari siapa yang akan membawanya menuju medan jihad.
Perkenanlah kami memetik beberapa faedah dari surat At Taubah – semoga Allah menerima taubat kami dan kalian. Di surat tersebut terdapat makna yang cukup untuk menggerakkan jiwa orang-orang yang duduk dan membangkitkan ‘azm (keinginan yang kuat) untuk berjihad dan membantah berbagai hujjah para mukhodzdzil. Kita mulai dari firman-Nya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat”(At-Taubah : 41), apakah kalian mengerti wahai saudaraku bahwa ayat ini ditafsirkan oleh Syekh Abu Tholhah – semoga Allah meridhoinya -, ketika membacanya beliau mengatakan kepada anak-anaknya “aku melihat Robb kita menyuruh kita untuk berangkat, baik tua maupun muda.. Siapkankanlah aku wahai anakku!”. Dan dia – semoga Allah meridhoinya – ikut berperang bersama Rosulullah SAW sampai meninggalnya beliau, dan berperang bersama Abu Bakar sampai meninggalnya Abu Bakar, dan berperang bersama Umar sampai meninggalnya Umar, sementara itu dia tidak melihat udzur bagi dirinya untuk hanya duduk-duduk saja, maka dia pun mengarungi lautan untuk berperang sampai dia meninggal dan tidak ditemukan satu daratan untuk menguburkannya kecuali setelah sembilan hari dan jasadnya tidak berubah sama sekali – semoga Allah merahmatinya. Ibnu Katsir – semoga Allah merahmatinya – menyebutkan perkataan sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan ayat “ringan maupun berat”, beliau menyebutkan (kaya dan miskin, sibuk dan tidak sibuk, senang maupun tidak senang, berat dan memiliki keperluan, dalam kondisi susah maupun senang, menunggang kendaraan maupun jalan kaki, kaya dan fakir). Ayat tersebut tidak mengecualikan seorangpun dan tidak membiarkan satu hujjah pun, dimanakah posisi kita dari orang-orang itu? Kemudian pada ayat selanjutnya Allah berfirman : “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu”(At Taubah : 42). Sekiranya melakukan safar kepada selain jihad, semisal untuk berdagang, mencari keuntungan dunia dan semisalnya, niscaya mereka akan bersegera menuju kepadanya. Lihatlah kondisi kaum muslimin, betapa banyak para pelancong dan betapa banyak para musafir yang menghendaki kesenangan dunia. Langit dipenuhi dengan pesawat-pesawat, laut didesaki dengan kapal-kapal, akan tetapi tidaklah mereka melakukan safar untuk berperang kecuali hanya segelintir saja sementara mereka merasa sangat ketakutan, wallahulmusta’an.

Dan kepada mereka, orang-orang yang mencari-cari udzur dan menjadikannya sebagai alasan untuk duduk-duduk, dan mengedepankan satu kaki dan membelakangkan yang lainnya. Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya”(At Taubah : 44). Ayat ini menunjukkan secara singkat bahwa tidak ada izin untuk duduk dan tinggal diam dari jihad bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir karena hati mereka ditimpa dengan kebimbangan dan keraguan.

Sebagian lagi merasa takut dengan berbagai fitnah/ujian dalam perjalanan, sementara itu kami takut mereka terkena firman Allah : “Di antara mereka ada orang yang berkata: ‘Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah’. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah”(At Taubah : 49). Fitnah yang besar adalah meninggalkan jihad dan tinggal diam dari berperang, bahkan bisa saja perkataan ini membawa ke Jahanam. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”(An Nisa’ : 97). Perhatikanlah wahai saudaraku!

Allah azza wa jalla mengecualikan diantara Al Qoidin (orang-orang yang duduk) bagi orang yang memiliki udzur. Allah berfirman : “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya”(At-Taubah : 91). Allah juga mengecualikan orang-orang yang berusaha mencari jalan untuk berjihad di setiap tempat, akan tetapi ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk berangkat dan setiap jalan di depan mereka ditutup mereka tidak terus kembali menuju rumah mereka dengan merasa senang karena dapat duduk-duduk santai, akan tetapi mata mereka dibanjiri dengan peluh dan mereka merasa sangat sedih karena mereka tidak dapat berangkat untuk berjihad.

Inilah surat dari negri Somalia, negri jihad dan ribath, kepada orang-orang yang menangis karena duduk-duduk mereka. Kami katakan kepada mereka : bergembiralah kalian, telah datang jalan keluar dan pintu diantara pintu-pintu surga telah dibuka di Somalia, dan Somalia menjadi medan orang-orang yang berlomba dan berpacu di jalan Allah. Cepatlah kalian dengan segera. Kemenangan tinggal menanti sesaat lagi. Peperangan melawan penolong koalisi tidak akan pernah dimulai sampai tampak pertanda kemenangan dan banyak kabar gembira. Maka larilah para pasukan koalisi dari darat dan dari laut dengan meninggalkan senjata mereka di belakang mereka sebagai ghonimah untuk mujahidin, dan mereka meninggalkan saudara mereka orang-orang murtad yang terkena hujaman panah mujahidin siang dan malam.

Wahai pasukan Allah di setiap tempat! Kami berjanji kepada kalian bahwa kami akan memanggul panji “laa ilaaha illallah” yang cemerlang dan tidak ada debu padanya, dan kami akan menyemainya dengan darah kami sebagaimana saudara-saudara syuhada’ kami yang telah mendahului. Kami hanyalah pasukan diantara pasukan-pasukan kaum muslimin, kami menolong islam dimanapun tempatnya. Dan syariat islam kami mewajibkan kami untuk menolong kaum muslimin yang berada di Somalia dan jihad melawan penjajah di negri ini juga mewajibkan kami untuk memerangi mereka di setiap negri islam. Seorang yang berakal tidak akan pernah mengatakan bahwa hukum jihad berubah menurut pembatasan Sykes Pickot, dan jihad tidak akan pernah gugur kewajibannya dari seorang muslim selama negri Palestina masih terjajah, dan tentara salibis merendahkan kaum muslimin di Irak, Afganistan, Chechnya dan seluruh negri kaum muslimin yang dijajah oleh Amerika melalui antek-anteknya, para thogut Arab. Dan Somalia hanyalah salah satu parit diantara parit-parit kaum muslimin, tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk tinggal diam darinya selama dia mampu untuk menuju kesana.

Jihad kami akan terus berjalan dengan izin Allah azza wa jalla, kami tidak akan terganggu dengan orang yang menyelisihi kami dan tidak juga orang yang menelantarkan kami, sampai kalian melihat kemuliaan dan kekuasaan pada umat kami, atau kami menemui Allah azza wa jalla dalam kondisi menghadap dan tidak mundur.

Dan penutup doa kami ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.

Penunggang kuda dari Somalia
Courtesy: Al Tawbah Forum

Add comment 29 June 2008

Manhaj Perjuangan Al Qaidah – Apakah Ia Berasal dari Planet Merkurius?

Manhaj Perjuangan Al Qaidah – Apakah ia berasal dari Planet Merkurius?

Sungguh mengherankan mendapati banyak ‘ulama’, ketika mereka ditanya oleh berbagai chanel berita tentang pandangan mereka terhadap Al Qaidah, para ulama dan cendekiawan muslim ini berkata, mereka tidak memahami manhaj perjuangan Al Qaidah, mereka tidak mengerti metodologi Al Qaidah!!!

Apakah manhaj Al Qaidah begitu sulit dan rumitnya, sehingga bahkan para ulama muslim tidak bisa memahaminya?
Ataukah fikrah Al Qaidah itu sedemikian misterius?
Benarkah mafahim Al Qaidah sedemikian peliknya sehingga para ulama tidak mampu memahaminya secara menyeluruh?

Jika Anda bertanya pada para ulama ini, tentang visi atau fikrah atau mafahim dari berbagai harakah islam, berbagai tanzim (organisasi) atau partai islam, baik yang lama atau yang baru berdiri, yang besar atau yang kecil, organisasi yang popular ataupun yang tidak, maka menjadi satu ‘aib’ yang ‘tidak dapat diterima’ jika para ulama ini berkata “Saya tidak tahu”. Kata-kata “Saya tidak tahu” tersebut tentu akan menurunkan kredibilitas keilmuannya. Apalagi jika ulama tersebut telah terjun dan mengambil posisi dalam dunia politik (bagaimana mungkin seorang cendekia, seorang alim, seorang tokoh politik yang tentu membutuhkan popularitas, berkata “Saya tidak tahu…”)

Baiklah, kita maklumi saja beberapa ‘ulama’ ini ketika mereka berkata bahwa mereka tidak tahu dan tidak memahami fikrah Al Qaidah, atau mereka mungkin merasa tidak perlu peduli atau tidak memiliki perhatian untuk mempelajari manhaj Al Qaidah. Kita juga mungkin harus memaklumi, para ulama ini tentu memiliki alasan mereka tersendiri yang membuat mereka tidak memiliki perhatian untuk membaca atau berusaha menelaah manhaj Al Qaidah. Atas nama kebebasan individu, mereka berhak untuk melakukan itu, dan menjadi alasan yang cukup untuk menghentikan kita dari mengganggu mereka dengan bertanya soal ini.

Tetapi kemudian salah seorang ‘kibarul ulama’ berkata ketika ia ditanya oleh salah seorang wartawan tentang panji/slogan Al Qaidah, “Saya tidak begitu memperhatikan manhaj Al Qaidah tetapi jika segala sesuatu yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia ini merupakan bagian dari rencana Al Qaidah, maka ini satu hal dan kenyataan yang buruk”. Demikian kurang lebih ia berkata.

Ini yang dikatakan oleh salah seorang ‘ulama besar’ di Iraq, dan banyak ‘ulama’ yang lain meniru kata-katanya, baik ulama di Iraq maupun di luar Iraq, sehingga kata-kata semakna ini menjadi kelaziman yang diucapkan. (Jadi mereka ini berkata “Saya tidak tahu tentang Al Qaidah”, tetapi mereka juga berkata “Al Qaidah adalah sumber segala keburukan dan kemalangan di dunia ini”. Pent)

Jika kita menerima hal ini sebagai hak dari para ‘ulama’ untuk bersikap dan menyatakan demikian, maka kita juga jadi tidak punya hak untuk menyalahkan masyarakat barat yang atas dasar ketidaktahuannya menuduh Islam sebagai agama fasisme, kebodohan, dan keterbelakangan.

Masyarakat barat ini menyatakan hal tersebut, karena mereka secara nyata memang melihat beberapa aspek keterbelakangan pada sebagian kecil masyarakat muslim migrant yang tinggal di negeri-negeri mereka (negeri barat). Sehingga mereka langsung menyimpulkan dengan timbangan ‘mayoritas yang hebat dan megah’ dengan ‘minoritas yang tersisih dan terbelakang’, tanpa berusaha mencari atau menyelidiki realitas Islam dan dasar-dasar ajarannya yang benar. Karena ketidaktahuannya itu mereka menuduh Islam dengan segala prasangka apa saja yang mereka mau!!!

Tidakkah ini dapat dipertanggungjawabkan?

Bisakah para cendekiawan dan ulama muslim itu menyalahkan masyarakat barat karena mereka telah menuduh Islam dengan segala tuduhan yang tidak beralasan itu, dan mereka menyimpulkan demikian semata berdasarkan pandangan sekilas tanpa memahami realitas yang hakiki? Dan mereka telah menggunakan analogi yang keliru tetapi mereka menganggap dirinya cukup berhak menghakimi Islam, karena mereka merasa sedemikian ‘modern’ untuk memahami Islam dan segala aspek realitasnya, karena segala ‘bahan kuliah’ tentang Islam itu tersedia luas di website-website internet… Mereka merasa cukup kapabel untuk memberikan penilaian tentang Islam tanpa mengumpulkan informasi yang valid dan menyeluruh atau mereka merasa bisa membuat penilaian setelah mengakui bahwa mereka tidak peduli dengan seluruh realitas Islam itu?!!!
(Tentu para ulama itu akan berkata, bahwa masyarakat barat tidak adil ketika mereka menuduh Islam tanpa tahu hakikat kebenaran Islam. Tentu para ulama itu juga akan berkata, bahwa masyarakat barat tidak adil ketika mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki cukup informasi yang benar tentang Islam tetapi mereka tetap juga menuduh Islam dengan segala tuduhan yang keliru itu. Pent.)

Jika Anda bertanya pada seorang remaja di pegunungan Himalaya, atau seorang tua di pedalaman Afrika, atau seorang pejalan kaki di jalan-jalan kota New York, tentang Al Qaidah dan apa tujuannya, mereka pasti akan merespon pertanyaan Anda dengan segera dan antusias, apakah mereka pro ataupun kontra dengan Al Qaidah, dan Anda tidak akan mendapati mereka berkata “Saya tidak tahu”, karena itu satu hal yang tidak dapat diterima! Karena kenyataannya tidak ada satupun gerakan atau organisasi yang sedemikian luas dikenal/terkenal saat ini seperti Al Qaidah, baik oleh mereka yang mendukungnya atau mereka yang kontra terhadapnya. Tetapi jika Anda bertanya pada para ‘ulama’ kita tentang Al Qaidah mereka berkata mereka tidak tahu. Sungguh satu ironi, kita bisa mengistilahkannya ‘mushibah keulamaan’.

Jika Anda bertanya pada para ‘ulama’ ini tentang teori relativitas, tentu mereka akan merespon Anda segera dan antusias entah respon itu benar atau keliru, karena dalam kebanyakan kesempatan mereka tentu tidak berani berkata “Saya tidak tahu” tentang teori yang terkenal ini.

Betapa memalukan bagi masyarakat berbudaya jika tidak tahu sedikitpun tentang teori relativitas.

Bahkan orang yang tidak berpendidikan sekalipun akan menghindari berkata “Saya tidak tahu”,lalu mengapa para ulama begitu mudah berkata “Saya tidak tahu”?

Apakah teori relativitas lebih popular dan mudah dimengerti ketimbang Al Qaidah?
Atau apakah manhaj Al Qaidah begitu rumitnya melebihi rumitnya teori relativitas?

Di antara tanda-tanda umum gerakan yang sukses dalam sejarah, ialah bahwa manhaj gerakan itu harus:
Sangat jelas
Sangat simple/sederhana
Sangat dapat diterima

Dan tujuan dari gerakan tersebut haruslah:
Tepat dan akurat
Dapat diteliti dan dieksporasi
Memenuhi harapan dari siapa saja yang mengembannya

Mengenai manhaj Al Qaidah di mana banyak orang mengklaim tidak memahaminya, maka Al Qaidah tidak memiliki manhaj yang lain selain Din Islam yang telah mengangkat status ulama itu.

Jika Komunisme mendasarkan metodologi dan manhajnya berdasarkan fikrah Marx dan Hegel, dan menjadikan pemikiran mereka ini sebagai din (agama), maka Al Qaidah menjadikan Din Islam sebagai manhajnya. Sungguh satu perbedaan seperti langit dan bumi, membandingkan antara orang yang mengambil pemikiran manusia sebagai din dengan orang yang mengambil Din Allah sebagai manhajnya.

Front peperangan melawan terorisme yang dilancarkan Rejim Pemerintah Amerika terbagi dalam tiga bagian:
1.Menyerang basis terorisme di Afghanistan dan memotong jalur bantuannya
2.Melindungi Amerika dari berbagai serangan selanjutnya
3.Memerangi pemikiran terorisme dan mengalahkannya

Dan dengan mengetahui tiga front perang ini, kita segera menyadari bahwa mereka (Amerika) akan kalah.

Mereka telah gagal di tahap pertama, karena para ‘teroris’ itu tidak memiliki satu basispun di tempat itu, yang dapat/layak dijadikan sasaran penyerangan, dan apa yang kita sebut sebagai ‘kamp pelatihan’ di Afghanistan itu lebih tepat disebut wilayah tanah tandus ketimbang sebuah kamp pelatihan.

Sementara melindungi Amerika dari serangan selanjutnya, maka itu adalah satu hal yang sulit dicapai. Dan berkurang atau tidak adanya serangan terhadap Amerika pada saat akhir-akhir ini bukan berarti serangan terhadap Amerika berhenti dilancarkan. Ini hanya masalah waktu, karena setiap misi telah ditetapkan jadualnya. Serangan 9/11 yang legendaris itu membutuhkan tidak kurang dari 5 tahun waktu untuk persiapannya. Dan sebagai sebuah rencana, maka ia sudah dicetuskan 20 tahun sebelumnya (semenjak penyerangan Libanon pada dekade 80an sebagaimana dikatakan Sheikh Usamah bin Ladin).
Sementara target untuk ‘memotong’ sumber inspirasi dan membuat Al Qaidah mati sebelum berkembang, dengan cara memerangi dan mengalahkan ideologi/fikrah ‘teroris’, maka pada hakikatnya adalah memerangi fikrah Islam.

Khusus dalam front ini, kami tidak akan terlalu terlibat dalam pertempuran, karena ini adalah medan pertempuran antara kaum ‘Neo Konservatif’ dan ideologi Globalisme mereka melawan Allah Yang Maha Perkasa, yang telah menurunkan Din Islam ini. Siapakah nanti pemenangnya? Sebuah kenyataan yang tidak memerlukan klarifikasi panjang lebar jika yang membaca ini adalah seorang muslim atau setidaknya mereka para ‘ulama’ muslim itu.

Panji/slogan Al Qaidah sangat sederhana. Ia berbunyi:
“Al Quran yang memberi petunjuk dan pedang yang memberi pertolongan”
(Seperti kata-kata Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika mengomentari ayat 25 Surat Al Hadid, “… dan Din Islam ini ditegakkan, bersama Kitab [Al Quran] yang memberi petunjuk, dan besi [pedang] yang memberi pertolongan”)

Ini lebih komprehensif dan lebih ringan ketimbang slogan berbagai organisasi dan jamaah Islam. Dan tentu ini lebih pendek dari slogan
“Singgasana kekuasaan adalah tujuan kami
Dan Barat adalah teladan kami
Dan referendum-pemilu adalah Quran kami
Dan hidup di jalan parlemen adalah cita kami tertinggi”

Sementara tujuan Al Qaidah…
Maka ia bukanlah satu hal yang sangat pelik seperti soal logaritma
Atau soal persamaan al jabar lainnya.

Tujuan Al Qaidah sederhana dan jelas

Di antara tujuan taktisnya adalah:
“Aku bersumpah demi Allah, Yang Maha Perkasa, Yang telah menegakkan langit tanpa tiang, Amerika dan mereka yang tinggal di Amerika tidak akan pernah merasakan keamanan dan kedamaian, hingga kami merasakan keamanan dan kedamaian di Palestina, dan hingga seluruh tentara kafir dan kekuatan kafir keluar dari Bumi Suci kelahiran Nabi shallahu’alaihi wa salam”.

Allahu Akbar!
Kemuliaan hanya milik Islam
Dan keberkahan serta keselamatan semoga dicurahkan Allah atas Anda semua

Yang sangat membutuhkan Allah
Abdur Rahman Faqeer

———————————–

Battalion Media Al-Tawbah

Add comment 29 June 2008

Syahida Hawaa Barayev – The Sword of Hijaab

Kepada seluruh ummat muslim,

Kepada mereka yang gagal memenuhi kewajibannya kepada saudara-saudara mereka di Chechnya.
Kepada mereka yang membuang-buang waktu mereka dengan mengumbar kata-kata ketika muslimin di Chechnya dan dibelahan bumi lain sedang dibatai.
Perhatikanlah sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang muslimah muda berhijab yang bahkan belum genap berumur 20 tahun, kerika menyampaikan kata-kata terakhirnya : “Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”

Beberapa waktu yang lalu, saudari Hawaa` Barayev mengendarai sebuah mobil yang dipenuhi dengan bahan peledak melewati jalan Alkhan Kala dan memasuki sebuah gedung yang digunakan oleh pemimpin pasukan khusus Rusia di Chechnya. Para pasukan Rusia telah berusaha menghentikannya dengan melepaskan serentetan tembakan, akan tetapi ALLOH ta`ala berkehendak memberikan kemenangan padanya dan pada pesannya “Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”. Dia mengendarai mobilnya melalui pintu gerbang menuju pusat gedung. Dan meledaklah bahan peledak yang dibawanya tadi, menghancurkan bangunan dan menyebabkan rusak berat.
Setelah debu lenyap, didapati sebanyak 27 tentara Rusia kebanyakan dari mereka merupakan senior Pasukan Khusus terkapar tewas. Gedung yang digunakan oleh pasukan khusus Rusia rusak berat, dan pasukan Rusia yang berjumlah 270.000 orang itu hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut tanpa bisa melakukan apa-apa, ketika seorang jundulloh (Hawaa` Barayev) menusukkan pisau kejantung pasukan elite Rusia. Kerusakan berat pada gedung dan ratusan pasukan Rusia yang panik dan mengelilingi lokasi pasca serangan menunjukan kebohongan pernyataan resmi pihak Rusia bahwa hanya sedikit prajurit yang terbunuh atau luka-luka pada saat serangan.

Pengorbanan dirinya untuk meraih ridho ALLOH ta`ala dan muslim lainnya adalah sebuah peringatan pada orang-orang kafir tidak hanya di Chechnya, tapi seluruh dunia, bahwa ummat muslim tidak akan lagi menerima kedzoliman orang-orang kafir. Hal tersebut merupakan peringatan pada mereka yang berfikir bahwa mereka bisa melakukan kekejian terhadap ummat muslim, wanita dan anak-anak tanpa memperoleh balasan sedikitpun.
Hawaa` Barayev telah memberi pelajaran pada musuh-musuh ALLOH ta`ala bahwa mereka akan dibalas dan mereka akan diburu oleh tentara-tentara ALLOH ta`ala. Hawaa` Baraywv juga telah mengajari musuh-musuh ALLOH ta`ala, bahwa ummat Islam masih memiliki dan akan selalu memiliki wanita-wanita yang dapat melahirkan para mujahidin, laki-laki maupun wanita, yang akan membela keyakinan dan kehormatan muslimin dimanapun.

Akankah ummat muslim yang masih duduk-duduk dengan tenang di rumah-rumah mereka mengambil pelajaran dari apa yang diajarkan oleh Hawaa` Barayev pada dunia. Apakah kalian akan mengikuti tindakannaya yang memiliki keimanan yang tidak perlu diragukan lagi dan keberaniannya? Apakah kalian akan ikut mendukung saudara-saudari kalian di Chechnya dengan segenap kekuatan kalian, politik kalian dan financial kalian? Akankah kalian setidaknya mengingat saudara-saudari kalian di Chechnya dalam doa-doa kalian?

Tindakan ini telah menambahkan sebuah warna baru pada perang gerilya yang dilakukan oleh mujahidin sebagai salah satu perlawanan mereka untuk membasmi keberadaan tentara Rusia di Chechnya. Semoga ALLOH ta`ala meningkatkan intensitas serangan semacam ini, dan semoga ALLOH ta`ala akan senantiasa merohmati saudari kita tecinta, syahidah ummah Hawaa` Barayev, hanya ALLOH lah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita tidak mensucikan seorangpun di atas-Nya

Sesaat setelah berita serangan tersebut menyebar, komandan lapangan Ramadan Ahmadov berkomentar: “Laki-laki Chechnya yang hanya duduk-duduk di rumah-rumah mereka dan tidak melakukan apapun tidak dapat lagi menampakan wajahnya dihadapan para wanita; semoga ALLOH ta`ala menyayangi saudari kita, Hawaa` Barayev.”

Hawaa` Barayev adalah wanita pertama yang melancarkan serangan bom syahid di Chechnya. Dia bukanlah syahidah pertama di Chechnya, sebelumnya telah ada saudari-saudari kita yang syahid di tangan Rusia pengecut. Akan tetapi dia telah menjadi perintis aksi bom syahid wanita; aksinya tidak saja diikuti oleh sepupunya yaitu komandan lapangan Arbi Barayev, dia juga meningkatkan semangat para mujahidin untuk hidup, jihad dan mati di jalan ALLOH ta`ala.

Semoga ALLOH ta`ala memberikan kemenangan pada Mujahdin di Chechnya dan semoga ALLOH ta`ala menempatkan mereka pada syurga tertinggi dan dalam naunganNya.

Dialah salah satu saudari kita yang telah syahid dari ummat ini.

“Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”

Hawaa’ Barayev, The Sword of the Hijab.

Courtesy: At Tawbah Forum

Add comment 29 June 2008

Suraqah Al Andalusi

Azzam.Com Correspondent : Suraqah Al-Andalusi
Taken from Azzam Publications

“Ya Allah, jangan biarkan aku meninggalkan pegunungan ini, kecuali setelah Engkau anugerahkan syahadah padaku”

Suraqah Al Andalusi, koresponden Azzam.com, terbunuh syahid dalam serangan cluster bomb (bom curah) yang dilancarkan Amerika dalam Pertempuran Tora Bora, wilayah Timur Afghanistan, pada malam Jum’at 29 Ramadlan 1422 Hijrah (14 Desember 2001). Asy Syahid berusia 28 tahun, dan meninggalkan seorang isteri dan dua anaknya yang masih kecil; laki-laki dan perempuan.

Kenangan dari Saudara Asy Syahid

Ketika kecil, Suraqah tumbuh seperti anak-anak kebanyakan. Ia pergi ke sekolah umum, dan di SMP ia mendapat nilai di atas rata-rata. Tetapi tidak ada yang istimewa dari kehidupannya. Hanya saja kami dididik oleh orang tua kami dalam tradisi keislaman. Orang tua kami tidak ingin kami ikut terbawa arus jaman di tengah lingkungan kafir ini.

Ia tumbuh di lingkungan di mana sedikit sekali orang muslim, bahkan tidak ada satupun orang muslim di sekolahnya. Ketika ia masuk universitas, cakrawala berfikirnya bertambah luas. Ia kemudian bertemu dengan kawan-kawan dari Pergerakan Islam. Interaksinya dengan para ikhwah ini memberi dimensi baru dalam kehidupannya, kemudian ia mulai terlibat dalam lingkar-lingkar diskusi (halaqah ilmu) dan berkecimpung dalam proyek-proyek amal Islami bersama Persatuan Mahasiswa Muslim di kampusnya. Di universitas itu juga ia bertemu dengan berbagai macam Harakah Islam, dan sejalan dengan berlalunya waktu, ia mulai menyadari bahwa sulit sekali menemukan kelompok gerakan Islam yang benar-benar ‘sempurna’. Ia tidak bisa menemukan satu harakah islam yang ia rasa seimbang dalam berbagai sisinya dan memberinya pemahaman yang menyeluruh. Ia merasa bahwa banyak harakah yang begitu baik, tetapi tidak sedikit yang ia nilai harakah itu sedikit mengabaikan sisi amali dari kata-kata yang disampaikannya.

Suatu hari, ia membeli sebuah kaset berjudul “In The Hearts of Green Birds”. (In The Hearts of Green Birds adalah audio kaset terkenal, yang berisi nasyid dan kisah-kisah para mujahid dan syuhada di Tanah Jihad Bosnia Herzegovina. Kaset inilah di antaranya, yang telah menginspirasi banyak ‘western Mujahid’ pasca Perang Afghanistan, keluar dengan diam-diam dari negeri mereka lalu datang ke berbagai Tanah Jihad di berbagai belahan bumi. – Pent.). setelah mendengar kaset ini, Suraqah menyadari bahwa inilah Jalan yang tengah ia cari selama ini. Selanjutnya ia banyak menyaksikan video dokumenter tentang Jihad di Bosnia. Melihat para mujahid dan syuhada dari tayangan dokumenter itu, Suraqah merasa seakan ia menemukan kembali kawan sejati yang telah lama hilang, kawan karib yang ingin ia tidak berpisah lagi. In The Hearts of Green Birds menginspirasinya begitu dalam, karena kaset ini berisi berbagai kisah nyata, kisah sejati tentang orang-orang yang mempesonifikasikan secara nyata keyakinan yang mereka pahami, orang-orang yang rela menyerahkan miliknya yang paling berharga (kehidupan) demi kejayaan dari keyakinannya itu.

Lalu ia pun mulai membaca dan menelaah berbagai karya tulis, ceramah, dan manuskrip dari salah seorang Ulama legendaris Dunia Islam saat ini, Al Imaamul Mujahid Asy Syahid Sheikh Abdullah Yusuf Azzam rahimahullah. Inilah salah satu ulama yang sungguh sangat dihormatinya, karena Ustadz Azzam bukanlah ‘ulama textbook’, ulama yang sekedar berkata dan memberi fatwa, tetapi ia adalah di antara sedikit ulama yang menempuh apa yang dikatakannya, ulama yang menghidupkan kata-katanya dengan jihad dan pengorbanan, satu di antara sedikit ulama ahlu tsugur, di antara sedikit orang yang insya Allah telah menempuh jejak langkah para Rasul. Ustadz Azzam memiliki kepribadian yang mempesona, kedermawanannya dan jiwa kepahlawanannya tergambar nyata dalam jejak kehidupannya.

Di universitas, Suraqah aktif berdakwah kepada segenap saudaranya, baik saudara sendiri maupun kawan-kawan sekitarnya. Ia aktif membina, menjadi murabbi. Kadang ia baru pulang setelah larut malam dari berdakwah. Para ikhwah di masanya (mungkin maksudnya anak-anak didiknya – Pent.), dengan ijin Allah, mulai mengamalkan apa yang telah diajarkan, mereka beramal bersama, mensolidkan dan membangun ikatan ukhuwah yang erat di antara mereka.

Ia memiliki kepribadian yang baik, dan jika diberikan amanah, ia berusaha menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Nilai-nilai Keislaman sungguh telah membuka matanya, ia melihat bahwa mizan Islam telah menjawab secara tepat berbagai problem, ia merasa sangat bersyukur atas nikmat hidayah Allah ini. Tetapi masih ada beberapa masalah krusial yang baginya belum terjawab. Beberapa masalah krusial yang juga sentiasa berkelebat dalam jiwa banyak Pemuda Islam hari ini:

Bagaimana sesungguhnya usaha Islah dijalankan untuk memperbaiki nasib Ummah?

Jalan yang manakah yang paling utama ditempuh?

Siapakah sekarang ini yang merupakan ‘Pewaris Nabi’ (ulama) Sejati?

Bagaimana kedudukannya dan sikap yang harus ditempuh dalam menghadapi rejim thagut (apostate regime) yang memerintah di Negeri Islam saat ini?

Semakin lama ia menelaah, semakin nyata ia melihat kotradiksi dalam pemahaman banyak orang dari Ummah ini, serta berbagai standar ganda dalam manhaj dan metodologi yang dianut oleh banyak ‘ulama’ dan ‘penyeru’ Islam. Suraqah sentiasa menyandarkan diri ketika jiwanya menghadapi hal ini kepada kata-kata salah seorang Shahabah Besar Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud ra: “Al Jama’ah, adalah siapa saja yang menetapi Kebenaran, meskipun ia hanya seseorang (di tengah arus mayoritas orang)”.

Banyak ulama, serta orang-orang yang diklaim memiliki derajat keulamaan, bersikap diam di hadapan ‘Kejahatan Besar’ (Thogut tirani, Para Penguasa Jabbarin ‘anid), dan mereka berusaha melindungi sikap diamnya ini dengan berbagai teks, fatwa, serta dalil-dalil islami. Menghadapi ini, Suraqah mencoba bertanya kepada nuraninya, menjadikan nuraninya sebagai penentu, dan memohon Allah menetapkan fatwa kebenaran, meskipun untuk itu ia sering berseberangan dengan kawan-kawannya yang lain – sehingga seakan kata-kata Ibnu Mas’ud memenuhi ruang jiwanya. Suraqah merasa, bahwa tidak sedikit dari Muslim saat ini telah kehilangan pemahaman agama yang komprehensif dan benar.

Sebagai contoh, pemahaman tentang Syahadat sebagai Rukun Islam yang pertama, – orang akan langsung berbicara seputar konsep Tauhid, tetapi mereka mengabaikan salah satu pilar asasi dari Tauhid dan Syahadat, yaitu Al Wala’ wal Baro’, yang di antara konsekuensinya adalah keharusan untuk menolak setiap kekuasaan Jabbarin ‘Anid, menolak Rejim Thogut (Apostate Regime), serta mengembalikan penghambaan hanya kepada Allah. Suraqah menilai bahwa di antara bentuk Thogut saat ini adalah berbagai sistem hidup dan pemerintahan buatan manusia yang bercokol di Dunia Islam, ia menilai di antara para Firaun masa kini adalah The Apostate Regimes, sehingga siapa saja yang menetapi Laa ilaaha illa Allah, harus menjauhkan dirinya dari para tuhan-tuhan palsu ini serta mengibarkan permusuhan terhadap mereka. Suraqah sering mengulang pernyataan Waraqah bin Naufal tentang diri Rasulullah: “Tidak satupun orang yang membawa risalah seperti risalahmu, melainkan mereka pasti akan dimusuhi”.

Suraqah sentiasa mengingat satu pernyataan dari Imam Abu bakr bin Ayyash:

“Ketika Ahlu Sunnah meninggal dunia, maka seluruh memori dan ajarannya sentiasa hidup, sementara ketika Ahlul Bid’ah meninggal dunia, maka seluruh memori tentangnya ikut mati bersamanya. Hal ini terjadi karena Ahlu Sunnah menegakkan apa-apa yang diajarkan Nabi saw, sehingga mereka mendapatkan janji Allah: ‘Bukankah Kami telah meninggikan namamu?’ (QS Al Insyirah 4). Ahlul Bid’ah justru menghancurkan apa-apa yang diajarkan Nabi saw, sehingga mereka mendapatkan janji Allah: ‘Sungguh mereka yang membencimu (Ya Muhammad) pasti akan terputus (dari seluruh kebaikan dan rahmat di dunia ini maupun di akhirat nanti)’ (QS Al Kautsar 3)”

Inilah kata-kata Imam Ahmad bin Hanbal saat ia dipenjara, menegaskan sikapnya untuk teguh menyampaikan kebenaran: “Jika para ulama melakukan taqiyyah (menyembunyikan kebenaran yang diyakininya), dan kebanyakan orang masa bodoh terhadap kebenaran, maka dengan cara apa Kebenaran dapat tegak di dalam kehidupan?”

Semakin lama Suraqah membaca dan mendengar kisah para Nabi dan perjuangan mereka menegakkan Laa ilaaha illa Allah; bagaimana generasi Salaf serta para Ulama Robbani berjuang mengikut Jalan ini; seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Thaimiyah, maka ia semakin yakin bahwa Jalan yang harus ditempuh itu adalah Jalan Pemahaman (dakwah) dan Jihad, keduanya saling berkelindan, seperti dua muka dari satu mata uang.

Di antara Ulama dan Pemikir Islam kontemporer yang sangat mempengaruhi pemikirannnya adalah Syahid Doktor Sayyid Quthb, Syahid Sheikh Abdullah Azzam, Fizazi, dan Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisi. Kepada siapa saja, baik sahabatnya, ataupun keluarganya, Suraqah selalu mengajak dan menjelaskan tentang Jalan Mulia ini, berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang-orang akan kebenaran yang ia sampaikan. Seringkali orang menolak seruannya, dan mengejeknya dengan berbagai cemoohan, seperti: “Jadi apa sih yang mau kamu lakukan, merubah dunia? Apa memang bisa Jalan Jihad ini merubah keadaan, apa sih yang telah dicapai para ‘mujahid’ itu?”

Diskusi dan debat yang dilakukannya bukanlah demi kepopuleran pribadi, tetapi muncul dari jiwa dan kecintaannya kepada para Mujahid dan Syuhada. Suatu saat, setelah ia terlibat dalam salah satu diskusi panjang dengan sahabat-sahabat dekatnya, air mata deras membasahi pipinya karena orang-orang ini tidak menerima penjelasannya dan mencampakkan idenya dengan kasar.

Kendati semua hal ini, ia tidak kecewa dan tidak membenci sahabatnya, ia terus melanjutkan menempuh Jalan ini. Ia kemudian memahami bahwa siapa saja yang berkehendak untuk menempuh Jalan ini, maka ia harus bersiap menjadi ‘Al Ghurabaa’, Orang-orang Sunyi. Ia membaca salah satu buku Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisi dan takjub dengan salah satu pernyataannya: “Di bentang dunia kita ini, sesungguhnya ada Dua Dunia; Dunia Kasat Mata dan Dunia Yang Ghaib. Setiap tindakan yang engkau lakukan di Dunia Nyata ini akan mendapat balasan di Dunia Yang Ghaib, meskipun engkau melihat tidak ada perubahan sedikitpun terjadi di Dunia Nyata”. Tulisan ini menyingkapkan keraguan-keraguan yang masih tersisa di hatinya mengenai Jalan yang akan ia tempuh ini.

Setelah menamatkan kuliah, ia menikah dan Allah menganugerahkannya dua orang anak, seorang laki-laki dan yang lainnya perempuan. Ia pun memulai berdakwah dan merintis lingkar-lingkar studi (halaqah) di masyarakat sekitarnya, di mana lewat forum halaqah ini ia mencoba mengajarkan para saudaranya berbagai hal fundamental dari Islam, menjelaskan kepada mereka berbagai Petunjuk Jalan dalam menempuh Din ini.

Isterinya bercerita bahwa Suraqah sering bangun malam untuk Shalat Tahajjud, dan setelah itu menghafal Surah At Taubah, mentadabbur isinya, mengukuhkan cita-cita dan mensolidkan keyakinannya. Ia sangat sayang pada anak-anaknya. Tetapi setiap saat ketika ia bermain dengan anak-anaknya, tanpa sengaja ia mengulang ayat Allah: “Al Maalu wal Banuuna fitnah (harta dan anak-anak adalah fitnah)” – seakan ia telah menyadari bahwa sebentar lagi ia akan berpisah dengan mereka – Pent.. Ia seorang yang sabar dan terorganisasi. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia akan mengerjakan sebaik-baiknya betapapun pengorbanan besar harus dibayarnya. Suraqah sangat dekat dengan orang tuanya; ia sering berkunjung menengok mereka, dan selalu berdoa demi mereka.

Setahun sebelum syahidnya, Suraqah memutuskan untuk berangkat berhajji, dan di titik inilah, perjalanan hajji memberinya satu pengaruh yang dalam. Suraqah pernah berkata: “Jika seseorang masih belum percaya betapa Ummah ini sedemikian terpuruk keadaannya, maka Hajji akan memberimu jawaban”. Di Tanah Suci itu ia menyaksikan ketidakpedulian Muslim: orang-orang yang lidah mereka dipenuhi dzikir-dzikir dan doa, tetapi mereka gagal untuk meresapkan nilai ukhuwah dan kedermawanan terhadap sesama saudaranya. Mereka khusyu berdzikir untuk dirinya, tetapi mereka tak memperdulikan saudaranya yang lain. Ia menyaksikan banyak perilaku bid’ah dan syirk dilakukan orang bersamaan dengan ibadah hajji. Ia menyaksikan di luar Masjidil Haram, berdiri beberapa kantor bank konvensional yang menerapkan riba. Betapa semua kenyataan ini mendidihkan darahnya; inikah tanah yang 1400 tahun lalu telah disucikan oleh siraman darah dan peluh dari generasi pertama yang dipimpin Rasulullah, dari najis kemusyrikan? Inikah tanah haramain, yang segala kekafiran haram untuk memasukinya, tetapi ternyata berbagai institusi finansial milik orang-orang kafir malah telah diundang masuk berdiri di sana? Kesemua kenyataan yang ia saksikan ini makin mengukuhkan cita-citanya.

(Inikah Tanah Haramain, yang saat ini Bala Tentara Salib, telah memasuki tanahnya, dan bercokol tepat di Pintu Gerbangnya? Inikah Sang Khadimul Haramain, orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Pelayan Dua Tanah Suci? Tetapi mengapa justru mereka yang mengundang dan mempersilakan Bala Tentara Kafir memasuki Haramain, padahal satu tahun sebelum wafatnya, Rasulullah pernah berwasiat, bahwa jika hingga tahun depan Beliau masih hidup, Beliau saw sendiri dengan ijin Allah akan memimpin para Mujahid untuk membersihkan Daratan Semenanjung Arab seluruhnya dari orang-orang kafir? – Pent.)

Bergabung dengan Proyek Azzam.com

Suraqah adalah anggota tim yang menerjemahkan dan mengetik skrip dari video The Martyrs of Bosnia. Ia juga bagian tim yang melaksanakan wawancara, melakukan riset dan penerjemahan dari berbagai bahan-bahan untuk situs Azzam.com, khususnya The Jihad Lands Section; Afghanistan, Uzbekistan, East Turkestan (China), dan Central Asia. Ia adalah orang yang menerjemahkan seluruh isi buku mengenai The Jihad in Central Asia, yang ditulis dalam bahasa arab oleh seorang Mujahid di Afghanistan. (Sebelum Azzam.com dibredel pada tahun 2002 atas desakan Thagut Amerika. Kini materi-materi dari situs Azzam.com beredar secara rahasia dari lingkar-lingkar milis – pent.)

In Memorial, dari Seorang Shahabat Syahid Suraqah

Untuk Saudaraku tercinta, Sahabat dan Karib setia, semoga Allah mengasihinya dan menerima syahadahnya; kehidupan dan kepergiannya dari dunia ini mengingatkanku akan firman Allah:

“Wahai orang-orang beriman! Mengapa ketika disampaikan kepada kalian, ‘Berangkatlah untuk berperang di Jalan Allah!’, kalian merasa berat seakan kaki kalian tertancap di bumi? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat? Sungguh betapa remeh dunia ini dibandingkan dengan luasnya Akhirat, jika kalian memahami”. (QS At Taubah 38)

“Apakah kalian mengira dapat masuk Surga sebelum Allah membuktikan siapa di antara kalian yang telah berjihad dan siapa di antara kalian yang tetap bersabar?” (QS Ali Imran 142)

Perjalanan Menuju Afghanistan

Pertama kali aku berjumpa dengan Suraqah adalah ketika kami tengah mengurus embarkasi untuk perjalanan memasuki Afghanistan. Masih terbayang di pelupuk mataku; senyum yang menghias wajahnya ketika aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Perawakannya kurus, tingginya sedang, sinar matanya tajam tetapi memancarkan keteduhan dan ketulusan. Nur yang memancar dari wajahnya serta senyumnya, tak bisa aku lupakan hingga sekarang. Selama perjalanan, ia menunjukan perilaku sabar dan pendiam, tetap bersikap waspada dan sentiasa berusaha melayani para saudaranya yang lain. Di pos pemberhentian yang pertama, aku masih ingat bertanya dengan nada bercanda kepadanya, mengapa ia belum makan apapun, padahal ia bercerita kepadaku bahwa ia memiliki masalah dengan pencernaannya.

Ia tetap bersabar kendati belum makan selama berjam-jam, dalam perjalanan panjang dan berat ini. Tetapi ia tidak ingin menyusahkan saudara-saudaranya yang lain. Sehingga ia memilih untuk menyembunyikan derita laparnya di balik senyum diamnya. Aku jadi tersenyum menyaksikannya, karena ia adalah orang yang baru aku kenal. Aku kemudian berkata kepadanya, bahwa jika telah memasuki Afghanistan nanti, makanan akan semakin sulit didapat, sehingga masalah pencernaannya akan semakin berat. Ia hanya tersenyum dan memberikan sorot mata tajam yang memancarkan kepastian, seakan hendak menegaskan bahwa ia telah memahami semua konsekuensi dari semua ini, dan bahwa tidak ada pengorbanan yang remeh di hadapan Allah Rabbul Izzah.

Di akhir rute perjalanan, kami berhenti untuk shalat fajar dan shubuh. Kami kemudian beristirahat sejenak, untuk kemudian bersiap kembali. Kami kemudian berangkat lagi untuk menuju pos penghentian terakhir, tempat kami beristirahat dan bersiap sebelum kami memasuki Tanah Afghanistan. Kami pun makan, dan Suraqah ikut makan walau sedikit. Aku tersenyum ketika melihatnya makan. Kami dipersilakan beristirahat hanya satu jam saja. Setelah itu kami bersiap kembali. Ini adalah bagian perjalanan yang paling berbahaya, karena kami akan memasuki wilayah bergolak, Afghanistan. Seluruh peserta perjalanan mulai berdzikir dan berdoa tanpa henti, memohon keselamatan kepada Allah.

Aku masih ingat ketika rombongan kami menyeberangi perbatasan memasuki Afghanistan. Aku melihat binar kegembiraan dan rasa syukur di wajah Suraqah. Kami telah menjejakkan kaki di atas bumi, yang pernah pada suatu masa setiap muslim dan mujahid merasa terlindungi di sana, semoga Allah mengembalikan keamanan dan kesejahteraan kepada Ummah Islam di Afghanistan, dan semoga Allah menegakkan kembali Daulah Islam di Afghanistan. Aku menyaksikan Suraqah menjadi lebih tenang dan kadang suka bercanda. Kami semua merasa lega karena telah tiba dengan selamat. Aku masih mengingat betapa sering ia melihat keluar melalui jendela kendaraan kami, mengagumi pemandangan, dan mungkin pikirannya tengah menyusun berbagai rencana, membayangkan masa depannya di atas Bumi ini, dirinya, keluarganya, dan Agamanya.

Hari-hari Pertama di Tanah Jihad

Betapa agungnya tanah jihad itu, khususnya bagi mereka yang telah berhijrah menapaki buminya, tinggal dan bersabar bersama dalam ketulusan, sementara mereka telah rela meninggalkan keluarga tercinta serta segala kehidupan dunia lainnya di belakang mereka. Kini mereka menjadi saudara satu sama lain, dalam ikatan yang begitu kukuh.

Kami harus mengerjakan beberapa tugas persiapan sebelum Suraqah mendapat keluangan waktu untuk mengikuti latihannya (latihan kemiliteran). Ada banyak tugas riset yang harus dikerjakan, wawancara dan pertemuan, serta berbagai bahan tulisan yang harus diterjemahkan. Sungguh Allah telah memberkatinya, karena Suraqah memiliki kemampuan yang memadai untuk menyelesaikan berbagai tugas itu. Di saat-saat inilah aku dapat mengenalnya lebih dekat lagi. Di saat itu, ada seorang Brother yang jatuh sakit dan harus dirawat pulang; karena itu beberapa Brothers yang lain harus mengantarkannya ke luar Afghanistan, tinggallah aku berdua Suraqah yang meneruskan tugas-tugas, dan mungkin beginilah cara Allah menetapkan bahwa kami akan melewati hari-hari bersama.

Awalnya, kami harus tinggal di wilayah pinggiran kota, di mana di sana begitu banyak tugas menanti. Begitulah, perkembangan berjalan sangat lambat, dan aku masih mengenangnya sebagai salah satu saat yang penuh ujian bagi kami, karena kami berdua merasa seakan tak sabar lagi untuk segera ‘terjun ke lapangan’, tetapi kami saling mengingatkan untuk bersabar. Hari-hari pertama itu rasanya sering membuat jenuh dan bosan, tetapi kami sentiasa saling memberi tausiyah dan mengingatkan kembali akan niat kami ketika akan berangkat.

Satu saat kami mengobrol tentang keluarga, dan aku bercerita kepadanya betapa sulitnya mengucapkan selamat berpisah kepada ibu kita, yang tak henti-hentinya menangis, karena menyadari bahwa bisa jadi ini adalah saat terakhir kita melihatnya. Suraqah terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, “Ya Saudaraku, tetapi ikatan antara seorang suami dengan isteri adalah ikatan batin yang lebih khusus lagi dari ikatan batin antara ibu dan anaknya. Ikatannya begitu erat, begitu erat…” Aku merasakan kesedihan dalam ucapannya itu, mengingat ia pernah bercerita bahwa ia harus meninggalkan isterinya yang masih muda bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil, tetapi aku juga dapat menangkap ekspresi kerelaan di wajahnya, bahwa dia memahami inilah di antara pengorbanan yang harus dipersembahkan demi kehormatan Din Islam ini.

Ia pun bercerita tentang betapa di tahun-tahun belakangan ini ia harus bekerja keras mempersiapkan bekal baginya dan bagi keluarganya, agar keluarganya punya cukup uang dan tabungan jika tiba saatnya ia berangkat. Ia ungkapkan kepadaku perasaan jiwanya yang paling dalam, betapa ia benci tinggal di negeri orang-orang kafir, dan betapa ia bahagia dan sungguh merindu, untuk dapat membawa seluruh keluarganya, isteri dan anak-anaknya pulang, di sini, di atas Tanah Islam Afghanistan ini. Satu saat kami berbicara tentang orang-orang muslim yang tinggal di Barat, dan ia pun berkata, “Apa yang dapat kita lakukan di negeri orang-orang kafir? Demi Allah, seakan-akan aku merasa bergelimang sentiasa dengan segala hal yang haram setiap hari, dari saat kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Betapa sedikit waktuku untuk menunaikan shalat, untuk membaca Kitabullah, untuk mempelajari Din Islam, tetapi di sini aku merasa bebas untuk menyembahNya, Sang Maha Agung”.

Melalui waktu-waktu yang menjemukan itu, tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali bersabar. Di waktu-waktu itu, aku sering memergokinya tengah menghafal Al Qur’an, atau tengah shalat khusyu’ bermunajat kepada Allah. Sungguh aku menyaksikannya sebagai seseorang yang telah menetapi suatu cita-cita yang pasti, yaitu mempersembahkan pengabdian yang sebenarnya untuk Din ini, seorang pria dengan ambisi yang mulia demi kemuliaan Din ini, seorang pria yang Allah telah melimpahkan dalam hatinya rasa welas asih dan kepedulian demi tegaknya kehormatan Ummah ini.

Ia bercerita kepadaku bahwa betapa cukup lama ia ingin untuk dapat mempelajari Din Islam secara serius, dan ia ingin agar dapat kesempatan untuk duduk menjadi santri di hadapan seorang Sheikh di Afghanistan, menyerap ilmunya dan menjadi muridnya yang serius. Aku suka berbicara padanya tentang berbagai rencana-rencana di masa depan, dan kesempatan-kesempatan bertemu dengan orang-orang penting (para pimpinan Mujahidin), dan dia mengungkapkan kepadaku betapa inginnya ia membawa keluarganya ke Tanah Jihad yang Diberkati ini. Ia sungguh bahagia melihat bagaimana Islam berusaha untuk ditegakkan secara total seperti ia menyaksikannnya di Afghanistan. Setiap saat ia mendengar berita kebaikan, keadilan yang ditegakkan melalui Kitabullah, wajahnya bersinar gembira. (….Ya Allah,… tegakkan kembali Daulah Al Qur’an di Tanah Afghanistan, Daulah Terhormat yang ditegakkan di atas Pucuk-Pucuk Tombak, Daulah Izzah yang disuburkan dengan Sungai-sungai darah, Daulah yang satu saat pernah menjadi tumpuan harapan bagi para Muhajirun…)

Aku takjub melihat betapa cepatnya ia menyatu dengan Negeri ini dan orang-orangnya, seakan ini semua adalah Karunia Allah atas seluruh amal kebajikannya ketika ia giat berda’wah, dan bagaimana ia sungguh-sungguh bekerja mempersiapkan diri, ketika ia masih di negeri asalnya, dan betapa ia tak jemu berdoa memohon kepada Allah Sang Maharaja. Dan Allah mengabulkannya. Dan agaknya Allah memang telah memilih Tanah Jihad ini sebagai tempat tujuan terakhirnya, di mana jasadnya kelak akan beristirahat, dan jiwanya dianugerahi Kehormatan langka dengan Syahadah di JalanNya. (…Dan dari Tanah ini, Suraqah akan bangkit kelak di Hari Qiyamat, bergabung bersama Qowafilusy Syuhada… Insya Allah)

Kepribadian Asy Syahid

Waktu pun berjalan, dan kami mulai mencapai beberapa kemajuan, tetapi masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Satu saat pernah aku terserang rasa jemu sehingga membuatku futur dan malas. Aku jadi lebih suka berlama-lama istirahat, aku merasa kesehatan tubuhku menurun drastis. Banyak pekerjaanku menjadi terbengkalai. Tetapi, Suraqah tetap bekerja dengan giat. Dialah yang meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang semestinya aku selesaikan. Aku masih ingat ketika terbangun tiba-tiba di tengah malam, dan aku dapati Suraqah masih duduk mengetik, menyelesaikan tugas. Karena kesungguhan Suraqah, Segala Puji bagi Allah, kami dapat mengejar deadlines dari pekerjaan kami (penayangan berita untuk Azzam Publications). Dan dengan ijin Allah pula, hasil pekerjaannya akan dibaca dan menjadi inspirasi banyak orang di masa yang akan datang.

Ada seorang Brother dari Afghan yang sering datang membawakan makanan kepada kami. Suraqah sering mengobrol akrab bersamanya, karena aku jarang berada di tempat. Brother Afghan ini sangat miskin, sehingga ia harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke tempat kami. Satu hari Suraqah datang kepadaku dan mengusulkan jika kami membelikannya sepeda, sehingga Brother Afghan ini dapat memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk bekerja dan memberi nafkah keluarganya. Tidaklah semua ini ia usulkan, kecuali aku merasakan ketulusan yang sangat dan empatinya yang dalam atas Brother Afghan ini, dan inilah satu di antara keunikan kepribadian Suraqah yang sangat membekas di hatiku.

Aku masih mengingat betapa sulitnya membawa sepeda itu ke tempat kami tinggal! Aku masih mengingat bagaimana kami tertawa bersama ketika kami berdua naik sepeda itu sambil berboncengan, kemudian ban sepeda tersebut lagi-lagi bocor, sehingga kami pun harus memanggulnya. Kami pun terkulai kelelahan, sehingga akhirnya kami terpaksa mengangkut sepeda itu dengan taksi! Suraqah terus tertawa dan berkata ‘Jangan menyesal! Ini untuk menolong seseorang yang baik’ dan aku pun hanya diam sambil tersenyum.

Jika kami kebetulan sedang berjalan-jalan, banyak sekali anak-anak miskin dan wanita tua yang datang menghampiri kami untuk meminta uang. Kadang aku merasa iba melihat mereka, tetapi hal tersebut menyentuh hati Suraqah lebih dalam lagi. Ia tidak mampu menolong mereka, tetapi ia memberikan 10 rupees kepada setiap anak yang ia lihat, dan hal ini ia lakukan di setiap kesempatan. Aku bertanya padanya, mengapa ia tidak mengabaikan saja mereka, karena memberi uang seperti itu hanya akan membiasakan mereka. Ia menjawab, “Setiap kali aku melihat anak-anak ini, aku ingat anak-anakku di rumah. Sungguh aku merasa sedih tidak dapat melihat mereka”. Maka aku menyaksikan seakan ia melimpahkan segala kebaikan kepada orang lain, seakan ia tengah berbuat baik kepada keluarganya sendiri. Ia melimpahkan kasih sayang kepada keluarganya melalui berkhidmat kepada orang lain. Semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya kepada Suraqah, kepada istrinya, kepada anak-anaknya, dan seluruh keluarganya.

Setelah bertemu dengan para mujahid dari berbagai negara, timbul keinginan dalam diri Suraqah untuk juga membawa keluarganya hijrah ke Tanah ini dan hidup sebagai keluarga Mujahid. Aku masih mengingatnya bagaimana kadang ia merasa menyesal tidak membawa serta keluarganya bersama. Ia selalu bercerita bagaimana ia berusaha meyakinkan ayah dan ibunya untuk datang ke Afghanistan dan membantu Ummah Islam di sini dengan keahlian mereka. Segera setelah ia menginginkan seperti itu, ia menghabiskan banyak waktu luangnya dengan menulis surat kepada isteri dan saudara-saudaranya. Aku seakan masih menyaksikannya, duduk di sudut sana, kadang tersenyum sendiri ketika asyik menulis surat, seakan ia tengah bercakap-cakap dengan keluarganya melalui surat itu. (… tak terasa air mataku merembes jatuh… )

Aku juga masih ingat bagaimana ia ingin untuk segera dapat maju ke garis depan. Tetapi aku tetap menekankan pentingnya pekerjaan kita ini (sebagai koresponden Azzam Publications), dan memintanya untuk bersabar. Satu saat ia agak frustrasi dan berkata kepadaku, “Aku datang ke sini tidak untuk sekedar duduk-duduk saja, aku ingin bisa menyerta maju ke garis depan, seperti itulah sesungguhnya tabiatku…” Aku katakan kepadanya, “Sabarlah Saudaraku, kesempatanmu pasti tiba, insya Allah…” Lalu ia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya dalam sunyi. Aku bisa merasakan betapa ia ingin segera selesai dari pekerjaan ini, lalu kemudian mengikuti beberapa pelatihan, dan kemudian terjun berperang di Jalan Allah. Yah…, ia memang telah mempersiapkan segalanya demi dapat berangkat ke Tanah Jihad. Kini ia telah ada di sini, dan ia tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi.

Saat-saat Final

Kami harus berpindah ke kota yang lain, karena kami harus bertemu dengan banyak orang dan mewawancara mereka. Suraqah merasa gembira karena kami berpindah lagi, karena kesempatannya untuk semakin dekat dengan medan pertempuran bertambah besar. Perjalanan kali ini sangat sulit, dan salah seorang kru kami menjadi sedemikian lemah, dehidrasi, dan terkena gangguan percernaan hebat, sehingga tidak dapat menelan apapun. Suraqah telah mendapatkan pelatihan dasar P3K dan obat-obatan, sehingga ia dengan sangat sabar merawat ‘Saudara’ kami yang sakit tersebut. Tidak sekalipun aku mendengarnya mengeluh selama perjalanan yang berat tersebut. Aku selalu melihatnya seakan berkontemplasi seperti pendeta. Kami sentiasa berusaha untuk meringankan hati. Kadang Suraqah menyampaikan lelucon yang membuatku tertawa. … Semoga Allah memberkahi aku karena dapat menyertaimu, wahai Sahabat Tercinta, dan kiranya Allah kelak ijinkan kita dapat kembali tertawa bersama…. di SurgaNya yang tertinggi… seperti kita tertawa bersama di kehidupan ini…

Setelah kami tiba di tujuan, kemudian, bersamaan dengan waktuku mendekati akhir (dalam melaksanakan tugas bersama Azzam Publications), kelihatannya Suraqah malah semakin mengakrabi berbicara, mewawancara, dll, lebih dari sebelumnya. Ia menjadi semakin terinspirasi setelah bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya hanya ia dengar dari berita, dan aku menyaksikan ia menjadi semakin serius menyelesaikan pekerjaannya.

Tak lama beberapa minggu tinggal di tempat yang baru ini, Suraqah menjadi orang yang teratur melaksanakan qiyamullail setiap malam. Aku masih ingat jika terbangun di waktu dini hari, dan aku menyaksikannya tengah berdiri dalam shalat. Dia juga selalu berusaha menjaga hafalan Al Quran, dan hafalannya baik sekali. Aku juga selalu mendapati Al Quran bersamanya. Aku tak pernah melihatnya meninggalkan dzikir pagi dan petang (ma’tsurat) dan setelah Shalat Shubuh, aku pasti mendapatinya tengah membaca atau menghafal Al Quran. Kadang-kadang ia melaksanakan shaum sunnah, tetapi hanya ketika ia tiba di kota yang baru itu ia melaksanakan shaum sunnah dengan lebih teratur. Di tempat yang baru, siang hari berlangsung sangat lama, dan suhu udara demikian tinggi, dan semestinya ia tidak berpuasa dalam keadaan demikian, karena ia punya penyakit perut. Tetapi ia tetap menjaga shaumnya. Satu hari kami berdua berpuasa, dan hari itu panas sekali. Bebrapa jam menjelang waktu berbuka, kami berdua merebahkan diri di lantai, lemah dan haus, ketika itu ia berkata kepadaku, “Tidakkah engkau tahu, bahwa kaum Salaf menangis menjelang kematiannya di atas tempat tidur, karena mereka mengharapkan diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat shaum pada hari yang panjang dan berat?” Aku tak bisa lupa cara ia berkata itu kepadaku. Semoga Allah menerima seluruh amal shalihmu wahai Shahabat.

Dalam satu kesempatan yang lain, kami harus mengadakan perjalanan dan aku menyarankannya untuk tidak berpuasa karena akan melelahkan dirinya. Suraqah menatapku dan berkata, “Hanya dengan kesediaan untuk mengangkat beban yang lebih berat, maka Allah pun bersedia mengangkat derajat kita, dan memberikan kita kemenangan, sebagaimana para Shahabah dulu… Aku tidak akan menghentikan shaumku”. Aku merenung dalam memikirkan apa yang baru saja ia katakan, dan aku menyadari bahwa agaknya aku tengah berhadapan bukan dengan seorang manusia biasa. Inilah mungkin di antara kepribadian, serta akhlaknya yang seperti ini, yang aku yakini membuatnya istimewa di hadapan Allah, sehingga di antara sekian banyak manusia di atas dunia, Allah pun mencatat namanya sebagai salah satu di antara mereka yang beruntung, bergabung dengan Qowafilusy Syuhada (Kafilah Para Syuhada), insya Allah…

Mimpi

Satu malam di musim panas, Agustus 2001, ia terbangun dari tidurnya di tengah malam dan berkata padaku, “Aku baru saja bermimpi sangat aneh”. Aku memintanya menceritakan mimpinya barusan. Ia berkata, “Aku menyaksikan bangunan yang tinggi seperti Menara Eifel, kemudian bangunan itu hancur runtuh, dan media massa ramai memberitakan banyaknya orang yang terbunuh dalam peristiwa itu”. Kami pun membuat lelucon mengenai mimpinya, lalu aku menyuruhnya kembali tidur. Tetapi mungkin ia telah diperlihatkan sebagian dari kejadian masa depan…. melalui mimpinya. Allah Sang Maha Tahu, dan Allah memberikan mimpi yang benar kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Dua Saudara Karib Berpisah

Saatnya pun tiba bagiku untuk pergi dari Afghanistan, dan Suraqah pun dapat bergabung dengan Mujahidin dalam medan pertempuran. Pada hari-hari menjelang perpisahan itu, aku masih ingat duduk bersamanya, dan ia menasehatiku agar segera kembali untuk dapat bahu membahu menolong Ummah Islam dan Din Allah di Bumi Jihad yang diberkati ini. Kami pergi ke pertokoan dan ia ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk isteri dan anak-anaknya. Aku ingat ia tampak gembira sekali, banyak tersenyum, banyak bercanda dan membuat lelucon. Ia berkata bahwa ia bahkan tidak mampu sekedar membelikan isterinya pakaian tua/usang, dan di toko itu tidak ada yang dapat ‘menyenangkan’ isterinya. Kami berjalan ke beberapa toko, lalu ia melihat beberapa pakaian untuk anak laki-lakinya, ia pun memilih pakaian yang terbaik kualitasnya dan warnanya. Ia pun membelinya dan menyerahkan kepadaku, lalu berkata, “Aku ingin engkau memberikan ini kepada anak-anakku. Sampaikan salamku pada isteri dan keluarga…., katakan pada mereka, betapa aku tidak pernah melupakan mereka….”

Hatiku bergetar mendengarnya, dan jika aku mengingatnya kembali, pecah tangisku…

Aku masih ingat matanya berkaca-kaca, kesedihan memancar dari wajahnya. Aku pun menghiburnya dan membuat lelucon tentang betapa kami ‘tersesat’ berputar-putar di pertokoan itu, dan betapa Suraqah tidak pandai menawar harga barang!

Ia memintaku untuk menyerahkan suratnya untuk Saudara laki-lakinya. Aku bisa melihat betapa ia sangat dekat dengan saudaranya itu. Suraqah sering bercerita tentang saudaranya itu, betapa sering ia menasehatinya untuk segera menikah dan segera berangkat bergabung bersamanya di Tanah Jihad. Suraqah selalu berbicara dengan antusias, mencerminkan ambisinya yang besar demi Din, keluarga, dan kehidupannya. Semoga Allah menyatukan ia dan keluarganya di SurgaNya yang tertinggi.

Saatnya bagi Suraqah untuk berangkat tiba. Di pagi itu kami duduk dan mengobrol. Aku memberinya beberapa nasehat. Ia begitu gembira hari itu, karena inilah hari yang ia telah lama menunggu sepanjang hidupnya. Aku ikut gembira untuknya, tetapi juga merasa sedih karena akan berpisah dengannya, dan aku tidak tahu akankah kami dapat berjumpa lagi.

Mobil yang menjemputnya tiba. Ia tidak berkata apa-apa padaku, kecuali tersenyum; aku pun ikut tersenyum dan memintanya agar jangan melupakanku dalam doa-doanya. Ia kembali tersenyum padaku, lalu duduk di kursi mobil jeep itu. Aku hanya mampu berdiri dan menatapnya, bersamaan dengan jeep itu melaju menjauh. Kesedihan memenuhi relung jiwaku, dan perasaan tak menentu apakah aku dapat kembali berjumpa dengannya… aku masih mengingat saat-saat perpisahan itu, seakan hari itu baru berlalu kemarin, dan ketika aku mendengar kabar syahidnya, tidak satu haripun kecuali aku sentiasa terkenang kepada Saudaraku yang baik itu….

… Ia adalah Putra kandung dari Ummah ini, yang berhasil menyelamatkan diri dari belenggu fitnah kehidupan dunia, lalu hijrah pulang ke Kerajaan Allah, dengan menempuh Jalan Jihad dan Izzah. Seorang pejuang yang teguh, yang hidup demi aqidahnya, demi Din yang ia yakini. Wahai Saudaraku tercinta, semoga Allah menurunkan hidayah kepada banyak pemuda yang lain, melalui kisah pengorbananmu, dan biarlah hanya Allah yang akan menjadi Penjamin bagi keluargamu… Ya Allah… persatukan Suraqah beserta orang-orang yang ia cintai di SurgaMu yang tertinggi…

Pertempuran Tora Bora

Dan Armada Salib Kekaisaran Ketiga pun melancarkan serbuannya terhadap Islam dan Ummahnya di bulan Oktober 2001. Ketika Taliban memutuskan untuk meninggalkan kota-kota dan bergerak mundur menuju pegunungan, Suraqah adalah di antara para pejuang yang ikut mundur dan menyusun pertahanan di puncak-puncak pegunungan Tora Bora, Wilayah Timur Afghanistan. Komander Tentara Salib Kekaisaran Ketiga, Amerika Serikat, melancarkan serangan hebat ke berbagai posisi pertahanan Mujahidin di Tora Bora. Rangkaian pertempuran yang terjadi di bulan November 2001 itu tercatat sebagai salah satu pertempuran paling hebat saat ini.

Tora Bora adalah wilayah pegunungan yang terdiri dari bukit-bukit rendah mengelilingi puncak-puncak gunung tinggi. Diperkirakan Tentara Crusader Amerika akan mendarat lebih dulu di wilayah bukit-bukit rendah. Karena itu, Komander Mujahidin memerintahkan kepada para Mujahid yang masih baru dan belum berpengalaman untuk naik ke puncak gunung yang tinggi dan menyusun pertahanan di sana, sementara para Mujahid yang telah berpengalaman akan bersiap menyambut Tentara Salib di pelataran bukit-bukit rendah. Suraqah menemui Komander regunya, dan meminta agar ia diijinkan untuk ikut bersama para pasukan yang bersiap di pelataran bukit rendah, karena ia ingin menghadapi langsung tentara Amerika saat tibanya mereka. Permintaannya ditolak, dan walaupun agak enggan ia tetap patuh pada perintah komandernya untuk berangkat ke puncak gunung.

Sepanjang November 2001, bertepatan dengan Bulan Ramadlan 1422 Hijrah, pertempuran Tora Bora yang legendaris itu pecah. Amerika menjatuhkan berton-ton bom meluluhlantakkan seluruh area wilayah pegunungan, tanpa diskriminasi. Begitu hebatnya curahan bom yang dijatuhkan tanpa henti itu, sehingga seakan tidak ada beda antara malam dengan siang: kilatan api dan ledakan amunisi menerangi langit, sebagaimana kilatan api menutupi permukaan bumi. Suraqah membawa perlengkapan P3K. Ia sebetulnya bukan seorang dokter, tetapi mungkin…, perannya dalam kancah pertempuran itu melebihi apa yang telah dikerjakan para dokter-dokter muslim, yang saat ini berpraktek di rumah–rumah sakit mewah mereka…

Kapan saja ia mendengar dari radio ht ada seorang mujahid terluka, Suraqah segera ‘terbang’ ke tempat mujahid yang terluka itu, tanpa memperdulikan hujam peluru, bom, dan artileri di sekitarnya. Tidak lama setelah ia ‘mengobati’ mujahid yang terluka, ia mendengar lagi dari radio ada mujahid yang terluka di kaki gunung. Maka ia segera menyambar perlengkapan P3Knya dan melesat menuruni lereng gunung, membelah badai mortir… Demikianlah, ia berlari ke sana ke mari, naik turun bukit dan gunung di Tora Bora. Jika ia kebetulan berhadapan dengan tentara musuh, maka ia pun menghadapinya tanpa ragu…

Doa Sang Mujahid

Rasulullah saw pernah bersabda: “Seorang pejuang di Jalan Allah, seorang pergi hajji, dan seorang yang pergi berumrah, kesemuanya adalah para Tamu Allah. Allah menyeru mereka, dan mereka mentaati seruan Allah. Maka jika mereka meminta kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan permintaannya” (Shahih, riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Suraqah telah berada di tengah kancah pertempuran Tora Bora selama beberapa minggu, dan 10 hari terakhir Ramadlan tiba. Satu saat di waktu malam, seorang mujahid bercerita bahwa ia melihat Suraqah sendirian, tengah berdiri di tepian puncak gunung. Ia memakai pakaian ‘militer’ lengkapnya, rompi bajunya penuh dengan magazin peluru, dan tangannya menyandang senapan AK 47. Udara begitu dingin, beberapa derajat di bawah nol, sementara angin gunung bagai es yang memecah tulang bertiup kencang seperti serigala melolong. Tetapi peluh mengucur deras dari tubuh Suraqah. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya ke arah langit dan berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan aku meninggalkan pegunungan ini, kecuali setelah Engkau anugerahkan syahadah padaku di sini”

Syahadahnya

Malam itu adalah malam Jum’at, 29 Ramadlan 1422 Hijrah. Banyak para Mujahidin mempersaksikan bahwa Lailatu Qadr tahun ini bertepatan dengan tanggal 29 Ramadlan. Waktu menunjukkan kurang lebih jam sembilan malam, dan Suraqah beserta 20 Mujahidin tengah berpindah ke posisi yang lain, di lereng landai pegunungan Tora Bora. Tiba-tiba, satu konvoi pesawat pembom Amerika meraung di atas kepala mereka. Diikuti setelah itu berton-ton bom melengking jatuh di atas mereka: sekonyong-konyong bom-bom metal (bom curah / cluster bomb) itu meledak sebelum jatuh ke tanah, menyemburkan serpihan-serpihan bomblet merah membara. Suasana ledakan bom-bom tersebut seperti siraman kembang api. Satu serpihan dari bomblet membara itu memuat nama Suraqah Al Andalusi…..

Mimpi Yang Mengikuti Syahadahnya

Beberapa saat setelah syahidnya Suraqah Al Andalusi, keluarga dan sahabatnya mendapat berbagai mimpi. Isterinya bermimpi, ia melihat seekor burung yang terbang oleng di tengah sebuah pulau. Burung itu pun jatuh dan terkulai di atas tanah cadas, bulu-bulunya terbakar, sang burung seakan sekarat dan tengah meregang nyawanya. Tiba-tiba dari arah ketinggian langit meluncur turun seekor burung berbulu putih gemerlap, yang langsung hinggap di sisi burung yang pertama. Burung yang pertama, yang bulunya terbakar habis itu, kemudian kulitnya rontok. Lalu tumbuh di atasnya kulit yang baru, kemudian dari kulit itu muncul bulu-bulu berwarna indah cemerlang. Kemudian kedua burung itu terbang melesat naik ke langit.

Saudara laki-laki Suraqah bermimpi, ia pergi mencari Suraqah. Kemudian ia bertemu dengan sekelompok laki-laki berjubah putih dan menyandang senjata. Ia bertanya pada mereka, “Di mana Saudaraku?” Kelompok orang itu kemudian menunjuk ke arah ketinggian, dan di sana terlihat puncak gunung berwarna putih. Ia kemudian naik mendaki gunung tersebut. Ketika tiba di puncaknya, ia kembali bertemu dengan sekelompok orang berjubah putih dengan menyandang senjata. Kembali ia bertanya, “Di mana Saudaraku?” Kelompok orang tadi kembali menunjuk ke arah ketinggian,…. dan di sana, terlihat lagi puncak gunung berwarna putih. Saudaranya kemudian mendaki kembali gunung tersebut….. Demikian berulang-ulang.

Saudara perempuannya bermimpi Suraqah pulang berkunjung ke rumah keluarganya. Dalam mimpi itu semua orang menyaksikan tubuh Suraqah sedemikian tinggi, sehingga tiap orang harus mendongakkan kepala untuk berbicara dengannya, sementara seluruh tubuhnya diliputi oleh cahaya.

Salam Perpisahan

Maka biarlah kami menyampaikan salam perpisahan kepadamu, wahai Saudara Tercinta, dengan kata-kata dari seorang Ulama Mujahid yang telah menginspirasimu begitu dalam. Kami berharap, saat ini engkau tengah bersama-sama dengannya, di Jantung Burung-burung Hijau, di Mahligai Cahaya, tepat di bawah Singgasana Ar Rahim, di Firdaus yang Tertinggi.

Dari Syahid Sheikh Abdullah Yusuf Azzam:

“Mungkin bagi orang-orang berpandangan sempit dan berhati kerdil, serta bagi orang-orang yang jiwanya terpenjara oleh ruang dan waktu, kisah-kisah ini sekedar sebuah kisah….. terjadi, dan selesai… Sang Maut mengibarkan jubahnya dan menelan para syuhada ini, dan putaran roda waktu bergerak tanpa peduli siapapun orangnya.

Tetapi, bagi mereka yang berpandangan jernih, serta hatinya diterangi dan tercerahkan, semua pengorbanan ini adalah batu pondasi bagi generasi masa depan untuk berpijak, batu pondasi bagi peradaban nanti yang akan tegak. Seluruh kisah ini, seluruh pengorbanan ini adalah ‘maalim fit thaariq’, rambu-rambu arah dari seluruh perjalanan Din ini, untuk mereka yang berkeinginan menapaki jalan para Pelopor, atau untuk mereka yang mau menempuh jejak langkah Golongan Elit Terpilih ini…”

“Mereka semua adalah dari kalangan yang diberi petunjuk oleh Allah, karena itu ikutilah mereka… (Quran 6:90)

“Sungguh, beberapa contoh teladan dari para Syuhada ini, datang dari kalangan orang-orang kaya raya. Tetapi mereka berhasil memecahkan belenggu dunia, lalu mereka berhijrah, pulang ke KerajaanNya, di sini di Tanah Jihad Afghanistan, hidup di gunung-gunung cadas, hingga Allah memperkenankan mereka pulang ke Tanah Abadi……”

“Kami memohon kepada Allah agar kami bisa bergabung dengan mereka yang mulia itu, di SurgaNya yang tertinggi, bersama para Nabi, para Shidiqqin, para Syuhada, dan para Shalihin… dan betapa baiknya kumpulan orang-orang itu…”

Tertanggal: 03 April 2002

Add comment 14 May 2008

Ijinkan Saya Bertanya

Ini sebuah artikel yang ditulis oleh Sheikh Maulana Mas’ud Azhar, salah seorang tokoh jihad dan mujahidin dari Tanah Hindustan. Beliau pernah menyerta jihad di Afghan pada medio 1980, kemudian kembali ke negerinya, dan terlibat secara aktif dalam berdakwah, membina pemuda, dan mengorganisasi jihad fi sabilillah, khususnya di Tanah Kashmir. Beliau dikenal sebagai orator yang cerdas, penulis, dan pejuang yang tabah. Sempat dipenjara beberapa waktu oleh militer India.

Tulisan Beliau ini disadur dan diterjemahkan dari situs Islamicawakening.com, dengan judul “I Have A Question”.

Semoga bermanfaat

Ijinkan saya bertanya

Ditulis oleh: Maulana Mas’ud Azhar

Di sebuah masjid. Sebuah khutbah yang menggugah hati tengah disampaikan. Khutbah ini mengalir begitu lancar, kuat, dan tajam. Para jamaah mendengarkan dengan tekun dan khusyu. Sang khatib berbicara dengan bahasa yang luwes, kadang ia mengutip ayat Al Quran dengan fasih dan merdu, di kali yang lain ia membacakan hadits nabi yang menelisik menembus kalbu para pendengarnya.

Kadang pembicaraan berbelok mendiskusikan masalah politik dan perkembangan terkini; pemilu distrik dan perkembangan dakwah parlemen. Kadang ceramah menukik menceritakan kisah gemilang teladan masa Shahabat Ridwanullahu ‘alaihim. Syair urdu dan persia ikut melengkapi kisah sehingga membuat ceramahnya begitu berkesan. Kini sang maulana yang tengah berkhutbah menjadi semakin emosional. Kata-katanya bergetar dan memenuhi ruangan masjid, menyusup ke dalam relung kalbu para jamaah yang semakin khusyu dan tekun menyimak. Menggetarkan.

Orang-orang yang mendengarkan khutbah begitu membludak hingga masjid besar nan mewah itu tak dapat menampung jamaah. Orang-orang saling berdesak terutama di sekeliling mihrab. Semuanya hening, tidak ada yang berbicara. Semuanya berkonsentrasi menyimak kata-kata khutbah yang sangat menyentuh itu. Kadang suasana hening dipecahkan dengan teriakan slogan “Takbir!”…. Allahu Akbar!”. Lalu diikuti dengan teriakan, “Bi Ruh bid Dam Nafdika Ya Islam!”. Para pendengar yang tengah khusyu sontak ikut bertakbir dan meneriakkan slogan. Ini memberi kesempatan pada sang maulana untuk rehat sejenak. Kemudian kembali kata-katanya menggelegar menggetarkan masjid dan jamaahnya. Setiap orang berdoa agar ceramah ini dapat berlangsung terus sepanjang hari dan agar Allah memberi kekuatan kepada sang maulana yang tengah berkhutbah itu.

Tiba-tiba khutbah berhenti. Orang yang berkumpul bergumam dan berbicara. Orang-orang memusatkan perhatiannya kepada sang maulana dan menunggu khutbah selanjutnya. Hanya Allah yang mengetahui doa apa yang dipanjatkan sang maulana selama jeda yang tidak lama itu, karena setelah jeda itu ia kembali berkhutbah dan khutbahnya semakin bernas. Topiknya kini adalah tentang Syumuliyah (komprehensivitas) Din Islam. Ia menyampaikan kata-katanya dengan gaya yang khas,

“Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, saya menyatakan dengan penuh keyakinan dan iman dan pernyataan saya ini jelas dan terang sejelas sinar matahari. Saya menyatakan bahwa Din Islam ini adalah ajaran yang lengkap dan komprehensif. Segala hal, baik itu mengenai urusan dunia maupun urusan akhirat, Islam memiliki solusinya. Dunia mungkin berubah, sikap masyarakat bisa berubah, budaya bisa berubah, tetapi Din kita ini memiliki solusi yang dapat menjawab tantangan setiap setiap era, setiap kebutuhan, setiap kelas masyarakat, dan juga solusi terbaik atas setiap budaya. Apakah itu masalah yang terkait dengan ibadah, atau pranata sosial, atau problem ekonomi, atau peradaban; Islam memiliki paradigma yang tetap. Apakah kita berjalan di atas angkasa atau menyelam ke dalam bumi sekalipun, kita akan temukan petunjuk Islam. Jika ada di antara anda sekalian yang masih memiliki keraguan, maka silakan ia menyampaikan pertanyaan dalam sesi diskusi setelah khutbah saya ini”.

Dua sesi khutbah hari itu telah berlalu tetapi sedikitpun tidak tampak rasa lelah atau jemu di wajah para jamaah. Sang maulana mengakhiri khutbahnya dan mengumumkan, siapa yang ingin meninggalkan tempat dipersilakan, sementara panitia masjid tengah mempersiapkan sesi diskusi dalam suasana yang lebih informal. Tetapi tampaknya tidak ada seorangpun yang ingin pergi. Semua menunggu sesi diskusi dimulai.

Sesi diskusi pun dimulai. Kini sang maulana sudah turun dari mimbar dan ikut duduk bersila di tengah-tengah kumpulan massa. Seseorang berdiri dan berkata, “Islam telah menetapkan berbagai aturan yang dapat dilaksanakan oleh orang yang normal. Tapi bagaimana keadaannya untuk orang yang sakit seperti saya? Saya memiliki penyakit, hidung saya selalu mengeluarkan darah, sehingga saya tidak bisa menyempurnakan wudlu. Kadang terjadi darah mengalir dan mengotori baju saya, sehingga tidak pernah saya shalat melainkan pasti baju saya terkena najis dari darah saya. Saya merasa malu melaksanakan shalat dalam keadaan kotor seperti itu di hadapan Allah Rabbul ‘alamin. Karena itu saya akhir-akhir ini sering tidak melaksanakan shalat. Bagaimana hukum syariat terhadap saya ini?”

Sang maulana mengusap janggutnya yang hampir memutih itu, lalu berkata dengan intonasi yang kuat, “Anda tetap tidak boleh meninggalkan shalat. Anda harus berwudlu dan melaksanakan shalat dan Allah memaafkan anda. Darah yang mengalir itu tidak membatalkan wudlu dan shalat anda”.

Seorang yang lain berdiri dan berkata, “Saya ingin bertanya tentang isteri saya dan masalah haidhnya. Tapi saya merasa malu, sehingga saya ragu untuk bertanya”. Sang pengkhutbah menjawab, “Anda tidak perlu malu bertanya masalah agama. Sungguh, syariah kita telah menetapkan aturan yang mendetail mengenai ‘darah wanita’”. Kemudian sang maulana meneruskan dengan menerangkan permasalahan yang ditanyakan tersebut dengan detail.

Sesi diskusi berlanjut dan setiap orang menikmatinya. Suasananya berlangsung hangat dan akrab. Sang maulana menjawab setiap pertanyaan dengan dalil dan hujjah yang kuat, sehingga memuaskan setiap orang. Para jamaah semakin menaruh kepercayaan kepadanya.

Tiba-tiba seseorang berdiri dari satu sudut masjid. Penampilannya kurus, di wajahnya terlihat jelas rona kekecewaan. Wajahnya dan bajunya lusuh kusut masai. Sebagian bajunya sobek-sobek. Umurnya sekitar 20 hingga 30. Kendati wajahnya terlihat lelah, orang-orang dapat merasakan nur memancar dari wajah pemuda lusuh ini. Pemuda ini berdiri dan berjalan mendekat. Kumpulan orang seperti tersibak. Terdengar gumam ketidaksetujuan beberapa jamaah terhadap anak muda lusuh ini. Sang pemuda kemudian berkata, “Tuan yang terhormat, apakah anda juga memiliki jawaban atas pertanyaan saya?”. Suaranya lirih, tetapi mengandung kekuatan. Anak muda itu mengatakannya dengan bibir bergetar, sementara matanya mulai berkaca-kaca. Seketika ruang masjid yang besar itu menjadi hening.

Sang maulana memandang lurus ke arah anak muda itu. Ia dapat melihat selarik air mata mulai jatuh membelah wajah anak muda itu. Sang maulana kemudian tersenyum berusaha menenangkan. Ia lalu berkata, “Sampaikan pertanyaan Anda. Din kita memiliki solusi atas setiap masalah, insya Allah. Agama kita akan menolong setiap orang yang dalam kesusahan dan masalah. Alhamdulillah. Din kita pasti memberikan jalan keluar dari setiap bencana. Sampaikan pertanyaan anda, dan jangan takut”.

Anak muda itu diam sejenak dan menenangkan dirinya. Kemudian ia berkata, “Saya akan memperkenalkan diri saya, sehingga anda semua dapat lebih mudah memahami permasalah saya ini. Saya datang dari sebuah lembah yang indah bernama Kashmir. Pertanyaan yang saya sampaikan tidaklah menyangkut persoalan pribadi. Saya berdiri di sini mewakili ummah. Akankah anda mengijinkan saya untuk berkata?”

Sang maulana menjawab dengan nada yang ramah dan hangat, “Ya, tentu! Anda juga memiliki hak untuk bicara. Bahkan kami layak menghormati anda karena anda adalah tamu kami”.

Anak muda itu telah siap menyampaikan kata-katanya, tetapi air mata telah deras membasahi wajahnya. Ia berkata dengan suara bergetar, “Maulana yang saya hormati, dan saudara-saudara saya warga pakistan. Jangan kalian salah menyangka saya seorang pengemis karena penampilan saya. Saya berdiri di tengah anda semua, untuk menyampaikan permasalahan yang menyangkut diri saya dan kalian semuanya. Saya memohon agar anda dapat mendengar dengan khidmat, karena situasi yang sama bisa anda alami. Dan jangan menyangka kabar yang saya sampaikan sekedar kisah menjelang tidur. Sesungguhnya saya menyampaikan kebenaran.

Wahai Ulama! Pernyataan anda bahwa Din kita memiliki jawaban dan solusi atas setiap masalah telah mendorong saya untuk menyampaikan beberapa pertanyaan. Sebelum saya menyampaikan topik utama, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan lebih dulu. Saya berharap anda dapat menjawab secara jujur dan terbuka. Pertanyaan pertama saya adalah tentang kata ‘Jihad’ yang telah disebutkan begitu banyak dalan Quran dan hadits. Apa artinya?”.

Sang maulana menjawab langsung, “Jihad berasal dari kata Juhd, yang artinya bersungguh-sungguh. Maka siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam Din masuk dalam kategori jihad. Apakah seseorang berdakwah, atau berparlemen, atau mengajarkan agama, atau menulis topik yang penting, atau menyampaikan khutbah. Semua masuk dalam kategori jihad”.

Pemuda Kashmir itu kemudian berkata dengan suara yang kuat, “Wahai Tuan! Saya tidak bertanya tentang makna literal dari jihad atau dalam konteks umum. Tetapi saya bertanya tentang pengertian syar’i dari jihad. Saya bertanya tentang Jihad Fi Sabilillah, jihad yang juga diartikan dengan Qital (berperang). Saya bertanya tentang jihad yang membuat orang yang melakukannya pantas disebut Mujahid. Saya bertanya tentang jihad, yang ketika perintah ini diumumkan di jalan-jalan Madinah, para Shahabat Radliallahu’anhum segera bergegas mempersiapkan diri mereka dengan senjata dan berangkat ke medan perang. Saya bertanya tentang jihad, di mana Allah telah memerintahkan dalam salah satu ayat Quran agar Nabi mendesak orang-orang mu’min menunaikannya. Saya bertanya tentang jihad, yang hanya kepada orang yang melakukannya Allah menjanjikan satu dari dua kemenangan, syahadah, atau menang dan ghanimah.

Jihad yang saya maksudkan, adalah jihad yang tercantum dalam banyak kitab hadits shahih yang masyur. Imam Bukhari Rahimahullah mencantumkan tidak kurang dalam 241 bab berisi sekian banyak ahaadits dalam judul Jihad. Yang saya tanyakan adalah jihad, di mana Imam Muslim Rahmatullah menuliskan dalam kitab shahihnya lebih dari 100 bab di bawah judul Jihad, Imam Abu Daud mencantumkan 11 bab tentang keutamaan Jihad, Imam An Nasaa’i menulis 48 bab dalam kitabnya untuk dijadikan hujjah dan dalil wajibnya menunaikan jihad. Dan Imam Ibnu Majah menyebutkan tidak kurang dari 46 bab mengenai hal ini dalam sunannya.

Wahai Ulama! Jihad yang telah disebutkan dalam begitu banyak kitab yang ditulis oleh ulama-ulama besar muhadditsin ini, umumnya berisi seputar persenjataan, syuhada, membunuh dan terbunuh, kuda perang, panah dan melontar, intelijen, keutamaan para pejuang dan penempur, ribath dan berjaga-jaga, keutamaan terluka di Jalan Allah. Saya tidak mendapati apa-apa yang anda sebutkan, masuk dalam kategori jihad seperti yang dituliskan para ulama muhadditsin ini dalam kitab-kitab shahih mereka.

Saya bertanya kepada anda tentang jihad yang dengan itu Islam jadi mulia, jihad yang dengan itu Allah memisahkan mu’min shodiqun dengan munafiq, jihad yang dengan itu muslim diperintahkan memerangi negara kuffar dan membolehkan kita menebarkan teror ke wilayah orang-orang kafir, jihad yang dengan itu khilafah akan dapat tegak berdiri. Saya bertanya tentang jihad yang dengannya seluruh fitnah akan dihapuskan. Saya bertanya tentang jihad, yang dengannya Nabi kita shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya turut menyerta, jihad yang dengannya para malaikat turun dari langit, jihad yang dengannya disebutkan Huur al ‘ain (bidadari Surga bermata jeli).

Saya mendengar bahwa Nabi menyertai Jihad ini tidak kurang dari 27 kali dan mengirimkan banyak ekspedisi terkait dengannya. Saya bertanya tentang jihad yang membuat Hazrat Kaab bin Malik Radliallahu’anhu harus diasingkan oleh para Shahabat lain karena lalai tidak menyertainya.

Saya bertanya tentang jihad yang berbicara tentang ribath, berbicara tentang kuda-kuda yang dipacu untuk mendobrak barikade musuh sehingga Allah Tertawa, darah yang mengalir dan darah itu menjadi harum mewangi, Jihad di mana “Mu’min membeli Jannah dengan diri dan hartanya…”

Kata-kata pemuda Kashmir itu menggema jelas, memenuhi ruangan masjid. Setiap orang menjadi takjub mendengarnya. Pemuda Kashmir itu melanjutkan, “Wahai Tuan! Saya bertanya tentang Jihad yang setiap bangsa dan ummat pasti akan dihinakan jika mereka melalaikannya. Saya bertanya tentang jihad yang disebutkan sebagai ‘Dzarwatus Sanam’ – puncak-puncak ketinggian dan perlindungan Din Islam”.

Sejenak pemuda Kashmir tadi menghentikan kata-katanya. Seluruh ruangan masjid menjadi hening. Kini pandangan seluruh jamaah beralih menuju sang maulana yang duduk terdiam. Kepalanya menunduk dalam. Wajahnya tertangkup di antara kedua tangannya. Lama ia terdiam. Masjid jadi semakin hening. Kemudian sembari menarik nafas panjang ia mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajahnya ke arah pemuda Kashmir, “Wahai Teman, anda telah berkata benar. Pengertian syar’i dari jihad adalah berperang, bertempur di Jalan Allah. Demikian pula ini menjadi pengertian sebagaimana yang dituliskan jumhur fuqoha dalam kitab-kitab fiqh mereka. Orang-orang kafir harus diajak memeluk Islam. Jika mereka menolak dakwah dan menolak membayar jizyah, maka mereka harus diperangi. Ini masuk dalam kategori Jihad fatah wa talab, jihad Ofensif. Bertempur dan berperang adalah bagian mayoritas dari makna sebenarnya dalam istilah Jihad Fi Sabilillah. Dan kenyataannya, seseorang Mujahid hanyalah mereka yang bertempur di medan perang untuk mempertahankan Islam.

Wahai teman! Jihad adalah salah satu kewajiban dalam Islam dan ia adalah salah satu kewajiban paling mulia. Orang yang mati karena menunaikannya boleh menyandang gelar Syuhada dan siapa saja yang dapat kembali pulang dalam keadaan hidup dipanggil dengan sebutan Ghazi. Jihad adalah satu-satunya jalan untuk meninggikan dan menegakkan kemuliaan Islam. Makna sesungguhnya jihad adalah mempersiapkan segala perlengkapan militer dan kekuatan senjata, lalu berangkat ke medan perang untuk menghancurkan kekuatan musuh-musuh Islam. Debu-debu dari medan jihad fi sabilillah yang menempel pada tubuh seseorang, maka Allah SWT haramkan api neraka menyentuh tubuh itu.

Wahai anak saudaraku! Apa yang engkau nukil bahwa para ulama muhadditsin mengartikan jihad dalam konteks berperang, juga sepenuhnya benar!”

Kini seluruh jamaah masjid jadi bertambah semakin hening. Kesemuanya tenggelam dalam pikiran yang dalam, dan merasakan sesuatu berkecamuk dalam pikiran dan qolbu mereka setelah menyimak untaian kata-kata jawaban dari sang maulana pengkhutbah. Baru kali ini rasanya mereka mendengar bahwa menantang musuh Islam dalam pertempuran adalah juga satu kewajiban, sama seperti kewajiban yang lain seperti shalat dan shoum; adalah juga satu bagian ibadah, sama seperti ibadah yang lain seperti berdakwah dan berhajji.

Sekilas rona puas menyaput di wajah sang pemuda Kashmir. Kemudian ia berkata, “Wahai maulana yang saya hormati! Saya sungguh berterima kasih kepada anda karena telah menyampaikan pengertian yang benar tentang jihad, sebagaimana yang dipahami, ditulis, maupun dibuktikan lewat teladan nyata amal mulia oleh para pendahulu kita kalangan Salafush Sholeh. Pertanyaan kedua saya, apakah kedudukan syariat atas Jihad itu? Apakah fardlu, wajib, sunnah, atau mustahab? Apakah ia satu amal yang penting atau tidak?”

Sang maulana berkata, “Syariat menetapkan ada dua pembagian Jihad. Jihad Tholab dan Jihad Difaa’. Jihad Tholab atau jihad ofensif, adalah setiap muslim wajib berdakwah kepada orang kafir untuk mengajak mereka memeluk Islam. Jika mereka menolak, maka mereka harus membayar jizyah. Jika mereka menolak juga, maka perang harus dilancarkan kepada mereka. Alasannya, adalah satu hal yang tidak mungkin, seorang kafir, seorang yang memberontak melawan kuasa Allah dan menolak Islam dapat bebas memerintah dan berkuasa di atas Bumi milik Allah. Jihad ini dilakukan umumnya bersama-sama dengan Sulthan. Jihad jenis ini hukumnya fardlu kifayah; jika ada sekelompok ummat telah menunaikannya, maka hal itu mewakili seluruh ummah.

Yang kedua adalah Jihad Difaa’ atau jihad defensif. Jika orang-orang kafir telah menyerang dan memasuki negeri Islam, maka hukumnya fardlu ‘ain atas seluruh penduduk negeri itu untuk menunaikan jihad hingga musuh dapat dihancurkan dan diusir keluar dari wilayah Islam. Jika umat Islam di sana tidak mencukupi, maka kewajiban fardlu ‘ain tersebut meluas ke wilayah atau negeri sekitarnya. Dan jika mereka juga tidak mencukupi, entah karena mereka lemah, atau karena mereka enggan, maka fardlu ‘ain meluas ke wilayah-wilayah selanjutnya dalam pola radius, hingga Jihad menjadi Fardlu ‘Ain atas seluruh Ummat Islam dari belahan timur hingga ujung barat bumi ini. Jihad dikatakan fardlu ‘ain, artinya wajib hukumnya atas setiap pribadi muslim. Ketika ia menjadi fardlu ‘ain, maka tidak diperlukan ijin dari orang tua atau wali atau penjamin atau saran siapapun. Jihad menjadi fardlu ‘ain ketika orang kafir memasuki dan menguasai sejengkal saja Bumi Islam, atau mereka melarang disebarkannya Da’wah, atau mereka menangkap atau memenjarakan satu saja orang muslim, atau ketika dua pasukan telah saling berhadapan di medan perang. Dan selamanya menjadi fardlu ‘ain, sampai seluruh Bumi Islam dapat kembali dibebaskan, atau sampai Da’wah dapat kembali ditegakkan, atau sampai orang terakhir yang ditawan dapat diselamatkan. Jihad menjadi fardlu ‘ain dalam kondisi-kondisi di atas. Hukum fardlu ‘ain, barangsiapa melalaikannya, maka ia menjadi Fasiq (berdosa besar)”.

Pemuda Kashmir itu berkata, “Wahai maulana yang saya hormati! Pertanyaan penting yang lain, apakah berperang di Jalan Allah itu satu kewajiban yang berlaku hanya untuk masa Rasulullah, atau ia berlaku juga atas seluruh muslim hingga ditegakkannya Hari Qiyamat? Saya juga ingin meminta penjelasan dari anda, apakah pertolongan Allah dan kekuatanNya yang menyertai para pejuang, akan berlaku sepanjang masa, atau berlaku untuk masa tertentu? Juga ayat Quran yang artinya, “Jika kalian tidak berangkat berjihad Allah akan menimpakan bencana kepada kalian”. Juga hadits yang berbunyi kurang lebih; “Jika kalian telah menggandrungi dunia ini dan takut kepada kematian di Jalan Allah, maka bangsa-bangsa akan mengepung kalian seperti hewan buas mengelilingi seonggok daging di atas meja”. Juga hadits lain yang menegaskan, “Jika kalian melalaikan Jihad, kalian akan ditimpa kehinaan”. Semua pernyataan itu, apakah berlaku untuk satu era tertentu, atau ia berlaku sepanjang masa?”

Sang maulana menjawab, “Wahai sahabat muda! Jihad fi Sabilillah adalah salah satu kewajiban Islam. Bahkan seluruh kewajiban mendapat perlindungan melalui Jihad. Kewajiban ini berlaku sampai Hari Qiyamat. Nabi shallallahu’alaihi wa salam telah menetapkan, “Jihad akan terus berlangsung sampai Hari Qiyamat”. Nabi juga menyatakan, “Akan senantiasa ada satu thoifah dari kalangan umatku yang berperang di atas Al Haq, … hingga tibanya Hari Qiyamat”. Kita mendapati dari hadits-hadits yang berbicara tentang Thoifah Manshurah, bahwa ciri utama thoifah yang mendapatkan pertolongan Allah ini, bahwa mereka adalah thoifah yang berperang menantang kekuatan kuffar. Keberadaan mereka akan berlangsung sampai Hari Qiyamat. Pertolongan Allah akan selalu menyertai para Mujahid. Kapan saja para mujahid berangkat ke medan perang, ia tidak akan sendirian. Kuasa Allah akan menyertainya, apakah mujahid itu dalam keadaan kuat atau lemah, dalam keadaan banyak atau sedikit, dalam keadaan memiliki perlengkapan atau tidak. Allah Rabbul ‘alamin akan berdiri menyertainya manakala ia berdiri menantang musuh kafir dengan hati dan niat yang tulus.

Wahai anak muda! Hadits-hadits yang anda sebutkan tadi, juga ayat Quran yang anda bacakan, kesemuanya benar. Allah memerintahkan kita berjihad, dan perintah itu tetap hingga Hari Qiyamat. Dari sini kita melihat, mengapa para ulama muhadditsin, juga para ulama fuqoha, dari kalangan Salafush Sholeh, belum pernah, bahkan tidak pernah, menulis atau mengabarkan bahwa kewajiban Jihad telah dicabut. Tetapi kemudian tentu, kaum penjajah, seperti Inggris, merancang berbagai makar, mengatasnamakan Nabi Shallallahu’alaihi wa salam yang mulia, untuk membiaskan, memudarkan, bahkan menghilangkan pemahaman yang benar tentang Jihad dari fikrah Umat Islam. Mereka mengkampanyekan bahwa Din Islam adalah agama perdamaian, Din Salaam. Dan ummat Islam adalah umat pencinta damai. Mereka mengkampanyekan, ‘apa yang didapat orang muslim dengan berjihad? – selain kematian, kehilangan orang-orang dicinta, penderitaan, juga cap buruk bahwa kita umat teroris, bahwa Din ini disebarkan dengan paksaan, bahwa Nabi memegang Kitab dan Pedang, bahwa umat ini kelompok manusia yang haus darah… Ini semua mereka lakukan, sehingga kita menjadi lalai, dan kita melupakan kewajiban agama yang sangat penting ini, melupakan ibadah syar’i ini. Lalu pada saatnya, penjajah kafir itu dapat menumpas kita dengan mudah. Maka penjajah Inggris mendorong munculnya dajjal-dajjal – nabi palsu, seperti Mirza Qodiyani ini, yang mengumumkan bahwa kewajiban jihad telah dibatalkan”.

Sang maulana terdiam setelah untaian kata-kata jawabannya selesai. Bersamaan dengan itu, ia telah menambahkan beberapa poin-poin baru dalam pemahaman para jamaahnya:

Berperang di Jalan Allah, Jihad Fi Sabilillah adalah salah satu kewajiban Islam, sama seperti kewajiban yang lain semisal shalat, shoum, zakat, hajji, berdakwah.

Kewajiban Jihad ini berlaku hingga Hari Qiyamat

Jika Ummat Islam melalaikan kewajiban Jihad, Allah SWT pasti akan menimpakan kehinaan atas mereka

Seseorang yang menolak atau membelokkan pengertian Jihad dalam konsep ini, maka ia menyelisihi pemahaman kalangan Salafush Sholeh. Lalu jika ia tidak memahami Islam seperti yang dipahami Salafush Sholeh, apakah masih bisa ia disebut seorang muslim?

Kaum kafir penjajah, seperti Inggris, menebarkan ghozwul fikr, salah satu caranya dengan menggunakan ‘agen-agen’ dari kalangan umat Islam sendiri, yang mengkampanyekan pemahaman yang menyelisihi dari pemahaman Salafush Sholeh. Contohnya nabi palsu Mirza Qodiyani yang mengumumkan kewajiban Jihad telah dicabut.

Sekali lagi, suara pemuda Kashmir memecahkan keheningan, “Beberapa hari telah berlalu semenjak saya meninggalkan Kashmir dan sampai di sini. Anda semua pasti telah mengetahui, bahwa Lembah Kashmir adalah kampung halaman dari ummat Islam. Kini, lembah nan subur itu telah berubah menjadi parit-parit api. Rakyat muslim Kashmir tengah berupaya untuk dimusnahkan, hanya karena mereka menjadi muslim. Serigala-serigala Hindu haus darah berkeliaran mencari mangsa dengan bebasnya. Sekolah-sekolah dibakar, dan anak-anak kami yang tak berdosa dicampakkan hidup-hidup ke tengah kobaran api. Masjid dan madrasah dihancurkan sementara jamaah dan santrinya dikurung di dalamnya.

Wahai maulana yang saya hormati! Kejahatan terbesar yang berlaku di lembah Kashmir adalah memeluk Din Islam. Dosa terbesar adalah jika anda terbukti seorang muslim. Para muslimah, saudari kita seiman, banyak yang menjadi janda. Tak sedikit kanak-kanak telah menjadi yatim.

Tuan yang terhormat! Penindasan yang terjadi di Kashmir telah sedemikian kejam dan bengis, hingga langit terguncang. Anda mungkin tidak akan percaya hal-hal buruk seperti ini terjadi di masa ini…. Yang mereka sukai, di antaranya adalah menghujamkan pipa besi ke arah kemaluan saudari muslimah kita – seperti yang dilakukan nenek moyang mereka dulu kepada Bunda Sumayyah, kemudian menembak kepalanya. Gadis-gadis terhormat diperkosa secara brutal sebelum dibantai.

Dalam situasi yang sangat kritis ini, kami, saudara seiman anda di Kashmir, telah melakukan segala hal yang kami bisa, kami korbankan segalanya yang kami punya, hingga anak-anak terakhir kami, hingga nyawa-nyawa terakhir kami, untuk membela Islam dan meninggikan panjiNya. Bahkan kaum perempuan kami ikut terjun berhadapan dengan orang kafir di medan tempur. Tuan, kami berperang untuk membela Islam dan melindungi Quran. Kami memahami musuh yang datang menyerang ini, mempersiapkan diri dengan persenjataan lengkap, kekuatan, teknologi, dan strategi. Dan mereka datang dengan membawa dendam membara yang dipendam berabad-abad yang lalu. Mereka datang ke lembah Kashmir, untuk menghapuskan Islam dan Ummatnya selama-lamanya dari lembah Kashmir.

Kami dalam keadaan lemah, tidak terlatih dan berpengalaman, serta tidak memiliki perlengkapan. Kami menghadapi medan pertempuran hanya menyandarkan diri kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Kami berpikir, seandainya semenjak awal kami diajarkan tentang kewajiban Jihad, hukumnya, serta persiapannya, sebagaimana Quran memerintahkan, niscaya kami, insya Allah, dapat mengimbangi kekuatan musuh dan memberi mereka pukulan telak. Selama ini yang diajarkan kepada kami, segala hal yang sifatnya baik, dan indah. Kita diajarkan tentang keutamaan dan fadlilah serta hukum dari wudlu, thaharoh, hajji, zakat, dll. Kita diajarkan tentang adab dan keutamaan menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Tapi kita tidak pernah diajarkan secara terbuka bagaimana hukum Islam yang sebenarnya ketika berurusan dengan musuh kuffar. Ternyata selama ini, ada yang tersembunyikan, yang belum diajarkan dengan benar, dari pemahaman para pendahulu kita kalangan Salafush Sholeh. Tidak semua ajaran mereka sampai kepada kita dengan semestinya, seperti yang mereka pahami dan mereka amalkan. Kita kemudian jadi terbiasa, dan tidak merasa malu atau berdosa, jika kita bersikap enggan atau jadi pengecut. Sementara kalangan Salaf memandang kepengecutan dan sikap tidak perduli, sebagai salah satu dosa besar.

Baru sekarang kami tahu, ternyata Nabi kita yang sangat santun itu, mendapat perintah dari Allah untuk berperang, dan mendesak umat Islam pengikutnya untuk berperang. Nabi kita memerintahkan umatnya untuk bertempur, dan Beliau sendiri ikut serta bertempur.

Inilah, mengapa orang-orang di Jaman mereka mampu meraih kemuliaan dan izzah. Mereka hidup dalam keadaan damai dan terhormat, tetapi kita tidak diberitahu tentang bagaimana mereka meraih kondisi terhormat itu. Seakan ayat Quran, dan warisan Nabi tentang hal ini baru kita dengar sekarang. Maka hari-hari ini, kita mempersaksikan penindasan musuh menimpa kita, padahal kita tidak menuntut kecuali yang menjadi hak kita. Kita mempersaksikan kehormatan muslimah saudara kita diperhinakan di depan mata kita. Sementara kita semua hanya bisa diam.

Tuan, anda mungkin tidak percaya, tetapi saudari muslimah kita ditelanjangi dengan paksa di depan mata saudaranya. Seorang ibu diperkosa di hadapan anak-anaknya, dan isteri diperkosa di depan suaminya.

Maulana yang terhormat! Seandainya saja semenjak awal kita diajarkan untuk bersiap, memahami hakikat pertempuran, dilatih menggunakan peralatan militer… seandainya saja semenjak awal kita diberitahu bahwa berlatih bertempur itu adalah salah satu kewajiban agama… jika memang ini merupakan salah satu kewajiban agama yang sangat penting, lantas mengapa seakan seluruh hal yang terkait dengan jihad ini disembunyikan dari kita, kalaupun diajarkan, umumnya dibiaskan dan dibelokkan pengertiannya, tidak seperti yang dipahami pendahulu kita Salafush Sholeh. Kini kita semua menanggung akibatnya karena melalaikan kewajiban ini.

Alhamdulillah, kini kami telah memulai Jihad fi Sabilillah, meskipun tidak memiliki senjata atau pengalaman. Kami menyandarkan diri kepada Allah. Juga kami menyandarkan diri kepada keyakinan, bahwa kami muslim, dan kami meyakini ikatan ukhuwah. Kami memiliki saudara di seluruh penjuru dunia yang jumlahnya lebih dari satu miliar. Kami meyakini saudara kami seiman tidak akan tinggal diam. Bukankah kita pemeluk Din yang sama seperti yang dipeluk oleh Komander Muhammad bin Qasim. Sementara Beliau Rahmatullah telah memimpin langsung satu armada yang dikerahkan dari Hijaz menuju Kabul hanya karena mendengar teriakan minta tolong seorang gadis muslimah. Bukankah kita pemeluk din yang sama seperti yang dipeluk Sulthan Al Mu’tasim, yang mengerahkan bala tentara besar untuk membebaskan hanya satu muslimah yang ditawan orang-orang Banu Asfar. Bukankah kita pengikut millah yang sama seperti millah Komander Thoriq bin Ziyad, yang telah mencatat penaklukan bersejarah di pantai Andalus untuk membawa keadilan bagi seorang perempuan kristen yang meminta pertolongan. Kita juga pemeluk din yang sama yang dipeluk Mahmud Ghaznawi dan Ahmad Shah Abdal, yang telah memimpin pasukan Islam dari Tanah Khurasan Afghanistan hingga memasuki India.

Kami menyakini sepenuhnya, atas dasar ikatan ukhuwah yang suci ini, bahwa jika tangis pilu dan rintih meminta pertolongan dari para bunda kita dan para saudari muslimah kita bergema dari celah-celah bukit Kashmir, maka para pemuda dan putra-putra Islam terbaik yang ada di Pakistan akan menjadi resah hatinya. Kami meyakini, tentu mereka akan terguncang dan marah jika mendengar adik-adik kecil mereka di Kashmir, yang dilemparkan dengan bengis ke tengah kobaran api.

Wahai maulana! Para bunda kami senantiasa menghibur anak-anaknya, ketika malam telah larut dan suasana mencekam karena penindasan; jangan bersedih dan jangan berputus asa. Malam kelam penindasan ini akan segera berakhir, insya Allah. Kalian akan lihat, bersama dengan terbitnya fajar di ufuk timur esok hari, seorang alim dari ummah ini, pengikut setia dari Nabi shallallahu’alaihi wa salam, seorang pemuda robbani dalam wujud Panglima Sholahuddin, memimpin sepuluh ribu tentara terbaik dari kaum yang sholeh, akan datang untuk membebaskan kita, menyingkirkan keterhinaan, dan mengembalikan kehormatan dan izzah kita.

Tuan, saya datang membawa pesan yang sama untuk seluruh saudara saya seiman, kaum muslim Pakistan. Saya ketuk pintu setiap orang, saya memohon, saya meminta, saya menyampaikan kepada mereka berdasarkan sumpah ikatan ukhuwah Islam yang suci, saya mengingatkan mereka dengan nama Allah yang agung, saya sampaikan kepada mereka peringatan akan bahaya besar, tetapi sedikit sekali orang yang mendengarkan. Beberapa orang jadi tersentuh hatinya dan menangis. Beberapa orang mengutuk aksi biadab orang Hindu. Beberapa orang membuktikan simpati mereka dengan menulis artikel tentang Kashmir di koran dan majalah. Beberapa mengorganisir aksi protes, atau konferensi solidaritas Kashmir, atau demonstrasi, membakar bendera India, mengibarkan bendera La ilaaha illa Allah, bertakbir dan memprotes, meneriakkan jihad, dan bernasyid. Tapi kesemua mereka setelah itu duduk diam. Merasa merasa telah cukup berjihad dan menunaikan kewajiban agama dan ukhuwah yang suci.

Tetapi musuh tetap membunuh bunda dan saudari kita muslimah Kashmir. Musuh tetap menghancurkan masjid-masjid dan membantai umat Islam. Kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas simpati yang dalam yang telah ditunjukkan oleh seluruh saudara kami warga Pakistan. Tetapi adakah cukup kesemua itu, dan apakah demikian yang diperintahkan Din kita? Kanak-kanak yatim kita membutuhkan lebih dari sekedar air mata simpati dan diskusi dalam konferensi untuk menolong nyawa mereka. Kaum tertindas, lembaran-lembaran Quran yang terbakar membutuhkan lebih dari sekedar demonstrasi atau ungkapan solidaritas atau aksi protes, agar mereka dapat kembali meraih kemerdekaan dan harga dirinya.

Maulana yang terhormat, dan saudaraku seiman! Apakah hukum agama kita dalam menghadapi kondisi sangat kritis ini? Pantaskah kita tetap berdiam di tempat kita? Pantaskah kita berkata, “Tunggu sebentar karena setiap amal ada aulawiyatnya, dan aulawiyat terikat dengan waqi’iyah dari tempat kita tinggal”? Atau kita berkata, “Kami memiliki kewajiban pula di negeri kami, dakwah, membina, dan ishlahul hukuma”? Atau kita berkata, “Tunggu dan bersabarlah kalian hingga nanti kami dapat menguasai negara di Pakistan, sehingga kami dapat mengirimkan pasukan kepada kalian”? Atau kita berkata, “Prioritas kami saat ini adalah memasuki dakwah parlemen dan pemilu distrik, tetapi kami insya Allah tidak pernah melupakan kalian”? Masihkah kita layak menyebut diri kita seorang muslim? Apakah ketetapan Islam atas kondisi dan masa seperti sekarang ini? Apakah hukum Islam yang berlaku menghadapi kondisi ini, atas diri kami dan seluruh umat Islam, atas diri kalian dan seluruh ummat Pakistan?

Pemuda Kashmir itu telah menyelesaikan kata-katanya, kata-kata yang telah membuat setiap hati terguncang, setiap perasaan iman tersentuh. Ruangan masjid yang besar itu dipenuhi dengan suara isak tangis. Di tiap-tiap sudut, orang-orang menangis, mengucapkan istirja kepada Allah, beristighfar dan memohon ampun, sebagian tidak sanggup menegakkan lagi kepala dan mukanya. Janggut, pipi, dan baju mereka basah oleh air mata. Sementara sang maulana pengkhutbah, menunduk sangat dalam. Ia menangis hingga terguncang dadanya. Berulang kali ia menggelengkan kepala sembari berdzikir, mengucapkan istirja, dan memohon ampun kepada Allah. Janggut dan bajunya basah oleh air mata.

Cukup lama isak tangis terdengar menggema di tiap sudut masjid. Tidak ada orang yang bicara. Hingga kemudian suara pemuda Kashmir kembali memecahkan keheningan, “Wahai Tuan sekalian! Jika Islam berhasil dihapuskan dari lembah Kashmir, maka penindasan yang sama akan berulang dan terjadi di Pakistan.

Ambisi orang-orang kafir Hindu tidak hanya terbatas pada Kashmir, tetapi mereka juga mengklaim bahwa Pakistan adalah bagian integral dari Pak Hindustan. Tuan maulana! Tidaklah kami sangsikan bahwa Islam adalah Din yang sempurna, syumul. Karena itu beritahukan kepada kami apa prosedur dan aturan Islam yang sejati yang harus kami lakukan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan bagi Din yang sempurna ini beserta seluruh pengikutnya?”

Setelah sekian lama diam, sang maulana mulai menjawab dengan suara yang pelan, “Wahai anakku! Engkau telah membangkitkan emosi iman kami. Sungguh tidaklah diragukan, Islam telah mengatur secara jelas mengenai perintah Jihad ini, tetapi cinta kepada dunia, ambisi untuk hidup enak dan mewah, serta takut kematian telah melalaikan kita dari kewajiban yang penting ini.

Anak muda! Kenyataannya adalah kami belum mengalami langsung apa yang telah engkau alami. Kami hidup dalam suasana tenang dan damai, dalam kemewahan. Inilah mengapa hingga saat ini kami tidak pernah bisa benar-benar menyelami makna yang sejati dari Jihad itu. Kadang kami juga merasa bahwa Din Allah ini sedang diperhinakan, hukum Quran tidak ditegakkan, bahkan berada di bawah hukum yang lain. Di sini hukum Inggris lebih diterapkan ketimbang hukum Quran. Tetapi kita masih berfikir bahwa kehormatan kita masih terjaga, karena melihat kita masih dibolehkan shalat, berpuasa, dan berhajji.

Anak muda! Jihad hanya dapat dimengerti dengan benar oleh mereka yang menyaksikan dan mengalami langsung. Sementara kami hingga hari ini menyaksikan hanya dari kejauhan. Kita berkata, atau menulis, atau berdiskusi tentang jihad. Kita membicarakannya, di forum-forum, dalam lingkar-lingkar halaqoh, dalam demonstrasi. Kita menulis tentang jihad dalam buku, atau artikel, atau majalah. Tetapi mereka yang berbicara tentang jihad itu, berdiskusi tentang jihad itu, menulis dalam artikel atau buku, belum pernah mereka menembakkan satu butir pun peluru di jalan Allah, belum pernah menghabiskan barang sedetik ribath di parit jihad. Untuk menulis dengan pena, atau sekedar berkata, bukanlah suatu hal yang sulit. Tetapi seseorang yang menyaksikan anak perempuannya dinistakan di depan matanya, jika ia ditanya tentang apa kedudukan syariah dari jihad itu, tentu ia akan dapat menjawab dengan tepat.

Mata kita memang tidak buta. Tetapi kehidupan tenang dan damai yang melingkupi kita telah menumpulkan nurani.

Anakku! Saya juga mengakui bahwa tidak ada jalan yang sejati yang dapat mengembalikan kehormatan dan harga diri Din Islam dan umatnya, kecuali Jihad fi Sabilillah. Jika kita melalaikan kewajiban ini, maka musuh Islam akan leluasa menyebarkan kebathilan. Saya juga mengakui, di antara kewajiban ulama dan ahlul ilmi adalah menerangkan umat seluruhnya tentang faridlah ini, serta mendorong umat untuk melaksanakannya melalui kata-kata kita dan teladan nyata dari amal kita. Tapi hingga hari ini kami banyak melalaikannya, dengan berbagai alasan.

Beginilah kita, ketika orang kafir tengah menyerang dan menindas saudara kita di Bukhara dan Samarkand, para ulama Afghanistan masih saja sibuk memperdebatkan tentang definisi jihad, apakah fardlu kifayah atau fardlu ‘ain, kondisi jihad, hukum syariah tentang jihad, dll. Ketika musuh menyerang dan menindas mereka, baru mereka mengerti apa arti jihad itu.

Anak muda! Semoga Allah membalasmu dengan pahala; karena engkau telah mengajarkan dan mengarahkan kami kepada jalan kemuliaan dan kemerdekaan. Dengan jalan ini kita berharap keridlaan Allah dan kecintaan rasulNya. Tanpa keraguan, kita menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah rasul pembawa damai, tetapi ia juga rasul yang menggenggam pedang dan panglima perang. Nabi kita maju ke medan perang, mengenakan baju besi dan menghunus senjata. Nabi kita juga memimpin langsung para shahabat di medan pertempuran. Jika masih ingin diakui sebagai pengikut nabi, maka kita juga harus meneladani jalan Beliau shallallahu’alaihi wasallam.

Wahai saudara-saudaraku warga Pakistan yang perwira! Sudah saatnya kita bersiap…. Persiapkanlah dengan segala kemampuanmu dari seluruh kekuatan… dan agar kita bersegera dan tidak menunda lagi. Kita akan berangkat ke Kashmir untuk melindungi dan menolong para ibunda kita dan saudara kita seiman. Dan kita akan mengorbankan seluruh milik kita hingga Allah ridla dan cinta. Insya Allah.

Ya Allah, tolonglah kami untuk memahami realitas, dan kewajiban kami atas Din dan ummah, tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat menyerta dan melanjutkan perjuangan di JalanMu… Amin ya Rabbal ‘alamin”.

Maulana Mas’ud Azhar

Add comment 14 May 2008

Sejarah Tanah Kandahar

Pelajaran dari Masjid Kandahar. Setelah solat asar, salah seorang Mulla (Kyai) yang sudah biasa mengajar di jami, masjid Kandahar duduk bersandar pada salah satu sudut masjid, kemudian beberapa puluh pemuda kelihatan berebutan untuk duduk mendekatinya. Setelah melihat murid muridnya duduk dengan tertib, Mulla itu berkata sambil menunjukkan sebuah kitab yang di bawanya: Saya membawa Kitab Sejarah Kandahar, dan hari ini kita akan membaca sejarah Mujahid bernama Usamah.

Lalu beliau memberikan kitab itu kepada salah seorang murid yang duduk di pinggirnya sambil menyuruhnya untuk membaca kitab itu dan memperdengarkan suaranya kepada seluruh teman temannya, pemuda itu menerima kitab itu dengan penuh semangat dan sopan, ia kelihatan bangga mendapat tugas itu dari Mulla. Lalu ia mulai membuka daftar isi Kitab, dan memilih sebuah judul yang bertulis kisah Kedatangan Usamah bin Ladin ke Afghanistan dan perjuangannya dengan Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid. kemudian ia mulai membaca Basmalah dan puji pujian kepada Allah swt. Dan di teruskan dengan membaca buku itu dengan lantang:

Pada tahun 1417H pada bulan Allah Muharram Usamah datang ke bumi Kandahar, kedatangannya adalah karena ia terusir dari kaumnya di sebabkan ia tegas menolak untuk ikut menyembah berhala yang bernama Amerika, ia bertekad untuk memerangi Amerika tetapi ia tidak mendapat sambutan kaumnya kecuali hanya segelintir dari mereka, dan ada juga beberapa gelintir dari negeri negeri lain yang sudi untuk ikut bersamanya, tetapi mereka semua asing dan lemah, mereka tidak punya kekuatan untuk membela diri.

Kemudian Usamah mendatangi pimpinan pimpinan Qabilah qabilah Arab, meminta mereka untuk membantunya dan memberi jaminan tempat tinggal baginya dan pengikutnya untuk mempersiapkan diri melawan kekuatan si Berhala Amerika.

Suatu hari ia mendengar bahwa hukum Islam di laksanakan di Sudan, ia mengirim utusan untuk menemui sang Raja umtuk meminta bantuan jaminan tempat tinggal baginya dan pengikutnya.

Sang Raja berkata,”pintu kami selalu terbuka dan bumi kami adalah milik kita bersama .. datanglah sebagai tamu terhormat, tanamkan hartamu di sini dan jika kau sudi ikutlah bersama kami berjihad.” (melawan pemberontak Sudan yang di ketuai oleh John Garang)

Usamah sangat gembira mendegar jawaban itu dan segera mempersiapkan diri untuk berhijrah ke negeri Sudan, kemudian ia tinggal di sana dan mendirikan berbagai Mu’askar (camp) dan melatih Mujahidin bersama pejuang dari kalangan tentara Sang Raja, dan mereka gembira di sana untuk beberapa waktu sambil membina negeri, jalan jalan di perbaiki, pasar pasar menjadi ramai, dan negeripun makin makmur.

Suatu hari berhala Amerika membentak Sang Raja dan berkata “keluarkan mereka dari negerimu !!”
Sang Raja menjawab “daulat tuan.. titahmu kami junjung tinggi, demi mencari ridho mu”
Sang Raja berbalik kepada Usamah seraya berkata: “Keluar dari negeri kami..!!!”
Usamah menajwab “Bukankah kita telah mengikat perjanjian untuk berjihad bersama?”
Sang Raja menjawab “ya..tetapi Jihad melawan John Garang dan bukan Amerika”
Usamah menjawab “Sejak dahulu aku berniat menghancurkannya dan teman temannya”
Sang Raja menjawab “tiadalah kami mempunyai kekuatan, keluarlah dari negeri ini”.

Mulla memberi Isyarat kepada muridnya yang sedang asyik membaca untuk berhenti sejenak karena beliau ingin memberi sedikit keterangan, lalu Mulla berkata,”Dalam hal Usamah, Sudan ternyata lebih takut kepada Amerika berbanding kepada Allah swt, dan ketika itu Sudan sempat kebingungan karena harus melepaskan harta Usamah yang telah banyak di tanamkan bagi perdagangan negeri itu, tetapi ketakutan Sang Raja Sudan kepada Amerika ternyata lebih besar dari kepentingan rakyatnya sendiri, hingga Sang Raja lebih memilih mengusir Usamah demi relanya sang berhala, walau Amerika tetap masih tidak rela kepada Sang Raja Sudan, karena Sang Raja enggan untuk turun dan di ganti oleh John Garang.

Kemudian Mulla berkata,”Baiklah, teruskan bacaanmu nak..!!!” Si pemuda yang tenggelam dengan keterangan Mulla tersentak dan bergegas mencari baris terakhir yang di bacanya tadi..lalu ia meneruskan bacannya Usamah terpaksa mencari siapa yang sudi menjamin dan menolongnya untuk menghancurkan sang berhala, lalu ia mendengar bahwa hukum Islam kembali di laksanakan di Kandahar oleh suatu kaum yang menamakan diri sebagai Taliban, mereka di pimpin oleh si pemberani bernama Mulla Muhammad Umar Mujahid yang di juluki sebagai sang Amir, lalu Usamah mengutus utusan kepadanya.

Amir Taliban berkata: “Mari kita angkat senjata, melawan pemberontak dan perampok perampok di negeri kami”.

Usamah menjawab “Tujuan kami menghancurkan sang berhala”.

Amir menjawab “Allahu Akbar, menghancurkan berhala adalah Hobi kami.”

Usamah menjawab “Bukan sekadar hobi..tetapi demi Jihad Fi sabilillah.”

Amir menjawab “Kami memang Manusia Jihad dan anak anak yang lahir bersama desingan peluru, Peperangan adalah ibu yang menyusui kami.”

Usamah berkata “Sanggupkah kamu bersamaku memerangi Salib?”

Amir menjawab “Berperang dan berdamailah kepada siapapun yang kau kehendaki, berhubunganlah dengan siapapun yang kau kehendaki, ambil seberapa banyak yang kau kehendaki dari harta kami, kami pasti sabar dalam berperang dan berani melangkah kedepan, walau kau ajak kami mengharungi lautan benua untuk memerangi sang Berhala, pasti kan kami harungi bersamamu”.

Usamah berkata “Tapi kau akan ditembak oleh seluruh kaum Arab dan Romawi dari busur panah yang sama,”

Amir menjawab “Yakinlah bahwa semua itu tiada akan terjadi kecuali jika telah diizinkan oleh yang maha Menjadikan.”

Usamah berkata “Tetapi sang berhala akan datang dan mengupah berbagai Kabilah untuk mebnghabisimu,”

Amir menjawab “Allah pelindung kami, sedang mereka tiada memiliki pelindung.”

Usamah masih belum yakin, dan berkata “Tahukah engkau bahwa sang berhala mempunyai bala tentara dan pedang yang sangat tajam? Mereka akan datang dan menguasai negerimu.”

Amir menjawab “Ya kami tahu, tetapi kami tidak akan berkata seperti perkataan kaum Musa as. Kepada Nabinya ‘Pergilah engkau (wahai Musa) berperang bersama Robbmu, dan kami akan tetap tinggal di sini’, sungguh wahai Usamah kami akan mengawalmu dari kanan dan kiri, depan dan belakangmu, dengan harapan semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa yang menyenangkan hatimu, sungguh negeri ini belum pernah di jajah oleh suatu tentara, pasti mereka akan lintang pukang lari- kecuali tentara Qutaibah.”

Usamah berkata “Umat manusia akan berlepas diri darimu dan penduduk bumi akan meninggalkanmu sendiri.”

Amir menjawab “Cukuplah bagi kami keberadaan Allah, dan jika ia sudi akan menyatukan kami dengan penghuni Firdaus di Langit.”

Usamah berkata “Mereka akan memboikotmu dan membiarkanmu kelaparan.”

Amir menjawab “Sesungguhnya Allah maha memberi Rezki dan maha mempunyai kekuatan yang besar.”

Usamah berkata “Mereka hanya ingin menangkapku.”

Amir menjawab “Tenanglah, mereka tidak akan menyentuhmu selagi mata kami belum tertidur.”

Usamah berkata “Apakah kalian akan menjagaku sebagaimana kalian menjaga anak dan Isteri?”

Amir menjawab “Ya DemiAllah, bahkan mereka akan kami keluarkan dari rumah kami agar kau bisa tinggal di rumah kami, Darah harus dibayar darah, kehancuran pun begitu, Pukullah si berhala dan jangan lupa membaca Basmalah, pukullah..!!! akan kami korbankan anak anak dan ibu ibu kami, pukullah dan berlindunglah di belakang kami, biar leher kami mereka cekik asal lehermu selamat, teruskan pukulanmu semoga Rabbul Jabbar bersama kita.”

Tiba-tiba si pemuda berhenti membaca karena mendegar isakan dari Mulla, ia terkejut melihat Mulla telah menutupi mukanya dengan serban dan badannya bergoncang menahan isakan sambil terus menerus bertakbir, seluruh pemuda terdiam tanpa sepatah kata. Mulla mulai membersihkan matanya yang telah di penuhi genangan air, kemudian berkata : “Aku telah banyak membaca buku buku sejarah, tetapi aku belum mendapati suatu kaum yang lebih jujur dari mereka ketika menolong seseorang, kecuali kaum Aus dan Khazraj, para Anshar yang menolong Rasul saw. Lihatlah kubur kubur mereka di lereng lereng pegunungan Tora Bora, Shahikot, Kandahar dan Kabul sebagai bukti bahwa mereka benar benar pemberani.

Aku mendengar bahwa tentara Salib sempat menawan salah seorang dari mereka, kemudian ia ditawari agar memberi tahukan keberadaan Usamah yang bersembunyi dengan imbalan ia akan di bebaskan kembali dan di beri uang tetapi ia menjawab ‘Demi Allah kalau Usamah bersembunyi di bawah telapak kakiku, aku tidak akan mengangkatnya untuk menunjukkannya kepadamu’.” Kemudian Mulla kembali terisak, dan kali ini terdengar makin keras.. nampaknya Mulla sudah tidak bisa meneruskan pelajarannya lagi.. ia bangun meninggalkan kumpulan pemuda itu sambil terus menangis…

Posted by Fadly on 11/07 at 12:59 AM

Courtessy: Arrahmah.com

Add comment 14 May 2008

Komandan Muhammad Athef Al Mishri

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ‘Ala Rosulillah. Kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sosok mujahid yang banyak dilupakan para pemuda jihad hari ini, belaiu adalah Abu Hafs Al-Mishri -semoga Alloh menerima beliau sebagai syuhada-, beliau adalah sosok yang sangat ditakuti musuh, walau sekedar mendengar namanya. Nama Asli beliau adalah Shubhi Abdul Aziz Abu Sittah Al-Jauhari. Sering juga dikenal dengan sebutan Muhammad Athef. Amerika lebih kenal siapa dia daripada kita, karena saking takutnya mereka. Lahir di Mesir pada 17 Januari 1958. Bergabung dengan mujahidin Afghan tahun 1402 H, tujuan beliau untuk mengajari mujahidin lainnya tentang ilmu-ilmu kemiliteran. Sebab beliau adalah mantan tentara Angkatan Bersenjata Mesir. Beliau melatih para pemuda mujahid di sana.

Beliau ikut dalam pertempuran Ma`sadatul Anshor, ketika Alloh menangkan mujahidin atas kekuatan paling ganas di bumi kala itu, Uni Soviet. Diceritakan bahwa hujan bom dari pesawat terus menerus mendera tanpa henti selama beberapa hari, sahut menyahut dengan balasan suara senjata roket anti pesawat. Perlawanan ini dilancarkan mujahidin untuk memberi peringatan kepada Soviet agar segera angkat kaki dari Afghanistan, apalagi agresi mereka saat itu tidak membuahkan hasil kemenangan, justru berbagai kerugian. Para jendral Soviet sempat memberi kesempatan terakhir kepada Abu Hafsh agar keluar dari Afghanistan. Mereka mengancam akan mendesaknya hingga ke perbatasan Pakistan. Tetapi, sekelompok kecil mujahidin berhasil mematahkan gempuran mereka, yang jumlahnya tak lebih dari 70 pemuda seusia SMA sebagaimana diceritakan sendiri oleh Syaikh Usamah -hafizahulloh-. Pasukan beruang merah berhasil dikalahkan hanya semata-mata karena anugerah dari Alloh. Bahkan konon, ada seorang pemuda arab berperawakan kurus kering yang berhasil membunuh tiga bule Rusia sekaligus hanya dengan sebutir peluru senapan jenis PK, padahal ketiganya adalah dari kesatuan elit sekelas Comandoss. Saking profesionalnya pasukan elit ini -masih menurut penuturan Syaikh Usamah-, mereka berhasil mendekati daerah mujahidin tanpa terdeteksi gerak-geriknya, mereka menggunakan suara burung pipit sebagai kode. Singkatnya, daerah ini telah terkepung oleh berbagai peralatan canggih dan pasukan terelit yang dimiliki Russia. Akan tetapi Alloh berkendak untuk menolong hamba-hamba-Nya yang bertauhid, sehingga nyatalah apa yang Alloh firmankan: “Jika Alloh menolong kalian, tidak ada yang mampu mengalahkan kalian…” “Betapa seringnya, satu kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak atas izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang bersabar.” Tokoh kita ini, ikut ambil bagian cukup besar dalam pertempuran sengit kali ini. Tetapi Alloh belum takdirkan ia menemui kesyahidan, barangkali di sana ada hikmah yang hanya Alloh yang tahu.

Begitu pertempuran di Jaji reda, beliau ikut dalam mengatur pertempuran-pertempuran di Jalalabad. Pertempuran kali ini tak kalah sengitnya. Beliau menggunakan taktik perang gerilya. Alhamdulillah, sekian pesawat berhasil dirontokkan, tank-tank baja mampu diluluh lantakkan, dan banyak sekali musuh-musuh Alloh itu yang terbunuh. Pada kesempatan ini, Abu Hafsh termasuk orang yang beruntung. Selesai perang Afghan, suasana politik dalam negeri berubah. Mulailah terjadi pertempuran-pertempuran antar kelompok untuk memperbutkan kursi kekuasaan. Dalam fitnah ini, beliau memilih untuk tidak campur tangan. Bersama sahabat dekatnya, Usamah bin Ladin, beliau hijrah ke Sudan untuk menyiapkan kekuatan dalam rangka membebaskan umat Islam dari kehinaan. Terutama membebaskan tanah wahyu -Jazirah Arab-dari penjajahan Amerika Serikat. Langkah pertama yang beliau tempuh adalah mengajak para pemuda Islam untuk terjun ke medan pertempuran di Somalia yang kala itu diduduki oleh pasukan AS. AS memiliki misi terselubung untuk menjajah negeri tersebut, meski beralasan hendak mendamaikan antar kelompok yang bertikai. Sama dengan ketika menjajah Jazirah Arab sebelumnya. Pertempuran di sini tidak berlangsung lama, Amerika terlalu pengecut untuk berhadapan dengan mujahidin. Dalam perang ini, AS mengalami nasib naas dengan dijatuhkannya satu helikopter Black Hawk-nya. Sebenarnya tidak seberapa yang tewas dari mereka, namun mereka sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pertempuran. Dan tak lama setelah itu, Clinton mengumumkan penarikan pasukannya dari Afrika Timur. Semua ini menghancurkan mitos bahwa Amerika adalah negara adi daya, yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun di dunia ini. Seolah dunia menjadi faham setelah itu, bahwa kekuatan AS tak lebih sekedar propaganda di film-film.

Pasca peperangan di Somalia, para petinggi Al-Qaeda -termasuk di antaranya beliau, Abu Hafsh- mulai yakin bahwa mereka mampu mengalahkan Amerika, walau dengan sedikit persenjataan, maka mereka mulai berfikir bagaimana menyiapkan para pemuda Islam -terutama Arab-untuk menghadapi peperangan berikutnya melawan Amerika. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuat kamp-kamp tadrib (latihan militer) untuk para pemuda Islam. Setelah pemerintah Sudan menyelisihi kesepakatan dan prinsip bersama yang telah disepakatinya bersama mujahidin, mereka meminta Syaikh untuk meninggalkan Sudan, karena tekanan dari Amerika. Padahal, beliau telah memberikan banyak sumbangsih dalam perkembangan sarana di sana, yang pemerintah sendiri tidak mampu melakukannya. Akhirnya, Syaikh Usamah, Abu Hafsh, beserta mujahidin lainnya harus berhijrah kembali ke bumi Afghanistan, bumi hijrah dan jihad, untuk memulai kembali tahapan jihad yang sudah tidak sabar lagi untuk mereka mulai. Karena ketika itu di Afghanistan telah tegak pemerintahan yang menerapkan syariat Alloh, berwali kepada orang-orang beriman yang jujur, serta memusuhi musuh-musuh Alloh, maka tidak terlalu sulit bagi Syaikh untuk membangun kamp latihan.

Sejak awal berdirinya, pemerintahan yang dipimpin oleh Syaikh Mujahid Mulla Muhammad ‘Umar ini, sudah mengumumkan penerapan syariat Alloh. Maka para pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke sana untuk mengikuti latihan militer. Program pertama pun terlaksana. Program berikutnya, serangan yang begitu menyakitkan terhadap “berhala modern” Amerika dalam sebuah amaliyah yang mengagetkan seluruh dunia. Yaitu dibomnya markas Intelejen CIA di Afrika (kedutaan AS di Nairobi dan Darus Salam). Ketika itu, gema takbir membahana di mana-mana di seantero Afghanistan dan dunia Islam. Karena itulah pukulan pertama dari mujahidin terhadap “biang segala kerusakan dan kekufuran” , Amerika. Tetapi satu hal yang harus kita catat, perancang serangan ini adalah Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, tokoh yang sedang kita bicarakan sekarang. Setelah aksi serangan ini, para pemuda dari berbagai belahan dunia, baik arab maupun non arab, kulit hitam atau kulit putih, semakin bersemangat untuk ikut serta dalam program tadrib Al-Qaeda. Sudah menjadi perkara yang dimaklumi bersama ketika itu, Syaikh Abu Hafsh adalah sosok yang tidak suka berdiam diri dan berpangku tangan, tidak pernah bosan untuk beramal. Sehingga beliaulah yang akhirnya menjadi penanggung jawab kamp-kamp latihan di sana, beliau pula yang menjadi penanggung jawab operasi-operasi yang akan dilancarkan. Dan beliau juga yang bertanggung jawab mengurusi urusan administrasi dan pendanaan. Maka memang beliau bisa disebut sebagai tangan kanan daripada Syaikh Usamah bin Ladin -hafidzahulloh-.

Karena Amerika mendengar keberanian dan kepiawaian Abu Hafsh dalam melancarkan berbagai operasi serangan, Amerika memasukkannya pada urutan kedua para buron terorist dunia yang paling dicari setelah Syaikh Usamah bin Ladin. Karena beliaulah yang menjadi wakil Syaikh Usamah setelah komandan Abu Ubaidah Al-Pansyiri syahid. Amerika mengerti bahwa orang ini sangat berbahaya, maka mulailah dinas intelejen mereka merencakan dan melakukan berkali-kali usaha pembunuhan terhadap beliau. Akan tetapi Alloh Ta’ala masih melindungi beliau.

Selang tak berapa lama, terjadi peristiwa peledakan kapal Destoyer USS Cole di teluk Adn. Syaikh Abu Hafsh punya peran besar dalam aksi serangan ini, beliau turut merencanakan dan mengatur jalannya operasi. Begitu mendengar serangan ini berhasil, diceritakan bahwa Syaikh Usamah langsung mengacungkan senapan AK 47 nya ke langit dan menembakkan beberapa rentetan peluru, sembari berteriak bahagia, “Ini adalah pembalasan untuk darahmu, wahai Mihdhar…” Mihdhar adalah Syaikh Abul Hasan Al-Mihdar, yang dibunuh oleh fihak Amerika melalui tangan bonekanya di penguasa Yaman, Presiden Ali Abdulloh Sholeh. Kapal ini tadinya juga berangkat untuk memberikan bantuan kepada yahudi dalam memerangi para mujahidin Palestina. Serangan ini menampakkan pengkhianatan negara-negara arab yang ternyata justeru memberikan simpatinya kepada Amerika.

Setelah operasi kali ini, Amerika mulai menyiapkan strategi serangan militer untuk diarahkan kepada mujahidin di Afghanistan, persiapan ini tidak diekspos kepada dunia. Tetapi, Alhamdulillah, gerakan-gerakan ini tercium oleh mujahidin, sehingga mereka harus mendahului menyerang -sebab cara bertahan terbaik adalah menyerang-. Akhirnya, mujahidin berhasil mengukir sejarah yang sungguh teramat sulit dilupakan oleh Amerika, dan mengangkat kepala seluruh kaum muslimin. Yaitu, aksi istisyhadiyah yang merontokkan pusat perekonomian dan pertahanan mereka. Mujahidin berhasil menyerang Amerika terlebih dahulu pada 11 September 2001, dengan menabrakkan pesawat ke menara kembar WTC dan gedung Pentagon. Dalam operasi kali inipun, Syaikh Abu Hafsh-lah yang menjadi penanggung jawab langsung. Beliau memilih beberapa orang pemuda, mentraining mereka, dan mengingatkan mereka agar selalu bersandar kepada Alloh Ta’ala. Maka para pemuda itupun berangkat ke negara kafir itu, bukan untuk bermaksiat sebagaimana dilakukan kebanyakan pemuda hari ini. Mereka datang untuk membinasakan Amerika, mereka hanya bertawakkal kepada Alloh dan kemudian menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh dengan sedemikian detail, serta kapan operasi akan dilaksanakan.

Sementara itu, di bumi ribath, Afghanistan, para mujahidin tak henti-hentinya berdoa kepada Alloh agar menolong ikhwan-ikhwan mereka dan memberikan kemenangan melalui tangan mereka. Doa mereka dikabulkan oleh Alloh. Terjadilah ledakan besar seperti telah direncanakan, bahkan ternyata lebih dahsyat. Gema takbir terus bergema di bumi Afghanistan, mengiringi kemenangan bersejarah ini. Kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, terutama Palestina, sampai ada yang menangis karena ternyata Alloh masih menyiapkan orang-orang yang membela dan membalaskan sakit hati mereka karena terus ditindas. Mereka adalah orang-orang yang tidak menonjol kepribadiannya tapi tinggi ketakwaannya, yang bekerja di balik tabir semua orang, dan di antaranya adalah syaikh kita, Abu Hafsh Al-Mishri.

Dan, sudah bisa ditebak. Pasca serangan ini, Amerika menjadi linglung dan menggila. Iapun segera mengumumkan genderang perang salib terhadap dunia Islam, terutama Afghanistan. Dan yang disayangkan, negara-negara Arab justru berdiri di fihak Amerika. Karena Amerika menghembuskan ancaman mematikannya: “Bersama kami, atau bersama terorist.” Inilah serial perang Salib paling ganas yang pernah menimpa dunia Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW. Abu Hafsh tidak kemudian berhenti membuat perencanaan, beliau terus menggalang para pemuda untuk melakukan persiapan. Sebab sekarang adalah bulan Shafar, harus ada perang. Dan perang kali ini sangat menentukan, perang eksistensi negara Islam.

Benar saja, Amerika mulai menghujani Afghanistan dengan berton-ton bom. Rata-rata satu bom memiliki berat hingga tujuh ton. Perburuan terhadap Syaikh Usamah CS semakin meningkat, terutama di awal-awal agresi AS. Bahkan mereka menyewa mata-mata untuk menguntit pergerakan mujahidin, menyebarkan pengumuman hadiah besar bagi yang bisa menunjukkan keberadaan Syaikh dan ikhwan-ikhwannya. Tetapi meski perburuan yang ketat, Abu Hafsh tidak kemudian lemah nyali. Beliau terus melatih para pemuda untuk melancarkan serangan menyakitkan berikutnya kepada Amerika. Padahal ketika itu, beliau menderita penyakit tulang karena efek dari jihad yang beliau lakukan dulu. Makanya, beliau menghimbau kepada para mujahidin muda untuk tidak terlalu memaksakan diri menghadapi cuaca yang teramat dingin. Karena beliau terkena penyakit ini ketika berlangsung pertempuran di Jaji, ketika beliau masih muda dan tidak peduli dengan dinginnya udara. Sehingga baru terasa pengaruhnya ketika beliau tua. Syaikh Abu Hafsh tak hentinya memanjatkan doa agar dikaruniai kesyahidan. Dan akhirnya Allohpun mengabulkan doa beliau -nahsabuhu kadzalika, wallohu hasibuhu-.

Komandan Abu Hafsh sangat mirip dengan Syaikh Usamah bin Ladin, baik postur tubuh, jenggot, bahkan raut mukanya. Beliau terpaksa harus berpisah dengan Syaikh Usamah dan para mujahidin lainnya, untuk kebaikan kaum muslimin juga, agar mereka tidak terlalu terpengaruh dengan terbunuhnya sosok seorang pemimpin. Kisah gugurnya beliau adalah sebagai berikut: Suatu malam di bulan Romadhon penuh berkah, selepas berbuka puasa, beliau ada jadwal berkumpul dengan singa-singa Alloh yang telah beliau siapkan untuk melancarkan operasi istisyhadiyah besar di Palestina. Selesai memberikan brifing terakhir kepada mereka dan melengkapi kekurangan-kekurangan yang dianggap perlu, beliau memberi nasehat kepada mereka tentang tanggung jawab kita terhadap umat di hadapan Alloh kelak. Selesai pertemuan, singa-singa itu pergi untuk menyantap hidangan sahur di rumah salah seorang ikhwah. Begitu memasuki rumah, Abu Hafsh merasa ada seseorang yang menguntit dirinya tanpa disadari oleh ikhwan-ikhwan yang lain. Akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke rumah yang lain. Sesampainya di rumah yang baru, dugaan beliau benar, ada seorang mata-mata dari penduduk asli Afghan yang menguntit beliau. Melihat postur tubuh dan jenggotnya, mata-mata ini mengira beliau adalah Syaikh Usamah. Maka ia meletakkan sekeping logam di dekat rumah tadi dan memberikan pesan kepada Amerika akan keberadaan Syaikh Usamah di rumah ini. Tak lama berselang, pesawat-pesawat mereka datang dan menembakkan jet-jetnya dengan deras, sehingga mereka mengira dengan sesingkat itu mampu memadamkan api jihad yang tengah membara dengan terbunuhnya Syaikh Usamah. Rumah sederhana itu luluh lantak dengan rudal-rudal mereka, syaikh Abu Hafsh dan ikhwan-ikhwan yang menyertai beliau akhirnya gugur untuk berjumpa Alloh Ta’ala. Kesyahidan menjemput mereka seperti yang mereka cita-citakan. Mereka syahid dalam kondisi berniat menyerang musuh, tak mundur sedikitpun. Adapun kalau setelah itu syahid, justru itu lebih baik bagi mereka. Asalkan niat mereka tetap lurus.

Keesokan harinya, ikhwan-ikhwan mencari jenazah beliau di bawah reruntuhan rumah. Mereka menemukan jasad beliau layaknya orang tidur. Terpancar cahaya dan sunggingan senyum di wajahnya. Dan anehnya, beliau tidak mengalami luka sedikitpun, dari tubuh beliau juga menyebar aroma misik yang tercium oleh semua yang hadir. Musuh-musuh Alloh gembira betul mendengar berita kematian beliau. Sebaliknya, mujahidin sangat sedih dan terpukul dengan peristiwa ini. Mereka menangis karena harus berpisah dengan syaikh, ayah, paman, dan kakak mereka yang satu ini.

Dulu, beliau dikenal sangat simpati kepada pemuda yang mau berjihad, beliau menganggap mereka sebagai orang-orang yang lebih baik daripada beliau. Menurut beliau, mereka bersedia datang ke Afghan untuk tadrib dan jihad adalah sebuah kelebihan tersendiri. Beliau dikenal sangat baik budi pekertinya, apalagi terhadap para mujahidin. Bahkan kepada para pekerja Afghan yang miskin. Beliau cinta mereka dan merekapun cinta beliau. Semua orang seolah mencintai beliau. Bahkan, kalau anda bermajelis sekali saja dengan beliau, anda akan langsung mencintai beliau. Sesekali menghadapkan wajahnya kepada fulan, kemudian tersenyum kepada yang lain, kemudian merangkul pundak fulan. Begitulah, beliau mencontoh Rosululloh SAW dalam semua hal, sampai urusan tersenyum. Di antara bentuk kecintaan beliau terhadap Syaikh Usamah adalah, beliau menikahkan putrinya dengan putra Syaikh yang bernama Muhammad.

Tadinya, beliau berencana membentuk kesatuan tentara Islam yang profesional untuk membebaskan negeri-negeri kaum muslimin. Beliau selalu menghimbau kepada setiap pemuda yang ikut latihan untuk mendalami bidang kemiliteran yang dikuasai masing-masing secara profesional. Hal ini beliau maksudkan, agar mereka nanti menjadi acuan dalam pembentukan kesatuan ini. Akan tetapi, Alloh berkehendak lain. Beliau wafat sebelum rencana beliau terwujud. Namun, Insya Alloh, para perwira sepeninggal beliau tetap akan bertekad mewujudkan rencana beliau ini, semuanya tentu berpulang kepada pertolongan Alloh yang Mahaperkasa. Ikhwan-ikhwan menguburkan beliau sembari menangis. Menangis sedih sekaligus bahagia. Sedih karena berpisah dengan syaikh dan ustadz mereka. Bahagia karena beliau menemui apa yang beliau cita-citakan selama ini, sebab beliau sudah lama berjihad dan tidak kunjung dikarunia kesyahidan. 25 tahun lebih dari umurnya beliau habiskan untuk membela agama Alloh, dan berjuang menegakkan daulah Islam, serta menghinakan musuh-musuh Alloh, dari kalangan yahudi, salibis, dan lain-lain. Semoga Alloh mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau, dan menempatkannya di tempat para syuhada. Amin.

Diracik dari: www.tawhed.ws
Source: alqoidun.net

Add comment 8 May 2008

Next Posts


Risalah