Posts filed under 'Tausiyah'
Wahai Kalian Yang Enggan Berjihad!
5 Syawal 1425 H
Gema Jihad
menyampaikan
Risalah Nasihat dan Teguran kepada Saudara-saudaraku yang Enggan Berjihad
Asy-syaikh Al-Mujahid Sulthan bin Bajjaad Al-Utaibi Abu Abdurrahman Al-Atsari
Dari Haramain (Dua kota suci, Makkah dan Madinah) yang kini terjajah
Bismillaahirrahmaanirrahiem
Risalah nasihat dan teguran dari Hamba Allah yang faqir kepada Allah kepada saudara-saudaraku yang enggan untuk berjihad
Assalamu`alaikum Warahmatullahi wabarakaatuhu.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukiku jalan menuju kemuliaan dan kehormatan. Dan segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan mengenal dan bersahabat dengan para pahlawan ummat ini, semisal komandan Asy-syahid Abdul Aziz Al-Maqran, dan syaikh Isya Al-`Ausyan, Syaikh Ibrahim Ar-riis, Faishal Ad-Dukhail, Nashir Ar-Rasyad, Ibrahim Ad-Dariyham, Turki Al-Muthiiri, Abdul Ilah Al’Utaibi dan selain mereka, dari ikhwan-ikhwan kita semua. Mereka itulah para pendekar yang mengajarkan kita keberanian, mengorbankan jiwa dan raga mereka demi menolong kalimat LAA-ILAAHA ILLALLAAH
Wahai kalian yang enggan berjihad! (Orang-orang yang duduk-duduk tak berjihad):
Sesungguhnya telah teguh hadits dari nabi s.a.w, bahwa beliau bersabda: ‘Tidak beriman seseorang di antara kamu sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”, dan telah teguh pula hadits bahwa beliau s.a.w bersabda: “Ad-dien (agama) adalah nasihat ” maka saya adalah pemberi peringatan yang benar kepada kalian. Hari ini adalah hari berbuat tanpa adanya perhitungan amal, dan hari esok adalah hari perhitungan tanpa amal.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Apakah kalian rela duduk-duduk bersama orang-orang yang tinggal dan tak berjihad? Firman Allah: “Mereka ridha bersama orang-orang yang tinggal tak berjihad, dan Allah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak memahami ” (At-Taubah (9):87)
Sesungguhnya demikianlah kenyataannya, yang selalu saja kalian berpaling ketakutan dari jihad・
Apakah kalian ridha untuk tidak berjihad bersama orang-orang munafiq dan orang-orang yang suka beralasan? Apa yang engkau baktikan untuk dien (agama) kalian? Sedangkan anda dengan bebasnya setiap hari bepergian ke seluruh tempat.
Wahai kalian yang enggan berjihad!:
Bagaimana bisa engkau duduk santai sedangkan saudara-saudara kalian di Iraq dibantai dibawah penindasan musuh-musuh Allah, sedangkan kalian bercengkerama dengan istri-istri kalian?! Bahkan bagaimana kamu bisa hidup dengan berleha-leha dan rileks sedangkan saudari-saudari kalian direngggut kehormatan mereka, kehormatan mereka di nodai di penjara Abu Gharib???!!
Wahai kalian yang enggan berjihad!:
Apa alasan kalian di hadapan Allah kelak? Sedangkan saudara-saudara kalian di penjara Abu Gharib, Guantananmo, Ar-Ruwais, dan Al-Hair, mereka semua ditelanjangi. Saya yakin kalian telah melihat foto-foto bukti tentang hal itu, yang berhasil dikeluarkan dari penjara Abu Gharib..,sesungguhnya hal itu tidak lain sebagai gambaran apa yang terjadi terhadap saudara-saudara kita di penjara-penjara Israel, Amerika dan antek-antek mereka.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Sesungguhnya kaum Salibis dan Yahudi benar-benar melecehkan kehormatan kaum Muslimin, dan menindas para pahlawan ummat ini, di kamp-kamp penindasan di Amerika Israel, dan antek-anteknya. Apa lagi yang kalian tunggu?
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Bukankah Allah berfirman: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, dan jadilah seluruh dien (agama) ini milik Allah” (Al-Anfal (8):38) Bukankah kalian telah mengetahui firman Allah ini: “Dan bunuhlah kaum musyrikin itu dimana saja kamu menjumpai mereka, dan tawanlah mereka, dan kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat-tempat pengintaian” (At-Taubah (9):5). Bukankah Allah telah berfirman :”Dan perangilah mereka kelak Allah akan mengadzab mereka dengan tangan-tangan kamu, dan menghinakan mereka dan Allah menolong kalian atas mereka, dan menyembuhkan dada-dada orang beriman, dan menghilangkan panas hati mereka.” (At-Taubah (9):14)Dan Allah memberi ampunan bagi siapa yang dikehendaki
Bukankah Allah Jalla Wa-’Alla berfirman: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (At-Taubah (9):29)
Bukankah Allah berfirman: Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah (9):73, At-Tahrim (66):9) ?!
Bukankah Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(At-Taubah (9):123)!!?
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Allah Jalla Wa’Alaa berfirman: Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah (9):19-20)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(At-Taubah (9):24)
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni`matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(At-Taubah (9):38-39)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(At-Taubah (9):41)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (At-Taubah (9):46)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau mereka mengetahui.Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.(At-Taubah (9):81-82)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Bukankah kalian tahu kisah tentang Tiga orang yang tidak ikut berjihad? Apa dosa mereka? Dan apa kesalahan mereka yang menyebabkan mereka tercela? Tidak lain, dosa mereka adalah karena mereka tidak berjihad! Mereka tidak berjihad・an renungkanlah oleh kalian, mereka itu adalah sahabat radhiyallahu ‘anhum..termasuk golongan manusia terbaik・an mereka ikut berperang bersama nabi Muhammad s.a.w dalam sebagian peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w・ apa gerangan balasan mereka? Balasan mereka adalah ; Rasulullah s.a.w memboikot mereka selama Lima puluh malam, padahal mereka sendiri bertaubat kepada Allah..akan tetapi Allah tidak memberi mereka taubat kecuali setelah Limapuluh malam!! Sesungguhnya masalah ini adalah teramat penting. Maka tanyakanlah pada diri-diri kalian, dan hisablah diri-diri kalian sebelum dihisab oleh Allah di hari akhir kelak.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Kalian tidak memperhatikan saudara-saudara kalian di jazirah arab yang sebenarnya mereka telah menolong kalian.. kalian tidak mempedulikan kaum salibis yang memerangi kailan..tetapi kalian asyik berdiam diri!? Mengapa!?
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Sesungguhnya orang-orang jahiliyah di zaman mereka tidak rela mengalami kehinaan sebagaimana kehinaan yang kini dialami oleh ummat Islam. Mereka tidak rela saudari-saudari mereka berada dalam kekuasaan musuh-musuh mereka・tidak rela kehormatan mereka dinodai・tidak rela harga mereka dihinakan!
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Jika kalian mengklaim bahwa peperangan kami terhadap kaum salibis terdapat syubhat -sebagaimana kalian sangka- maka bagaimana dengan Iraq? Inilah Iraq. Peperangan telah meletus, kehormatan dan kebebasan mereka telah dirusak・kaum muslimin dibunuhi tanpa dosa apapun yang mereka perbuat, simbol-simbol kaum muslimin dinodai, lalu kenapa kalian masih duduk, tak berjihad?!
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Jika kalian mencela mujahidin pada umumnya dan mujahidin di Jazirah Arab pada khususnya, mencela peperangan kami terhadap tentara-tentara itu, dan kalian bersikeras mempertahankan bahwa mereka adalah muslimin・ maka demi Allah, kami bertanya kepada kalian・siapakah yang menangkapi kami? Dan menerobos aurat-aurat kami, menangkapi syaikh-syaikh kita dan pejuang-pejuang kita!? Siapakah yang membunuhi orang-orang baik di kalangan kita?! Siapakah yang melampaui batas terhadap wanita-wanita kami, juga harta-harta dan tempat tinggal kami!?
Saya bertanya pada kalian, siapakah Thaghut yang selalu berjaga malam, pasang telinga dan tangan mereka menyiksa kami? Bukankah mereka itu pasukan khusus, yang selalu mengintai dan mencari-cari Mujahidin? Demi Allah saya bertanya kepada kalian, bukankah mereka itu pelindung pasukan salibis? Siapakah yang menjaga dan menjamin Amerika dan kaum salibis di negeri kita? Siapa yang berdiri di antara kami dan salibis dan sekaligus mempertahankan mereka!!! Demi Allah kita telah melihat, tentara negeri ini telah meletakkan leher mereka di bawah ketiak CIA di Riyadh dan menjadi benteng keamanan mereka.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Saya Tanya kalian karena Allah, bukankah banyak di antara tentara-tentara itu yang telah bergaul bersama mujahidin dan mereka benar-benar mengerti bahwa Mujahidin adalah musuh Amerika dan antek-anteknya? Bukankah Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Al-Maidah (5):51)!?
Bukankah ulama telah menyebutkan tentang pembatal-pembatal Islam, diantara mereka adalah Imam dakwah Najd (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa barangsiapa menolong kaum kafir dengan jiwanya atau harta atau pandangan atau bahkan sekedar sebuah kalimat saja, maka dia menjadi kafir dan murtad.
Hal ini membuat saya bingung, demi Allah, ada sebuah permisalan oleh seorang ikhwan yang mengatakan :”Apa bedanya antara Peter dan Hamud”!
Maka Peter datang dari Nevada di Amerika sana, sedangkan Hamud datang dari dataran Nejd, dan dua-duanya berperang di bawah bendera Salib.!!!
Wahai kalian yang enggan berjihad!
“.. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, (An-Nuur (24):2)
Mengapa kalian menyebut orang-orang yang membantu Yahudi di Palestina sebagai mata-mata dan di Kabul kalian namakan kuli, kalian katakan pula orang-orang yang membantu Yahudi di Iraq sebagai pengkhianat. Tetapi apa yang katakan kalian terhadap orang yang membantu salibis dan zionis di Riyadh? Ternyata kalian tidak berkata apapun terhadap ini!
Sesunggunya dienullah (Islam) adalah satu, Rasul pembawa risalahnya satu, dan hukum syar’I adalah satu・ Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa saudara-saudara kita di Palestina, dan juga yang menyiksa kaum Muslimin di Iraq dan Afghanistan, mereka itulah yang menyiksa kami di Riyadh! Sedangkan Ulama kita, ulama kaum Muslimin telah ijma bahwa diperbolehkan memerangi musuh dalam rangka kita mempertahankan diri dari penjahat. Jika ini tidak dikatakan sebagai penjahat,dan sebelumnya disebut sebagai pengkhianat, lalu nama apa yang pantas diberikan kepada mereka?
Sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Demi Allah orang-orang yang lalu lalang dan memberikan gelaran dan julukan yang buruk terhadap Mujahidin. Mereka menutupi jalan-jalan kami dan mengangkat senjata ke wajah saudara-saudara kami. Para tentara itu mengerti benar bahwa Ibnu Sa’ud dan saudara-saudaranya adalah kroni-kroni Amerika, tidak ada yang tersisa dari jiwa kesatria mereka,dan agama mereka sebelum ini.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Jika kalian mengklaim bahwa kalian berada di front, maka sebenarnya, setelah kami amati dan perhatikan, ternyata kalian berada di ‘front’ wanita-wanita kalian, kalian cinta dunia dan takut mati, inilah kenyataan kalian! Takutlah kepada Allah, kembalilah kepada agama kalian, yaitu berjihadlah kalian! Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal (8):24)
Ibnu Abbas r.a berkata: “Yang dimaksudkan dengan ’suatu yang memberi kehidupan kepada kamu’ dalam ayat di atas adalah Al-Jihad”
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Saya peringatkan kalian dari ulama suu’ (Ulama yang jahat), dan para pemuka-pemuka agama pemerintah..sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah mengabarkan: “Yang lebih aku takuti daripada yang aku takuti terhadap kalian ialah para pemimpin yang menyesatkan”, dan Allah Jalla Wa’Alaa berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib (pemuka agama) Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At-Taubah (9):34), dan firman Allah: Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(At-Taubah (9):31)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Aku bertanya kepada kalian atas nama Allah, apakah kalian menyebut orang-orang yang menangis atas kematian kaum salibis sebagai Ulama? Lihatlah saudara-saudara kita di Jazirah Arab, mereka dibunuhi, mereka ditawan, sedangkan orang-orang yang kalian katakan sebagai ‘ulama’ itu tak berkata sepatahpun, diam seribu bahasa, bahkan di majlis-majlis merekapun tidak ada kata pembelaan terhadap kaum muslimin yang dibunuh dan ditawan itu. Akan tetapi! Ketika Mujahidin berhasil menawan tentara dari tentara-tentara penjajah beragama Kristen, tiba-tiba berteriaklah orang-orang munafiq dan para pembela thaghut itu. Bagaimana bisa kalian bertaqlid urusan agama kalian kepada orang-orang seperti mereka?
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Sesungguhnya ulama-ulama pemerintah dan para pemuka-pemuka agama mereka tidak menolong saudara-saudara kita yang ditawan di Guantananmo, di penjara Abu Gharib ,di Ar-Ruwais , Al-Haa-ir, di Alisyah dan Rashifah. Mereka tidak mengeluarkan satupun fatwa untuk membebaskan mereka. Maka Allah akan menghinakan wajah orang-orang yang murka demi membela kaum salibis sedangkan di masa yang sama mereka tidak pernah marah demi membela kaum Muslimin.
Kepada Khalid bin Walid r.a dikatakan: “Dimana akalmu wahai Khalid, sedangkan cahaya kenabian telah terbit sejak Duapuluh tahun? Khalid bin Walid menjawab: Di hadapanku berderet nama-nama mentereng yang di mata kami mereka penuh kharisma..”
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : Jihad akan tetap menjadi sesuatu yang menarik hati, selagi air tercurah dari langit. Akan datang masanya kepada manusia, orang-orang yang dianggap quraa (mengerti agama) akan berkata kepada mereka : “Sekarang bukan zamannya Jihad”, barangsiapa menjumpai zaman seperti itu, maka Jihad di waktu itu adalah sebaik-baik Jihad. Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah s.a.w: “Apa ada orang yang berkata seperti itu?”, “Ada” yaitu orang-orang yang Allah telah melaknatnya, juga malaikat, bahkan sekalian manusia melaknatnya”, jawab Rasulullah s.a.w. Sebagian ulama melemahkan riwayat ini.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Saya katakan kepada kalian sebagaimana Ibnul Jauzi berkata kepada orang-orang yang sezaman dengannya: “Wahai manusia, perang telah bergema, para penyeru Jihad telah menyeru kalian untuk berjihad, pintu-pintu langit telah terbuka, jika kalian tidak menjadi pendekar dalam peperangan, maka berikan saja jalan-jalan jihad itu kepada wanita, biar mereka menempuh jalan itu! Kenakanlah sanggul dan celak matamu, beserta serban dan jenggot kalian wahai wanita!”
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Bergabunglah kalian dengan kafilah Jihad, merekalah saudara-saudara kalian di Jazirah Arab, mereka memerangi musuh-musuh Allah dari kalangan penjajah Salibis. Bergabunglah kalian bersama mujahidin itu. Jika kalian tidak menemukan jalan untuk bergabung bersama mereka,maka lihatlah para salibis itu dengan pongah dan leluasanya lalu lalang di Jazirah Nabi Muhammad s.a.w. Bunuhlah kafir itu walaupun satu, agar kalian memperoleh apa yang Allah janjikan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w : “Seorang kafir tidak akan berkumpul di dalam neraka dengan orang yang membunuhnya (muslim), selama-lamanya” (HR.Muslim)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-baqarah (2):195). Maksudnya ‘kebinasaan’ dalam ayat ini adalah : meninggalkan jihad dan sibuk dengan diinar (harta)
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Janganlah kalian menjadi orang-orang yang gagah dalam dalam jahiliyah dan pengecut dalam Islam.
Wahai kalian yang enggan berjihad!
Tahukah kalian siapakah mu’min yang sebenarnya?・mereka itu adalah・sebagaimana difirmankan oleh Allah: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia.” (Al-Anfal (8):74)
Sebagai penutup, saya mohon kepada Allah Jalla Wa-’Alaa, semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan agar Allah meneguhkan kita di jalan Jihad, sampai akhir hayat kita.
Yaa Allah Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, Wahai Yang Maha Gagah dan Pemilik kemuliaan, tunjukilah ummat Muhammad s.a.w untuk berjihad, Ya Allah berilah taufiq kepada pemuda-pemuda Islam untuk menolong-Mu, menolong dien (agama)-Mu, Wahai Rabb (Tuhan) semesta alam. Ya Allah, kepada-Mu kami serahkan Salibis, Yahudi dan antek-antek mereka. Ya Allah, timpakanlah rasa takut di hati mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan seluruh makhluk yang keluar dari bumi dan yang turun dari langit wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Gagah, wahai Yang Mencipta langit dan bumi. Ya Allah tolonglah kami di jazirah Arab. Ya Allah berilah kemenangan bagi kaum Muslimin dengan tangan-tangan kami, dan timpakanlah petaka di leher-leher kaum salib dan penolong-penolong serta antek-antek mereka. Ya Allah kuatkan azam-azam (semangat-semangat) kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan satukanlah hati-hati kami. Ya Allah tolonglah kami dengan pertolongan dari sisi-Mu. Ya Allah, jadikanlah pertolongan itu untuk saudara-saudara kami dari kalangan mustadh’afin (kaum lemah,tertindas) di seluruh tempat di Palestina, di Iraq dan negeri-negeri kaum Muslimin lainnya Ya Allah Rabb (Tuhan) semesta alam・
Ya Allah, jadikanlah akhir hayatku dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Yang dengannya Kau ampuni dosa-dosaku, dan dengannya Engkau tertawa terhadapku, yang dengannya Engkau ridha kepadaku wahai Yang Maha Mulia, yang memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang Engkau muliakan.
Wallahu A’lam
Abu Abdurrahman Al-Atsari Sulthan bin Bajjaad Al Utaibi.
Dari Dua negeri suci (Haramain) yang kini terjajah.
Disampaikan lewat:
Global Islamic Media Front
Garda Penerangan Islam Global
Add comment 4 September 2008
MENCARI LAILATUL QADR ATAU…..?
Dari Ikhwan Fiddien, Forum Al Tawbah
Add comment 3 September 2008
Wasiyat Imam Samudera kepada Syabab
SURAT DARI AL-AKH IMAM SAMUDRA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah, sesembahan seluruh makhluk dan shalawat kepada Rasul akhir zaman, Muhammad Shalallohu’alaihi Wassalam.
Telah kuterima suratmu akhi, diantara gerimis hujatan dan cercaan para penguasa dzolim. Sepucuk suratmu telah membangkitkan perasaan dan semangatku. Dari balik jeruji besi ini, aku sampaikan bahwa aku baik dan selalu dalam lindungan Allah, Pemelihara alam semesta dan sesembahan segala makhluk. Tiada kenikmatan yang mampu aku rasakan kecuali dalam jeruji ini. Satu kenikmatan yang hanya aku yang mampu merasakannya.
Akhi, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh ikhwan yang telah mengazzamkan dirinya kepada JIHAD dan MATI SYAHID untuk terus berjihad dan bertempur melawan syetan akbar, Amerika dan Yahudi Laknat.
Akhi, jagalah selalu amalan harian antum. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita dari bahaya futur dan malas hati.
Akhi, jagalah malammu kepada Allah azza wa jalla. Selalulah isi malam-malammu dengan sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya. Ingatlah akhi, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.
Ingatlah selalu akan janji kita, untuk selalu membentuk generasi pengganti. Satu generasi yang mereka mencintai kematian sebagaimana musuh-musuh Allah mencintai kehidupan. Bangkitkan generasi yang siap menjadi pasukan-pasukan Allah. Binalah suatu generasi yang mereka siap selalu untuk menjadi manusia penghancur kekafiran dan kebathilan. Bangunkan pemuda yang siap menjadi pasukan syahid yang akan menggentarkan musuh Allah, musuh Islam, dan musuh kaum Muslimin.
Kepada antum yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belumlah usai. Justru saat inilah baru dimulai peperangan yang sesungguhnya. Lakukanlah aksi-aksi syahid di manapun antum semua berada. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita akhi. Jikalau teror yang selama ini kita lakukan membuat gentar dan takut, maka teruslah lakukan ke atas semua kepentingan musuh kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir. Sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, ia adalah ISLAM atau KAFIR. Tidak ada beda antara sipil kafir dengan tentaranya. Jika kalian mampu membunuh troop-troop mereka, itu lebih baik bagi kalian daripada ibadah sunah kalian.
Akhi, bersabarlah dengan semua ujian yeng menimpa kita ini. Ingatlah semakin berat ujian ini, semakin dekat pula pertolongan Allah untuk pasukan kita. Buatlah sehingga orang-orang kafir itu tidak kerasan dengan kekafiran mereka di muka bumi ini. Jadikan darah mereka seperti darah anjing yang hina dina. Lakukanlah teror atas mereka sebagaimana mereka melakukan teror dan pembantaian atas saudara kita di Palestina, Afghanistan dan seluruh penjuru bumi. Jika mereka membantai satu saudara kita, bantailah seratus orang dari mereka. Jika mereka membantai sepuluh orang saudara kita, bantailah seribu orang dari mereka, atau bahkan kalau bisa lebih dari itu.
Akhi, jadikan hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh akhi, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran. Sungguh sebutan teroris itu lebih berharga daripada gelar penguasa muslim, namun mereka justru menjadi mesin pembantai kaum Muslimin. Jika kalian membenci dan memusuhi gelar yang diberikan oleh musuh Allah terhadap kita, maka melalui jalan mana lagi kita akan masuk jannah.
Ingatlah akhi, Jannah itu diraih dengan jalan pedang dan pertempuran. Jannah itu diraih dengan darah dan air mata. Jannah itu diraih dengan pembantaian dan kebinasaan. Islam itu ditegakkan dengan perang dan simbahan darah dan air mata. Tidaklah Islam itu jaya melainkan berdiri di atas darah dan tulang belulang para syuhada. Maka, jika kalian tidak sempat mengecap kemenangan Islam, maka kalian akan mengecap nikmatnya Jannah yang telah dijanjikan Allah kepada para pembela dan pengawal Islam.
Ingatlah selalu penderitaan orang-orang tua kita. Kenanglah selalu jerit tangis anak-anak kita. Janganlah hapus dari ingatan antum pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Muslimah kita. Berjanjilah untuk membalasnya akhi. Berjanjilah, bunuhlah para pemimpin orang-orang kafir itu. Hancurkan kesombongan mereka dan hinakan harga diri mereka. Janganlah kalian berhenti memerangi mereka hingga Islam menang atau antum hancur dalam peperangan. Aku akan selalu berdo’a untuk kemenangan Islam, kemenangan antum dan kemenangan pasukan kita, di antara hardikan dan cambukan anjing sipir penjara.
Sekian saja akhi. Bersabarlah dan selalu istiqomah. Alloh di belakang kita, masa depan milik Islam. Allahu Akbar…Allahu Akbar dan kekuatan hanya milik Allah semata.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dari saudaramu FATIH, di antara jeruji besi penguasa kafir Indonesia.
Add comment 26 July 2008
Kepada Para Asraa……..
Tebarkan salam
Berilah makanan
Bebaskan para tawanan
(Rasulullah saw)
“… Sesungguhnya pembebasan kalian adalah hutang yang mengikat leher setiap muslim, yang akan Allah tagih pada hari Kiamat kelak…” (Dokter Aiman Az Zawahiri)
Segala puji bagi Alloh, kami memuji-Nya dengan pujian yang layak untuk keagungan Wajah-Nya dan kebesaran kuasa-Nya.. kami memuji-Nya atas limpahan ampunan dan kebesaran anugerah-Nya.. kami memuji-Nya atas rahmat-Nya yang luas dan kebaikan-Nya yang banyak.
Maha Suci Dzat yang semua wajah tertunduk karena keagungan-Nya.. Maha Suci Dzat yang semua jidat terhinakan karena kekuatan-Nya.. Maha Suci Dzat yang orang-orang tertindas menjadi kuat karena kekuatan-Nya.. hingga para polisi segan kepada mereka meskipun mereka terpenjara.. dan para thoghut takut kepada mereka meskipun mereka telah berkalang tanah.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi pengemban dakwah dan nabi pengemban jihad.. nabi pembawa petunjuk dan nabi pembawa kelurusan.. nabi yang lemah lembut sekaligus nabi eksekutor.
Alloh bersholawat kepada putera Aminah yang
Telah melahirkan keturunan mulia
Wahai kalian yang mengharap syafaat darinya,
Haturkanlah sholawat dan salam kepadanya
Semoga sholawat Alloh tercurah kepada beliau, kepada keluarganya yang suci, dan para shahabat, baik khulafaur rosyidin dan orang-orang beriman dari mereka, juga kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari pembalasan.
Alloh (Yang Maha Benar) Tabaroka wa Taala berfirman di dalam Al-Quran:
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqoroh: 155-157).
Nabi pilihan n bersabda:
“Jika Alloh mencintai seorang hamba, pasti Dia akan mengujinya.”
Sesungguhnya di antara sunatulloh adalah adanya penyaringan dan ujian. Inilah keadaan yang dialami makhluk-makhluk Alloh terbaik; para nabi. Orang-orang sebelum kalian juga tertimpa kesusahan, tersakiti oleh berbagai gangguan. Bahkan saking beratnya ketakutan, kelaparan dan kemiskinan yang terjadi, makhluk Alloh terbaik dan para pengikutnya merasa pertolongan lambat datang, maka mereka bertanya-tanya: Bilakah pertolongan Alloh datang? Dikatakan kepada mereka: Dekat, wahai golongan yang beriman!
Sebagaimana yang Alloh kisahkan dalam Al-Quran:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Alloh?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” (Al-Baqoroh: 214).
Inilah penjelasan dari manusia yang tak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ini penjelasan dari manusia penerang kegelapan n:
“Dunia adalah penjara orang beriman dan surga orang kafir.” (HR. Muslim dalam Shohih-nya).
Dan inilah perasaan yang dialami oleh salah seorang pemimpin Islam (Ibnu Taimiyah), ketika orang-orang dzalim menghinakannya dengan tirani mereka:
“Apa yang mau diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Surga dan tamanku ada di hatiku, ke manapun aku pergi ia tak pernah meninggalkanku. Dipenjaranya aku adalah kholwah, dibunuhnya aku adalah kesyahidan, diusirnya aku dari negeriku adalah wisata.”
Saudaraku, yang terpenjara…
Wahai singa yang terkurung dalam kandangnya…
Wahai pahlawan yang teguh, yang musuh tak mendengar keluhan sakitnya…
Kepadamu, wahai gunung menjulang, di tengah siksaan orang-orang kejam.
Kepadamu, wahai yang mengkufuri hukum tandingan-tandingan Alloh dan beriman kepada Robb hari akhirat.
Kepadamu, wahai yang kuat di zaman penuh kelemahan.
Kepadamu, wahai yang menolak kehinaan di hadapan sesama hamba, karena dirinya termasuk dari orang-orang merdeka.
Kepada mereka yang tak sudi mengikut dan menjilat kepada orang-orang murtad yang jahat.
Kuhadiahkan kepadamu, saudaraku, hal paling remeh dari yang seharusnya dihadiakan kepada manusia seperti dirimu. Kuhadiahkan kata-kata dari lubuk hati, semoga saja bisa meringankan keadaanmu..
Sesungguhnya karena ujian orang itu bertingkat-tingkat dan kekuatan imannya berkelas-kelas, maka sudah pasti segolongan manusia memiliki derajat lebih dari golongan yang lain. Orang yang sabar akan diangkat, orang yang tidak sabar berpisah dengan yang enak-enak akan rendahkan.
Alloh telah menentukan –dan tak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya—bahwa iman itu diuji dengan bala’, dan bala’ memerlukan kesabaran, dan kesabaran menggiring ke kemenangan, dan kemenangan adalah satu satu buah dari pertolongan Alloh.
Berbahagialah, saudaraku yang terpenjara.. Alloh telah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang sabar dan yakin. Bahkan Alloh menyebut mereka sebagai pemimpin-pemimpin Islam dan para pemberi petunjuk menuju jalan Robb semesta alam, sebagaimana firman Alloh di dalam Kitab-Nya:
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah: 24).
Duhai penjara, aku jatuh hati kepada rantai-rantaiku
Rantai dan jeruji-jeruji adalah senjataku
Hai penjara, aku sudah akrab dengan selku
Sel-sel dan kegelapan-kegelapan ini adalah selendangku
Di balik jeruji-jerujimu, dengan izzahku aku merasa tinggi
Sedang orang bebas di luar pagarmu sukarela menghinakan diri
Dengan penjara-penjara mereka mereka kekang hidupku
Padahal aku lahir dan meninggal di bawah bayang-bayang rantaimu
Di tembokmu kutulis impian-impianku
Dengan goresan kukuku dan tinta darahku
Dengan darahku kutulis bahwa aku
Berlepas diri dari kekufuran mereka
Dan karena itulah negeriku serasa sempit
Ibu…mengapa kau teteskan air mata.
Jangan…
Jangan begitu, aku menjadi penebusmu, wahai ibu yang penyayang
Ibu…jangan menangis karena aku dipenjara, sabarlah
Fajar sebentar lagi akan terbit
Kekafiran akan tergulung di balik pasukan mereka
Dan cahaya agamaku kan bersinar benderang
Kebenaran akan menang seketat apapun penjara mereka
Dan rantai akan patah dan agamaku kan jadi yang tertinggi
Berbahagialah, saudaraku di penjara..
Thoghut itu hanya meneruskan jalan para pendahulu mereka; memerangi para pengikut kebenaran dan tauhid. Alangkah miripnya petang dan malam. Thoghut-thoghut itu tak punya tempat dan nilai dalam timbangan Alloh, sementara mereka terus mengancam dan menakut-nakuti, seperti dilakukan Firaun pendahulu mereka:
“Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar Aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”.”
Berbahagialah, saudaraku di penjara..
Berbahagialah, wahai engkau yang telah menggabungkan antara kesabaran dan jihad..
Wahai engkau yang meninggalkan kelezatan dan lelapnya tidur untuk melangkah di jalan Alloh..
Berbahagialah, Alloh menjanjikan Surga kepadamu. Dan siapakah yang mampu menghalangi anugerah dan karunia Alloh untukmu?
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Alloh, supaya kamu beruntung.” (Ali Imron: 200).
Perlihatkanlah kesabaran yang baik kepada Alloh, sehingga Alloh tahu bahwa jihad yang kalian lakukan adalah jihad yang besar dan agung. Dan Alloh Maha tahu apa yang kalian alami di malam hari dan apa yang kalian kerjakan di siang hari, tapi maksud tahu di sini adalah tahu akan balasan Surga atau Neraka yang berhak kalian dapatkan. Itulah maksud dari firman Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemaksa:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 142).
Berbahagialah, saudaraku di penjara.
Berbahagialah, wahai saudaraku yang sabar, akan datang obat penawar bagi semua penyakit.
Berbahagialah oleh masa istirahat dari semua kepayahan.
Berbahagialah oleh kecintaan dari Alloh Yang Maha Agung.
Wahai engkau yang berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi dan kalimat orang kafir menjadi yang terendah;
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Alloh, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Alloh menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 146).
Berbahagialah, saudaraku di penjara…
Berkata penulis kitab Al-Fawakih Ad-Dawaanii Syarah Risalah Abi Zaid Al-Qoiruwani: “Dalam sabar menahan musibah ada pahala yang tak terdapat dalam sabar melaksanakan ketaatan (ibadah).”
Ya Alloh, jadikan sabar sebagai bekal kami dan takwa sebagai kekayaan kami.
Berbahagialah saudaraku di penjara, bulan-bulanmu hanyalah menit demi menit dan hari-harimu adalah detik demi detik, asalkan kau habiskan usiamu untuk menjalani ujian Alloh dengan syukur, selalu mengingat nama Dzat Yang Maha Penyayang, dan semua waktu longgar bibirmu selalu terisi dengan dzikir, syukur, dan tasbih untuk Majikanmu.
Ya Alloh, ilhamkanlah kesabaran kepada mereka dan teguhkan hati mereka di atas kebenaran.
Optimis selalu untuk jadi yang terawal meski tanpa kuda balap
Optimis selalu padahal keputus asaan selalu mengintai
Optimis selalu meski frustasi menimpakan kepada kami
panasnya cambukan dan bentakan para algojo.
Optimis selalu wahai kaumku, meski kalian terus menangis
Langit menangis tapi menghidupkan lembah
Optimis selalu oleh buih yang menyiram bumi kita
Langit kita benderang oleh matahari dan cuaca cerah muncul
Optimis terhadap tanaman yang menumbuhkan tunasnya
Meski banyak belalang dan dibabat arit para pemanen
Optimis selalu, karena kabar gembira dari Nabi sudah dekat
Dan esok kan kita tatap munculnya kemuliaan-kemuliaan
Laut tetap bertahan kebaikannya, apakah ia terpengaruh
Oleh jala para nelayan?
Maka biarkan musuh dengan makar dan akibat-akibatnya
Seekor semut bisa merayap di belantara tubuh singa
Aku bersumpah dengan Dzat yang mengisra’kan hamba terbaik-Nya
Dan mentakdirkan kehancuran kaum Aad:
Zaman pasti akan berputar
Dan apa yang disampaikan Nabi pemberi petunjuk pasti terjadi
Saudaraku yang terpenjara… barangkali saya akan mengajakmu dan diriku sendiri untuk keluar dari kesedihan-kesedihan dunia menuju saat-saat, di mana kita mengkaji dan mengingat apa yang Alloh sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di Jannah, lalu kita hidup dengan kebahagiaan yang tak pernah berakhir dan kenikmatan yang tak pernah habis:
Telah bercerita kepada kami Al-Humaidi, telah bercerita kepada kami Sufyan, telah bercerita kepada kami Abuz Zinad, dari Al-A‘roj dari Abu Huroiroh a ia berkata: Rosululloh n bersabda: “Alloh berfirman: “Kusediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh… (berbahagialah wahai saudaraku yang teguh di atas kebenaran di tengah terpaan fitnah dan kegoncangan).. sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbayang dalam benak seorang manusia pun.” Jika kalian mau, bacalah firman Alloh: “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 17).
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muqotil, telah memberitahu kami Abdulloh, telah memberitahu kami Ma‘mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Huroiroh a ia berkata: Rosululloh n bersabda: “Rombongan pertama yang masuk Jannah wajah mereka seperti bulan di malam purnama, mereka tidak meludah di dalamnya, tidak beringus dan tidak buang air besar. Wadah-wadah mereka di sana dari emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, pengasapan minyak wangi mereka dari gaharu, keringat mereka kasturi, dan masing-masing mereka punya dua isteri yang sumsum betisnya bisa dilihat dari balik daging karena saking indahnya, tiada perselisihan di tengah mereka, tidak ada saling marah, hati mereka seperti hati yang satu, mereka bertasbih mensucikan Alloh pagi dan petang.”
Berikut ini kabar gembira untukmu, saudara-saudaraku…wahai orang-orang yang teguh dan bertekad baja:
Telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Abdulloh, ia berkata: telah bercerita kepadaku Malik bin Anas, dari Sofwan bin Sulaim, dari Atho’ bin Yasar dari Abu Said Al-Khudriy a dari Nabi n beliau bersabda: “Sesungguhnya para penduduk Jannah saling melihat ke arah para penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana melihat bintang berkelip di ufuk timur atau barat saking jauhnya jarak mereka.” Para shahabat berkata: “Wahai Rosululloh, tentu itu tempat para nabi yang tak dicapai oleh selain mereka.” Rosululloh bersabda: “Ya, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para rosul.”
Berbahagialah, wahai orang-orang sabar dan beriman. Bergembiralah karena kalian akan melihat Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna ia berkata: telah bercerita kepadaku Abdul Aziz bin Abdus Shomad, telah bercerita kepada kami Abu Imron Al-Jauni dari Abu Bakr bin Abdulloh bin Qois dari ayahnya bahwasanya Rosululloh n bersabda: “Sesungguhnya di Jannah ada kemah yang terbuat dari mutiara berlubang yang panjangnya 60 mil, di setiap sudutnya ada keluarga yang bisa saling melihat, orang-orang beriman mengelilingi mereka. Dan ada dua surga yang bejana-bejana dan seluruh isinya dari perak. Dan dua surga yang bejana-bejana dan seluruh isinya dari ini dan itu. Antara mereka dan melihat wajah Robb mereka hanya dibatasi oleh Selendang Kesombongan di Wajah-Nya di Jannah ‘Aden.”
Allohu Akbar..Allohu Akbar.. Allohu Akbar!
Selanjutnya, di sini saya memanggil saudaraku yang bebas di luar penjara namun dipenjara oleh dunia:
Wahai kalian yang merdeka dari sel-sel besi namun menjadi tawanan bagi seonggok daging kering dan isteri..
Sungguh engkau punya saudara-saudara yang membebaskan mereka adalah wajib, menolong dan menguatkan mereka telah menjadi kewajiban yang hilang. Maka kuingatkan diriku dan dirimu, akhi, tentang keadaan para Salaf yang mulia ketika mengalami kegoncangan dan musibah seperti yang kita alami sekarang.
Imam Ibnul Arobi Al-Maliki v berkata dalam kitab Ahkaamul Quran: “…kecuali jika mereka menjadi tawanan yang tertindas, maka loyalitas terhadap mereka masih tetap berlaku, menolong mereka dengan fisik adalah wajib sampai tidak ada di antara kita mata yang bisa terpejam sampai kita berangkat untuk membebaskan mereka jika jumlah kita mencukupi untuk itu, atau kita keluarkan seluruh harta kita demi membebaskan mereka sampai tidak ada lagi satu dirhampun yang kita miliki. Begitulah yang dinyatakan oleh Imam Malik dan seluruh ulama. Maka innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji‘uun menyaksikan orang-orang yang membiarkan saudara-saudaranya ditawan musuh, padahal di tangan mereka ada tumpukan harta, keadaan lebih, punya perlengkapan dan personel, punya kekuatan dan ketahanan.”
Ini beliau ucapkan di zaman beliau, lalu bagaimana dengan zaman kita?
Ya Alloh, ampunilah kami yang mentelantarkan saudara-saudara kami..
Apakah tawanan-tawanan dari kita selamat, bagaimana kalian ini?
Di hati ini petir serasa menggelegar-gelegar
Apakah para tawanan dari kita dimuliakan, bagaimana kalian ini?
Kehinaan bukan terletak pada penjara dan tembok
Kehinaan terjelek telah kalian tinggalkan
Ketika kalian bela Din Yang Maha Mengetahui perkara ghaib
Sungguh kemuliaan telah kalian raih
Kemuliaan tertinggi ada di rongga hati kalian
Apakah kita melupakan, bahkan menelantarkan, para tawanan kita
Tidak ada singa marah yang bangkit untuk kalian
Dunia kita sudah lama terdiam
Seolah semuanya adalah penyembah salib
Mereka terus berjalan di atas kebenaran dengan yakin
Duhai, menyakitkan sekali ketidak pedulian orang dekat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v, mutiara dari Syam, berkata dalam Majmu‘ Fatawa:
“Membebaskan tawanan termasuk kewajiban yang paling besar, mengorbankan harta baik harta wakaf atau yang lain termasuk ibadah paling agung.”
Amirul Mukminin Umar bin Khothob a berkata: “Sungguh membebaskan satu orang dari tangan orang-orang kafir itu lebih aku sukai daripada Jazirah Arab.”
Ibnun Nahas menukil dari An-Nawawi, sebagaimana di dalam Ar-Roudhoh, perkataan dia: “Sekiranya mereka menawan satu atau dua orang Muslim, maka apakah itu sama dengan ketika musuh masuk ke negeri Islam? Ada dua pendapat, yang pertama: tidak; sebab gangguan musuh terhadap satu orang saja adalah hal yang tak mungkin. Pendapat yang paling benar adalah iya, sebab kehormatan satu orang Muslim lebih besar daripada kehormatan satu negeri.”
Bahkan, kehormatan satu orang Muslim lebih besar di sisi Alloh daripada kehormatan Baitulloh Al-Haram (Ka‘bah).
Al-Izz bin Abdus Salam berkata, sebagaimana di dalam Ahkamul Jihad: “Membebaskan tawanan kaum Muslimin dari tangan orang-orang kafir termasuk ibadah paling agung. Sebagian ulama bahkan mengatakan: ‘Jika mereka menawan satu saja orang Islam, kita wajib terus menerus melancarkan perang terhadap mereka sampai kita berhasil membebaskan mereka atau kita musnahkan mereka. Lalu bagaimana jika mereka menawan banyak sekali kaum Muslimin.”
Dengan kelancangan apa mereka menawannya, katakanlah
Apakah karena ayahku sholat dan shoum?
Bukankah ia menyeru kepada kebenaran secara terus terang?
Dan musuh menyakitinya karena itu?
Bukankah dia menempuh jalan yang lurus,
Yang menerangi jalannya dengan cahaya yang luas?
Bukankah ia menyeru setiap saat,
Kepada tauhid, dan melaksanakan kebaikan?
Bukankah dia yang membangkitkan harapan di tengah kita,
Serta membangunnya ketika sekedar bayangan saja telah hilang?
Bukankah ayahku menolak kehinaan, lalu
Apa kejahatannya hingga penjahat itu menahannya?
Bukankah ia senantiasa memberi makan orang miskin
Dan bergembira ketika bertemu orang fakir?
Hampir saja ia meleleh karena sedih jika bukan
Karena ia mengapung di lautan umat kita
Sabarlah ayahku, sebentar lagi
Pedang akan menghancurkan kesedihan-kesedihanku
Zaman terlelap sudah pergi meninggalkan kita
Musuh-musuh kita takkan terhinakan dengan tidur
Karena kemuliaan takkan diraih suatu kaum
Yang rela hidup di tengah berbagai kesenangan
Berikut ini kisah seorang wanita yang bertemu Al-Manshur bin Abi Amir ketika ia perang dari sebuah pertempuran dan meraih kemenangan. Wanita itu berkata: “Engkau dan orang-orang bergembira sementara aku menangis sedih.”
“Kenapa?” tanya Al-Manshur.
“Anakku ditawan di sebuah negeri Romawi.”
Maka Al-Manshur memberangkatkan pasukannya saat itu juga, kemudian mereka pulang dan menghadirkan anaknya itu kepadanya.
Di dalam atsar diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz ketika ada sebagian kaum Muslimin tertangkap mengirim Abdur Rohman bin Amroh untuk membebaskan mereka, ia berpesan kepadanya: “Berikan kepada mereka semua yang mereka minta untuk menebus satu orang Muslim. Demi Alloh, satu orang dari kaum Muslimin lebih aku sukai daripada semua orang musyrik yang ada di bawah kekuasaanku. Sesungguhnya ketika engkau menebus seorang Muslim, berarti engkau telah meraih keberuntungan, karena pada dasarnya engkau menebus Islam.”
Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz juga pernah menulis surat kepada para tawanan, yang isinya: “Sesungguhnya kalian menggangap diri kalian adalah tawanan, demi Alloh tidak. Kalian adalah orang-orang yang tertahan di jalan Alloh. Ketahuilah, aku tidak membagi sesuatu pun kepada rakyatku kecuali pasti aku khususkan untuk keluarga kalian yang paling banyak dan paling baik. Saya telah mengirim fulan bin fulan kepada kalian dengan uang lima ribu dinar. Kalau bukan karena takut ditahan (tidak diberikan kepada kalian) oleh tirani Romawi, tentu jatah kalian akan kutambah. Aku juga telah mengutus fulan bin fulan untuk menebus yang muda dan yang tua, yang laki-laki dan yang perempuan dari kalian, yang merdeka maupun yang sahaya, sesuai permintaan.
Maka optimislah, kemudian optimislah. Wassalam.”
Ayahku, jangan kau uraikan kesedihan-kesedihan
Aku bukan pengecut dan aku tak melihat dirimu pengecut
Ayahku, penjara bagiku adalah surga
Apakah kau melihat penjara bagi orang sepertiku menjadi surga?
Siapa yang tujuannya Robb Arsy, ia takkan
Rela dengan kehinaan dan tidak mau hidup terhina
Kedua mataku ditutup kain tapi aku melihat
Kelezatan dan rasa aman yang tak bisa kalian lihat
Jasadku menginap terhina dalam belenggu
Sementara jiwaku dalam diri seperti kobaran kawah
Dari atas kepalaku ada dua penjaga yang ketakutan
Terhadap diriku, mereka memperhitungkan apa yang keluar dari mulutku
Putaran nostalgia berjalan di benakku
Maka ia membasahi ruh dan perasaanku
Seolah ibuku tak menyisakan setetes air matapun
Kecuali ia tumpahkan karena sedih dan kasihan
Demi Alloh sekiranya ia tahu Surga hatiku
Tentu matanya mongering karena rasa tenang
Wahai ayahku, apakah kau kira malamku kesepian
Sementara di kegelapan aku lantunkan bacaan Al-Quran?
Tidak! Dadaku tidak sempit bagiku
Dada yang membawa iman takkan pernah sempit
Aku korbankan nyawaku di jalan Alloh
Maka kemuliaan-kemuliaan ditegakkan untukku
Sekiranya mereka sobek-sobek tubuhku, aku takkan sedih
Penyeru jihad memanggil kami menuju Jannah
Ayahku, sampai kapan kita terus begini
Terus berfikir sambil menghitung korban tewas dari kita?
Sampaikanlah tentang keberanian kepada umat kita
Yang hingga kini tak kenal jati dirinya
Dan carilah manusia sejati, ayah, sungguh
Perasaanku sudah penat dan tak menemukan manusia sejati
Ayahku, kini aku dianggap penjahat terbesar
Ketika aku menolak aku tak mau menghinakan diri dan tunduk
“Kamu dituduh teroris,” kata mereka
duh, betapa bahagia aku jika karena Islam aku dituduh teroris
Bagi mereka kejahatan mereka boleh menimpa umatku
Sedangkan melawan tirani kami diharamkan
Dan yahudi boleh melemparkan bom demi bom
Menghapus desa-desa dan mencabik-cabik anak kecil
Namun anak kecil yang melempar beberapa batu
Berarti ia musuh yang jahat dan pengkhianat
Mereka keluar untuk membunuh dua orang di tengah gua mereka
Lalu apa dosa anak-anak kecil sehingga harus mati terang-terangan?
Wahai yang mendatangi Al-Qaeda untuk menghancurkan pondasinya
Lalu kenapa rumah dirampas dan temboknya dirobohkan?
Pastilah jika mereka menyerang bangsa-bangsa
Atau membakar penduduk-penduduk negeri
Kan mereka hancurkan semua rumah, tapi heranlah
Al-Qaeda tetap tak tergoyahkan pilar-pilarnya
Kami tak kenal terror dalam agama kami
Selain untuk orang yang jahat dan menyerang kami
Islam moderat, bagaimana mau menuntut adil kepada
Tangan yang mencuri dan tak kenal keadilan?
Ayahku, ceritakan kepadaku sifat paling mulia
Bersama setiap kuda membawa para ahli kuda
Dan jika kau lihat singa maka ingatlah pahlawan
Yang dia tinggal di dalam penjara terbelenggu
Sungguh kami lihat kezaliman mereka yang belum pernah kami lihat
Dan Alloh Robbul Alamin akan perlihatkan kepada kami
Kehinaan orang-orang kafir dan tidak ada pelindung bagi mereka
Sedangkan Alloh di Ketinggian-Nya adalah pelindung kami
Akhi…yang tidak ditawan dipenjara namun ditawan oleh dunia.
Al-jihad..al-jihad..al-jihad. Jika kalian tak mampu ber I’dadlah, kemudian teruslah ber-I’dad. Tinggalkanlah kelalaian dan tidur. Tinggalkan makar Iblis dan tentaranya yang bangsat itu. Segeralah bekerja keras, carilah kematian di tempat-tempatnya di bawah panji syariat Alloh. Umur ini masih tersisa, sungguh yang akan kita cari adalah kehidupan abadi, Jannah dan kelezatan selama-lamanya.
Kita usir bayangannya dan dia lari menjauhi kita
Kita kejar kasih sayangnya tapi ia halangi kita
Kita katakan padanya: kemarilah, kami
Rindu pada wajah mahalmu. Dan kami
Mengharapkan dirimu sejak lama
Tidakkah kau ulurkan tangan pemberian kepada orang yang mengharap
Dia menolak dan terus berjalan serta menutup semua pintu
Lalu pergi meninggalkan semua jin dan manusia
Aku heran dan mulailah kutanya: mengapa?
Dan bagaimana kemuliaan kita bisa terraih?
Ia berkata: siapa yang kau inginkan? Kukatakan: sesuatu
Yang namanya jihad, jika itu bisa diraih
Maka ia berkata, sambil memutar wajahnya ke arahku
Dengan penuh ceria dan hati tenteram
“Jika kamu ingin membela kebenaran, carilah
jihad seperti jihadnya Abu Ubaidah dan Al-Mutsanna
Dan tinggalkanlah orang yang berjuang untuk dunia
meskipun mulutnya mengucapkan jihad dan menyenandungkannya.”
Nabi n telah berpesan dengan sebaik-baik pesan tentang masalah para tawanan. Beliau menghasung untuk mengorbankan semua yang kalian punya untuk membebaskan mereka dari setiap gangguan. Rosululloh Shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Bebaskanlah tawanan, beri makanlah orang lapar, dan jenguklah orang sakit.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Lalu bagaimana jika pada diri seseorang terkumpul dua sifat dari hadits ini, atau bahkan semuanya, wahai saudara seiman?!!
Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka dipenjara di jalan-Mu dan karena membela agama-Mu. Ya Alloh, bentangkanlah awan ketenangan kepada mereka dan bukakan pintu ketentraman untuk mereka. Ya Alloh sesungguhnya Engkau melihat keadaan dan tempat mereka, Engkau tahu apa yang sanggup mereka pikul dan apa yang tidak sanggup mereka pikul, Maha Suci Engkau, sungguh Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Alloh, ringankanlah apa-apa yang tidak mampu mereka tanggung. Berilah mereka pahala atas perkara yang mereka sabar menahannya. Ya Alloh teguhkan mereka atas perkara yang mereka imani.
Ya Alloh, jadikan api orang-orang dzalim dingin dan kesejahteraan bagi mereka.
Jadikanlah Al-Quran sebagai pemimpin dan imam mereka.
Jadikanlah Darus Salam sebagai rumah dan tempat tinggal mereka.
Ya Alloh teguhkan mereka di atas kebenaran dalam semua kondisi. Palingkan dari mereka semua kengerian.
Ya Alloh teguhkan mereka di atas petunjuk dan palingkan dari mereka kesesatan.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Mudahkan jalan mereka menuju jannah tertinggi, Firdaus.
Ya Alloh, sungguh kami tak berdoa kepada-Mu karena dosa kami sedikit atau amal kebaikan kami banyak. Ya Alloh, sungguh kami berdoa kepadamu sementara kami yakin seyakin-yakinnya bahwa ketaatan kami tak berguna bagi-Mu dan maksiat kami tak membahayakan-Mu. Ya Alloh, kami berdoa kepada-Mu dengan kelapangan rahmat-Mu dan agungnya anugerah-Mu. Ya Alloh, sesungguhnya kami berdoa kepada-Mu dengan apa yang kami ketahui dari Kasih sayang dan Kedermawanan-Mu. Dan Engkau, duhai Robb kami, adalah sebaik-baik yang diminta dan sedermawan-dermawan yang dituju. Ya Alloh, paling wajah-wajah kami dari makhluk-makhluk-Mu dan tahanlah tangan kami dari meminta kepada selain-Mu.
Ya Alloh, kami telungkupkan wajah kami di hadapan Keperkasaan-Mu.
Kami letakkan jidat-jidat kami di tanah karena menghinakan diri di hadapan keagungan-Mu.
Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu dengan amal-amal sholeh kami, mudahkanlah bagi kami menggapai kesyahidan yang membuat-Mu ridho kepada kami.
Ya Alloh, ilmu kami tidak berguna jika tidak bisa mendekatkan diri kami kepada ridho-Mu. Tidak berguna jihad kami jika tidak mengantarkan kami kepada Jannah-jannah-Mu.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ilhamkan kelurusan kepada kami dan jangan kau pasrahkan kami kepada diri kami sendiri. Ampuni kami dan saudara-saudara kami.
Sekian.
Semoga Alloh selalu melimpahkan sholawat, keberkahan dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikut dan para shabat beliau.
——————————————————————————
Diterjemahkan oleh al-Akh Khadimul Jihad
jangan lupakan saudara kami dalam do’a kalian yang tulus
saudara mu dari
Battalion Media Al-Tawbah
Add comment 18 July 2008
Bersama Kitab yang Memberi Petunjuk dan Pedang yang Memberi Pertolongan
PEMBERI PETUNJUK DAN PENOLONG
Berkata Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu sementara ia membawa pedang di salah satu tangannya dan mushhaf di tangannya yang lain, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar memukul dengan ini (pedang) orang yang menyimpang dari ini (kitab).”
Perkataan Jabir bin Abdillah ini merupakan penafsiran terhadap firman Allah Ta’ala :
لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط
“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan timbangan agar manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-hadid : 25)
“Maksud dari diutusnya rasul-rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah agar manusia dapat melaksanakan keadilan dalam hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.” (Fatawa Syaikhul Islam 28/263)
Dan di antara hak Allah Ta’ala yang paling besar yang dengannya diutus seluruh rasul dan diturunkan semua kitabullah adalah agar manusia merealisasikan tauhid yang merupakan pemurnian ibadah kepada Allah dalam semua segi kehidupan mereka. Seluruh dakwah para rasul dan semua kitab yang diturunkan Allah kepada mereka dari pertama hingga terakhir berbicara tentang kebenaran yang agung ini yang intinya adalah :
- Seruan untuk merealisasikan dan menegakkan kebenaran (tauhid) ini atau perintah untuk berdakwah kepadanya dan bersabar dalam memperjuangkannya atau motivasi untuk berjihad dalam rangka merealisasikan tauhid tersebut serta memberikan loyalitas dan permusuhan karenanya.
- Berita tentang balasan bagi orang yang merealisasikan, menegakkan, dan menolong tauhid serta berjihad di jalannya dan juga pahala yang besar serta nikmat yang berharga yang dijanjikan Allah.
- Seruan untuk berlepas diri dari kesyirikan yang membatalkan tauhid dan seruan untuk berjihad melawannya dan berjihad melawan pendukungnya serta berusaha untuk menghancurkan-nya dan mencabut sampai ke akar-akarnya dengan segala bentuknya dari atas muka bumi.
- Berita tentang tempat kembali bagi orang-orang yang menentang perealisasian tauhid serta orang-orang yang me-meranginya dan memerangi wali-walinya. Tempat kembali mereka adalah kehinaan dan penyesalan serta hukuman yang buruk dan siksa yang kekal yang telah dijanjikan Allah kepada mereka.
Semua kitabullah dan semua risalah nabi-nabi dari pertama hingga terakhir terangkum dalam al-haq (tauhid) ini dan berbicara tentangnya.
Tauhid merupakan tujuan terbesar dan target tertinggi yang karenanya Allah menciptakan makhluk, mengutus rasul-rasul untuk-nya, dan menurunkan kitab-kitab.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.” (Al-hadid : 25)
Barang siapa yang menentang tauhid dan tidak menegakkannya dengan adil dan menolak para rasul dan para da’i,ia diluruskan dengan pedang.
Ini merupakan makna dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
“Aku diutus menjelang datangnya hari kiamat dengan membawa pedang hingga Allah disembah sendirian yang tiada sekutu bagi-Nya dan dijadikan rezekiku berada di bawah bayang-bayang tombakku serta dijadikan hina dan rendah orang yang menyelisihi urusanku. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Imam Ahmad dari Ibnu Umar)
“Barang siapa yang menyimpang dari kitab maka ia diluruskan dengan besi. Oleh karena itu, tegaknya agama adalah dengan mushhaf dan pedang.” (Al-fatawa 28/264)
Sudah semestinya para aktivis dakwah yang terpercaya pada setiap zaman menjadikan tauhid sebagai poros dakwah mereka, titik tolak pembicaraan dan persepsi mereka, dan sandaran timbangan mereka. Mereka berkeliling di sekitarnya dan oleh karenanya mereka diuji dan dipenjara serta di bawah panjinya mereka diperangi dan dibunuh.
Hendaknya mereka senantiasa berusaha untuk menegakkan tauhid berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah dengan argumen dan keterangan. Barang siapa yang menolak tauhid siapa pun orangnya, maka ia diluruskan dengan besi.
Apabila pada suatu masa para aktivis dakwah sulit untuk mempergunakan besi dan tangan mereka tidak mampu untuk melakukannya, mereka tidak boleh menghapus ketentuan ini dari perhitungan mereka atau meninggalkannya. Akan tetapi, mereka harus beredar dengan Al-kitab dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam beri’dad untuk menegakkannya dengan besi.
Setiap orang yang mengetahui hakikat dien ini –hingga musuh-musuhnya-, mereka mengetahui bahwa dien ini adalah tauhid dan jihad, dakwah dan qital, mushhaf dan besi. Mereka benar-benar mengetahui –selama mereka menolak untuk istiqamah dalam dien ini dan menegakkannya dengan adil- bahwa dien ini menolak mereka dan akan mencabut kebatilan mereka hingga ke akar-akarnya di setiap masa dan setiap tempat. Mereka mengetahui bahwa Muham-mad shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyembelih mereka dan menyembelih orang-orang yang serupa dengan mereka. Rasulullah menghadapi orang-orang yang paling dekat dengan itu, yaitu keluarga dan kaumnya ketika mereka menolak untuk melaksanakan tauhid ini dengan adil. Beliau lalu memberitahukan mereka mengenai tujuannya sebelum akhirnya mampu menaklukkan mereka dalam beberapa tahun berikutnya. Beliau bersabda : “Dengarkanlah wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan sembelihan.” Kemudian beliau benar-benar melakukan hal itu dengan hadid (besi) yang dengannya Allah memuliakan Islam dan para penganutnya.
Insya Allah kita senantiasa mengikuti atsarnya, menempuh manhajnya, menegakkan sunnahnya, dan berperang bersamanya.
“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Sesungguhnya keadaan nabi yang berperang bersamanya atau dibunuh bersamanya para pengikutnya yang banyak tidak harus nabi tersebut ikut bersama mereka berada dalam peperangan. Akan tetapi, setiap orang yang mengikuti nabi dan berperang demi tegaknya diennya, sungguh ia telah berperang bersama nabi. Inilah yang dipahami oleh para sahabat. Sebab, sebagian besar peperangan yang mereka lakukan terjadi setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka mampu menaklukkan negeri Syam, Mesir, Iraq, Yaman, ‘Ajam, Romawi, negeri-negeri barat, dan negeri-negeri timur. Pada waktu itu cukup banyak orang yang terbunuh bersamanya. Sesungguhnya orang-orang yang berperang kemudian mereka terbunuh di atas dien para nabi sangat banyak. Ayat ini merupakan pelajaran bagi setiap orang beriman hingga datangnya hari kiamat. Sebab, mereka semuanya berperang bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan di atas diennya meskipun beliau telah meninggal. Mereka ini masuk dalam firman Allah Ta’ala : “Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersamanya.” Dan ayat : “Dan orang-orang yang beriman setelahnya dan berhijrah serta berjihad bersama kalian.” Maka, bukan merupakan sebuah syarat bahwa orang yang taat harus menyaksikan orang yang ditaatinya melihatnya.” (Majmu’ Fatawa)
Kita katakan dengan terus terang kepada musuh-musuh kita mengenai tujuan kita dan kita beritahukan kepada mereka bahwa apabila pada hari ini kita lemah, maka hal ini bukan berarti kita menghapus kewajiban ini dari perhitungan kita. Sekali-kali tidak! Bagaimana pun juga, kita tidak boleh melakukannya dan kita tidak memiliki landasan untuk melakukannya. Oleh karena itu, kita berdo’a kepada Allah siang dan malam agar Ia menguatkan kita untuk menebas leher-leher mereka dan leher-leher musuh-musuh dien ini. Setiap gerak, diam, dan nafas kita adalah dalam rangka i’dad untuk menghadapi mereka.
Mereka benar-benar mengetahui hal itu dan juga mengetahui penyimpangan dan kesalahan para aktivis dakwah yang minder dan kalah yang berusaha dengan segala kesia-siaan untuk memisahkan kitab dari hadid (besi). Mereka mengetahui kebodohan aktivis dakwah tersebut terhadap hakikat dien ini dan bahwa ia telah menyimpang dari perintah syar’i Allah dan sunnah kauniyah-Nya dan tidak memahami dienul Islam.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Dan dienul Islam, hendaknya pedang mengikuti kitab. Apabila telah muncul ilmu berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah sedangkan pedang mengikuti-nya, maka urusan Islam akan tegak.” (Al-fatawa 20/393)
Ia juga berkata : “Maka tegaknya agama adalah dengan Kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.”
Ditulis pada Muharram 1422 H.
Add comment 1 July 2008
Sehingga Agama ini Hanya Milik Allah Semata
Sehingga Agama ini Hanya Milik Allah Semata

Amir Istisyhadiyin Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi Rahimahullah
Diterjemahkan oleh : Al-Akh Abu Mortar Al-Jatimy
Al Qo’idun Group
Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya.
Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, manusia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam.
Amma Ba`du…
Wahai umat Islam…
Terimalah sebuah kabar gembira, sebentar lagi negara Al-Quran akan lahir. Garis-garis waktu subuh mulai merekah setelah melalui gelapnya malam yang panjang, dan setelah mimpi buruk di kegelapannya dilalui oleh umat ini sejak awal. Dengan anugerah dan bimbingan Alloh, putra-putra terbaik kalian berhasil mematahkan gempuran Amerika sekaligus menghancurkan kesombongannya yang semu. Kekuatan tiran Amerika yang tak henti-hentinya memerangi agama Islam di bumi Irak itu kini tak ubahnya seperti boneka yang mempertontonkan keberingasan “mengerikan” di sana-sini yang hampir saja terguling hanya dengan tusukan jarum.
Amerika datang sembari berangan-angan dan bermimpi untuk disambut dengan karangan dan taburan bunga, bak disambutnya para penakluk budiman. Ia tidak mengerti kalau “akar Keislaman” masih menancap kuat dalam lubuk hati yang paling dalam, di mana tak seorang pun raja yang bengis atau penguasa yang keras –apapun bentuknya—untuk memadamkannya atau mencabutnya dari dasar jiwa. Amerika dikejutkan dengan keberadaan sesosok umat yang hidup dan pemuda muslim yang mulai dan punya harga diri, yang tidak mau dihinakan dan tidak rela dengan kelaliman. Tidak lama kemudian, Amerika bertangisan dan jatuh terjerembab sembari menjilati luka-lukanya. Baru lah nampak di hadapannya, ternyata ufuk itu gelap, dan ternyata umat ini tidak bisa dikalahkan.
Akhirnya mereka menggunakan cara lain, yaitu melancarkan makar dan tipu daya yang mereka memang sudah ahli dalam hal itu, melalui kerjasama dengan orang-orang munafik dan pengkhianat yang berasal dari orang-orang yang sekulit dengan kita. Telah dimulai barisan baru berupa tipu muslihat yang bertujuan untuk mencabut sumbu jihad dan memadamkan sumbernya dari hati orang-orang beriman.
Tentang Pemerintahan “KARZAI-ISME”:
Sebuah teori pemikiran menuai respon positif dan keberhasilan nyata di Afghanistan… maka, eksperimen ini harus kembali diulang. Umat Islam di sini, di Irak, harus kembali ditipu dan dibuatkan makar baru untuknya, berupa pemerintahan Irak yang demokratis. Sungguh, alangkah cepat semua itu berlalu. Di balik permainan ini, Amerika menginginkan beberapa urusan:
Pertama: Menyelamatkan darah orang Amerika “yang mahal dan tinggi nilainya”. Tentara Amerika sendiri telah membuktikan bahwa mereka adalah makhluk paling penakut dan lemah, serta menjadi sasaran “empuk” bagi pedang-pedang mujahidin. Mujahidin berhasil “memanen” kepala-kepala mereka. Tekhnologi mutakhir dan senjata pemusnah yang cerdik itu tak mampu melindungi mereka dari luka-luka. Atas dasar ini, maka hendaknya yang melindungi mereka adalah para budak berkulit coklat, para milisi yang murah harganya, yaitu yang berasal dari masyarakat “dunia ketiga”. Mereka dipakai sebagai tameng untuk Amerika untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan mujahidin. Mereka juga harus menjadi pasukan “penyapu ranjau” dan pasukan terdepan dalam bertempur melawan umat mereka sendiri. Sebab mereka lebih mampu dan dahsyat dan lebih mematikan dalam berperang melawan mujahidin. Sementara “si tuan Amerika” tinggal bersenang-senang di pangkalan-pangkalan militernya, jauh dari api peperangan. Lihatlah Amerika, mereka menggiring ribuan orang-orang seperti ini untuk menginjak umat Islam dengan memberikan imbalan seonggok dunia dan secuil harta yang –pada aslinya— mereka curi dari kekayaan dan kandungan alam negeri yang dermawan ini juga (Irak).
Kedua: Saksi sejarah dan pengalaman terkini menunjukkan bahwa penjajahan “tidak langsung” merupakan senjata yang lebih efektif dalam menghadapi umat ini. Jika tadinya orang kafir asing memimpin langsung dalam merampok umat dan merampas harta kekayaannya serta memperbudaknya, maka sebagai gantinya sekarang yang melakukan semua itu hendaknya adalah orang-orang munafik yang warna kulit dan logat bahasanya sama dengannya. Lihatlah negara-negara Arab di sekeliling kita yang dikendalikan dari Gedung Putih melalui agen-agen penghubung yang “sangat tulus” kepada para majikannya. Mereka menghinakan umat dan menimpakan kenistaan dan kerendahan kepadanya, serta menjualnya di pasar budak dengan harga yang murah. Mereka persembahkan putra-putra umat sebagai korban penyembelihan “sang majikan”, Amerika. Dengan demikian, eksperimen ini harus kembali diulang di Irak.
Ketiga: Belum lama ini, Collin Powell dengan terang-terangan menegaskan, di hadapan sebuah gerakan organisasi Yahudi, “Perang kita terhadap Irak adalah untuk membebaskan Israel dari bahaya Irak.” Karena ternyata Amerika tak mampu melakukan tugas ini, maka mereka mesti melimpahkannya kepada orang-orang munafik yang sekulit dengan kita, sebab itu lebih kuat dan lebih mampu. Bukankah “si mata satu” Mossa Diyan, dulu pernah mengatakan, “Negara-negara Arab itu kedudukannya seperti anjing-anjing yang menjaga kita.” ?! Bukankah orang-orang murtad dari kalangan mereka yang sekulit dengan kita telah melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya serta menjaga Israel dengan penjagaan yang begitu ketat? Lihatlah Iyadh Allawi, yang telah berjanji, dan kini bersiap-siap, untuk melaksanakan tugas yang sama. Maka, diserahkan sajalah tugas itu kepadanya.
Keempat: Semakin cepatnya daerah gembala Pemilu gaya Amerika berkembang, maka harus dibarengi dengan pencapaian-pencapaian target –walaupun semu—dari si penggembala sapi. Demikianlah semua permasalahan dan masa depan umat ini diperlakukan, untuk menjadi sekedar lembaran-lembaran kertas pemilu di tangan para penggembala sapi.
Di sini, kami katakan kepada pemerintahan Amerika dan negara-negara di dunia yang berada di belakangnya:
1. Di sini, kami tidak berjihad demi membela tanah air atau batas-batas territorial semu negara yang dihasilkan oleh perjanjian Sieksy-Piccot. Kami juga tidak berjihad dengan tujuan agar thoghut Arab menempati posisi thoghut Barat. Akan tetapi jihad kami lebih tinggi dan lebih luhur, kami berjihad agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya menjadi milik Alloh.” Dan siapa saja yang melawan tujuan kami ini dan menghadang di atas jalan menuju tujuan tersebut, maka ia menjadi sasaran pedang-pedang kami –siapapun namanya dan setinggi apapun nasab keturunannya—.
Sesungguhnya, kami memiliki agama yang diturunkan oleh Alloh sebagai neraca penilai dan pemutus hukum, kata-katanya adalah pemutus, dan hukumnya bukanlah main-main. Itulah nasab hakiki yang menghubungkan antara kami dan manusia lain. Dengan memuji Alloh, sesungguhnya neraca-neraca penilai kami berdasarkan ajaran langit, hukum-hukum kami berdasarkan Al-Quran, dan keputusan-keputusan kami berdasarkan petunjuk Nabi. Seorang Amerika yang muslim adalah saudara yang kami cintai, sementara orang Arab yang kafir adalah musuh yang kami benci, walau pun kami dan dia berasal dari rahim yang sama.
2. Setiap muslim adalah saudara yang akan kami bela dan lindungi. Dan hendaknya setiap umat Islam di manapun ia berada mengetahui bahwa kami belum –dan tidak akan pernah—berani membunuh seorang muslim yang darahnya terlindungi, atau menumpahkan darah yang haram. Itu mustahil dan tidak akan pernah mungkin kami lakukan.
3. Telah berlalu bagi umat ini masa menyusu kepada kehinaan dan kerendahan. Telah berlalu pula masa di mana masa depannya yang dijanjikan dicuri oleh tangan-tangan kaum munafik yang sekulit dengan kita. Di masa lampau, umat telah mengorbankan segala yang mahal maupun yang murah, mereka berperang, bertanding, dan berjihad melawan orang kafir penjajah, akan tetapi tanpa disadari dan dengan begitu polosnya, tanpa sedikitpun terdapat rasa cemburu, mereka mengizinkan kaum oportunis munafik untuk menerima tampuk kekuasaan dan menempati posisi kepemimpinan. Akibatnya mereka memberlakukan umat Islam dengan perlakuan yang orang kafir asing sekalipun tidak mampu melakukannya walau hanya sebagian kecil. Pengalaman pahit ini senantiasa hadir dalam benak kami dan tergambar di depan mata kami. Dan kami tidak akan pernah membiarkan itu terulang kembali, dengan izin Alloh.
Dengan memuji Alloh, putra-putra terbaik kalian berhasil menghidupkan kembali fiqih (pemahaman) para pendahulu kita yang sholeh (salafus sholeh) dalam memerangi kelompok-kelompok yang murtad, dan berhasil melaksanakan hukum Alloh terhadap orang-orang murtad dan menolak untuk melaksanakan syariat-syariat Alloh. Dan jihad kami akan terus berlanjut, tidak memilah antara orang kafir barat atau orang murtad arab, sampai khilafah islamiyah kembali ke muka bumi atau kami binasa karenanya.
4. Adapun kamu, hai yang menjadi tentara dan polisi; sadarlah bahwa engkau telah mengulang kejahatan-kejahatan yang sama dengan sebelumnya. Sebelum ini, kalian telah rela menjadi “sepatu” bagi si thoghut Saddam Husein, yang ia pakai untuk menginjak kemuliaan dan kehormatan umat Islam. Denganmu lah ia menteror keamanan masyarakat, dan dengan senjatamu lah ia membunuhi rakyat tak berdosa. Kisah yang terus berulang ini selalu kita temui di mana pun kita melihat sepanjang sejarah dunia Islam; para tirani yang zalim menyiksa dan menghinakan umat yang lemah. Semua itu melalui kamu, wahai tentara.
Adapun kami, kami tidak akan pernah membiarkan kalian menghancurkan harapan-harapan kami pada jihad penuh berkah ini. Kami tidak akan mengizinkan kamu menguasai masa depan cemerlang kami, di mana tanda-tanda awal kehadirannya mulai muncul di ufuk. Kami telah menghukumi kamu dengan hukum Al-Quran: “Sesungguhnya Firaun, Haman, dan pasukan keduanya itu adalah orang-orang yang keliru.” Dan kami akan coba berlakukan kepada kalian ketentuan ilahi: “Maka Kami siksa Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami campakkan mereka di lautan…”
5. Setiap kali aku teringat saudari-saudari kami yang tadinya bebas kini di penjara kaum salibis, dan setiap kali terlintas pada pandanganku foto seorang wanita yang kehilangan anaknya yang dipaksa untuk menenggak gelas yang dipenuhi air mani para penyembah salib, maka seolah-olah bumi ini mengguncang diriku. Dan aku berjanji kepada Alloh untuk membalasnya kepada setiap tangan yang ikut andil dalam melakukan persekongkolan ini.
Aku menangis karena wanita-wanita itu, celakalah ia…
Ia digiring ke pengasuhan-pengasuhan hina dari orang-orang jahat…
Kemarin kalian masih bebas…
dan Tiada satu pun tangan yang berani mendekat, jauh sejauh bintang di langit…
Dan hari ini, kita merasakan menjadi tawanan…
Mereka merasakan kehinaannya…
Lalu mereka menangis dengan tangisan budak, seperti pohon `Andam…
Dan aku tak habis-habisnya merasa keheranan, bagaimana mungkin seorang muslim yang bebas yang di dalam dirinya masih ada agama, sementara ia melihat kehinaan seperti ini, masih rela untuk menjadi tentara para penyembah salib itu, atau menjadi polisinya orang-orang kafir itu?! Sudah hilangkah perasaan dalam diri mereka, sudah terlepaskah mereka dari agama mereka?! Sungguh kami telah berjanji kepada Alloh dan kami mengambil sumpah yang besar pada diri kami, untuk tidak bersikap lunak dan mundur sampai kami berhasil menyelamatkan wanita-wanita itu dan kami membalas dendam terhadap kehormatan yang diperkosa dan harga diri yang dijatuhkan.
6. Adapun kamu, wahai Iyadh Allawi…maaf, wahai tuan perdana menteri “yang terpilih secara demokratis”; sesungguhnya kami telah siapkan untukmu racun mematikan dan pedang yang siap memenggal, kami juga telah penuhi untukmu gelas yang menyeruakkan semerbak dan aroma kematian. Kamu telah berhasil lolos berkali-kali –tanpa kau sadari— dari ranjau yang telah ditepatkan dan kami pasang untukmu. Akan tetapi, kami berjanji kepadamu untuk menyelesaikan langkah hingga akhirnya. Kami tidak akan merasa letih atau bosan sampai kami “minumkan” kepadamu gelas yang telah kami minumkan kepada Izzuddin Salim, atau kami yang binasa karenanya. Karena kalian adalah symbol-simbol kejahatan, pentolan-pentolan kekafiran, dan symbol pengkhianatan serta kehinaan. Kalian adalah orang-orang munafik, “…mereka itu pada hakikatnya adalah musuh, maka waspadailah mereka. Semoga Alloh binasakan mereka, bagaimana bisa mereka terpaling.”
7. Waspadalah…sekali lagi waspadalah dari sebuah makar besar, yang disusun oleh Amerika bersama “Karzai” Irak yang baru, yang bertujuan untuk mencuri kemenangan yang dihasilkan oleh putra-putra kalian di Fallujah. Bukan rahasia lagi bagi kalian, bahwa Amerika telah menyiapkan penjara-penjara militer yang besar, ia berniat menghinakan semua lelaki Fallujah dan memperkosa kehormatan-kehormatan mereka karena ingin membalas dendam dari kehormatannya yang diinjak-injak di gerbang pintu masuk kota tersebut.
Akan tetapi, mereka dikagetkan –ini berdasarkan kesaksian para komandan dan pemimpin mereka sendiri—dengan keberanian dan kepahlawanan yang sulit dicari kesamaannya dalam sejarah. Maka melesetlah panah mereka, dan kekuatan mereka mundur dalam keadaan hina. Maka semakin besar saja kedengkian dan kemarahan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk “menculik” rasa senang dari kemenangan itu, tapi dengan bekerjasama dengan orang-orang murtad yang sekulit dengan kami, demikian juga –yang menyedihkan— dengan beberapa tetua kabilah yang telah terlepas dari agamanya, dengan alasan karena diriku ada di Fallujah. Padahal asumsi mereka itu dusta. Orang-orang dungu itu tak tahu bahwa aku berjalan-jalan dengan leluasa di negeri Irak –dengan anugerah Alloh—.
Aku bisa bertamu ke tempat kerabat dan saudara-saudaraku di seluruh penjuru negeri ini. Sebenarnya, semua yang mereka lakukan hanyalah alasan untuk melakukan balas dendam. Hendaknya kalian selalu waspada, mata kalian mengarah kepada musuh sementara jari-jari kalian berada pada pelatuk senapan, “dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal-amal kalian.”
8. Adapun engkau, wahai umatku tercinta; menurutku tidak ada lagi ada orang yang masih berakal yang mempercayai kebohongan sistem demokrasi yang sering dijanji-janjikan, setelah terdengarnya “jeritan-jeritan penjara Gharib” dan skandal pelecehan yang menimpa tahanan di Guantanamo. Dan hanya kepada Alloh kami mengadukan sikap diam dan tak mau membantu yang mengherankan dari umat ini –ulamanya, dai-dainya, mau pun orang-orang awamnya—. Ada apa sebenarnya dengan dirimu, wahai Umat Islam! Apakah kamu rela berlama-lama dalam kehinaan dan takluk dalam kenestapaan?! Ketidak pedulian dan sikap “masa bodoh” ini…sampai kapan?
Adapun kalian wahai ulama-ulama penguasa, mengapakah tidak kalian keluarkan fatwa untuk memanjatkan doa qunut demi melawan Amerika seperti ketika kalian keluarkan fatwa untuk memanjatkan doa guna melawan para mujahidin di Jazirah Muhammad Shollallohu `alaihi wa Sallam? Sungguh kalian telah mengingatkan kami –dengan fatwa yang kalian keluarkan tersebut—mengenai kelakuan Bal`am bin Ba`uro`, ketika ia dibujuk oleh kaumnya agar mendoakan kehancuran Nabi Musa `Alaihi `s-Salam. Mereka terus membujuknya sehingga akhirnya ia pun memanjatkan doa tersebut. Akhirnya Alloh menghukumnya –karena ia mengetahui ilmu tentang ayat-ayat Alloh— dengan menjadikan lidahnya senantiasa terjulur. Kami juga memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala agar memperlakukan kalian dengan tindakan yang sama. Karena kalian telah mengikuti langkah dan jejaknya.
Wahai umat Islam…
Kita tidak membutuhkan pelajaran mengenai arti-arti kebebasan mau pun tekhnik-tekhnik pemerintahan dari para “penggembala sapi”; sungguh Alloh telah cukupkan kita dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi –sholawat dan salam semoga tercurah kepada beliau. “Tidakkah cukup bagi mereka, bahwa Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) yang dibacakan kepada mereka…?” Benar, demi Alloh, Alloh telah mencukupi dan memberi kesembuhan… Benar, demi Alloh, Alloh telah mencukupi dan memberi kesembuhan.
Dan terimalah kabar gembira yang akan membuatmu senang, wahai umat Islam, dengan pertolongan Alloh tanda-tanda awal datangnya kemenangan telah mulai datang. Kedepan, bakal berlangsung baku serang dan duel antara kita dengan orang-orang kafir dan murtad. Dan Alloh Maha memenangkan urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dan segala puji hanya milik Alloh robb semesta Alam.
Abu Mus’ab Al-Zarqawi
sumber : Situs Jihad Al-Qo’idun
Add comment 29 June 2008
Di Manakah Orang-orang Perwira?
Amir Istisyhadiyin Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi RahimahullahDiterjemahkan oleh : Al-Akh Abu Mortar Al-Jatimy
Al Qo’idun Group
Amma Ba`du…
Umatku… wahai umat pembawa pedang dan pena…
Mengapakah pedang dan mata pena kalian terpatahkan? Padahal kalian dulu adalah kaum yang mulia di atas bintang gemintang. Mengapa hari ini kalian terjerembab di bawah kaki para agresor dan debu-debu kuda penjajah?
Umatku yang mulia…
Kali ini aku berbicara kepada kalian tentang sebuah masalah yang membuat diriku sedih. Tidakkah kalian dengar desisan ular yang sedang mengendap-endap dalam gelapnya kelalaian kalian? Ia hendak menerkam masa depan kalian..
Umatku yang tercinta…
Biarkan aku lontarkan perkataan yang tercampur oleh tanahku, tetapi lafadznya meluncur dengan bahasa langit.
Biarkan aku menasehatimu di persimpangan jalan yang sulit. Agar engkau mengetahui dengan jelas akan sebuah petunjuk…agar engkau kumpulkan kembali kekuatanmu…sebab aku khawatir, kita akan menyesal di saat penyesalan tidak lagi berguna.
Sungguh, semua orang, baik yang jauh maupun yang dekat, telah sama-sama mengetahui adanya persekongkolan syetan; yaitu segi tiga kekuatan kafir dan makar di negeri dua aliran sungai (Irak dan sekitarnya):
Pertama: Amerika, si pengusung bendera salib.
Kedua : Orang-orang Kurdi yang tergabung dalam milisi Basymarqoh, yang didukung oleh militer yahudi. Di bawah pimpinan dua boneka AS, Al-Barzani dan Tholabani.
Ketiga: Orang-orang Rafidhah (Syiah). Musuh kaum sunni (Ahlussunnah), yang dalam hal ini diwakili oleh pasukan militer bulan purnama (Failiq Badr), dan partai yang Dakwah, yang pada hakikatnya menyeru kepada syetan.
Adapun pimpinan mereka, si pengkhianat, Iyadh Allawi, insya Alloh telah menjadi target anak panah kami.
Hai pengkhianat! Hentikan sendawamu terhadap kami. Hentikan angin perutmu terhadap sesamamu. Lalu tunggulah…. Maka yang terbersit pada wajahmu telah dekat dengan kami, atas izin Alloh. Maka tunggulah malaikat maut ketika dirimu berada di gundukan pasirmu bersama tongkat penyanggamu, yaitu teman-temanmu tukang berkelakar dari kalangan anggota pemerintahanmu.
Jika kamu bersama para pengemban salib, maka kami bersama Alloh yang Maha mengabulkan doa lagi Maha dekat. Dan kamu tidak akan bisa lari dari Alloh di bumi ini, sungguh hari esok sangat dekat bagi orang yang menunggunya.
Umatku….
Inilah hakekat Rofidhoh, pelaku sejarah hitam
“Masih saja dimunculkan kisah setiap hari yang diceritakan
dan kata-kata tentang seorang pelayan yang dibuat-buat
Dialah pengkhianat umatnya yang melemparkan tali ke arahnya
Berupa tipuan-tipuan, hingga ia pun terjerat.
Seperti serigala yang mengarahkan pandangan beracun kearahmu,
Walaupun ia tampil sebegitu elok….
Alangkah jauh beda antara pemuda yang hatinya
Dipenuhi rasa yakin dengan orang yang sekedar mengaku dan berkoar-koar
Pelaku kesesatan tak hentinya berbuat angkuh
Dadanya sempit terlipat lantaran kedengkian….”
Sungguh pemimpin kafir salibis telah mempraktekkan peribahasa: “Singsingkan baju, kenakan sarung, lalu gunakan kulit Harimau,” dengan menyerang Najaf, padahal Najaf merupakan tujuan sebenarnya, ataukah mereka bersiap-siap menyerang yang lain?
Umatku….
Nanti dulu, perhatikan baik-baik. Najaf bukan tujuan utama mereka, akan tetapi tujuan utama mereka adalah Segi Tiga Wilayah Sunni, yang penduduknya memiliki tekad kuat dan semangat tinggi.
Dan aku bersumpah demi Dzat yang telah meninggikan tujuh lapis langit, yang mematahkan leher para thoghut, dan yang menghinakan tengkuk mereka, bahwa kepala Amerika telah tersungkur ke tanah di sini. pahlawan-pahlawan kita telah menginjaknya sehingga mitos tentangnya tak ubah seperti fatamorgana.
Sungguh, merekalah rekan-rekan mujahidin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Merekalah yang menimpakan kehinaan kepada pasukan sekutu. Menamparnya dengan tamparan yang tak terlupakan, memberikan pelajaran yang membuat mereka terpanggang dalam api dan membuat mereka menggelepar kesakitan karenanya sampai saat ini.
Pelajaran yang menjungkirkan bendera-bendera mereka, mengguncang pijakan-pijakan kaki mereka, dan membuyarkan fikiran mereka hingga rasa takut menyelinap pada persendian mereka, dan keputus asaan menggerogoti tulang mereka. Bagaimana tidak? Sementara para pahlawan kita telah menghajar mereka habis-habisan hingga mereka lihat sendiri kepengecutan serdadu Amerika.
Yach, begitulah! Mereka bermaksud menakut-nakuti kita dengan menghancurkan kota Najaf. Begitulah biasanya para pengecut, mereka sengaja mengawali serangan terhadap para penduduk di sana untuk mengembalikan denyut kehidupan pada diri serdadu-serdadunya yang “mati”, sebelum menyongsong pertempuran membara melawan kaum sunni.
Seperti itulah kebiasaan orang kafir:
“Dan hampir saja orang-orang kafir itu menggelincirkan kamu dengan pandangan-pandangan mereka”, dalam rangka menurunkan bendera tauhid yang tengah berkibar di tanah Irak dibalik kedok bantuan palsu yang mereka berikan.
Wahai pemuda Islam di Irak, bahkan di berbagai negeri Islam….
Wahai yang bingung mencari kehidupan sejati….
Wahai yang rindu untuk menolong agama Alloh….
Wahai yang mau menyerahkan nyawa dihadapan Tuannya….
Di sini ada hidayah dan petunjuk. Di sini ada hikmah dan kelurusan. Di sinilah puncak kenikmatan berkorban dan berjihad. Maka segeralah engkau bergabung dengan “Bataliyon Bisu” untuk berjuang di bawah panji sang pemuka para Nabi.
Wahai umat Islam….
Bukankah bangsa-bangsa mengerumuni kalian layaknya orang makan mengerumuni nampan makanannya? Lantas, mengapakah ditolak keberadaan sekelompok mujahidin yang datang dari penjuru dunia, padahal mereka telah tinggalkan semua, dari yang berharga hingga yang murah, mereka jual nyawa demi meraih sesuatu yang mahal, untuk menjadi garda depan pelindung kehormatan umat, sekaligus penghalang yang kuat yang dihadapannya kesombongan dari bualan Amerika tumbang?
Wahai umat Islam….
Hingga kapan kalian tertipu oleh gema terompet barat dan antek-anteknya di negeri kita ini? bagaimana bisa kalian mau mendengar para penghancur keadilan? Keadilan apalagi yang tersisa pada orang yang berlumur kotoran, mengenakan pakaian tipu daya, dan kelakuannya dipenuhi pengkhianatan?
Umatku, bagaimana bisa kamu masih percaya terhadap kedustaan jahat mereka terhadap putra-putramu yang telah menggadaikan masa depannya dengan kondisi saat ini, padahal telah mereka persembahkan nyawanya di bawah deringan peluru orang-orang kafir dalam rangka membela kehormatan dan menjaga agamamu?!
Wahai umatku….
aku memohon ampun kepada Alloh! Umatku tak kunjung beranjak dari ranjang wanita pingitan.
Bahkan, wahai orang-orang yang perwira, kapankah kalian akan berdiri satu barisan, padahal muslimat-muslimat suci di sembelih di hadapan kalian dan air mani kejahatan bermain-main ke sana ke mari di depan mata kepala kalian, dan orang-orang kafir yang hina itu menggigit kehormatan kalian lalu ia bersembunyi?!
Inilah Penjara Abu Ghroib, coba tanyalah ia….
Duh, sedihnya jiwaku, tatapan-tatapan gamang, hati-hati yang penuh emosi, dan luka yang terus tergores di setiap hati. Dan orang yang mendengar tidak sama dengan orang yang melihat langsung.
Wahai orang-orang yang kesatria….
Sampai kapan kalian hanya sekedar tidak bisa tidur dan mencucurkan air mata, padahal kalian telah dihinakan sedemikian rupa, kalian hanya berucap: La Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah! Lalu memejamkan mata, seolah semuanya hanya tembakan tanpa penembak?!
Duh, menyesal sekali, wahai orang-orang yang kesatria….
“Aku masuk menemui keperwiraan, sementara ia menagis,
Lalu kutanya: Mengapakah, si pemudi menangis?
Ia menjawab: Bagaimana aku tidak menangis sementara keluargaku
Semuanya mati di bawah makhluk-makhluk Alloh…”
Setelah aib memalukan ini, katakan padaku, wahai umatku,
kapankah kamu kibaskan debu kehinaan?
Kapan kamu patahkan rantai nestapa?
Kapan kamu lepas belenggu perbudakan?
Lantas, kapan kalian pasang pelana kuda-kuda kemuliaan?
“Umatku, kenistaan sementara tak henti-hentinya kita ucapkan:
Bahwa kita adalah putra-putra para pemuka.
Sementara Al Quds tengelam tercabik-cabik kesedihan
Dan rintihannya bergema berulang-ulang
Sampai kapan semangat kita digerogoti hawa nafsu
Dan kita terus dihancurkan oleh rintihan dan kesedihan?”
Adapun kalian wahai para mujahidin yang terasing….
Demi Alloh, belum pernah jalan-jalan dakwah itu terbentang dengan taburan bunga ataupun wewangian.
Sungguh, harga ajaran-ajaran dakwah itu besar.
Harga dari memindahkan prinsip kepada dunia nyata adalah timbunan daging yang terpotong-potong dan banjir darah. Dan tidak ada yang mampu menyalakan pelita masa depan yang cerah dalam kegelapan ini selain para mujahidin dan syuhada`.
Alangkah indah kata-kata itu,”Aku telah berhasil (menang), demi Robb Ka`bah.”
Aduhai, indahnya aroma surga, sungguh indah. Akan tetapi, dimana orang yang jujur kepada Alloh lalu Allohpun membenarkan (kejujuran)nya?
Sungguh lembut lantunan sang Nabi kalian SAW, ditengah beratnya menempuh perjalanan, ia berujar kepada jarinya yang terluka:
“Kamu hanyalah jari yang berdarah, dan apa yang kau alami adalah di jalan Alloh.”
Nabi kita itu, wajahnya terluka. Patah gigi gerahamnya, dan pelindung kepada yang mulia remuk.
Saudara-saudaraku…, Wahai yang diwajahnya terpancara air muka kebahagiaan, dan yang singgasananya menyibakkan cahaya kemuliaan….
Sungguh, beruntunglah kalian, demi Alloh.
Sungguh, bahagialah kalian, demi Alloh.
Ikatan unik apakah gerangan yang mengikat hati-hati kalian, sehingga senyum manis kalian mampu membalikkan roh kehidupan pada hati yang mati. Hendaknya kalian merasa bahagia dengan kondisi kalian saat ini, yang berbeda dengan kondisi kebanyakan orang. Maka, waspadalah akan penyakit bosan, janganlah kalian utamakan keinginan mencari selamat, sebab akibat dari langkah mundur adalah penyesalan.
Naudzubillah.
Percayalah kepadaku jika kukatakan kepada kalian: bahwa aku tidak pernah menyaksikan orang yang di zalimi memaafkan orang lain akan aniaya terhadap dirinya, zuhud dan sederhana dalam haknya, selain mujahidin dan jihad mereka. Meski begitu, kalian tidak akan rugi. Kebathilan memang memiliki giliran, dan kebenaran akan menang pada waktunya nanti. Intinya adalah sadar sesaat, setelah itu kesudahan yang baik. Dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal usaha kalian.
“Majulah, jangan rela dengan hidup susah….
Orang yang tidak maju ke depan tidak akan berhasil meraih kenikmatan.”
Apakah kalian mengira, bahwa jenderal pemegang kendali Amerika itu lebih baik kondisinya daripada Abu Jahal, ketika ia dibuat “mabuk” dengan senjata dan perlengkapannya lalu ia bersumpah untuk tidak pulang sebelum ia tabuh rebana dan ia tenggak arak? Tapi sungguh, ia tidak pulang kecuali dengan kepala terpenggal dan kekalahan memalukan diselimuti kehinaan.
Sungguh, musuh kita kebingungan bagaimana mencerai beraikan kekuatan kalian. Akhirnya, tak ada cara lain menurut mereka selain melakukan teror mental dengan senjata-senjata modern mematikan yang mereka miliki. Para penyembah materi itu tidak mengerti bahwa kekuatan yang didukung morilnya dari Alloh tidak bisa dibuyarkan oleh badai ataupun tekhnologi Amerika.
Katakan padaku wahai Ahli dzikir pagi dan sore, apalah artinya rudal-rudal nuklir, senjata-senjata kimia, dan gas-gas beracun mereka dihadapan sebuah untaian kalimat yang menakjubkan, sebuah kalimat yang – demi Alloh – mampu meluluh lantakkan kekuatan senjata apapun, keagungannya mampu melenyapkan kecerdikan segala bidikan dan perencanaan. Di hadapannya semua desingan peluru orang-orang kafir terpatahkan. Ringan diucapkan namun bermanfaat bagi manusia: “Bismillahilladzi laa yadhurru ma`a ismihi syai`un fil ardhi wa laa fis samaa`I wa huwas Samii`ul Alim”, yang mengerti keagungan kalimat ini hanyalah orang yang kontinyu mengucapkannya setiap pagi dan sore.
Ini satu kalimat saja dari cahaya kenabian, mampu melindungimu dari serangan mematikan rudal-rudal. Lalu bagaimana dengan orang yang tak hentinya melantunkan dzikir-dzikir pagi dan sore.
Musuh-musuh kita mengira jika suatu musibah menimpa kami maka kami akan berucap: “Seandainya kita dulu begini, tentu begini….”
Mari wahai para pemuda generasi Muhammad bin Abdulloh….
Tunjukkan praktek nyata kepada mereka, bukan kata-kata, mengenai firman Alloh Ta`ala: “Katakanlah: Seandainya kalian berada di rumah-rumah kalian, tentu orang-orang yang sudah dibariskan terbunuh akan keluar menuju tempat pembaringannya….”
Jelaskan kepada mereka dengan kenyataan, terangkan dengan indahnya keberanian, tentang makna hadits Nabi kalian: “….Dan ketahuilah, apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tidak akan menimpamu”. Setelah itu katakan kepada mereka: “Matilah dengan kedongkolan kalian, kami tidak akan tertimpa selain apa yang sudah ditulis Alloh untuk kami. Dan sesungguhnya peluru yang disana telah ditulis akan mengenaimu tidak akan meleset darimu”.
Kemudian, renungkan pada perang apakah persenjataan kaum muslimin lebih unggul daripada persenjataan orang-orang musyrik? Setelah itu perhatikan bagaimana hasil yang dicapai dalam perang Hunain!.
Sungguh, aku heran dengan orang-orang yang berfikiran dangkal yang mengukur jihad kami berdasarkan perhitungan duniawi, dengan uang, perlengkapan dan persenjataan. Setelah itu ia sebarkan pengaruh-pengaruhnya, lalu ia hias kebathilan-kebathilannya dengan bahasa simpatik, dengan harapan ada “telinga tak sehat” yang mau mendengar, atau “pena” yang bisa dibayar. Orang-orang bodoh itu tidak tahu, bahwa akidah kami ditolong oleh Robb langit. Jika mereka menakut-nakuti kamu dengan “sampah-sampah” mereka, katakanlah: Bukankah Alloh telah cukupkan (lindungi) hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang lebih rendah dari-Nya….”
Jika mereka berlagak dihadapan kamu, maka ingatlah: “Adapun buih maka ia akan lenyap sebagai sesuatu yang tidak berguna….”.
Jika engkau merasa ngeri dengan kekuatan senjata, perlengkapan, informasi, dan tulisan-tulisan yang mereka miliki, maka ingatlah selalu firman Alloh SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan membelanjakannya, setelah itu menjadi penyerahan buat mereka, setelah itu mereka dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan ke neraka Jahannam”.
Jika pesawat-pesawat mereka berlalu lalang dengan angkuh sepanjang udara, maka katakan kepada pilotnya, pembuatnya dan orang-orang yang mengirimnya, katakan kepada mereka semua: “Wahai sekalian jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Alloh).” Alloh lebih tinggi dan lebih kuat serangannya daripada jet-jet tempur kalian.
Jika kalian menghadapi mereka secara terbuka lantas jumlah mereka membuatmu takut, maka bertakbirlah dihadapan mereka sembari mengatakan: “Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak, dengan izin Alloh….”.
Terakhir, jika jerat-jerat syaithon mulai muncul untuk menimbulkan keraguan pada keyakinan terhadap pertolongan Alloh, segera pangkaslah semua itu dengan firman Alloh SWT: “Alloh menetapkan: Pasti Ku-menangkan Aku dan Rosul-rosul-Ku….”.
Mereka tidaklah mengerti keislaman kita sebenarnya, maka tunjukkan kepada mereka akan islam kita. Dan jangan sampai kalian tertipu kata-kata manis dan ungkapan-ungkapan palsu. Perlihatkan kepada mereka, siapakah anak cucu Kholid, Mutsanna, Amru dan Musa.
Inilah pertempuran Qodisiyah, tatkala perang sedang sengitnya berlangsung, kematian menggigit para pahlawan, isteri Sa`ad yang bernama Salma berteriak – Sa`ad menikahinya setelah mantan suaminya, Mutsanna meninggal – ia berteriak karena tidak menemukan “Mutsanna” yang bisa mengendalikan tentara dan pasukan kuda untuk bertahan dihadapan musuh. Ia berseru: “Waa Mutsannaaah…., duh, sedihnya aku karena Mutsanna, tidak ada Mutsanna lagi hari ini. Duh, sedihnya aku karena Mutsanna, tidak ada mutsanna lagi bagi kaum muslimin hari ini. Mereka itu mirip semua, tapi tidak ada seperti Mutsanna seorangpun buat mereka”.
“Sejarah tak henti menceritakan kisahnya kepada kita….
Sudah berapa pembicaraan yang kita riwayatkan dengan teriring kerinduan….
Sudah berapa kisah yang membuat kami terpesona karena perasaan cinta….
Dan semakin mempesona kita tatkala kita ulang kembali….
Parit-parit itu, wahai Baghdad, telah berubah menjadi nyanyian….
Tanahmu seolah melantunkan dan pasir sebagai bibirnya….
Dan kuda-kuda Alloh pun membuatku terpesona pada….
Sebuah pertempuran, dimana Alloh lah penolongnya….
Ringkikannya di atas jalan kebenaran menguasai diriku….
Betapa banyak rasa rindu yang kubuang karenanya….
Inilah Al Mustanna, ia siram tanah negeri ini dengan darahnya….
Dan kedua matanya yang langsung menyaksikan berbagai peristiwa….
Ia tidak meminjam mata lain, atau bibir lain….
Dan kedua telinganya tidak mau mendengar penyesatan….
Wujudmu yang besar, wahai Baghdad, dilindungi oleh….
Pedang Al Mutsanna yang diterangi oleh cahaya kebenaran….
Cahaya diatas matahari di pagi hari….
Dan cahaya di atas purnama di sore hari….”.
Semoga Alloh merohmati Musa bin Nashir, sang penakluk Maghrib dan yang merampungkan penaklukan Spanyol. Bagaimana ia bisa menang, ketika Kholifah bertanya kepadanya, “Apa yang kau jadikan pelindung dalam pertempuran dari urusan-urusan musuhmu?”
Musa menjawab, “Tawakkal dan berdoa kepada Alloh, aku menempati sebuah lembah sembari menghadirkan rasa takut (kepada Alloh) dan sabar. Aku berlindung dengan pedang dan tameng sembari memohon kepada Alloh dan berharap kemenangan kepada-Nya”.
Kholifah berkata kepadanya, “Kalau begitu beritahu aku perihal bangsa Romawi?”
Ia berkata, “Mereka itu singa-singa kandang, lari mundur jika di atas kuda, seperti wanita di atas kendaraan. Jika melihat kesempatan mereka memanfaatkannya, jika melihat kemenangan seperti kawanan kambing yang pergi ke gunung-gunung, mereka tidak melihat kekalahan sebagai aib”.
Benar wahai Musa, tepat sekali perkiraanmu. Engkau menyebutkan sifat yang betul dan cerita yang benar. dan alangkah mirip antara malam dan gulita, alangkah mirip antara Amerika dan kaum Romawinya.
Maka demi Alloh, tak mungkin Dia kan menterlantarkan kalian, wahai para Ghuroba`. Bagaimana mungkin Robb kita akan menterlantarkan orang yang berjuang meninggikan kalimatNya dan menolong agama-Nya. Demi Alloh, Alloh tak kan menyia-nyiakan kalian sementara kalian telah keluar dihadapan musuh kalian dan kalian tinggalkan isteri dan anak-anak kalian. Alloh tidak akan menterlantarkan kalian karena kalian telah meninggalkan kelezatan, syahwat, keluarga, dan tetangga kalian, karena keinginan kuat untuk meraih jannah Robb kalian. Alloh tidak akan menghinakan kalian karena kalian telah keluar berperang dalam rangka mencari keridhoan Alloh, kalian berdakwah kepada Alloh atas ilmu, memerintahkan yang ma`ruf, melarang yang munkar, sholat di malam hari dan puasa di siang hari, kalian sambung tali silaturrahmi dan kalian bela syariat Islam, kalian bela kemuliaan dan kalian perangi kehinaan. Maka selama kalian berada di atas kebenaran, bergembiralah. Demi Alloh, Alloh tak kan menghinakan kalian.
Dan kalian pasti akan kalahkan Amerika, demi Alloh, kalian pasti akan mengalahkan Amerika walau setelah waktu yang lama, sampai nantinya Amerika berubah seperti “tahi lalat” pada “pipi” sejarah zaman.
Hiburlah diri kalian dengan sebuah riwayat dalam sejarah Nabi kalian, bahwa beliau pernah berkata kepada Ka`ab bin Malik: “Robbmu tak pernah lupa pada sebuah bait syair yang kau ucapkan”.
Ka`ab berkata, “Apa itu?” Rosululloh SAW bersabda, “Lantunkan wahai Abu Bakar”. Maka Abu Bakar berkata:
“Si dermawan mengira kan mengalahkan tuhannya….
Pasti tukang mengalahkan itu akan terkalahkan oleh yang maha menang….”.
Takutlah kepada Alloh akan agama kalian, akan saudara-saudara dan diri kalian. Takutlah kepada Alloh perihal akidah dan kehormatan kalian, jangan sampai islam di serang dari arah kalian, sebab perang dihadapan kalian adalah menentukan, pasukan sekutu kembali datang, musuh begitu terbakar semangatnya, maka semangat kita harus diasah dan tekad harus dibangkitkan menuju puncak ketinggian. Jangan sampai kerakusan mereka terhadap dunia mereka mengalahkan keinginan kuat kalian dalam menjaga agama kalian.
Sesungguhnya kalian berada diantara dua kebaikan: Syahid mendapatkan rezeki atau kemenangan yang dekat.
Teriakkan dari hati terdalam kalian:
“Dan aku tak kan pernah berdamai dengan kalian….
Selama aku masih punya kuda….
Dan jariku masih memegang pedang dengan erat…
Inilah seruan dari lubuk hatiku yang paling dalam:
Kepada singa-singa di Baghdad dan Al Anbaar….
Kepada para pahlawan di Diyala dan Samarra….
Dan kepada singa-singa di Mosul dan Syamal….
Bersiaplah selalu untuk berperang. Tajamkan pendengaran kalian. Tajamkan penglihatan kalian! Sadarlah selalu terhadap apa yang akan terjadi di sekeliling kalian. Hendaknya tangan kalian selalu berada pada pelatuk senapan, sebab dihadapan kalian terhampar sahara yang sepi, malam yang kelam dan kerusuhan yang sengit.
Setelah itu, milik kalianlah kemenangan, dengan izin Alloh, jika kalian bersabar dan mempertahankan kesabaran. Dan yakinlah dengan Alloh. Bersabarlah, pertahankan kesabaran kalian, ber ribathlah, dan bertawakkalah kepada Alloh agar kalian beruntung.
Lihatlah, api sudah mulai menyala di Irak, dan pijar panasnya akan semakin besar, dengan izin Alloh, sampai pasukan Salib terbakar di Dabig.
Wahai pahlawan-pahlawan Islam di semua penjuru Irak….
Lihatlah, kekuatan kafir telah membidik kita dari satu arah dan telah menyiapkan jerat-jerat makar dengan bekerjasama dengan kaum pemecah belah dan munafik.
Untuk menghinakan kaum lelaki, memperkosa kesucian wanita, mengkangkangi kehormatan, dan meninggikan Salib di atas tanah kita dan di kolong langit kita. Maka janganlah kalian berkompromi dalam urusan agama kalian. Jangan dengarkan kata-kata manis bernada simpatik yang ingin mengendurkan kalian dari mati syahid atau kemenangan.
Jika dengan tikaman yang kita sarangkan pada musuh kita di sana sini mereka masih juga bersikeras, berkoar dengan penuh kesombongan bak bertempurnya singa, melecehkan masyarakat dan berlaku brutal, lalu bagaimana jika mereka memegang kendali kekuasaan di Irak dan kapal yang ia tunggangi melenggang mulus tanpa terjangan badai ombak?
Sungguh jika musuh kita menang, akan mereka rusak tanaman dan keturunan. Akan menjajah negeri dan tidak menjaga kekerabatan dan janji pada orang beriman, mereka mencari keridhoan kalian dengan mulut mereka padahal hatinya menolak dan mereka akan menimpakan kehidupan pahit kepada kaum muslimin.
“tak ada kata damai sampai kuda terjatuh oleh tombak dan serpihan daging ini terkoyak…
Maka katakanlah sebagaimana para pahlawan seperti kalian mengatakan, gembirakan selalu diri kalian karena tidur dan terjaga kalian semuanya bernilai pahala, insyaAlloh. Para pahlawan itu mengatakan:
“Dikala para dermawan kikir, maka kami adalah tumbal bagi agama….
Di atas jalan ini para perwira berdendang dengan….
Kata-kata fasih berupa pengorbanan….
Kemenangan bisa diraih dengan darah, tombak dan baju besi….”
Setelah ini seluruh dunia harus tahu bahwa manhaj kami tak kenal keterbudakan dan tak rela dijual belikan di tempat tawar menawar. Dengan pertolongan Alloh kami akan terus berjalan, walaupun jalan ini panjang dan kesukaran semakin berat. Walaupun pengkhianat semakin banyak. Permasalahannya jauh lebih besar lagi, sesungguhnya ini perihal Robb semesta alam, perihal surga Firdaus.
Siapa yang tak bisa mendengar bunyi pena atau kata-kata menggema, maka harus diperdengarkan dengan hunusan pedang.
“Jika mulut ini bimbang, maka luka kami yang bicara….”
Sesungguhnya rahim yang telah melahirkan Kholid akan terus mengandung dan melahirkan yang semisal, walaupun arogansi kebathilan mendera.
“Sungguh kami adalah umat yang memiliki asal yang baik….
Pada akhlaknya tak terdapat aib atau penyimpangan….
Luka bisa saja membuatnya sakit, tapi tak mengguncangnya….
Kedua kakinya boleh terjepit belunggu, namun tak menjatuhkannya….
Jika mereka diserang budak-budak cemeti, hendaknya mereka yakin….
Bahwa kami akan usir mereka dari tempat mereka masuk….
Kebenaran adalah bekal kami memerangi kebathilan mereka….
Dan pedang adalah hujah kami jika memang perlu hujah….
Agresor dari Timur dulu menyerang, akhirnya tergulung….
Agresor barat melewati hal yang sama, dan akan tergulung juga….
Tak tersisalah mereka dan bekas-bekas negeri mereka….
Selain legenda yang dibumbui laknat-laknat….
Singa-singa takkan diam dengan luka yang dideritanya….
Selama masih bergerak darah iman di tubuh mereka….”
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu satu pasukan, maka teguhlah dan ingatlah Alloh banyak-banyak agar kalian berhasil”.
“Dan Alloh Maha menang atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Wal Hamdu Lillahi Robbil `Alamiin.
Abu Mus’ab Al-Zarqawi
sumber : Situs Jihad Al-Qo’idun
Add comment 29 June 2008