Posts filed under 'Kisah dan Profil'
In Memorial: Al Imam Sheikh Yusuf bin Sholeh Al Uyairi (Yusuf Al Battar)
Sosok Manusia Mulia Pada Zaman Kehinaan
Syaikh Mujahid Yusuf al ‘Uyairi -Rahimahullahu Ta’ala-
Penulis : Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-
Penerjemah : Team Forum Islam Al-Tawbah
Kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sosok mujahid yang banyak dilupakan para pemuda jihad hari ini, beliau adalah Syaikh Mujahid Yusuf al-Uyairi -semoga Alloh menerima beliau sebagai syuhada-, beliau adalah sosok generasi shahabat yang terlahir kembali pada zaman kita sekarang ini, sungguh manhaj salaf itu bukan hanya teori dan kata-kata, tetapi ia adalah amal nyata sebagaimana yang di buktikan oleh Syaikh Yusuf… wahai para pemuda lihatlah kepada Syaikh yang mulia ini, semoga kita bisa mengambil ibroh dari kehidupan dan kematian beliau…
Nama : Syaikh Mujahid Al Hafidh Abu Muhammad Yusuf bin Sholih bin Fahd Al ‘Uyairi -rahimahullahu ta’ala-
Lahir : hari senin 1/4/1394 H
Anak : 3 orang anak perempuan.
Syahid : beliau syahid di tangan tentara thoghut Saudi pada hari sabtu malam ahad 30/3/1424 H di daerah Hail. Umur beliau ketika syahid adalah 30 tahun. Semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang luas.
Semoga Allah melimpahkan kasih-Nya kepadamu wahai Yusuf al ‘Uyairi ! engkau mengejar kesyahidan di Afganistán dan di Somalia, tetapi ia malah datang menemuimu di negeri Jazirah Arab.
Ketika saya mendengar, pada malam Sabtu 30/03/1424 H, berita pembunuhan saudara saya, Syaikh Mujahid Yusuf Bin Salih Bin Fahd al ‘UIyairi.
Saya tidak dapat menguasai diri saya dan menangis sangat sedih atas kepergiaanya, pada hari-hari yang genting ini ketika gerakan kekejaman murtadin semakin menggila dan merebak di seluruh jazirah Arab yang terus berusaha untuk menyerang, membunuh dan memenjarakan setiap muslim yang berperang melawan salibis dan sedang mempertahankan kaum muslimin.
Saya memutuskan, pada waktu itu, untuk menulis biografi Syaikh Mujahid ini, yang mana ikhwan-ikhwan terus mendesak diri saya untuk menulis nama sesungguhnya dari beliau, karena nama beliau sering muncul di kalangan masyarakat, beliau menjadi terkenal di kalangan mereka, semenjak terdapatnya kesan pengaruh atas mereka dengan kemunculan ilmu pengetahuan daripada ilmuan mujahid;seterusnya beliau menjadi contoh teladan.
Beliau menikah dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shoq’abi, Buroidah. Istrinya adalah saudara kandung dari istri Syaikh Sulaiman Al ‘Unwan.
Pendidikan: beliau setelah menamatkan madrasah mutawassithoh (SLTP) melanjutkan ke madrasah tsanawiyah (SLTA) selama tiga bulan. Kemudian beliau tinggalkan sekolah dan pergi berjihad ke Afghanistan.
Setelah itu beliau pergi ke Afghanistan sebagai seorang pemuda yang perkasa sementara umurnya belum lewat 18 tahun. Di sanalah akhirnya jihad berbaur dengan hatinya dan menguasai seluruh anggota badannya.
Beliau dikaruniai otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat sehingga setelah itu beliau mampu menjadi salah satu pelatih di kamp Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.
Beliau menyelesaikan latihan selama beberapa tahun, di mana beliau memiliki kelebihan dalam kemauan yang kuat dan kesungguhan. Sampai-sampai beliau pernah mengadakan sebuah training di kamp Al Faruq, di mana ketika itu beliau mengatakan kepada ikhwah yang lain: Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat. Beliau mengatakan kepada ikhwah: Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan. Menurut perkiraanku beliau memulai dengan latihan tank dan akan diakhiri setelah empat bulan kemudian dengan latihan pistol, di mana tidak akan ada seorangpun yang mampu bertahan kecuali sedikit dari para pemuda.
Para ikhwah menceritakan bagaimana hafalan beliau yang sangat luar biasa mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Selain itu beliau memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan yang beliau temui dalam berbagai pertempuran yang dengannya Alloh muliakan beliau dengan debu peperangan yang menempel pada kedua kaki beliau.
Ketika terjadi pertikaian antar kelompok jihad Afghan, Syaikh Yusuf adalah penjaga pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh. Kemudian tatkala Syaikh Usamah memutuskan untuk pergi ke Sudan dengan menggunakan sebuah pesawat, Syaikh Yusuf termasuk salah seorang petinggi Al Qaeda yang menyertai Syaikh Usamah bin Ladin. Di sana Syaikh Yusuf tinggal selama empat bulan, dan selama itu pula beliau menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh.
Selama masa itu Syaikh Usamah mengenal berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Syaikh Yusuf Al ‘Uyairi, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepada Syaikh Yusuf beberapa urusan-urusannya. Dan sungguh aku ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai Syaikh Usamah di Sudan, bagaimana kehidupan beliau, jihad beliau dan pengorbanan beliau, di mana banyak sekali yang menjadikan orang terkagum-kagum ketika mendengarnya. Ketika aku mendengarkan cerita beliau ini aku lihat pada kedua matanya terpancar kerinduan kepada Syaikh Usamah dan kepada hari-hari yang telah lalu ..
Aku juga ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai kecemerlangan Abu Hafsh Al Mishri rohimahulloh dan berbagai serangan-serangan militer yang beliau kendalikan di sana, baik yang di Somalia atau proyek beliau terhadap Qorniq (kaum nasrani di wilayah selatan) dan perencanaan beliau untuk menyerang mereka sesuai dengan taktik militer yang telah dicanangkan oleh Syaikh Usamah dan Abu Hafsh.
Syaikh Yusuf juga ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Dan beliau termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, di mana pada masa itu para pemuda Islam seusia beliau tengah lalai dengan kondisi umat.
Dan ketika terjadi tragedi Bosnia, Syaikh Yusuf memiliki peran yang sangat besar bersama para ikhwah di Damam, dan demikian pula di Kosova. Beliau berperan sebagai pengumpul dana untuk mereka dan memberikan bantuan kepada mereka semampu beliau. Beliau membuat sebuah program selama dua minggu bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.
Kemudian terjadi peledakan di Khobar. Beliaupun dipenjara dan disiksa dengan siksaan yang keras di penjara reserse umum, Damam, dengan tuduhan beliau termasuk orang-orang yang melakukan peledakan tersebut. Para ikhwah yang bersama beliau bercerita tentang beliau: Kami lihat beliau diangkut memakai usungan setiap kali selesai diintrogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang beliau alami. Beliau dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya yang menyebabkan akhirnya Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudi bahwa dialah yang melakukan peledakan.
Syaikh Yusuf rohimahulloh mengatakan kepadaku: Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, aku meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena aku ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar saja, permintaanku dikabulkan. Akupun dipanggil dari sel dan aku didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan aku sampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, pemimpin penjara itu mengatakan kepadaku: Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu …
Maka dengan dingin aku katakan kepada mereka: Aku tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi aku akan merelakan diriku untuk kalian. Aku akan memberikan pengakuan bahwa akulah yang melakukan peledakan itu dan aku siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku. Ketika aku tanyakan kepada Syaikh Yusuf kenapa beliau melakukan hal itu, beliau menjawab: Demi Alloh kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan. Syaikh Yusuf melanjutkan: Ketika aku selesai berbicara pimpinan penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan: Keluarkan dan beri pelajaran dia!..
Kemudian penyiksaan yang luar biasa pun terus berlanjut sampai akhirnya Alloh berkenan untuk menyingkap siapa aktor peledakan yang sebenarnya sesuai pengakuan reserse. Syaikh Yusuf bercerita kepadaku: Suatu saat aku dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku: Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rofidloh (Syi’ah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun..!! Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel.
Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka: Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!! Benar saja, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan syariat Saudi ..
Kemudian setelah itu Syaikh Yusuf tinggal di penjara. Di mana beberapa waktu pernah beliau dikumpulkan bersama orang-orang Rofidloh (Syi’ah) yang diantaranya ada yang setingkat ayatulloh atau sayyid. Di sana Syaikh Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan mereka sampai-sampai ayatulloh mereka melarang orang-orang Rofidloh lainnya untuk mendekatinya atau bergaul dengannya. Syaikh Yusuf berkata: Pernah suatu saat aku pura-pura tidur. Lalu ayatulloh mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rofidloh lainnya. Lalu aku dengarkan ceramahnya sampai ketika aku mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya .. Mereka semua terkagung dengan Syaikh Yusuf karena kuatnya hujjah dan penjelasan beliau.
Setelah itu Syaikh Yusuf dipindah ke penjara umum bersama Ahlus Sunnah. Setelah berjalan beberapa waktu Syaikh Yusuf mogok makan karena beliau ingin disel (penjara individu) saja supaya beliau dapat menggunakan waktu secara maksimal dan dapat menyendiri dengan Robbnya. Maka permintaannyapun dipenuhi sehingga beliau tinggal di dalam sel selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu beliau bebas …
Katika aku bertanya kepada Syaikh Yusuf mengenai kehidupannya di sel dan apakah beliau merasa bosan? Beliau menjawab dengan satu kata: Demi Alloh aku tidak memiliki waktu untuk mandi kacuali mandi janabat dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!..
Di sel beliau gunakan waktu untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiyah. Maka beliau hafal Al Qur’an secara lancar dan tepat, hafal Shohih Al Bukhori dan Muslim, beliau konsentrasi membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama’, sehingga pada suatu hari pernah seorang penjaga mengatakan kepada beliau: Demi Alloh aku kasihan dengan kondisimu ..?!
Maka Syaikh Yusuf mengatakan kepadanya: Demi Alloh justeru akulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam pasti aku setuju karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!.
Hal itu karena penjaga itu merasa heran dengan kondisi Syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Di mana beliau tidak keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak, karena saking kuatnya keinginan beliau dalam memanfaatkan waktu secara maksimal. Syaikh Yusuf pernah mengatakan kepadaku: Demi Alloh aku pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Alloh. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasanku dari penjara, tanpa sadar aku gertak dia: Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!! Itu saya lakukan di luar kesadaranku akan tetapi itu ku lakukan karena saking besarnya kenikmatan yang aku dapatkan dalam penjara, dan betapa besarnya ilmu yang ku dapatkan dalam penjara.
Dan ketika Syaikh Yusuf bebas dari penjara beliau teruskan hubungan beliau dengan jihad dan mujahidin, khususnya dengan Syaikhul Mujahidin Usamah bin Ladin hafidlohulloh.
Kemudian datanglah peristiwa Chechnya, dan beberapa saat sebelumnya peristiwa Dagestan, maka Syaikh Yusuf pun mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mereka. Beliau menulis berbagai kajian syar’i untuk situs Shoutul Jihad. Untuk situs itu beliau menulis buku-buku sebagai berikut:
Hidayatul Hayaro Fi Hukmil Usaro, Al ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah Intiharun Am Syahadah, dan juga kajian-kajian strategis lainnya di mana yang terakhir adalah yang buku yang berjudul ‘Amaliyatul Masrohi Fi Moskow Wa Madza Istafada Minha Al Mujahidun.
Syaikh Yusuf juga menjalin hubungan dengan Komandan Khothob dan melakukan surat-menyurat mengenai persoalan militer. Di mana Syaikh Yusuf memberikan taktik-taktik militer yang cemerlang yang mencengangkan setiap orang yang bergaul dengannya atau membacanya … di antaranya adalah beliau pernah berkirim surat kepada Khothob seusai perang konvensional yang pertama yang kemudian disusul dengan perang gerilya, di mana ketika itu kondisi mujahidin semakin sulit. Maka Syaikh Yusuf mengirim surat kepada komandan Khothob yang isinya adalah 18 prediksi perang dan apa yang harus mereka lakukan untuk masing-masing dari yang diprediksikan tersebut. Komandan Khothob pun banyak mengambil manfaat dari surat tersebut dan berterima kasih banyak kepada Syaikh Yusuf.
Syaikh Yusuf juga memiliki andil dalam mengumpulkan dana untuk mujahidin Chechnya. Di mana beliau berhasil mengumpulkan dana yang banyak sekali. Dan dalam rangka itu, terjadilah banyak kasus yang sangat disayangkan antara beliau dengan beberapa ulama’. Di mana para ulama’ tersebut mengabaikan beliau dan tidak mau membantunya. Misalnya adalah pengalaman beliau bersama Syaikh Salman Al ‘Audah. Di mana ketika itu Komandan Khothob mengatakan kepada para ikhwah pada saat masih di Dagestan: Berikan satu juta dollar supaya kami dapat bertahan melawan Rusia sampai akhir musim dingin ..
Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui seorang kaya, dan orang kaya itupun bersedia untuk memberikan 8 juta real kepadanya akan tetapi dengan syarat Syaikh Salman mau membuat memo kepadanya atau menelphonya. Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui Salman Al ‘Audah akan tetapi usahanya ini tidak membuahkan hasil. Syaikh Salman selalu mengulur-ulur waktu kemudian pada akhirnya mengatakan kepada Syaikh Yusuf: Sebenarnya aku ini sama sekali tidak senang dengan persoalan Chechnya.!!
Demikianlah. Syaikh Yusuf meneruskan langkah jihadnya yang penuh dengan pengorbanan dan kerja keras yang hanya sedikit saja orang yang mampu melakukannya.
Hubungan Syaikh Yusuf dengan persoalan Chechnya pun terus berlanjut. Akan tetapi semakin mengecil karena beliau tersibukkan dengan persoalan Afghanistan dan pemerintahan Tholiban. Ketika itu beliau mencurahkan kebanyakan waktunya untuk mempelajari gerakan ini dan kredibilitasnya. Kemudian datanglah hari-hari yang penuh berkah di mana patung-patung Budha di Afghanistan dihancurkan. Maka Syaikh Yusufpun memusatkan perhatiannya kepada persoalan ini dan membuat proyek-proyek buka puasa dan penyembelihan qurban di Afghanistan. Kemudian beliau menghubungi Amirul Mukminin dan para menteri Tholiban, kemudian Syaikh Yusuf berusaha untuk menghubungkan mereka semua dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh. Pada musim haji tahun 1421 H Syaikh Yusuf bertemu dengan beberapa menteri Tholiban yang datang untuk menunaikan haji dan beliau bersama para menteri tersebut hendak membuat hubungan telephon antara Amirul Mukminin dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh, tepatnya setelah hari-hari tasyriq jam 9 sore. Syaikh Yusuf mengatakan kepadaku: Kami berangkat meninggalkan Mekah sementara kami berpacu dengan waktu. Sementara kami tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan karena Syaikh Hamud berada di Qoshim. Sementara kami dalam keadaan kecapaian. Maka aku putuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian. Jika dia mengemudikan mobil maka aku usahakan tidur, kemudian aku mengemudikan mobil dan dia istirahat .. Kami pun terus meneruskan perjalanan sampai akhirnya aku ketiduran dan tidak terbangun kecuali ketika mobil sudah terbalik setelah menabrak onta peliharaan. Maka kamipun akhirnya gagal untuk bertemu. Dan sebenarnya selama itu telah terjadi sebuah peristiwa yang unik bersama para petugas reserse, akan tetapi atas bimbingan Alloh beliau telah bebas satu bulan sebelum peristiwa 11 september, untuk suatu perkara yang Alloh inginkan.
Dan tatkala beliau bebas dari penjara, beliau memiliki jasa yang besar dalam menulis mengenai jihad, mengupas berbagai persoalannya berdasarkan dalil syar’i, membelanya dan membantah berbagai syubhat yang disebarkan oleh para mukhodzil (pelemah semangat jihad) dan munafik. Beliau juga ikut aktif di beberapa forum paltalk dengan nama Azzam.
Syaikh Yusuf rohimahulloh sibuk untuk melatih para pemuda dan menghasung mereka agar pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan kamp-kamp latihan di sana. Beliau menerbitkan empat kaset rekaman untuk mengobarkan semangat jihad dan i’dad. Di antaranya adalah sebuah kaset rekaman yang memuat materi fikih dengan suara beliau.
Kemudian terjadi peristiwa besar dalam sejarah Afghanistan yaitu dibunuhnya komandan yang keji Ahmad Syah Mas’ud. Ketika itu kegembiraan Syaikh Yusuf tidak terbayang. Aku ingat ketika itu aku lewat di depannya lalu aku bertanya kepadanya ada informasi apa?
Beliau menjawab bahwa Syaikh Usamah mengatakan kepada para ikhwah: Siapakah yang dapat menyelesaikan Ahmad Syah Mas’ud untukku, karena dia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya. Maka beberapa ikhwah berangkat atas kesadaran mereka sendiri untuk membunuhnya dengan hanya mengharap pahala dari Alloh yang Mahamulia. Maka datanglah informasi yang menggembirakan sebagaimana yang telah kalian dengar ..
Setelah itu terjadilah serangan yang penuh berkah di Amerika, sarang kekafiran. Maka rasa-rasanya Syaikh Yusuf mau terbang lantaran senangnya. Ketika itu aku menghubungi Syaikh Yusuf, beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau sedang ada pertemuan dengan para ulama’ Qoshim. Di sana ada beberapa ulama’ yang mengkritisi serangan yang terjadi di Amerika itu!!
Beliau juga menceritakan kepadaku mengenai beberapa diskusi dan pertemuan dengan para ulama’ tersebut yang akhirnya dapat menimbulkan dampak yang baik pada mereka dalam mendukung jihad dan mujahidin.
Setelah itu Syaikh mulai menulis bukunya yang bagus yang berjudul Haqiqotul Harbish Sholibiyah, dalam buku itu beliau mengemukakan dalil-dalil amaliyah istisyhadiyah dan membantah berbagai syubhat yang muncul seputar persoalan ini. Di dalam buku itu beliau juga menghasung umat agar bangkit dari kelalaian yang tengah kita alami. Ini merupakan buku bagus dalam persoalan ini, yang ditulis oleh Syaikh Yusuf selama sembilan atau sepuluh hari!!
Sampai-sampai tatkala buku itu sampai kepada Syaikh Usamah, beliau mengatakan kepada para ikhwah: Sepertinya buku ini telah ditulis sebelum terjadi serangan. Karena tidak mungkin buku ini ditulis secapat itu!!
Padahal aku berani bersumpah demi Alloh bahwa Syaikh Yusuf tidak menulis buku itu kecuali setelah peristiwa serang tersebut, akan tetapi beliau memang berkonsentrasi penuh sampai akhirnya beliau menyelesaikan kajian fikih, hadits dan ushul fikih ini yang tidak ada seorangpun dapat membantahnya.
Demikianlah, Syaikh Yusuf itu banyak jasanya dalam memperbanyak barisan ulama’ yang mendukung serangan 11 september karena alasan-alasan ilmiyah yang beliau ungkapkan dalam buku tersebut, dengan menggunakan ungkapan yang sederhana namun serius dan sarat dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.
Dan ketika beliau selesai menulis buku tersebut, beliau langsung melakukan koreksi akhir terhadap bukunya yang berjudul Al Mizan Li Harokati Tholiban. Kemudian selesai dan beliau sebarkan.
Demikianlah tulisan-tulisannya terus bergulir ibarat air yang mengucur, yang memancarkan cahaya Al Qur’an dan Sunnah, di antaranya adalah:
1- Daurun Nisa’ Fi Jihadil A’da’ yang diterbitkan secara ilegal dengan menggunakan nama ‘Abdulloh Az Zaid.
2- Tsawabit ‘Ala Thoriqil Jihad, dalam buku ini beliau menulis prinsip-prinsip jihad yang ditulis dalam beberapa seri yang terpisah-pisah.
Juga tulisan-tulisan lainnya yang disebarkan di Markaz Ad Dirosat dan di forum-forum umum di internet.
Di antara hal yang sangat menyedihkan Syaikh Yusuf adalah para ulama’ yang acuh dengan jihad, sampai-sampai pada suatu saat aku ingat ketika aku berbincang-bincang dengan beliau mengenai sikap acuh para ulama’ terhadap jihad, beliau berbicara dengan kata-kata yang sangat berkesan kemudian beliau menangis!!.
Oleh karena itulah beliau menulis berbagai buku dan bantahan di mana tujuan pokok Syaikh Yusuf adalah membela kehormatan saudara-saudara kita mujahidin yang berada di daerah-daerah perbatasan (tsughur).
Beliau juga berperan aktif dalam menulis serial perang salib terhadap Irak yang diangkat di situs Ad Dirosat, di sana beliau memiliki peran yang sangat besar bahkan tulisan-tulisan beliau di sana hampir mencapai 80%.
Beliau dikaruniai Alloh dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya dalam membuat tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik, semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang seluas-luasnya.
Memang Syaikh Yusuf sendiri telah dikenal di kalangan banyak ulama’ memiliki sifat-sifat tersebut, di mana mereka mengakui bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang memiliki kelebihan dan keunggulan dalam hal itu.
Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat ulet dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kasus. Seringkali beliau diuji dengan kawan dan orang yang ia cintai di medan jihad yang mati syahid, terluka dan tertawan. Akan tetapi meskipun demikian beliau tetap ridlo dengan ketetapan dan taqdir Alloh, serta pasrah kepada apa yang telah ditetapkan oleh Robbnya terhadap dirinya.
Syaikh Yusuf adalah orang yang berhati lembut, berperasaan sensitif dan cepat mengalirkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Alloh. Sungguh aku tidak akan lupa ketika beliau menceritakan Abu Hajir Al ‘Iroqi yang ditahan di penjara Amerika mengenai profil dan pengorbanannya, kemudian beliau menangis terisak-isak!!.
Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, khususnya apabila mengingatkan mengenai Alloh, akherat, jihad dan mati syahid di jalan Alloh.
Beliau juga menegaskan akan hubungan jihad dan perasaannya dengan aqidah yang benar dan dengan ilmu syar’i. Beliau mengatakan bahwa kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat laa ilaaha illalloh Muhammad rosululloh. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini. Beliau selalu mengingatkanku dengan perkataan Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh mengenai hal ini: Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad. Maksudnya adalah sejumlah orang pergi ke medan jihad hanya karena terdorong emosi saja terhadap sebuah gambaran yang ia lihat berupa penyiksaan orang Islam atau pemerkosaan wanita muslimah. Emosi semacam ini memang baik akan tetapi yang lebih baik adalah hendaknya seorang mujahid itu berangkat berjihad berdasarkan sebuah keyakinan yang mendalam terhadap wajibnya menempuh jalan jihad ini dan sejauh mana hubungannya dengan aqidah tauhid, serta menghidupkan tekad untuk menyerbarkannya di tengah-tengah manusia, dan menegakkan daulah yang melaksanakan dan merealisasikan jihad.
Seluruh kenikmatan dunia ini telah terpampang di hadapan Syaikh Yusuf. Akan tetapi ia talak tiga semua itu, beliau lebih memilih untuk hidup sebagai orang yang mulia sampai ia meraih apa yang ia inginkan. Ayahnya seorang saudagar yang Alloh berikan kesuksesan. Akan tetapi Yusuf tidak memiliki perhatian terhadap dunia. Yusuf sendiri mendapatkan dukungan dan ridlo dari ayahnya terhadap kehidupan jihad yang ia pilih itu. Terlebih lagi ibunya. Ia sering kali memberikan dukungan dan pengukuhan, bahkan senantiasa memberi nasehat kepada Syaikh Yusuf agar tidak menyerahkan diri .. Sungguh demi Alloh, ia adalah seorang ibu yang mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati ..
Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat tawadlu’, sampai-sampai ia tidak menghargai dirinya sendiri. Dan jika engkau bersanding dengan beliau, pasti beliau meyakini bahwa engkau adalah orang yang lebih mengerti dan lebih paham daripada dirinya. Ia tidak suka untuk mendahului dalam berbicara khususnya terhadap orang yang berilmu atau seorang penuntut ilmu. Ketawadlu’annya ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya akan tetapi ini merupakan watak bawaannya yang Alloh anugerahkan kepada beliau.
Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiyah dalam semua persoalan. Jika ia berbicara mengenai ilmu syar’i tentu engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila ia berbicara mengenai persoalan politik pasti engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu beliau juga memiliki perhatian menganai ilmu computer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer sebagaimana seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai tophographi, teghnologi dan elektronik.
Alloh berikan anugerah kepadanya untuk diterima di hadapan manusia. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya kecuali pasti orang tersebut akan mencintai Syaikh Yusuf. Aku belum pernah menemukan seorangpun yang mencela beliau dari sisi akhlaq atau karakter, akan tetapi justeru beliau diterima di hadapan manusia karena beliau memiliki akhlaq yang baik dan perilaku yang bersih, demikianlah beliau dalam pandangan kami dan hanya Alloh sajalah yang tahu. Nahsabuhu kadzalik wa la nuzakki ‘alallohi ahada.
Beliau rohimahulloh senantiasa mengajak para pemuda dan mujahidin agar meninggalkan kemewahan dan kenikmatan, dan beliau mengajak mereka untuk hidup secara sederhana agar jiwa itu terbiasa untuk sabar dan memikul kesusahan di bumi jihad. Pernah selama berhari-hari beliau tidak makan kecuali sedikit padahal beliau adalah orang yang berkecukupan, akan tetapi beliau ingin membiasakan diri untuk hidup susah.
Beliau adalah orang yang dermawan, tidak merasa berat untuk memberi dan berkorban kepada saudara-saudaranya. Namun demikian beliau adalah orang yang kuat memegang amanah dan sungguh-sungguh dalam menjaga harta mujahidin yang ada di tangannya sehingga ia berikan harta itu kepada orang yang berhak atas harta tersebut.
Beliau masuk DPO Saudi atas permintaan Amerika. Mereka meminta agar beliau menyerahkan diri selama satu tahun lebih, namun beliau menolak untuk menyerahkan diri atau menghinakan diri dalam persoalan agama. Al Hamdulillah, beliau melakukan hal itu dan selama itu beliau dapat melakukan banyak jasa besar untuk Islam dan umat Islam, di mana jasa-jasa itu sewajarnya tidak dapat dilakukan kecuali dalam tempo lima tahun!!..
Aku sampaikan itu semua bukan untuk melebih-lebihkan, demi Alloh bukan. Akan tetapi ini adalah sebagai informasi mengenai apa yang aku lihat, bahkan ini hanya sebagian dari apa yang kulihat .. Pernah selama berjam-jam beliau tidak istirahat atau tidur. Bahkan terkadang selama beberapa hari beliau tidak tidur .. di dalam jadwal hariannya tidak ada waktu tidur kecuali hanya sedikit yang hanya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya.
Selama satu tahun itu beliau hidup sebagai buronan yang senantiasa waspada terhadap musuh siang dan malam. Senjatanya tidak pernah berpisah dengannya. Dia selalu siap siaga dan hati-hati.
Beliau pernah mengatakan kepadaku: Akhi, kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rosul SAW, di mana mereka hidup di Madinah dalam keadaan takut dan was-was sampai mereka dapat mengusir orang-orang Yahudi dari sana. Lalu beliau menyampaikan kepadaku perkataan seorang sahabat:
وما بنا يا رسول الله إلا الخوف وسيف أحدنا على عاتقه..
Wahai Rosululloh, tidak ada yang ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.
Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridlwanullohu ‘alaihim.
Syaikh Yusuf jarang sekali melihat keluarganya — bapak-ibunya —. Sampai pada masa-masa terakhir ketika perburuan semakin ketat hubungan mereka terputus sama sekali. Bahkan hubungan beliau dengan ketiga puterinya juga terputus. Puterinya yang paling besar namanya adalah Maryam. Pada hari-hari terakhir beliau menulis sebuah syair yang sangat berkesan untuk mereka, yang dicantumkan dalam surat beliau sebelum beliau mati syahid dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih mati di jalan Alloh daripada ditawan oleh Thoghut Saudi, semoga Alloh menyegerakan siksaannya terhadap para thoghut itu. Dalam hal ini beliau meneladani seorang sahabat mulia ketika tertangkap musuh: Adapun aku, pada hari ini aku tidak akan mau tunduk dalam penguasaan orang kafir. Dengan begitu seolah-olah beliau mengatakan:
ولست أبالي حين أقتل مسلما
على أي جنب كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله وإن يشأ
يبارك على أوصال شلو ممزع
Aku tidak peduli ketika aku terbunuh sebagai orang muslim …
Pada sisi mana aku tersungkur di jalan Alloh …
Itu semua hanya untuk Dzat Alloh, dan jika Ia kehendaki …
niscaya memberkati persendian-persendian tubuh yang terpotong-potong …
Abu Muhammad (Syaikh Yusuf) telah pergi meninggalkan kita, sementara beliau adalah orang yang tersembunyi dan tidak dikenal oleh banyak manusia. Namun semua itu tidak ia hiraukan selama Alloh mengenalnya. Dan semua jasa-jasanya yang besar untuk membela Islam dan membantu mujahidin kelak akan menjadi saksi bahwa beliau adalah termasuk orang pilihan dari umat Islam hari ini.
Dengan demikian berakhirlah kehidupan seorang pemuda dan seorang Syaikh dari kalangan pemuda Islam, yang terkumpul padanya berbagai keutamaan, seperti ilmu, dakwah, jihad, dan ibadah yang terbaik insya Alloh. Beliau telah meraih apa yang dirindukan oleh setiap pemuda yang mengenal jalan petunjuk, maka selamat berbahagia wahai Abu Muhammad ..
Sungguh kami menangisimu melebihi tangisan kami kepada banyak orang-orang yang kami cintai ..
Kami menangisimu dan kami berharap apa yang di sisi Alloh lebih baik untukmu ..
Namun dahulu kami mengharapkan dirimu hidup menyertai umat Islam yang malang ini, yang tidak mendapatkan orang membelanya dan menegakkan syariat Alloh pada mereka kecuali sedikit orang …
Sungguh kami takkan melupakanmu wahai Abu Muhammad ..
Demi Alloh, orang yang pernah hidup bersamamu pasti akan sulit untuk mengabaikan pengaruhmu pada kehidupannya.
Kami melihat dirimu telah berbuat sesuatu untuk membela jihad, yang tidak dapat dilakukan oleh berbagai organisasi dan orang-orang yang bekerja secara konsentrasi.
Sungguh engkau adalah teladan yang langka, semua waktumu engkau berikan untuk jihad dan mujahidin.
Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..
Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..
Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..
Add comment 29 June 2008
Syahida Hawaa Barayev – The Sword of Hijaab
Kepada seluruh ummat muslim,
Kepada mereka yang gagal memenuhi kewajibannya kepada saudara-saudara mereka di Chechnya.
Kepada mereka yang membuang-buang waktu mereka dengan mengumbar kata-kata ketika muslimin di Chechnya dan dibelahan bumi lain sedang dibatai.
Perhatikanlah sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang muslimah muda berhijab yang bahkan belum genap berumur 20 tahun, kerika menyampaikan kata-kata terakhirnya : “Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”
Beberapa waktu yang lalu, saudari Hawaa` Barayev mengendarai sebuah mobil yang dipenuhi dengan bahan peledak melewati jalan Alkhan Kala dan memasuki sebuah gedung yang digunakan oleh pemimpin pasukan khusus Rusia di Chechnya. Para pasukan Rusia telah berusaha menghentikannya dengan melepaskan serentetan tembakan, akan tetapi ALLOH ta`ala berkehendak memberikan kemenangan padanya dan pada pesannya “Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”. Dia mengendarai mobilnya melalui pintu gerbang menuju pusat gedung. Dan meledaklah bahan peledak yang dibawanya tadi, menghancurkan bangunan dan menyebabkan rusak berat.
Setelah debu lenyap, didapati sebanyak 27 tentara Rusia kebanyakan dari mereka merupakan senior Pasukan Khusus terkapar tewas. Gedung yang digunakan oleh pasukan khusus Rusia rusak berat, dan pasukan Rusia yang berjumlah 270.000 orang itu hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut tanpa bisa melakukan apa-apa, ketika seorang jundulloh (Hawaa` Barayev) menusukkan pisau kejantung pasukan elite Rusia. Kerusakan berat pada gedung dan ratusan pasukan Rusia yang panik dan mengelilingi lokasi pasca serangan menunjukan kebohongan pernyataan resmi pihak Rusia bahwa hanya sedikit prajurit yang terbunuh atau luka-luka pada saat serangan.
Pengorbanan dirinya untuk meraih ridho ALLOH ta`ala dan muslim lainnya adalah sebuah peringatan pada orang-orang kafir tidak hanya di Chechnya, tapi seluruh dunia, bahwa ummat muslim tidak akan lagi menerima kedzoliman orang-orang kafir. Hal tersebut merupakan peringatan pada mereka yang berfikir bahwa mereka bisa melakukan kekejian terhadap ummat muslim, wanita dan anak-anak tanpa memperoleh balasan sedikitpun.
Hawaa` Barayev telah memberi pelajaran pada musuh-musuh ALLOH ta`ala bahwa mereka akan dibalas dan mereka akan diburu oleh tentara-tentara ALLOH ta`ala. Hawaa` Baraywv juga telah mengajari musuh-musuh ALLOH ta`ala, bahwa ummat Islam masih memiliki dan akan selalu memiliki wanita-wanita yang dapat melahirkan para mujahidin, laki-laki maupun wanita, yang akan membela keyakinan dan kehormatan muslimin dimanapun.
Akankah ummat muslim yang masih duduk-duduk dengan tenang di rumah-rumah mereka mengambil pelajaran dari apa yang diajarkan oleh Hawaa` Barayev pada dunia. Apakah kalian akan mengikuti tindakannaya yang memiliki keimanan yang tidak perlu diragukan lagi dan keberaniannya? Apakah kalian akan ikut mendukung saudara-saudari kalian di Chechnya dengan segenap kekuatan kalian, politik kalian dan financial kalian? Akankah kalian setidaknya mengingat saudara-saudari kalian di Chechnya dalam doa-doa kalian?
Tindakan ini telah menambahkan sebuah warna baru pada perang gerilya yang dilakukan oleh mujahidin sebagai salah satu perlawanan mereka untuk membasmi keberadaan tentara Rusia di Chechnya. Semoga ALLOH ta`ala meningkatkan intensitas serangan semacam ini, dan semoga ALLOH ta`ala akan senantiasa merohmati saudari kita tecinta, syahidah ummah Hawaa` Barayev, hanya ALLOH lah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita tidak mensucikan seorangpun di atas-Nya
Sesaat setelah berita serangan tersebut menyebar, komandan lapangan Ramadan Ahmadov berkomentar: “Laki-laki Chechnya yang hanya duduk-duduk di rumah-rumah mereka dan tidak melakukan apapun tidak dapat lagi menampakan wajahnya dihadapan para wanita; semoga ALLOH ta`ala menyayangi saudari kita, Hawaa` Barayev.”
Hawaa` Barayev adalah wanita pertama yang melancarkan serangan bom syahid di Chechnya. Dia bukanlah syahidah pertama di Chechnya, sebelumnya telah ada saudari-saudari kita yang syahid di tangan Rusia pengecut. Akan tetapi dia telah menjadi perintis aksi bom syahid wanita; aksinya tidak saja diikuti oleh sepupunya yaitu komandan lapangan Arbi Barayev, dia juga meningkatkan semangat para mujahidin untuk hidup, jihad dan mati di jalan ALLOH ta`ala.
Semoga ALLOH ta`ala memberikan kemenangan pada Mujahdin di Chechnya dan semoga ALLOH ta`ala menempatkan mereka pada syurga tertinggi dan dalam naunganNya.
Dialah salah satu saudari kita yang telah syahid dari ummat ini.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, syurga memiliki harga dan aku berharap ini akan menjadi harga untuk syurga.”
Hawaa’ Barayev, The Sword of the Hijab.
Courtesy: At Tawbah Forum
Add comment 29 June 2008
Suraqah Al Andalusi
Azzam.Com Correspondent : Suraqah Al-Andalusi
Taken from Azzam Publications

“Ya Allah, jangan biarkan aku meninggalkan pegunungan ini, kecuali setelah Engkau anugerahkan syahadah padaku”
Suraqah Al Andalusi, koresponden Azzam.com, terbunuh syahid dalam serangan cluster bomb (bom curah) yang dilancarkan Amerika dalam Pertempuran Tora Bora, wilayah Timur Afghanistan, pada malam Jum’at 29 Ramadlan 1422 Hijrah (14 Desember 2001). Asy Syahid berusia 28 tahun, dan meninggalkan seorang isteri dan dua anaknya yang masih kecil; laki-laki dan perempuan.
Kenangan dari Saudara Asy Syahid
Ketika kecil, Suraqah tumbuh seperti anak-anak kebanyakan. Ia pergi ke sekolah umum, dan di SMP ia mendapat nilai di atas rata-rata. Tetapi tidak ada yang istimewa dari kehidupannya. Hanya saja kami dididik oleh orang tua kami dalam tradisi keislaman. Orang tua kami tidak ingin kami ikut terbawa arus jaman di tengah lingkungan kafir ini.
Ia tumbuh di lingkungan di mana sedikit sekali orang muslim, bahkan tidak ada satupun orang muslim di sekolahnya. Ketika ia masuk universitas, cakrawala berfikirnya bertambah luas. Ia kemudian bertemu dengan kawan-kawan dari Pergerakan Islam. Interaksinya dengan para ikhwah ini memberi dimensi baru dalam kehidupannya, kemudian ia mulai terlibat dalam lingkar-lingkar diskusi (halaqah ilmu) dan berkecimpung dalam proyek-proyek amal Islami bersama Persatuan Mahasiswa Muslim di kampusnya. Di universitas itu juga ia bertemu dengan berbagai macam Harakah Islam, dan sejalan dengan berlalunya waktu, ia mulai menyadari bahwa sulit sekali menemukan kelompok gerakan Islam yang benar-benar ‘sempurna’. Ia tidak bisa menemukan satu harakah islam yang ia rasa seimbang dalam berbagai sisinya dan memberinya pemahaman yang menyeluruh. Ia merasa bahwa banyak harakah yang begitu baik, tetapi tidak sedikit yang ia nilai harakah itu sedikit mengabaikan sisi amali dari kata-kata yang disampaikannya.
Suatu hari, ia membeli sebuah kaset berjudul “In The Hearts of Green Birds”. (In The Hearts of Green Birds adalah audio kaset terkenal, yang berisi nasyid dan kisah-kisah para mujahid dan syuhada di Tanah Jihad Bosnia Herzegovina. Kaset inilah di antaranya, yang telah menginspirasi banyak ‘western Mujahid’ pasca Perang Afghanistan, keluar dengan diam-diam dari negeri mereka lalu datang ke berbagai Tanah Jihad di berbagai belahan bumi. – Pent.). setelah mendengar kaset ini, Suraqah menyadari bahwa inilah Jalan yang tengah ia cari selama ini. Selanjutnya ia banyak menyaksikan video dokumenter tentang Jihad di Bosnia. Melihat para mujahid dan syuhada dari tayangan dokumenter itu, Suraqah merasa seakan ia menemukan kembali kawan sejati yang telah lama hilang, kawan karib yang ingin ia tidak berpisah lagi. In The Hearts of Green Birds menginspirasinya begitu dalam, karena kaset ini berisi berbagai kisah nyata, kisah sejati tentang orang-orang yang mempesonifikasikan secara nyata keyakinan yang mereka pahami, orang-orang yang rela menyerahkan miliknya yang paling berharga (kehidupan) demi kejayaan dari keyakinannya itu.
Lalu ia pun mulai membaca dan menelaah berbagai karya tulis, ceramah, dan manuskrip dari salah seorang Ulama legendaris Dunia Islam saat ini, Al Imaamul Mujahid Asy Syahid Sheikh Abdullah Yusuf Azzam rahimahullah. Inilah salah satu ulama yang sungguh sangat dihormatinya, karena Ustadz Azzam bukanlah ‘ulama textbook’, ulama yang sekedar berkata dan memberi fatwa, tetapi ia adalah di antara sedikit ulama yang menempuh apa yang dikatakannya, ulama yang menghidupkan kata-katanya dengan jihad dan pengorbanan, satu di antara sedikit ulama ahlu tsugur, di antara sedikit orang yang insya Allah telah menempuh jejak langkah para Rasul. Ustadz Azzam memiliki kepribadian yang mempesona, kedermawanannya dan jiwa kepahlawanannya tergambar nyata dalam jejak kehidupannya.
Di universitas, Suraqah aktif berdakwah kepada segenap saudaranya, baik saudara sendiri maupun kawan-kawan sekitarnya. Ia aktif membina, menjadi murabbi. Kadang ia baru pulang setelah larut malam dari berdakwah. Para ikhwah di masanya (mungkin maksudnya anak-anak didiknya – Pent.), dengan ijin Allah, mulai mengamalkan apa yang telah diajarkan, mereka beramal bersama, mensolidkan dan membangun ikatan ukhuwah yang erat di antara mereka.
Ia memiliki kepribadian yang baik, dan jika diberikan amanah, ia berusaha menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Nilai-nilai Keislaman sungguh telah membuka matanya, ia melihat bahwa mizan Islam telah menjawab secara tepat berbagai problem, ia merasa sangat bersyukur atas nikmat hidayah Allah ini. Tetapi masih ada beberapa masalah krusial yang baginya belum terjawab. Beberapa masalah krusial yang juga sentiasa berkelebat dalam jiwa banyak Pemuda Islam hari ini:
Bagaimana sesungguhnya usaha Islah dijalankan untuk memperbaiki nasib Ummah?
Jalan yang manakah yang paling utama ditempuh?
Siapakah sekarang ini yang merupakan ‘Pewaris Nabi’ (ulama) Sejati?
Bagaimana kedudukannya dan sikap yang harus ditempuh dalam menghadapi rejim thagut (apostate regime) yang memerintah di Negeri Islam saat ini?
Semakin lama ia menelaah, semakin nyata ia melihat kotradiksi dalam pemahaman banyak orang dari Ummah ini, serta berbagai standar ganda dalam manhaj dan metodologi yang dianut oleh banyak ‘ulama’ dan ‘penyeru’ Islam. Suraqah sentiasa menyandarkan diri ketika jiwanya menghadapi hal ini kepada kata-kata salah seorang Shahabah Besar Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud ra: “Al Jama’ah, adalah siapa saja yang menetapi Kebenaran, meskipun ia hanya seseorang (di tengah arus mayoritas orang)”.
Banyak ulama, serta orang-orang yang diklaim memiliki derajat keulamaan, bersikap diam di hadapan ‘Kejahatan Besar’ (Thogut tirani, Para Penguasa Jabbarin ‘anid), dan mereka berusaha melindungi sikap diamnya ini dengan berbagai teks, fatwa, serta dalil-dalil islami. Menghadapi ini, Suraqah mencoba bertanya kepada nuraninya, menjadikan nuraninya sebagai penentu, dan memohon Allah menetapkan fatwa kebenaran, meskipun untuk itu ia sering berseberangan dengan kawan-kawannya yang lain – sehingga seakan kata-kata Ibnu Mas’ud memenuhi ruang jiwanya. Suraqah merasa, bahwa tidak sedikit dari Muslim saat ini telah kehilangan pemahaman agama yang komprehensif dan benar.
Sebagai contoh, pemahaman tentang Syahadat sebagai Rukun Islam yang pertama, – orang akan langsung berbicara seputar konsep Tauhid, tetapi mereka mengabaikan salah satu pilar asasi dari Tauhid dan Syahadat, yaitu Al Wala’ wal Baro’, yang di antara konsekuensinya adalah keharusan untuk menolak setiap kekuasaan Jabbarin ‘Anid, menolak Rejim Thogut (Apostate Regime), serta mengembalikan penghambaan hanya kepada Allah. Suraqah menilai bahwa di antara bentuk Thogut saat ini adalah berbagai sistem hidup dan pemerintahan buatan manusia yang bercokol di Dunia Islam, ia menilai di antara para Firaun masa kini adalah The Apostate Regimes, sehingga siapa saja yang menetapi Laa ilaaha illa Allah, harus menjauhkan dirinya dari para tuhan-tuhan palsu ini serta mengibarkan permusuhan terhadap mereka. Suraqah sering mengulang pernyataan Waraqah bin Naufal tentang diri Rasulullah: “Tidak satupun orang yang membawa risalah seperti risalahmu, melainkan mereka pasti akan dimusuhi”.
Suraqah sentiasa mengingat satu pernyataan dari Imam Abu bakr bin Ayyash:
“Ketika Ahlu Sunnah meninggal dunia, maka seluruh memori dan ajarannya sentiasa hidup, sementara ketika Ahlul Bid’ah meninggal dunia, maka seluruh memori tentangnya ikut mati bersamanya. Hal ini terjadi karena Ahlu Sunnah menegakkan apa-apa yang diajarkan Nabi saw, sehingga mereka mendapatkan janji Allah: ‘Bukankah Kami telah meninggikan namamu?’ (QS Al Insyirah 4). Ahlul Bid’ah justru menghancurkan apa-apa yang diajarkan Nabi saw, sehingga mereka mendapatkan janji Allah: ‘Sungguh mereka yang membencimu (Ya Muhammad) pasti akan terputus (dari seluruh kebaikan dan rahmat di dunia ini maupun di akhirat nanti)’ (QS Al Kautsar 3)”
Inilah kata-kata Imam Ahmad bin Hanbal saat ia dipenjara, menegaskan sikapnya untuk teguh menyampaikan kebenaran: “Jika para ulama melakukan taqiyyah (menyembunyikan kebenaran yang diyakininya), dan kebanyakan orang masa bodoh terhadap kebenaran, maka dengan cara apa Kebenaran dapat tegak di dalam kehidupan?”
Semakin lama Suraqah membaca dan mendengar kisah para Nabi dan perjuangan mereka menegakkan Laa ilaaha illa Allah; bagaimana generasi Salaf serta para Ulama Robbani berjuang mengikut Jalan ini; seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Thaimiyah, maka ia semakin yakin bahwa Jalan yang harus ditempuh itu adalah Jalan Pemahaman (dakwah) dan Jihad, keduanya saling berkelindan, seperti dua muka dari satu mata uang.
Di antara Ulama dan Pemikir Islam kontemporer yang sangat mempengaruhi pemikirannnya adalah Syahid Doktor Sayyid Quthb, Syahid Sheikh Abdullah Azzam, Fizazi, dan Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisi. Kepada siapa saja, baik sahabatnya, ataupun keluarganya, Suraqah selalu mengajak dan menjelaskan tentang Jalan Mulia ini, berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang-orang akan kebenaran yang ia sampaikan. Seringkali orang menolak seruannya, dan mengejeknya dengan berbagai cemoohan, seperti: “Jadi apa sih yang mau kamu lakukan, merubah dunia? Apa memang bisa Jalan Jihad ini merubah keadaan, apa sih yang telah dicapai para ‘mujahid’ itu?”
Diskusi dan debat yang dilakukannya bukanlah demi kepopuleran pribadi, tetapi muncul dari jiwa dan kecintaannya kepada para Mujahid dan Syuhada. Suatu saat, setelah ia terlibat dalam salah satu diskusi panjang dengan sahabat-sahabat dekatnya, air mata deras membasahi pipinya karena orang-orang ini tidak menerima penjelasannya dan mencampakkan idenya dengan kasar.
Kendati semua hal ini, ia tidak kecewa dan tidak membenci sahabatnya, ia terus melanjutkan menempuh Jalan ini. Ia kemudian memahami bahwa siapa saja yang berkehendak untuk menempuh Jalan ini, maka ia harus bersiap menjadi ‘Al Ghurabaa’, Orang-orang Sunyi. Ia membaca salah satu buku Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisi dan takjub dengan salah satu pernyataannya: “Di bentang dunia kita ini, sesungguhnya ada Dua Dunia; Dunia Kasat Mata dan Dunia Yang Ghaib. Setiap tindakan yang engkau lakukan di Dunia Nyata ini akan mendapat balasan di Dunia Yang Ghaib, meskipun engkau melihat tidak ada perubahan sedikitpun terjadi di Dunia Nyata”. Tulisan ini menyingkapkan keraguan-keraguan yang masih tersisa di hatinya mengenai Jalan yang akan ia tempuh ini.
Setelah menamatkan kuliah, ia menikah dan Allah menganugerahkannya dua orang anak, seorang laki-laki dan yang lainnya perempuan. Ia pun memulai berdakwah dan merintis lingkar-lingkar studi (halaqah) di masyarakat sekitarnya, di mana lewat forum halaqah ini ia mencoba mengajarkan para saudaranya berbagai hal fundamental dari Islam, menjelaskan kepada mereka berbagai Petunjuk Jalan dalam menempuh Din ini.
Isterinya bercerita bahwa Suraqah sering bangun malam untuk Shalat Tahajjud, dan setelah itu menghafal Surah At Taubah, mentadabbur isinya, mengukuhkan cita-cita dan mensolidkan keyakinannya. Ia sangat sayang pada anak-anaknya. Tetapi setiap saat ketika ia bermain dengan anak-anaknya, tanpa sengaja ia mengulang ayat Allah: “Al Maalu wal Banuuna fitnah (harta dan anak-anak adalah fitnah)” – seakan ia telah menyadari bahwa sebentar lagi ia akan berpisah dengan mereka – Pent.. Ia seorang yang sabar dan terorganisasi. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia akan mengerjakan sebaik-baiknya betapapun pengorbanan besar harus dibayarnya. Suraqah sangat dekat dengan orang tuanya; ia sering berkunjung menengok mereka, dan selalu berdoa demi mereka.
Setahun sebelum syahidnya, Suraqah memutuskan untuk berangkat berhajji, dan di titik inilah, perjalanan hajji memberinya satu pengaruh yang dalam. Suraqah pernah berkata: “Jika seseorang masih belum percaya betapa Ummah ini sedemikian terpuruk keadaannya, maka Hajji akan memberimu jawaban”. Di Tanah Suci itu ia menyaksikan ketidakpedulian Muslim: orang-orang yang lidah mereka dipenuhi dzikir-dzikir dan doa, tetapi mereka gagal untuk meresapkan nilai ukhuwah dan kedermawanan terhadap sesama saudaranya. Mereka khusyu berdzikir untuk dirinya, tetapi mereka tak memperdulikan saudaranya yang lain. Ia menyaksikan banyak perilaku bid’ah dan syirk dilakukan orang bersamaan dengan ibadah hajji. Ia menyaksikan di luar Masjidil Haram, berdiri beberapa kantor bank konvensional yang menerapkan riba. Betapa semua kenyataan ini mendidihkan darahnya; inikah tanah yang 1400 tahun lalu telah disucikan oleh siraman darah dan peluh dari generasi pertama yang dipimpin Rasulullah, dari najis kemusyrikan? Inikah tanah haramain, yang segala kekafiran haram untuk memasukinya, tetapi ternyata berbagai institusi finansial milik orang-orang kafir malah telah diundang masuk berdiri di sana? Kesemua kenyataan yang ia saksikan ini makin mengukuhkan cita-citanya.
(Inikah Tanah Haramain, yang saat ini Bala Tentara Salib, telah memasuki tanahnya, dan bercokol tepat di Pintu Gerbangnya? Inikah Sang Khadimul Haramain, orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Pelayan Dua Tanah Suci? Tetapi mengapa justru mereka yang mengundang dan mempersilakan Bala Tentara Kafir memasuki Haramain, padahal satu tahun sebelum wafatnya, Rasulullah pernah berwasiat, bahwa jika hingga tahun depan Beliau masih hidup, Beliau saw sendiri dengan ijin Allah akan memimpin para Mujahid untuk membersihkan Daratan Semenanjung Arab seluruhnya dari orang-orang kafir? – Pent.)
Bergabung dengan Proyek Azzam.com
Suraqah adalah anggota tim yang menerjemahkan dan mengetik skrip dari video The Martyrs of Bosnia. Ia juga bagian tim yang melaksanakan wawancara, melakukan riset dan penerjemahan dari berbagai bahan-bahan untuk situs Azzam.com, khususnya The Jihad Lands Section; Afghanistan, Uzbekistan, East Turkestan (China), dan Central Asia. Ia adalah orang yang menerjemahkan seluruh isi buku mengenai The Jihad in Central Asia, yang ditulis dalam bahasa arab oleh seorang Mujahid di Afghanistan. (Sebelum Azzam.com dibredel pada tahun 2002 atas desakan Thagut Amerika. Kini materi-materi dari situs Azzam.com beredar secara rahasia dari lingkar-lingkar milis – pent.)
In Memorial, dari Seorang Shahabat Syahid Suraqah
Untuk Saudaraku tercinta, Sahabat dan Karib setia, semoga Allah mengasihinya dan menerima syahadahnya; kehidupan dan kepergiannya dari dunia ini mengingatkanku akan firman Allah:
“Wahai orang-orang beriman! Mengapa ketika disampaikan kepada kalian, ‘Berangkatlah untuk berperang di Jalan Allah!’, kalian merasa berat seakan kaki kalian tertancap di bumi? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat? Sungguh betapa remeh dunia ini dibandingkan dengan luasnya Akhirat, jika kalian memahami”. (QS At Taubah 38)
“Apakah kalian mengira dapat masuk Surga sebelum Allah membuktikan siapa di antara kalian yang telah berjihad dan siapa di antara kalian yang tetap bersabar?” (QS Ali Imran 142)
Perjalanan Menuju Afghanistan
Pertama kali aku berjumpa dengan Suraqah adalah ketika kami tengah mengurus embarkasi untuk perjalanan memasuki Afghanistan. Masih terbayang di pelupuk mataku; senyum yang menghias wajahnya ketika aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Perawakannya kurus, tingginya sedang, sinar matanya tajam tetapi memancarkan keteduhan dan ketulusan. Nur yang memancar dari wajahnya serta senyumnya, tak bisa aku lupakan hingga sekarang. Selama perjalanan, ia menunjukan perilaku sabar dan pendiam, tetap bersikap waspada dan sentiasa berusaha melayani para saudaranya yang lain. Di pos pemberhentian yang pertama, aku masih ingat bertanya dengan nada bercanda kepadanya, mengapa ia belum makan apapun, padahal ia bercerita kepadaku bahwa ia memiliki masalah dengan pencernaannya.
Ia tetap bersabar kendati belum makan selama berjam-jam, dalam perjalanan panjang dan berat ini. Tetapi ia tidak ingin menyusahkan saudara-saudaranya yang lain. Sehingga ia memilih untuk menyembunyikan derita laparnya di balik senyum diamnya. Aku jadi tersenyum menyaksikannya, karena ia adalah orang yang baru aku kenal. Aku kemudian berkata kepadanya, bahwa jika telah memasuki Afghanistan nanti, makanan akan semakin sulit didapat, sehingga masalah pencernaannya akan semakin berat. Ia hanya tersenyum dan memberikan sorot mata tajam yang memancarkan kepastian, seakan hendak menegaskan bahwa ia telah memahami semua konsekuensi dari semua ini, dan bahwa tidak ada pengorbanan yang remeh di hadapan Allah Rabbul Izzah.
Di akhir rute perjalanan, kami berhenti untuk shalat fajar dan shubuh. Kami kemudian beristirahat sejenak, untuk kemudian bersiap kembali. Kami kemudian berangkat lagi untuk menuju pos penghentian terakhir, tempat kami beristirahat dan bersiap sebelum kami memasuki Tanah Afghanistan. Kami pun makan, dan Suraqah ikut makan walau sedikit. Aku tersenyum ketika melihatnya makan. Kami dipersilakan beristirahat hanya satu jam saja. Setelah itu kami bersiap kembali. Ini adalah bagian perjalanan yang paling berbahaya, karena kami akan memasuki wilayah bergolak, Afghanistan. Seluruh peserta perjalanan mulai berdzikir dan berdoa tanpa henti, memohon keselamatan kepada Allah.
Aku masih ingat ketika rombongan kami menyeberangi perbatasan memasuki Afghanistan. Aku melihat binar kegembiraan dan rasa syukur di wajah Suraqah. Kami telah menjejakkan kaki di atas bumi, yang pernah pada suatu masa setiap muslim dan mujahid merasa terlindungi di sana, semoga Allah mengembalikan keamanan dan kesejahteraan kepada Ummah Islam di Afghanistan, dan semoga Allah menegakkan kembali Daulah Islam di Afghanistan. Aku menyaksikan Suraqah menjadi lebih tenang dan kadang suka bercanda. Kami semua merasa lega karena telah tiba dengan selamat. Aku masih mengingat betapa sering ia melihat keluar melalui jendela kendaraan kami, mengagumi pemandangan, dan mungkin pikirannya tengah menyusun berbagai rencana, membayangkan masa depannya di atas Bumi ini, dirinya, keluarganya, dan Agamanya.
Hari-hari Pertama di Tanah Jihad
Betapa agungnya tanah jihad itu, khususnya bagi mereka yang telah berhijrah menapaki buminya, tinggal dan bersabar bersama dalam ketulusan, sementara mereka telah rela meninggalkan keluarga tercinta serta segala kehidupan dunia lainnya di belakang mereka. Kini mereka menjadi saudara satu sama lain, dalam ikatan yang begitu kukuh.
Kami harus mengerjakan beberapa tugas persiapan sebelum Suraqah mendapat keluangan waktu untuk mengikuti latihannya (latihan kemiliteran). Ada banyak tugas riset yang harus dikerjakan, wawancara dan pertemuan, serta berbagai bahan tulisan yang harus diterjemahkan. Sungguh Allah telah memberkatinya, karena Suraqah memiliki kemampuan yang memadai untuk menyelesaikan berbagai tugas itu. Di saat-saat inilah aku dapat mengenalnya lebih dekat lagi. Di saat itu, ada seorang Brother yang jatuh sakit dan harus dirawat pulang; karena itu beberapa Brothers yang lain harus mengantarkannya ke luar Afghanistan, tinggallah aku berdua Suraqah yang meneruskan tugas-tugas, dan mungkin beginilah cara Allah menetapkan bahwa kami akan melewati hari-hari bersama.
Awalnya, kami harus tinggal di wilayah pinggiran kota, di mana di sana begitu banyak tugas menanti. Begitulah, perkembangan berjalan sangat lambat, dan aku masih mengenangnya sebagai salah satu saat yang penuh ujian bagi kami, karena kami berdua merasa seakan tak sabar lagi untuk segera ‘terjun ke lapangan’, tetapi kami saling mengingatkan untuk bersabar. Hari-hari pertama itu rasanya sering membuat jenuh dan bosan, tetapi kami sentiasa saling memberi tausiyah dan mengingatkan kembali akan niat kami ketika akan berangkat.
Satu saat kami mengobrol tentang keluarga, dan aku bercerita kepadanya betapa sulitnya mengucapkan selamat berpisah kepada ibu kita, yang tak henti-hentinya menangis, karena menyadari bahwa bisa jadi ini adalah saat terakhir kita melihatnya. Suraqah terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, “Ya Saudaraku, tetapi ikatan antara seorang suami dengan isteri adalah ikatan batin yang lebih khusus lagi dari ikatan batin antara ibu dan anaknya. Ikatannya begitu erat, begitu erat…” Aku merasakan kesedihan dalam ucapannya itu, mengingat ia pernah bercerita bahwa ia harus meninggalkan isterinya yang masih muda bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil, tetapi aku juga dapat menangkap ekspresi kerelaan di wajahnya, bahwa dia memahami inilah di antara pengorbanan yang harus dipersembahkan demi kehormatan Din Islam ini.
Ia pun bercerita tentang betapa di tahun-tahun belakangan ini ia harus bekerja keras mempersiapkan bekal baginya dan bagi keluarganya, agar keluarganya punya cukup uang dan tabungan jika tiba saatnya ia berangkat. Ia ungkapkan kepadaku perasaan jiwanya yang paling dalam, betapa ia benci tinggal di negeri orang-orang kafir, dan betapa ia bahagia dan sungguh merindu, untuk dapat membawa seluruh keluarganya, isteri dan anak-anaknya pulang, di sini, di atas Tanah Islam Afghanistan ini. Satu saat kami berbicara tentang orang-orang muslim yang tinggal di Barat, dan ia pun berkata, “Apa yang dapat kita lakukan di negeri orang-orang kafir? Demi Allah, seakan-akan aku merasa bergelimang sentiasa dengan segala hal yang haram setiap hari, dari saat kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Betapa sedikit waktuku untuk menunaikan shalat, untuk membaca Kitabullah, untuk mempelajari Din Islam, tetapi di sini aku merasa bebas untuk menyembahNya, Sang Maha Agung”.
Melalui waktu-waktu yang menjemukan itu, tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali bersabar. Di waktu-waktu itu, aku sering memergokinya tengah menghafal Al Qur’an, atau tengah shalat khusyu’ bermunajat kepada Allah. Sungguh aku menyaksikannya sebagai seseorang yang telah menetapi suatu cita-cita yang pasti, yaitu mempersembahkan pengabdian yang sebenarnya untuk Din ini, seorang pria dengan ambisi yang mulia demi kemuliaan Din ini, seorang pria yang Allah telah melimpahkan dalam hatinya rasa welas asih dan kepedulian demi tegaknya kehormatan Ummah ini.
Ia bercerita kepadaku bahwa betapa cukup lama ia ingin untuk dapat mempelajari Din Islam secara serius, dan ia ingin agar dapat kesempatan untuk duduk menjadi santri di hadapan seorang Sheikh di Afghanistan, menyerap ilmunya dan menjadi muridnya yang serius. Aku suka berbicara padanya tentang berbagai rencana-rencana di masa depan, dan kesempatan-kesempatan bertemu dengan orang-orang penting (para pimpinan Mujahidin), dan dia mengungkapkan kepadaku betapa inginnya ia membawa keluarganya ke Tanah Jihad yang Diberkati ini. Ia sungguh bahagia melihat bagaimana Islam berusaha untuk ditegakkan secara total seperti ia menyaksikannnya di Afghanistan. Setiap saat ia mendengar berita kebaikan, keadilan yang ditegakkan melalui Kitabullah, wajahnya bersinar gembira. (….Ya Allah,… tegakkan kembali Daulah Al Qur’an di Tanah Afghanistan, Daulah Terhormat yang ditegakkan di atas Pucuk-Pucuk Tombak, Daulah Izzah yang disuburkan dengan Sungai-sungai darah, Daulah yang satu saat pernah menjadi tumpuan harapan bagi para Muhajirun…)
Aku takjub melihat betapa cepatnya ia menyatu dengan Negeri ini dan orang-orangnya, seakan ini semua adalah Karunia Allah atas seluruh amal kebajikannya ketika ia giat berda’wah, dan bagaimana ia sungguh-sungguh bekerja mempersiapkan diri, ketika ia masih di negeri asalnya, dan betapa ia tak jemu berdoa memohon kepada Allah Sang Maharaja. Dan Allah mengabulkannya. Dan agaknya Allah memang telah memilih Tanah Jihad ini sebagai tempat tujuan terakhirnya, di mana jasadnya kelak akan beristirahat, dan jiwanya dianugerahi Kehormatan langka dengan Syahadah di JalanNya. (…Dan dari Tanah ini, Suraqah akan bangkit kelak di Hari Qiyamat, bergabung bersama Qowafilusy Syuhada… Insya Allah)
Kepribadian Asy Syahid
Waktu pun berjalan, dan kami mulai mencapai beberapa kemajuan, tetapi masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Satu saat pernah aku terserang rasa jemu sehingga membuatku futur dan malas. Aku jadi lebih suka berlama-lama istirahat, aku merasa kesehatan tubuhku menurun drastis. Banyak pekerjaanku menjadi terbengkalai. Tetapi, Suraqah tetap bekerja dengan giat. Dialah yang meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang semestinya aku selesaikan. Aku masih ingat ketika terbangun tiba-tiba di tengah malam, dan aku dapati Suraqah masih duduk mengetik, menyelesaikan tugas. Karena kesungguhan Suraqah, Segala Puji bagi Allah, kami dapat mengejar deadlines dari pekerjaan kami (penayangan berita untuk Azzam Publications). Dan dengan ijin Allah pula, hasil pekerjaannya akan dibaca dan menjadi inspirasi banyak orang di masa yang akan datang.
Ada seorang Brother dari Afghan yang sering datang membawakan makanan kepada kami. Suraqah sering mengobrol akrab bersamanya, karena aku jarang berada di tempat. Brother Afghan ini sangat miskin, sehingga ia harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke tempat kami. Satu hari Suraqah datang kepadaku dan mengusulkan jika kami membelikannya sepeda, sehingga Brother Afghan ini dapat memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk bekerja dan memberi nafkah keluarganya. Tidaklah semua ini ia usulkan, kecuali aku merasakan ketulusan yang sangat dan empatinya yang dalam atas Brother Afghan ini, dan inilah satu di antara keunikan kepribadian Suraqah yang sangat membekas di hatiku.
Aku masih mengingat betapa sulitnya membawa sepeda itu ke tempat kami tinggal! Aku masih mengingat bagaimana kami tertawa bersama ketika kami berdua naik sepeda itu sambil berboncengan, kemudian ban sepeda tersebut lagi-lagi bocor, sehingga kami pun harus memanggulnya. Kami pun terkulai kelelahan, sehingga akhirnya kami terpaksa mengangkut sepeda itu dengan taksi! Suraqah terus tertawa dan berkata ‘Jangan menyesal! Ini untuk menolong seseorang yang baik’ dan aku pun hanya diam sambil tersenyum.
Jika kami kebetulan sedang berjalan-jalan, banyak sekali anak-anak miskin dan wanita tua yang datang menghampiri kami untuk meminta uang. Kadang aku merasa iba melihat mereka, tetapi hal tersebut menyentuh hati Suraqah lebih dalam lagi. Ia tidak mampu menolong mereka, tetapi ia memberikan 10 rupees kepada setiap anak yang ia lihat, dan hal ini ia lakukan di setiap kesempatan. Aku bertanya padanya, mengapa ia tidak mengabaikan saja mereka, karena memberi uang seperti itu hanya akan membiasakan mereka. Ia menjawab, “Setiap kali aku melihat anak-anak ini, aku ingat anak-anakku di rumah. Sungguh aku merasa sedih tidak dapat melihat mereka”. Maka aku menyaksikan seakan ia melimpahkan segala kebaikan kepada orang lain, seakan ia tengah berbuat baik kepada keluarganya sendiri. Ia melimpahkan kasih sayang kepada keluarganya melalui berkhidmat kepada orang lain. Semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya kepada Suraqah, kepada istrinya, kepada anak-anaknya, dan seluruh keluarganya.
Setelah bertemu dengan para mujahid dari berbagai negara, timbul keinginan dalam diri Suraqah untuk juga membawa keluarganya hijrah ke Tanah ini dan hidup sebagai keluarga Mujahid. Aku masih mengingatnya bagaimana kadang ia merasa menyesal tidak membawa serta keluarganya bersama. Ia selalu bercerita bagaimana ia berusaha meyakinkan ayah dan ibunya untuk datang ke Afghanistan dan membantu Ummah Islam di sini dengan keahlian mereka. Segera setelah ia menginginkan seperti itu, ia menghabiskan banyak waktu luangnya dengan menulis surat kepada isteri dan saudara-saudaranya. Aku seakan masih menyaksikannya, duduk di sudut sana, kadang tersenyum sendiri ketika asyik menulis surat, seakan ia tengah bercakap-cakap dengan keluarganya melalui surat itu. (… tak terasa air mataku merembes jatuh… )
Aku juga masih ingat bagaimana ia ingin untuk segera dapat maju ke garis depan. Tetapi aku tetap menekankan pentingnya pekerjaan kita ini (sebagai koresponden Azzam Publications), dan memintanya untuk bersabar. Satu saat ia agak frustrasi dan berkata kepadaku, “Aku datang ke sini tidak untuk sekedar duduk-duduk saja, aku ingin bisa menyerta maju ke garis depan, seperti itulah sesungguhnya tabiatku…” Aku katakan kepadanya, “Sabarlah Saudaraku, kesempatanmu pasti tiba, insya Allah…” Lalu ia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya dalam sunyi. Aku bisa merasakan betapa ia ingin segera selesai dari pekerjaan ini, lalu kemudian mengikuti beberapa pelatihan, dan kemudian terjun berperang di Jalan Allah. Yah…, ia memang telah mempersiapkan segalanya demi dapat berangkat ke Tanah Jihad. Kini ia telah ada di sini, dan ia tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi.
Saat-saat Final
Kami harus berpindah ke kota yang lain, karena kami harus bertemu dengan banyak orang dan mewawancara mereka. Suraqah merasa gembira karena kami berpindah lagi, karena kesempatannya untuk semakin dekat dengan medan pertempuran bertambah besar. Perjalanan kali ini sangat sulit, dan salah seorang kru kami menjadi sedemikian lemah, dehidrasi, dan terkena gangguan percernaan hebat, sehingga tidak dapat menelan apapun. Suraqah telah mendapatkan pelatihan dasar P3K dan obat-obatan, sehingga ia dengan sangat sabar merawat ‘Saudara’ kami yang sakit tersebut. Tidak sekalipun aku mendengarnya mengeluh selama perjalanan yang berat tersebut. Aku selalu melihatnya seakan berkontemplasi seperti pendeta. Kami sentiasa berusaha untuk meringankan hati. Kadang Suraqah menyampaikan lelucon yang membuatku tertawa. … Semoga Allah memberkahi aku karena dapat menyertaimu, wahai Sahabat Tercinta, dan kiranya Allah kelak ijinkan kita dapat kembali tertawa bersama…. di SurgaNya yang tertinggi… seperti kita tertawa bersama di kehidupan ini…
Setelah kami tiba di tujuan, kemudian, bersamaan dengan waktuku mendekati akhir (dalam melaksanakan tugas bersama Azzam Publications), kelihatannya Suraqah malah semakin mengakrabi berbicara, mewawancara, dll, lebih dari sebelumnya. Ia menjadi semakin terinspirasi setelah bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya hanya ia dengar dari berita, dan aku menyaksikan ia menjadi semakin serius menyelesaikan pekerjaannya.
Tak lama beberapa minggu tinggal di tempat yang baru ini, Suraqah menjadi orang yang teratur melaksanakan qiyamullail setiap malam. Aku masih ingat jika terbangun di waktu dini hari, dan aku menyaksikannya tengah berdiri dalam shalat. Dia juga selalu berusaha menjaga hafalan Al Quran, dan hafalannya baik sekali. Aku juga selalu mendapati Al Quran bersamanya. Aku tak pernah melihatnya meninggalkan dzikir pagi dan petang (ma’tsurat) dan setelah Shalat Shubuh, aku pasti mendapatinya tengah membaca atau menghafal Al Quran. Kadang-kadang ia melaksanakan shaum sunnah, tetapi hanya ketika ia tiba di kota yang baru itu ia melaksanakan shaum sunnah dengan lebih teratur. Di tempat yang baru, siang hari berlangsung sangat lama, dan suhu udara demikian tinggi, dan semestinya ia tidak berpuasa dalam keadaan demikian, karena ia punya penyakit perut. Tetapi ia tetap menjaga shaumnya. Satu hari kami berdua berpuasa, dan hari itu panas sekali. Bebrapa jam menjelang waktu berbuka, kami berdua merebahkan diri di lantai, lemah dan haus, ketika itu ia berkata kepadaku, “Tidakkah engkau tahu, bahwa kaum Salaf menangis menjelang kematiannya di atas tempat tidur, karena mereka mengharapkan diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat shaum pada hari yang panjang dan berat?” Aku tak bisa lupa cara ia berkata itu kepadaku. Semoga Allah menerima seluruh amal shalihmu wahai Shahabat.
Dalam satu kesempatan yang lain, kami harus mengadakan perjalanan dan aku menyarankannya untuk tidak berpuasa karena akan melelahkan dirinya. Suraqah menatapku dan berkata, “Hanya dengan kesediaan untuk mengangkat beban yang lebih berat, maka Allah pun bersedia mengangkat derajat kita, dan memberikan kita kemenangan, sebagaimana para Shahabah dulu… Aku tidak akan menghentikan shaumku”. Aku merenung dalam memikirkan apa yang baru saja ia katakan, dan aku menyadari bahwa agaknya aku tengah berhadapan bukan dengan seorang manusia biasa. Inilah mungkin di antara kepribadian, serta akhlaknya yang seperti ini, yang aku yakini membuatnya istimewa di hadapan Allah, sehingga di antara sekian banyak manusia di atas dunia, Allah pun mencatat namanya sebagai salah satu di antara mereka yang beruntung, bergabung dengan Qowafilusy Syuhada (Kafilah Para Syuhada), insya Allah…
Mimpi
Satu malam di musim panas, Agustus 2001, ia terbangun dari tidurnya di tengah malam dan berkata padaku, “Aku baru saja bermimpi sangat aneh”. Aku memintanya menceritakan mimpinya barusan. Ia berkata, “Aku menyaksikan bangunan yang tinggi seperti Menara Eifel, kemudian bangunan itu hancur runtuh, dan media massa ramai memberitakan banyaknya orang yang terbunuh dalam peristiwa itu”. Kami pun membuat lelucon mengenai mimpinya, lalu aku menyuruhnya kembali tidur. Tetapi mungkin ia telah diperlihatkan sebagian dari kejadian masa depan…. melalui mimpinya. Allah Sang Maha Tahu, dan Allah memberikan mimpi yang benar kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Dua Saudara Karib Berpisah
Saatnya pun tiba bagiku untuk pergi dari Afghanistan, dan Suraqah pun dapat bergabung dengan Mujahidin dalam medan pertempuran. Pada hari-hari menjelang perpisahan itu, aku masih ingat duduk bersamanya, dan ia menasehatiku agar segera kembali untuk dapat bahu membahu menolong Ummah Islam dan Din Allah di Bumi Jihad yang diberkati ini. Kami pergi ke pertokoan dan ia ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk isteri dan anak-anaknya. Aku ingat ia tampak gembira sekali, banyak tersenyum, banyak bercanda dan membuat lelucon. Ia berkata bahwa ia bahkan tidak mampu sekedar membelikan isterinya pakaian tua/usang, dan di toko itu tidak ada yang dapat ‘menyenangkan’ isterinya. Kami berjalan ke beberapa toko, lalu ia melihat beberapa pakaian untuk anak laki-lakinya, ia pun memilih pakaian yang terbaik kualitasnya dan warnanya. Ia pun membelinya dan menyerahkan kepadaku, lalu berkata, “Aku ingin engkau memberikan ini kepada anak-anakku. Sampaikan salamku pada isteri dan keluarga…., katakan pada mereka, betapa aku tidak pernah melupakan mereka….”
Hatiku bergetar mendengarnya, dan jika aku mengingatnya kembali, pecah tangisku…
Aku masih ingat matanya berkaca-kaca, kesedihan memancar dari wajahnya. Aku pun menghiburnya dan membuat lelucon tentang betapa kami ‘tersesat’ berputar-putar di pertokoan itu, dan betapa Suraqah tidak pandai menawar harga barang!
Ia memintaku untuk menyerahkan suratnya untuk Saudara laki-lakinya. Aku bisa melihat betapa ia sangat dekat dengan saudaranya itu. Suraqah sering bercerita tentang saudaranya itu, betapa sering ia menasehatinya untuk segera menikah dan segera berangkat bergabung bersamanya di Tanah Jihad. Suraqah selalu berbicara dengan antusias, mencerminkan ambisinya yang besar demi Din, keluarga, dan kehidupannya. Semoga Allah menyatukan ia dan keluarganya di SurgaNya yang tertinggi.
Saatnya bagi Suraqah untuk berangkat tiba. Di pagi itu kami duduk dan mengobrol. Aku memberinya beberapa nasehat. Ia begitu gembira hari itu, karena inilah hari yang ia telah lama menunggu sepanjang hidupnya. Aku ikut gembira untuknya, tetapi juga merasa sedih karena akan berpisah dengannya, dan aku tidak tahu akankah kami dapat berjumpa lagi.
Mobil yang menjemputnya tiba. Ia tidak berkata apa-apa padaku, kecuali tersenyum; aku pun ikut tersenyum dan memintanya agar jangan melupakanku dalam doa-doanya. Ia kembali tersenyum padaku, lalu duduk di kursi mobil jeep itu. Aku hanya mampu berdiri dan menatapnya, bersamaan dengan jeep itu melaju menjauh. Kesedihan memenuhi relung jiwaku, dan perasaan tak menentu apakah aku dapat kembali berjumpa dengannya… aku masih mengingat saat-saat perpisahan itu, seakan hari itu baru berlalu kemarin, dan ketika aku mendengar kabar syahidnya, tidak satu haripun kecuali aku sentiasa terkenang kepada Saudaraku yang baik itu….
… Ia adalah Putra kandung dari Ummah ini, yang berhasil menyelamatkan diri dari belenggu fitnah kehidupan dunia, lalu hijrah pulang ke Kerajaan Allah, dengan menempuh Jalan Jihad dan Izzah. Seorang pejuang yang teguh, yang hidup demi aqidahnya, demi Din yang ia yakini. Wahai Saudaraku tercinta, semoga Allah menurunkan hidayah kepada banyak pemuda yang lain, melalui kisah pengorbananmu, dan biarlah hanya Allah yang akan menjadi Penjamin bagi keluargamu… Ya Allah… persatukan Suraqah beserta orang-orang yang ia cintai di SurgaMu yang tertinggi…
Pertempuran Tora Bora
Dan Armada Salib Kekaisaran Ketiga pun melancarkan serbuannya terhadap Islam dan Ummahnya di bulan Oktober 2001. Ketika Taliban memutuskan untuk meninggalkan kota-kota dan bergerak mundur menuju pegunungan, Suraqah adalah di antara para pejuang yang ikut mundur dan menyusun pertahanan di puncak-puncak pegunungan Tora Bora, Wilayah Timur Afghanistan. Komander Tentara Salib Kekaisaran Ketiga, Amerika Serikat, melancarkan serangan hebat ke berbagai posisi pertahanan Mujahidin di Tora Bora. Rangkaian pertempuran yang terjadi di bulan November 2001 itu tercatat sebagai salah satu pertempuran paling hebat saat ini.
Tora Bora adalah wilayah pegunungan yang terdiri dari bukit-bukit rendah mengelilingi puncak-puncak gunung tinggi. Diperkirakan Tentara Crusader Amerika akan mendarat lebih dulu di wilayah bukit-bukit rendah. Karena itu, Komander Mujahidin memerintahkan kepada para Mujahid yang masih baru dan belum berpengalaman untuk naik ke puncak gunung yang tinggi dan menyusun pertahanan di sana, sementara para Mujahid yang telah berpengalaman akan bersiap menyambut Tentara Salib di pelataran bukit-bukit rendah. Suraqah menemui Komander regunya, dan meminta agar ia diijinkan untuk ikut bersama para pasukan yang bersiap di pelataran bukit rendah, karena ia ingin menghadapi langsung tentara Amerika saat tibanya mereka. Permintaannya ditolak, dan walaupun agak enggan ia tetap patuh pada perintah komandernya untuk berangkat ke puncak gunung.
Sepanjang November 2001, bertepatan dengan Bulan Ramadlan 1422 Hijrah, pertempuran Tora Bora yang legendaris itu pecah. Amerika menjatuhkan berton-ton bom meluluhlantakkan seluruh area wilayah pegunungan, tanpa diskriminasi. Begitu hebatnya curahan bom yang dijatuhkan tanpa henti itu, sehingga seakan tidak ada beda antara malam dengan siang: kilatan api dan ledakan amunisi menerangi langit, sebagaimana kilatan api menutupi permukaan bumi. Suraqah membawa perlengkapan P3K. Ia sebetulnya bukan seorang dokter, tetapi mungkin…, perannya dalam kancah pertempuran itu melebihi apa yang telah dikerjakan para dokter-dokter muslim, yang saat ini berpraktek di rumah–rumah sakit mewah mereka…
Kapan saja ia mendengar dari radio ht ada seorang mujahid terluka, Suraqah segera ‘terbang’ ke tempat mujahid yang terluka itu, tanpa memperdulikan hujam peluru, bom, dan artileri di sekitarnya. Tidak lama setelah ia ‘mengobati’ mujahid yang terluka, ia mendengar lagi dari radio ada mujahid yang terluka di kaki gunung. Maka ia segera menyambar perlengkapan P3Knya dan melesat menuruni lereng gunung, membelah badai mortir… Demikianlah, ia berlari ke sana ke mari, naik turun bukit dan gunung di Tora Bora. Jika ia kebetulan berhadapan dengan tentara musuh, maka ia pun menghadapinya tanpa ragu…
Doa Sang Mujahid
Rasulullah saw pernah bersabda: “Seorang pejuang di Jalan Allah, seorang pergi hajji, dan seorang yang pergi berumrah, kesemuanya adalah para Tamu Allah. Allah menyeru mereka, dan mereka mentaati seruan Allah. Maka jika mereka meminta kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan permintaannya” (Shahih, riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Suraqah telah berada di tengah kancah pertempuran Tora Bora selama beberapa minggu, dan 10 hari terakhir Ramadlan tiba. Satu saat di waktu malam, seorang mujahid bercerita bahwa ia melihat Suraqah sendirian, tengah berdiri di tepian puncak gunung. Ia memakai pakaian ‘militer’ lengkapnya, rompi bajunya penuh dengan magazin peluru, dan tangannya menyandang senapan AK 47. Udara begitu dingin, beberapa derajat di bawah nol, sementara angin gunung bagai es yang memecah tulang bertiup kencang seperti serigala melolong. Tetapi peluh mengucur deras dari tubuh Suraqah. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya ke arah langit dan berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan aku meninggalkan pegunungan ini, kecuali setelah Engkau anugerahkan syahadah padaku di sini”
Syahadahnya
Malam itu adalah malam Jum’at, 29 Ramadlan 1422 Hijrah. Banyak para Mujahidin mempersaksikan bahwa Lailatu Qadr tahun ini bertepatan dengan tanggal 29 Ramadlan. Waktu menunjukkan kurang lebih jam sembilan malam, dan Suraqah beserta 20 Mujahidin tengah berpindah ke posisi yang lain, di lereng landai pegunungan Tora Bora. Tiba-tiba, satu konvoi pesawat pembom Amerika meraung di atas kepala mereka. Diikuti setelah itu berton-ton bom melengking jatuh di atas mereka: sekonyong-konyong bom-bom metal (bom curah / cluster bomb) itu meledak sebelum jatuh ke tanah, menyemburkan serpihan-serpihan bomblet merah membara. Suasana ledakan bom-bom tersebut seperti siraman kembang api. Satu serpihan dari bomblet membara itu memuat nama Suraqah Al Andalusi…..
Mimpi Yang Mengikuti Syahadahnya
Beberapa saat setelah syahidnya Suraqah Al Andalusi, keluarga dan sahabatnya mendapat berbagai mimpi. Isterinya bermimpi, ia melihat seekor burung yang terbang oleng di tengah sebuah pulau. Burung itu pun jatuh dan terkulai di atas tanah cadas, bulu-bulunya terbakar, sang burung seakan sekarat dan tengah meregang nyawanya. Tiba-tiba dari arah ketinggian langit meluncur turun seekor burung berbulu putih gemerlap, yang langsung hinggap di sisi burung yang pertama. Burung yang pertama, yang bulunya terbakar habis itu, kemudian kulitnya rontok. Lalu tumbuh di atasnya kulit yang baru, kemudian dari kulit itu muncul bulu-bulu berwarna indah cemerlang. Kemudian kedua burung itu terbang melesat naik ke langit.
Saudara laki-laki Suraqah bermimpi, ia pergi mencari Suraqah. Kemudian ia bertemu dengan sekelompok laki-laki berjubah putih dan menyandang senjata. Ia bertanya pada mereka, “Di mana Saudaraku?” Kelompok orang itu kemudian menunjuk ke arah ketinggian, dan di sana terlihat puncak gunung berwarna putih. Ia kemudian naik mendaki gunung tersebut. Ketika tiba di puncaknya, ia kembali bertemu dengan sekelompok orang berjubah putih dengan menyandang senjata. Kembali ia bertanya, “Di mana Saudaraku?” Kelompok orang tadi kembali menunjuk ke arah ketinggian,…. dan di sana, terlihat lagi puncak gunung berwarna putih. Saudaranya kemudian mendaki kembali gunung tersebut….. Demikian berulang-ulang.
Saudara perempuannya bermimpi Suraqah pulang berkunjung ke rumah keluarganya. Dalam mimpi itu semua orang menyaksikan tubuh Suraqah sedemikian tinggi, sehingga tiap orang harus mendongakkan kepala untuk berbicara dengannya, sementara seluruh tubuhnya diliputi oleh cahaya.
Salam Perpisahan
Maka biarlah kami menyampaikan salam perpisahan kepadamu, wahai Saudara Tercinta, dengan kata-kata dari seorang Ulama Mujahid yang telah menginspirasimu begitu dalam. Kami berharap, saat ini engkau tengah bersama-sama dengannya, di Jantung Burung-burung Hijau, di Mahligai Cahaya, tepat di bawah Singgasana Ar Rahim, di Firdaus yang Tertinggi.
Dari Syahid Sheikh Abdullah Yusuf Azzam:
“Mungkin bagi orang-orang berpandangan sempit dan berhati kerdil, serta bagi orang-orang yang jiwanya terpenjara oleh ruang dan waktu, kisah-kisah ini sekedar sebuah kisah….. terjadi, dan selesai… Sang Maut mengibarkan jubahnya dan menelan para syuhada ini, dan putaran roda waktu bergerak tanpa peduli siapapun orangnya.
Tetapi, bagi mereka yang berpandangan jernih, serta hatinya diterangi dan tercerahkan, semua pengorbanan ini adalah batu pondasi bagi generasi masa depan untuk berpijak, batu pondasi bagi peradaban nanti yang akan tegak. Seluruh kisah ini, seluruh pengorbanan ini adalah ‘maalim fit thaariq’, rambu-rambu arah dari seluruh perjalanan Din ini, untuk mereka yang berkeinginan menapaki jalan para Pelopor, atau untuk mereka yang mau menempuh jejak langkah Golongan Elit Terpilih ini…”
“Mereka semua adalah dari kalangan yang diberi petunjuk oleh Allah, karena itu ikutilah mereka… (Quran 6:90)
“Sungguh, beberapa contoh teladan dari para Syuhada ini, datang dari kalangan orang-orang kaya raya. Tetapi mereka berhasil memecahkan belenggu dunia, lalu mereka berhijrah, pulang ke KerajaanNya, di sini di Tanah Jihad Afghanistan, hidup di gunung-gunung cadas, hingga Allah memperkenankan mereka pulang ke Tanah Abadi……”
“Kami memohon kepada Allah agar kami bisa bergabung dengan mereka yang mulia itu, di SurgaNya yang tertinggi, bersama para Nabi, para Shidiqqin, para Syuhada, dan para Shalihin… dan betapa baiknya kumpulan orang-orang itu…”
Tertanggal: 03 April 2002
Add comment 14 May 2008
Komandan Muhammad Athef Al Mishri
Alhamdulillah, was sholatu was salamu ‘Ala Rosulillah. Kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sosok mujahid yang banyak dilupakan para pemuda jihad hari ini, belaiu adalah Abu Hafs Al-Mishri -semoga Alloh menerima beliau sebagai syuhada-, beliau adalah sosok yang sangat ditakuti musuh, walau sekedar mendengar namanya. Nama Asli beliau adalah Shubhi Abdul Aziz Abu Sittah Al-Jauhari. Sering juga dikenal dengan sebutan Muhammad Athef. Amerika lebih kenal siapa dia daripada kita, karena saking takutnya mereka. Lahir di Mesir pada 17 Januari 1958. Bergabung dengan mujahidin Afghan tahun 1402 H, tujuan beliau untuk mengajari mujahidin lainnya tentang ilmu-ilmu kemiliteran. Sebab beliau adalah mantan tentara Angkatan Bersenjata Mesir. Beliau melatih para pemuda mujahid di sana.
Beliau ikut dalam pertempuran Ma`sadatul Anshor, ketika Alloh menangkan mujahidin atas kekuatan paling ganas di bumi kala itu, Uni Soviet. Diceritakan bahwa hujan bom dari pesawat terus menerus mendera tanpa henti selama beberapa hari, sahut menyahut dengan balasan suara senjata roket anti pesawat. Perlawanan ini dilancarkan mujahidin untuk memberi peringatan kepada Soviet agar segera angkat kaki dari Afghanistan, apalagi agresi mereka saat itu tidak membuahkan hasil kemenangan, justru berbagai kerugian. Para jendral Soviet sempat memberi kesempatan terakhir kepada Abu Hafsh agar keluar dari Afghanistan. Mereka mengancam akan mendesaknya hingga ke perbatasan Pakistan. Tetapi, sekelompok kecil mujahidin berhasil mematahkan gempuran mereka, yang jumlahnya tak lebih dari 70 pemuda seusia SMA sebagaimana diceritakan sendiri oleh Syaikh Usamah -hafizahulloh-. Pasukan beruang merah berhasil dikalahkan hanya semata-mata karena anugerah dari Alloh. Bahkan konon, ada seorang pemuda arab berperawakan kurus kering yang berhasil membunuh tiga bule Rusia sekaligus hanya dengan sebutir peluru senapan jenis PK, padahal ketiganya adalah dari kesatuan elit sekelas Comandoss. Saking profesionalnya pasukan elit ini -masih menurut penuturan Syaikh Usamah-, mereka berhasil mendekati daerah mujahidin tanpa terdeteksi gerak-geriknya, mereka menggunakan suara burung pipit sebagai kode. Singkatnya, daerah ini telah terkepung oleh berbagai peralatan canggih dan pasukan terelit yang dimiliki Russia. Akan tetapi Alloh berkendak untuk menolong hamba-hamba-Nya yang bertauhid, sehingga nyatalah apa yang Alloh firmankan: “Jika Alloh menolong kalian, tidak ada yang mampu mengalahkan kalian…” “Betapa seringnya, satu kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak atas izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang bersabar.” Tokoh kita ini, ikut ambil bagian cukup besar dalam pertempuran sengit kali ini. Tetapi Alloh belum takdirkan ia menemui kesyahidan, barangkali di sana ada hikmah yang hanya Alloh yang tahu.
Begitu pertempuran di Jaji reda, beliau ikut dalam mengatur pertempuran-pertempuran di Jalalabad. Pertempuran kali ini tak kalah sengitnya. Beliau menggunakan taktik perang gerilya. Alhamdulillah, sekian pesawat berhasil dirontokkan, tank-tank baja mampu diluluh lantakkan, dan banyak sekali musuh-musuh Alloh itu yang terbunuh. Pada kesempatan ini, Abu Hafsh termasuk orang yang beruntung. Selesai perang Afghan, suasana politik dalam negeri berubah. Mulailah terjadi pertempuran-pertempuran antar kelompok untuk memperbutkan kursi kekuasaan. Dalam fitnah ini, beliau memilih untuk tidak campur tangan. Bersama sahabat dekatnya, Usamah bin Ladin, beliau hijrah ke Sudan untuk menyiapkan kekuatan dalam rangka membebaskan umat Islam dari kehinaan. Terutama membebaskan tanah wahyu -Jazirah Arab-dari penjajahan Amerika Serikat. Langkah pertama yang beliau tempuh adalah mengajak para pemuda Islam untuk terjun ke medan pertempuran di Somalia yang kala itu diduduki oleh pasukan AS. AS memiliki misi terselubung untuk menjajah negeri tersebut, meski beralasan hendak mendamaikan antar kelompok yang bertikai. Sama dengan ketika menjajah Jazirah Arab sebelumnya. Pertempuran di sini tidak berlangsung lama, Amerika terlalu pengecut untuk berhadapan dengan mujahidin. Dalam perang ini, AS mengalami nasib naas dengan dijatuhkannya satu helikopter Black Hawk-nya. Sebenarnya tidak seberapa yang tewas dari mereka, namun mereka sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pertempuran. Dan tak lama setelah itu, Clinton mengumumkan penarikan pasukannya dari Afrika Timur. Semua ini menghancurkan mitos bahwa Amerika adalah negara adi daya, yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan manapun di dunia ini. Seolah dunia menjadi faham setelah itu, bahwa kekuatan AS tak lebih sekedar propaganda di film-film.
Pasca peperangan di Somalia, para petinggi Al-Qaeda -termasuk di antaranya beliau, Abu Hafsh- mulai yakin bahwa mereka mampu mengalahkan Amerika, walau dengan sedikit persenjataan, maka mereka mulai berfikir bagaimana menyiapkan para pemuda Islam -terutama Arab-untuk menghadapi peperangan berikutnya melawan Amerika. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuat kamp-kamp tadrib (latihan militer) untuk para pemuda Islam. Setelah pemerintah Sudan menyelisihi kesepakatan dan prinsip bersama yang telah disepakatinya bersama mujahidin, mereka meminta Syaikh untuk meninggalkan Sudan, karena tekanan dari Amerika. Padahal, beliau telah memberikan banyak sumbangsih dalam perkembangan sarana di sana, yang pemerintah sendiri tidak mampu melakukannya. Akhirnya, Syaikh Usamah, Abu Hafsh, beserta mujahidin lainnya harus berhijrah kembali ke bumi Afghanistan, bumi hijrah dan jihad, untuk memulai kembali tahapan jihad yang sudah tidak sabar lagi untuk mereka mulai. Karena ketika itu di Afghanistan telah tegak pemerintahan yang menerapkan syariat Alloh, berwali kepada orang-orang beriman yang jujur, serta memusuhi musuh-musuh Alloh, maka tidak terlalu sulit bagi Syaikh untuk membangun kamp latihan.
Sejak awal berdirinya, pemerintahan yang dipimpin oleh Syaikh Mujahid Mulla Muhammad ‘Umar ini, sudah mengumumkan penerapan syariat Alloh. Maka para pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke sana untuk mengikuti latihan militer. Program pertama pun terlaksana. Program berikutnya, serangan yang begitu menyakitkan terhadap “berhala modern” Amerika dalam sebuah amaliyah yang mengagetkan seluruh dunia. Yaitu dibomnya markas Intelejen CIA di Afrika (kedutaan AS di Nairobi dan Darus Salam). Ketika itu, gema takbir membahana di mana-mana di seantero Afghanistan dan dunia Islam. Karena itulah pukulan pertama dari mujahidin terhadap “biang segala kerusakan dan kekufuran” , Amerika. Tetapi satu hal yang harus kita catat, perancang serangan ini adalah Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, tokoh yang sedang kita bicarakan sekarang. Setelah aksi serangan ini, para pemuda dari berbagai belahan dunia, baik arab maupun non arab, kulit hitam atau kulit putih, semakin bersemangat untuk ikut serta dalam program tadrib Al-Qaeda. Sudah menjadi perkara yang dimaklumi bersama ketika itu, Syaikh Abu Hafsh adalah sosok yang tidak suka berdiam diri dan berpangku tangan, tidak pernah bosan untuk beramal. Sehingga beliaulah yang akhirnya menjadi penanggung jawab kamp-kamp latihan di sana, beliau pula yang menjadi penanggung jawab operasi-operasi yang akan dilancarkan. Dan beliau juga yang bertanggung jawab mengurusi urusan administrasi dan pendanaan. Maka memang beliau bisa disebut sebagai tangan kanan daripada Syaikh Usamah bin Ladin -hafidzahulloh-.
Karena Amerika mendengar keberanian dan kepiawaian Abu Hafsh dalam melancarkan berbagai operasi serangan, Amerika memasukkannya pada urutan kedua para buron terorist dunia yang paling dicari setelah Syaikh Usamah bin Ladin. Karena beliaulah yang menjadi wakil Syaikh Usamah setelah komandan Abu Ubaidah Al-Pansyiri syahid. Amerika mengerti bahwa orang ini sangat berbahaya, maka mulailah dinas intelejen mereka merencakan dan melakukan berkali-kali usaha pembunuhan terhadap beliau. Akan tetapi Alloh Ta’ala masih melindungi beliau.
Selang tak berapa lama, terjadi peristiwa peledakan kapal Destoyer USS Cole di teluk Adn. Syaikh Abu Hafsh punya peran besar dalam aksi serangan ini, beliau turut merencanakan dan mengatur jalannya operasi. Begitu mendengar serangan ini berhasil, diceritakan bahwa Syaikh Usamah langsung mengacungkan senapan AK 47 nya ke langit dan menembakkan beberapa rentetan peluru, sembari berteriak bahagia, “Ini adalah pembalasan untuk darahmu, wahai Mihdhar…” Mihdhar adalah Syaikh Abul Hasan Al-Mihdar, yang dibunuh oleh fihak Amerika melalui tangan bonekanya di penguasa Yaman, Presiden Ali Abdulloh Sholeh. Kapal ini tadinya juga berangkat untuk memberikan bantuan kepada yahudi dalam memerangi para mujahidin Palestina. Serangan ini menampakkan pengkhianatan negara-negara arab yang ternyata justeru memberikan simpatinya kepada Amerika.
Setelah operasi kali ini, Amerika mulai menyiapkan strategi serangan militer untuk diarahkan kepada mujahidin di Afghanistan, persiapan ini tidak diekspos kepada dunia. Tetapi, Alhamdulillah, gerakan-gerakan ini tercium oleh mujahidin, sehingga mereka harus mendahului menyerang -sebab cara bertahan terbaik adalah menyerang-. Akhirnya, mujahidin berhasil mengukir sejarah yang sungguh teramat sulit dilupakan oleh Amerika, dan mengangkat kepala seluruh kaum muslimin. Yaitu, aksi istisyhadiyah yang merontokkan pusat perekonomian dan pertahanan mereka. Mujahidin berhasil menyerang Amerika terlebih dahulu pada 11 September 2001, dengan menabrakkan pesawat ke menara kembar WTC dan gedung Pentagon. Dalam operasi kali inipun, Syaikh Abu Hafsh-lah yang menjadi penanggung jawab langsung. Beliau memilih beberapa orang pemuda, mentraining mereka, dan mengingatkan mereka agar selalu bersandar kepada Alloh Ta’ala. Maka para pemuda itupun berangkat ke negara kafir itu, bukan untuk bermaksiat sebagaimana dilakukan kebanyakan pemuda hari ini. Mereka datang untuk membinasakan Amerika, mereka hanya bertawakkal kepada Alloh dan kemudian menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh dengan sedemikian detail, serta kapan operasi akan dilaksanakan.
Sementara itu, di bumi ribath, Afghanistan, para mujahidin tak henti-hentinya berdoa kepada Alloh agar menolong ikhwan-ikhwan mereka dan memberikan kemenangan melalui tangan mereka. Doa mereka dikabulkan oleh Alloh. Terjadilah ledakan besar seperti telah direncanakan, bahkan ternyata lebih dahsyat. Gema takbir terus bergema di bumi Afghanistan, mengiringi kemenangan bersejarah ini. Kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, terutama Palestina, sampai ada yang menangis karena ternyata Alloh masih menyiapkan orang-orang yang membela dan membalaskan sakit hati mereka karena terus ditindas. Mereka adalah orang-orang yang tidak menonjol kepribadiannya tapi tinggi ketakwaannya, yang bekerja di balik tabir semua orang, dan di antaranya adalah syaikh kita, Abu Hafsh Al-Mishri.
Dan, sudah bisa ditebak. Pasca serangan ini, Amerika menjadi linglung dan menggila. Iapun segera mengumumkan genderang perang salib terhadap dunia Islam, terutama Afghanistan. Dan yang disayangkan, negara-negara Arab justru berdiri di fihak Amerika. Karena Amerika menghembuskan ancaman mematikannya: “Bersama kami, atau bersama terorist.” Inilah serial perang Salib paling ganas yang pernah menimpa dunia Islam sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW. Abu Hafsh tidak kemudian berhenti membuat perencanaan, beliau terus menggalang para pemuda untuk melakukan persiapan. Sebab sekarang adalah bulan Shafar, harus ada perang. Dan perang kali ini sangat menentukan, perang eksistensi negara Islam.
Benar saja, Amerika mulai menghujani Afghanistan dengan berton-ton bom. Rata-rata satu bom memiliki berat hingga tujuh ton. Perburuan terhadap Syaikh Usamah CS semakin meningkat, terutama di awal-awal agresi AS. Bahkan mereka menyewa mata-mata untuk menguntit pergerakan mujahidin, menyebarkan pengumuman hadiah besar bagi yang bisa menunjukkan keberadaan Syaikh dan ikhwan-ikhwannya. Tetapi meski perburuan yang ketat, Abu Hafsh tidak kemudian lemah nyali. Beliau terus melatih para pemuda untuk melancarkan serangan menyakitkan berikutnya kepada Amerika. Padahal ketika itu, beliau menderita penyakit tulang karena efek dari jihad yang beliau lakukan dulu. Makanya, beliau menghimbau kepada para mujahidin muda untuk tidak terlalu memaksakan diri menghadapi cuaca yang teramat dingin. Karena beliau terkena penyakit ini ketika berlangsung pertempuran di Jaji, ketika beliau masih muda dan tidak peduli dengan dinginnya udara. Sehingga baru terasa pengaruhnya ketika beliau tua. Syaikh Abu Hafsh tak hentinya memanjatkan doa agar dikaruniai kesyahidan. Dan akhirnya Allohpun mengabulkan doa beliau -nahsabuhu kadzalika, wallohu hasibuhu-.
Komandan Abu Hafsh sangat mirip dengan Syaikh Usamah bin Ladin, baik postur tubuh, jenggot, bahkan raut mukanya. Beliau terpaksa harus berpisah dengan Syaikh Usamah dan para mujahidin lainnya, untuk kebaikan kaum muslimin juga, agar mereka tidak terlalu terpengaruh dengan terbunuhnya sosok seorang pemimpin. Kisah gugurnya beliau adalah sebagai berikut: Suatu malam di bulan Romadhon penuh berkah, selepas berbuka puasa, beliau ada jadwal berkumpul dengan singa-singa Alloh yang telah beliau siapkan untuk melancarkan operasi istisyhadiyah besar di Palestina. Selesai memberikan brifing terakhir kepada mereka dan melengkapi kekurangan-kekurangan yang dianggap perlu, beliau memberi nasehat kepada mereka tentang tanggung jawab kita terhadap umat di hadapan Alloh kelak. Selesai pertemuan, singa-singa itu pergi untuk menyantap hidangan sahur di rumah salah seorang ikhwah. Begitu memasuki rumah, Abu Hafsh merasa ada seseorang yang menguntit dirinya tanpa disadari oleh ikhwan-ikhwan yang lain. Akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke rumah yang lain. Sesampainya di rumah yang baru, dugaan beliau benar, ada seorang mata-mata dari penduduk asli Afghan yang menguntit beliau. Melihat postur tubuh dan jenggotnya, mata-mata ini mengira beliau adalah Syaikh Usamah. Maka ia meletakkan sekeping logam di dekat rumah tadi dan memberikan pesan kepada Amerika akan keberadaan Syaikh Usamah di rumah ini. Tak lama berselang, pesawat-pesawat mereka datang dan menembakkan jet-jetnya dengan deras, sehingga mereka mengira dengan sesingkat itu mampu memadamkan api jihad yang tengah membara dengan terbunuhnya Syaikh Usamah. Rumah sederhana itu luluh lantak dengan rudal-rudal mereka, syaikh Abu Hafsh dan ikhwan-ikhwan yang menyertai beliau akhirnya gugur untuk berjumpa Alloh Ta’ala. Kesyahidan menjemput mereka seperti yang mereka cita-citakan. Mereka syahid dalam kondisi berniat menyerang musuh, tak mundur sedikitpun. Adapun kalau setelah itu syahid, justru itu lebih baik bagi mereka. Asalkan niat mereka tetap lurus.
Keesokan harinya, ikhwan-ikhwan mencari jenazah beliau di bawah reruntuhan rumah. Mereka menemukan jasad beliau layaknya orang tidur. Terpancar cahaya dan sunggingan senyum di wajahnya. Dan anehnya, beliau tidak mengalami luka sedikitpun, dari tubuh beliau juga menyebar aroma misik yang tercium oleh semua yang hadir. Musuh-musuh Alloh gembira betul mendengar berita kematian beliau. Sebaliknya, mujahidin sangat sedih dan terpukul dengan peristiwa ini. Mereka menangis karena harus berpisah dengan syaikh, ayah, paman, dan kakak mereka yang satu ini.
Dulu, beliau dikenal sangat simpati kepada pemuda yang mau berjihad, beliau menganggap mereka sebagai orang-orang yang lebih baik daripada beliau. Menurut beliau, mereka bersedia datang ke Afghan untuk tadrib dan jihad adalah sebuah kelebihan tersendiri. Beliau dikenal sangat baik budi pekertinya, apalagi terhadap para mujahidin. Bahkan kepada para pekerja Afghan yang miskin. Beliau cinta mereka dan merekapun cinta beliau. Semua orang seolah mencintai beliau. Bahkan, kalau anda bermajelis sekali saja dengan beliau, anda akan langsung mencintai beliau. Sesekali menghadapkan wajahnya kepada fulan, kemudian tersenyum kepada yang lain, kemudian merangkul pundak fulan. Begitulah, beliau mencontoh Rosululloh SAW dalam semua hal, sampai urusan tersenyum. Di antara bentuk kecintaan beliau terhadap Syaikh Usamah adalah, beliau menikahkan putrinya dengan putra Syaikh yang bernama Muhammad.
Tadinya, beliau berencana membentuk kesatuan tentara Islam yang profesional untuk membebaskan negeri-negeri kaum muslimin. Beliau selalu menghimbau kepada setiap pemuda yang ikut latihan untuk mendalami bidang kemiliteran yang dikuasai masing-masing secara profesional. Hal ini beliau maksudkan, agar mereka nanti menjadi acuan dalam pembentukan kesatuan ini. Akan tetapi, Alloh berkehendak lain. Beliau wafat sebelum rencana beliau terwujud. Namun, Insya Alloh, para perwira sepeninggal beliau tetap akan bertekad mewujudkan rencana beliau ini, semuanya tentu berpulang kepada pertolongan Alloh yang Mahaperkasa. Ikhwan-ikhwan menguburkan beliau sembari menangis. Menangis sedih sekaligus bahagia. Sedih karena berpisah dengan syaikh dan ustadz mereka. Bahagia karena beliau menemui apa yang beliau cita-citakan selama ini, sebab beliau sudah lama berjihad dan tidak kunjung dikarunia kesyahidan. 25 tahun lebih dari umurnya beliau habiskan untuk membela agama Alloh, dan berjuang menegakkan daulah Islam, serta menghinakan musuh-musuh Alloh, dari kalangan yahudi, salibis, dan lain-lain. Semoga Alloh mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau, dan menempatkannya di tempat para syuhada. Amin.
Diracik dari: www.tawhed.ws
Source: alqoidun.net
Add comment 8 May 2008