Posts filed under 'Essai'

ISRAEL BESAR AMERIKA KECIL

Pengantar:
Tulisan ini lebih sekedar refleksi pribadi saya atas kekejaman yang terjadi baru-baru ini pada para ahli kita di Gaza. Sungguh hati ini pilu dan geram. Beberapa data mungkin tidak tepat, beberapa pernyataan mungkin keliru, berlebih-lebihan, bahkan tidak benar. Mohon dikoreksi.

ISRAEL BESAR AMERIKA KECIL


Peristiwa Sabtu Berdarah

Setelah melewati masa sepekan lebih berakhirnya pakta gencatan senjata antara Israel dengan pemerintah otoritas Palestina di Jalur Gaza, ketegangan antara kedua pihak kembali memuncak. Pemerintah Otoritas Palestina di Jalur Gaza, yang dalam hal ini dikendalikan oleh gerakan Hamas, memang telah menegaskan tidak akan memperpanjang pakta gencatan senjata, karena melihat tidak adanya satupun itikad baik dari Israel. Selama masa enam bulan pakta gencatan senjata, Hamas berusaha ‘mematuhi’ isi perjanjian, dengan berusaha ‘mengendalikan’ keamanan Jalur Gaza. Mengendalikan keamanan Jalur Gaza bisa diartikan menahan sekuat mungkin berbagai kemungkinan serangan militer ke wilayah Israel yang dilancarkan oleh berbagai elemen perlawanan, baik itu sayap militer Hamas, atau sayap militer harakah lainnya.

Tetapi seperti biasa, berbagai ‘itikad baik’ Hamas tidak berbalas hal sepadan dari Israel. Lebih dari 19 bulan sudah blokade ekonomi atas Jalur Gaza, bukan semakin diperlonggar, malah semakin diperketat. Ini saja telah memicu berbagai krisis kemanusiaan yang sangat memilukan yang kita saksikan melanda para ahli (keluarga) kita di Jalur Gaza. Kekurangan bahan makanan, obat-obatan, listrik, energi, dan air bersih, serta berbagai prasarana dasar kehidupan lainnya, telah membuat kehidupan rakyat kita di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Janji proposal pertukaran tahanan antar juga tidak sepenuhnya ditepati. Beberapa prosesi pertukaran tahanan pernah terjadi, tetapi umumnya yang dibebaskan bukanlah tahanan dari pihak ‘gerakan Islam’, tetapi dari faksi-faksi nasionalis sekular seperti Fatah dan PLO pimpinan Mahmud Abbas yang notabene sekutu Israel dari bangsa Palestina. Ketika berbagai upaya pertukaran dan pembebasan tahanan seakan ‘deadlock’, Israel dengan dibantu tangan pemerintah otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas di Tepi Barat tidak berhenti menangkapi berbagai elemen perlawanan di Tepi Barat. Berbagai persoalan di atas semakin diperparah dengan tidak berhentinya proyek perluasan pemukiman Yahudi, penyerobotan tanah atas milik rakyat Palestina, pembekuan dan perampasan asset-aset tetap mereka.

Maka, masa enam bulan gencatan senjata antara rejim otoritas Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dengan Israel, seperti menunggu saja momentum untuk meledak. Ketika masa enam bulan gencatan senjata itu berakhir lebih dari sepekan yang lalu, masing-masing pihak seperti kembali ke baraknya. Elemen perlawanan Palestina tidak bersemangat lagi untuk meneruskan/memperpanjang pakta gencatan senjata. Sementara Israel, seperti diketahui, beberapa pekan menjelang berakhirnya perjanjian gencatan senjata sesungguhnya telah mempersiapkan sebuah program agresi atas Jalur Gaza.

Apa yang kita khawatirkan, namum sesungguhnya sudah kita perkirakan itu akhirnya terjadi. Kami mendengar berita agresi Israel terhadap para ahli kita di Gaza pertamakali dari sms seorang teman yang menyaksikan ‘breaking news’ Al Jazeera pada hari Sabtu malam sekitar pukul 11.30 waktu negeri ini. Dalam gebrakan pembuka dari serangan ini, angkatan udara Israel telah melancarkan serangan bom setidaknya pada 30 titik, menewaskan sekitar 155 orang, dan melukai lebih dari 200 lainnya. Dan dalam kurang dari 3 hari sejak Sabtu, Israel telah melancarkan serangan bom berpresisi atas lebih dari 230 titik, menewaskan lebih dari 315 rakyat Palestina, dan melukai lebih dari 1000 yang lainnya.

Sementara, di tengah (seperti biasa) kecaman berbagai pemimpin dan tokoh dunia termasuk tokoh negeri ini, serta di tengah (seperti biasa) berbagai unjuk rasa mengecam Israel di berbagai negeri, termasuk juga di beberapa kota termasuk ibukota negeri ini, Israel malah tengah menyiapkan 6500 pasukan cadangannya untuk memulai perang darat memasuki Jalur Gaza.


Palestina, Qodliyah Al Markaziyah

Ada satu hal menarik yang setidaknya kami cermati di negeri ini. Jika isu Jihad fi sabilillah dibicarakan, maka arus besar umumnya orang akan memalingkan pandangannya ke Palestina. Pada saat yang bersamaan sesungguhnya banyak elemen perlawanan, banyak kalangan Mujahidin fi Sabilillah, banyak tanah-tanah tsugur, banyak bumi Jihad. Tetapi perhatian orang dan khususnya perhatian ‘aktifis Islam’, tertuju lebih kepada Palestina. Perhatian atas Palestina, diekspresikan dalam berbagai hal, mulai dari menggalang opini massa melalui berbagai media, demonstrasi dan berbagai event, hingga penggalangan dana dan dukungan yang dikhususkan untuk Palestina.

Memang, patut untuk kita sadari, Palestina adalah Qodliyah Al Markaziyah, salah satu ‘persoalan utama’ ummat Islam hari ini. Di Palestina ada masjid suci, yang eksistensinya terkait erat dengan eksistensi ummat ini, sementara masjid suci itu keadaannya tengah terancam hilang eksistensinya akibat program penggusuran sistematis yang dilakukan bangsa Yahudi laknatullah. Palestina adalah jantung Syam. Sementara untuk wilayah Syam (wilayah yang membentang meliputi Syria, Jordania, Libanon, dan Palestina) dan para penduduknya, begitu banyak hadits Rasulullah yang berbicara tentang keutamaannya…
“Syam dan penduduknya, akan sentiasa ada dalam keadaan bersiaga hingga Hari Qiyamat…”
“Kebaikan Allah tambatkan di Bumi Syam…”
“Syam dan penduduknya adalah pecut Allah di muka Bumi…”
“Akan sentiasa ada satu thoifah yang berperang di atas Al Haq… mereka bertempat di Syam…”
Palestina bahkan mungkin salah satu pusat dunia dan dinamika peradaban. Sehingga ada orang berkata, siapa yang menguasai Palestina, maka ia menguasai dunia. Atas dasar ini kita mempersaksikan Palestina menjadi tempat berbagai pergolakan dan dinamika besar yang mempengaruhi jalannya roda sejarah dunia. Palestina adalah bumi yang paling banyak mempersaksikan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah Rabbul Alamin. Palestina dan bumi Syam, adalah wilayah yang terkait sangat erat dengan berbagai ru’yah dan nubuwah Rasulullah tentang berbagai peristiwa masa depan dan rentetan kejadian Akhir Jaman. Seakan Palestina adalah bumi dari sebagian besar masa depan Din ini, dan masa depan dari ummat manusia. Sementara Palestina hari ini, menghadapi musuh paling bengis, makhluq Allah yang sangat buruk. Palestina hari ini menghadapi kepala ular yang ekor dan sulurnya merambat mencengkeram berbagai belahan dunia. Maka wajar jika Palestina adalah salah satu persoalan utama ummat hari ini.

Tanpa bermaksud melebihkan yang satu dan mengecilkan yang lain, kami sepakat bahwa Palestina adalah Qodliyah Al Markaziyah. Tetapi yang kadang kami rasakan, seakan ada sikap dan perhatian yang kurang adil yang kita terapkan ketika kita berbicara tentang isu Jihad, tanah Jihad, dan Mujahidin. Kami tidak menafikan atau mengecilkan persoalan Palestina yang sangat kritis ini serta keadaannya yang demikian memilukan ini. Tetapi bukankah, pada saat yang bersamaan, bertebaran juga berbagai peristiwa memilukan, berbagai keprihatinan, yang terjadi di tanah-tanah Jihad yang lain? Mengapa perhatian kita tidak sama, atensi kita tidak sama, manakala itu adalah tanah Jihad Iraq, atau Afghanistan, atau Bumi Kaukasus, atau Filipina Selatan, atau Thailand, atau Arakan, atau Assam, atau Kashmir, atau Xinjiang, atau bumi Dua Hijrah, Shomalia, atau belahan bumi Jihad lainnya? Mengapa rasanya atensi kita tidak sama, seperti atensi yang sedemikian antusias yang kita berikan untuk Palestina?

Kami merasa sikap yang seakan membeda-bedakan seperti itu, atau sikap yang mengkhususkan Palestina seperti itu, bisa jadi akan sangat merugikan rakyat Palestina dan elemen perlawanan yang ada di sana. Allahu a’lam


Israel Besar Amerika Kecil

Jika kita membaca sejarah berdirinya entitas Israel di atas negeri Palestina, kita dapat melihat dengan gamblang hubungan yang sangat erat antara tiga dari lima negara pendiri PBB yang selanjutnya menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan peran signifikan mereka dalam menggolkan proyek ‘Eretz Yisrael’ di Bumi Palestina. Tiga negara itu adalah Inggris, Perancis, dan Amerika. Perjanjian Sykes Picot antara Inggris, Perancis, dan Spanyol telah membagi dunia Islam umumnya dan wilayah Arab khususnya dalam kapling-kapling yang dibagi antar tiga negara tersebut. Palestina jatuh ke dalam kendali protektorat Inggris. Pada tanggal 2 November 1917, Perdana Menteri Inggris, Sir Arthur Balfour menandatangani ‘Deklarasi Balfour’, yang menegaskan dukungan agar Palestina menjadi ‘national home’ – rumah nasional, bagi bangsa Yahudi. Deklarasi Balfour ini adalah pembuka jalan secara formal bagi berdirinya entitas Israel di Palestina. Pada tahun 1947, sesaat setelah PBB berdiri, di antara hal pertama yang dilakukan lembaga ini adalah menyetujui resolusi untuk membagi Palestina ke dalam dua ‘negara’, satu negara untuk Israel, dan satu negara untuk komunitas Arab. Tanggal 14 Mei 1948, Yahudi di Palestina tersebut mendeklarasikan berdirinya entitas Israel, yang segera didukung oleh negara Inggris, Perancis, dan Amerika.

Karena itu bisa dikatakan, lahirnya entitas Israel merupakan hasil perselingkuhan keji negara-negara tersebut. Selanjutnya, dukungan mereka atas entitas Israel semakin dilanjutkan. Dalam hubungan selanjutnya, peran Inggris selaku ‘bapak pengayom’ Israel diteruskan oleh Amerika. Umumnya orang memandang Amerika hari ini sebagai ‘Bapak Baptis’, pelindung setia Israel. Setiap tahun Amerika mengalokasikan tidak kurang 5 milyar US$ dari penghasilan pajaknya untuk membantu Israel. Setiap tahun, selain bantuan 5 milyar US$ tersebut, Amerika juga mengalokasikan 1.8 US$ khusus untuk membangun militer Israel. Rejim Amerika, dari waktu ke waktu adalah kaisar bagi Israel. Rejim Amerika ini telah setia menekan Konggres untuk membatalkan setiap keberatan yang disampaikan terkait pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel. Konggres dapat memangkas anggaran apa saja, tapi tidak anggaran yang ditujukan untuk Israel. Amerika juga negara yang setia menjegal setiap resolusi apa saja yang dikeluarkan PBB untuk ‘sekedar’ mengecam Israel.

Tetapi kami melihat pola hubungan antara Amerika dan Israel lebih jauh lagi. Amerika bukanlah sekedar sekutu Israel, atau sekedar pengayom dan pelindung Israel. Melihat berbagai kenyataan yang ada, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa Amerika dan Israel itu satu tubuh. Amerika adalah perwujudan Israel sebagaimana Israel adalah representasi Amerika. Amerika adalah Israel Besar, sementara Israel adalah Amerika Kecil. Kuat atau lemahnya keadaan Israel, tergantung dari kuat lemahnya sang ‘Israel Besar’, yaitu Amerika. Sebagaimana juga satu pukulan terhadap Israel, sang ‘Amerika Kecil’, merupakan satu pukulan langsung terhadap Amerika.

Berdasarkan logika ini, maka argumentasi yang kami sebutkan di atas mengenai sikap memilah-milah isu Jihad serta mengkhususkan Palestina, bisa jadi berakibat semakin merugikan rakyat Palestina. Dalam keadaan kita, keadaan ummat Islam yang lemah seperti ini, bukankah setiap aksi ‘kecil’ yang ‘menyentil Israel, akan segera ditanggapi dengan balasan bumi hangus oleh Israel dan tentu didukung Amerika. Satu roket perlawanan, dibalas ratusan rudal berpresisi tinggi dan dukungan penuh sang Israel Besar.

Berdasarkan logika ini, mengapa kita tidak ‘memodifikasi sedikit’ strategi Jihad kita? Sembari kita mempersiapkan diri menuju ‘Al Malahim Kubra’ yang akan terjadi di Elia (Yerusalem) bersama ‘Pasukan Panji Hitam’ untuk menggenapkan Nubuwah Rasulullah tentang kehancuran total Israel dan ditumpasnya bangsa Yahudi laknatullah, mengapa kita tidak ‘meluaskan medan pertempuran’? Mengapa kita tidak memukul Israel, dengan cara memukul ‘Israel Besar’, kita melemahkan Israel supaya kedudukan para ahli kita dan Mujahidin kita kuat di Palestina, dengan cara melemahkan, memecah kekuatan, dan meruntuhkan (insya Allah) Amerika dan segala kesombongannya? Karena ketika Israel besar itu lemah dan terkalahkan, itu pula insya Allah yang terjadi pada Amerika kecil.

Lihatlah kenyataan ini. Pada bulan Juni 2008 Israel bersedia menandatangani kesepakatan gencatan senjata selama enam bulan dengan Hamas di Jalur Gaza. Merupakan suatu hal yang sangat langka, jika tidak ingin dikatakan suatu hal yang tidak mungkin, Israel bersedia menjalin kesepakatan dengan musuhnya. Tetapi ternyata Israel bersedia menyepakati perjanjian gencatan senjata dengan Hamas selama enam bulan. Apa yang terjadi pada masa itu? Pada masa jeda itu, bisa dikatakan Amerika berada dalam posisi lemah. Amerika mengalami kekalahan di berbagai front perangnya. Sementara di dalam negeri, Amerika menghadapi krisis finansial yang mengarah pada krisis ekonomi negerinya. Di tambah lagi, pada masa jeda itu, Amerika berada dalam masa ‘transisi’ karena tengah menjalani kampanye pemilihan presiden barunya.

Ini adalah Perang Semesta

Memang menjadi satu ironi, ketika pandangan kita terpilah-pilah seperti itu, terkotak-kotak, tidak demikian halnya dengan sikap musuh dan pandangan musuh atas kita. Seluruh elemen musuh memandang kita sebagai satu lawan yang harus ditumpas. Karena itu musuh menghimpun seluruh kekuatannya, menyatukan seluruh shaf dan frontnya, lalu memusatkan seluruh kekuatan dan front tersebut untuk menumpas kita dan meluluhlantakkan seluruh sendi kehidupan kita. Dan musuh yang kejam ini tidak membedakan siapa kita, sipil atau militer, militant atau abangan. Musuh yang kejam dan tanpa belas kasih ini menyapu rata serangannya atas seluruh Dunia Islam.

Yang banyak di antara kita belum juga menyadari, sesungguhnya kita saat ini tengah menghadapi ‘The Judeo Christian Crusade Alliance’, yang telah melancarkan perang salib masivnya berpuluh-puluh tahun lamanya atas Dunia Islam. Poros utamanya adalah aliansi Yahudi dan Nashrani. Di lapis keduanya adalah kekuatan kuffar dari kalangan Musyrikin, Atheis, dan sekular. Dan di lapis ketiganya adalah para operator serta komprador pengkhianat dari kalangan murtaddin. Sehingga bagaimana mungkin kita masih saja memiliki pandangan terpilah-pilah seperti ini, padahal yang ada di depan mata itu sesungguhnya Perang Semesta? Hari ini kita menghadapi kondisi Perang Semesta yang dilancarkan aliansi musuh kafir, ‘Harbu Sholibiyah al Alami’, sehingga atas kondisi ini status Jihad telah naik menjadi fardlu ‘ain ala kulli muslim.

Ya Allah! Betapa sama hari-hari ini dengan hari-hari lalu. Ketika hendak memulai agresi atas Afghanistan dan kemudian dilanjutkan ke Iraq pada tahun 2001, Bush seakan mengulangi kembali elegi lama, dengan berkata, “This is crusade war…”. Bush bahkan menegaskan kembali dengan berkata, “Kini Anda harus memilih (dalam Kampanye Perang Salib ini), apakah Anda bersama kami, atau bersama teroris…”

Ya Allah! Betapa sama hari-hari ini dengan hari-hari lalu. Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan kesaksiannya ketika balatentara Tartar memasuki Bumi Islam dan menimpakan fitan yang memilukan atas ummatnya. Menghadapi fitan balatentara Tartar ini, ummat terpecah menjadi tiga golongan:
Kaum Mukholif (golongan yang menyelisihi). Yaitu segolongan ummat yang mereka mengaku beriman dan berislam, tetapi karena gentar dan mencari selamat, mereka memilih bergabung membantu balantentara Tartar. Ketika mereka berdiri membantu musuh yang tengah memerangi ummat Islam, sesungguhnya mereka telah menyelisihi Din dan keimanan mereka, mereka sesungguhnya telah murtad dari Din kendati masih mengaku-aku beriman.
Kaum Mukhodzil (golongan yang menggembosi). Yaitu segolongan ummat yang mereka mengaku beriman dan berislam, tetapi karena gentar dan mencari selamat, maka mereka memilih berdiam diri, melarikan diri, dan menyelamatkan diri sendiri. Mereka tidak membantu atau memihak balatentara Tartar, tetapi mereka juga tidak terjun berjihad bersama Mujahidin untuk menahan serangan Tartar. Kendati mungkin iman dan islamnya tidak batal, mereka telah berdosa atas sikap diam dan melarikan diri dari kancah pertempuran.
Kaum Mujahidin (golongan yang berjuang). Yaitu sekelompok orang dari kalangan kaum muslimin, yang bangkit berdiri menahan serangan musuh, berjuang dengan gigih bersama apa saja yang mereka punya. Mereka menggantungkan nasibnya hanya kepada Allah Sang Pemilih Izzah, menghadapi musuh yang kejam dan bengis, dengan peralatan dan perlengkapan perang paling hebat saat itu.
Mengenai golongan ketiga ini, Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun kelompok-kelompok Mujahidin yang bertahan di Bumi Syam, serta detasemen-detasemen Mujahid yang datang membantu dari arah Kinaan (Mesir), maka golongan inilah yang paling layak mendapat predikat At Thoifah Al Manshurah…”

Maka sungguh tepat kata-kata si Bush dan penegasan Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka di tengah pusaran fitan Perang Semesta ini, tentukanlah di mana posisi kita. Tentukanlah di mana kedudukan kita, apakah kita ini kaum mukholif, atau kaum mukhodzil, atau kaum Mujahid… Tetapi sesungguhnya At Thoifah Al Manshurah itu hanya satu…

Ibrah, Ketepatan Strategi Al Qaidah

Asy Syahid (insya Allah) Al Imam Abdullah Yusuf Azzam pernah berkata dalam salah satu kumpulan risalahnya, sesungguhnya ada tiga simbol kekuatan dan pemersatu Ummat Islam. Yang pertama adalah institusi Khilafah, yang kedua adalah tempat dan tanah suci Ummat Islam, dan yang ketiga adalah Jihad fi Sabilillah (Menara Yang Hilang, kumpulan risalah Al Imam Abdullah Yusuf Azzam yang diterbitkan oleh Pustaka Al Alaq Solo). Karena itu di antara sasaran dari kampanye perang semesta yang dilancarkan musuh dalam rangka melemahkan Ummat Islam, adalah menghancurkan tiga simbol ini. Musuh berhasil menghancurkan simbol yang pertama, yaitu semenjak dihapuskannya institusi Khilafah pada tahun 1924 oleh Mustapha Kemal Pasya laknatullah. Sementara untuk masjid dan tanah suci, maka pada saat ini kesemua tanah suci kita berada dalam bahaya. Aliansi Yahudi Nashrani berhasil menguasai Baitul Maqdis, semenjak 1948 dengan berdirinya entitas Israel di Palestina. Yang mungkin masih banyak ummat Islam tidak menyadari adalah kondisi tanah Haramain, Makkah dan Madinah yang saat ini dalam keadaan kritis. Ummat umumnya tidak menyadari karena mereka merasa masih bisa melihat Makkah dan Madinah, masih dapat mengunjungi Ka’bah dan Masjid Nabawi setiap tahun dalam ibadah hajji atau umrah. Padahal Haramain telah berada dalam ancaman aliansi Yahudi Nashrani semenjak 1996 ketika Monarchi Suud yang khianat merestui masuknya balatentara kafir Amerika ke Tanah Semenanjung Arabia. Kini tinggallah Jihad fi Sabilillah yang tersisa. Sementara Jihad fi Sabilillah tidak henti-hentinya diperangi, mulai dari menebarkan berbagai syubhat dan kerancuan pemahaman tentang Jihad, menimpakan stigma buruk mengenai Jihad, mencap para dan pendukungnya Mujahid sebagai teroris, memisahkan dan memecah ummat ini lalu menjauhkannya dari Jihad dan Mujahidin, serta berbagai tipu daya lain.

Menarik untuk mengkaji bagaimana Mujahidin (baca Al Qaidah dan orang-orang yang semanhaj dengan mereka) memandang seluruh dinamika ini. Sudah lama Mujahidin menyadari Harbu Sholibiyah Al alami ini, sehingga Mujahidin menyeru ummat untuk menghadapi perang salib semesta ini dengan sikap semesta pula. Pada tahun 1996 selepas masuknya armada salib Amerika ke Tanah Semenanjung Arabia, Abu Abdillah, Usamah bin Ladin mengeluarkan deklarasi dari dataran tinggi Hindukush, Afghanistan, yang menyatakan perang terbuka terhadap Amerika dan sekutunya untuk mengusir seluruh kekuatan kafir dari Tanah kelahiran Nabi dan seluruh bumi Islam. Melalui pernyataan deklarasi perang ini pula Abu Abdillah menyeru ummat Islam untuk memerangi kepentingan Amerika dan sekutunya di mana saja berada.

Kembali pada isu Palestina yang tengah menghangat pada hari-hari belakangan ini. Mujahidin sering dituduh mereka mengabaikan Palestina. Mujahidin sering dituduh mereka kurang memberi perhatian pada masalah Palestina. Mereka sering dituduh sibuk mengobarkan perang di Iraq, Afghanistan, Shomalia, meledakkan bom di Islamabad, menyampaikan pernyataan tentang Shesyan, tetapi jarang berbicara tentang Palestina atau melancarkan aksi langsung di Palestina.

Mendahului amaliyat 9 September 2001 atas New York dan Washington, Abu Abdillah pernah menyampaikan rilis pernyataan, “Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Perkasa. Amerika, dan mereka yang tinggal di Amerika, tak akan kami biarkan merasakan keamanan dan kedamaian, hingga kami merasakannya di Palestina, dan hingga seluruh kekuatan kafir diusir dari bumi kelahiran nabi saw, dan bumi Islam seluruhnya…”.
Melalui pernyataan itu Abu Abdillah menegaskan tentang posisi Amerika, dengan apa yang terjadi di Palestina dan Tanah Semenanjung Arabia, serta seluruh bumi Islam lainnya. Kemudian terjadi amaliyat 911 yang penuh berkah,yang oleh beberapa analisis disebutkan sebagai salah satu bentuk ‘pertolongan’ terhadap Palestina khususnya, dan Bumi Islam umumnya.

Awalnya saya pribadi tidak dapat mengerti apa hubungan langsung atau dampak langsung dari amaliyat 911 dengan pertolongan kepada rakyat Palestina. Bahkan memandang negatif amaliyat ini dengan menilainya sebagai aksi yang justru dapat semakin memojokkan posisi ummat Islam. Tetapi perkembangan selanjutnya harus membuat saya mengoreksi pandangan awal tersebut. 911 adalah strategi memancing ‘sang ular’ keluar dari sarang, kemudian memecah kekuatannya. Kalau ular itu sudah keluar dari sarangnya dan terpecah kekuatannya, maka ia lebih mudah untuk dipukul. Segera setelah 911, Amerika terjun langsung ke dalam berbagai front peperangan dengan Mujahidin, mulai dari Afghanistan, Iraq, Shomalia, dan bumi-bumi Jihad lainnya.

Delapan tahun lebih semenjak 911, Amerika terpuruk di berbagai front perang yang mereka terjuni. Ini sedikit banyak melemahkan kondisi dan posisi Amerika, juga menguras potensi-potensi ekonominya. Situs The Washington Post pada bulan Maret 2008 menurunkan rilis mengenai perkiraan biaya perang Amerika. Washington Post menulis biaya perang perbulan untuk Iraq berkisar sekitar 12 milyar US$. Jumlah ini membengkak menjadi sekitar 16 milyar US$ jika ditambah Afghanistan. Itu baru perkiraan konservatif dan baru meliputi biaya operasional penempatan pasukan di Iraq dan Afghanistan. Beberapa analis menyimpulkan salah satu sebab krisis finansial dan ekonomi yang melanda Amerika baru-baru ini, salah satu sebabnya adalah terkurasnya potensi ekonomi Amerika untuk membiayai perangnya.

Dan yang lebih menarik, yang juga dihasilkan dari 8 tahun semenjak 911 adalah berdirinya Daulah Iraq Al Islami dan mulai masuknya elemen Mujahidin berfaham Salafiyah Jihadiyah ke Bumi Al Quds. Jika kita memperhatikan peta Iraq dan negeri sekelilingnya, kita dapat melihat posisi strategis Iraq. Ke arah Selatan Iraq dapat menjadi basis untuk membebaskan Tanah Semenanjung Arabia dan bumi suci Haramain dari cengkeraman kekuatan kafir. Ke arah barat, setelah Iraq adalah wilayah Syam, meliputi Syria, Jordania, Libanon, kemudian Palestina. Maka Daulah Iraq Al Islami, daulah yang didirikan di atas pucuk-pucuk tombak Mujahidin, diharapkan menjadi basis pemberangkatan battalion Mujahid yang akan membelah bumi Syam – Syiria, Jordania, Libanon, untu membebaskan Al Quds. Bersamaan dengan persiapan itu, proses membuka jalan juga disiapkan untuk wilayah Syam. Di wilayah perbatasan, khususnya Libanon, mulai bertumbuh elemen-elemen Mujahidin, yang secara berkala menyusupkan dirinya ke arah Palestina,khususnya Tepi Barat dan Gaza. Keberadaan Tanzhim jihadi seperti Fatah Al Islam di Libanon, bisa jadi merupakan sinyalemen ke arah itu. Selain itu mulai bertumbuhnya juga elemen-elemen Mujahidin Muwahidin, khususnya di Jalur Gaza, seperti Jaisyul Islami fi Filisthin dan Jaisyul Ummah.

Mujahidin memahami bahwa perang yang dilancarkan musuh ini adalah perang semesta dan mensikapinya pula dengan pendekatan menyeluruh. Mujahidin memandang hendaknya seluruh bagian-bagian bumi Jihad itu menjadi satu matarantai perlawanan Islam terhadap aliansi global Yahudi Nashrani yang melancarkan perang salib semesta ini.

Demikianlah, ketika mereka tengah memerangi Amerika di Afghanistan, Iraq, Shomalia, serta seluruh sekutunya di berbagai belahan bumi, sesungguhnya mereka tengah berusaha menahan dan melemahkan serta bahkan meruntuhkan Sang Israel besar itu, dengan Ijin Allah Azza wa Jalla. Keruntuhan sang Israel besar, sudah tentu juga adalah keruntuhan sang Israel kecil. Inilah salah satu pertolongan langsung yang dipahami Mujahidin untuk para ahli kita di Palestina.

Kini kita dapat lebih memahami, betapa benar dan tepat kata-kata Mujahidin. Sungguh benar kata-kata Al Imam Abdullah Yusuf Azzam ketika ditanya mengapa ia memilih berjihad di Afghanistan ketimbang di Palestina serta mendorong orang untuk memulai Jihad di Afghanistan ketimbang Palestina. Al Imam Abdullah Yusuf Azzam berkata, sebagaimana perkataan para Mujahidin Afghan selanjutnya hingga kini, “Kami berjihad di Afghanistan untuk membebaskan Palestina”.
Sungguh benar kata-kata Amir Istisyadiyyyin, Abu Mus’ab Az Zarqawi, semoga Allah menyayanginya, ketika Beliau berkata, sebagaimana perkataan para Mujahidin Bumi Rofidain, “Kami bertempur di Bumi Rofidain, sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.
Demikian pula Mujahidin Shomalia yang berkata, “Kami bertempur di Tanah Dua Hijrah, sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.

Sebagai penutup, kami menyampaikan kata-kata Al Imamul Mujahid, Abu Abdillah, Usamah bin Ladin, semoga Allah menjaganya, yang ia tujukan khususnya pada rakyat Palestina, dan umumnya pada Ummat Islam. Persoalan Palestina tidak mungkin dapat diselesaikan di meja negosiasi, atau di kotak-kotak pemilu, atau mempercayakan pada rejim-rejim khianat, atau pada elemen perlawanan yang telah mandul. Apa-apa milik kita yang telah direnggut musuh dengan besi dan api, tidak dapat direbut kembali, melainkan dengan besi dan api. Sesungguhnya Jihad adalah solusi satu-satunya bagi Palestina.

Kepada kita semua, hendaknya segera bersiap dan berbuatlah. Perang semesta telah ada di depan mata, sementara kita sendiri telah memahami Jihad hari ini hukumnya fardlu ‘ain atas seluruh Muslim. Hendaknya bersiap dan berbuatlah mulai sekarang.

“Wa a’iddu lahum mastatu’tum min quwwah…”

Ya Allah!
Tsabatkan dan berilah pertolongan kepada Saudara kami Mujahidin
di Palestina, Afghanistan, Iraq, Shomalia, Bumi Maghrib Islami, Kashmir, Shesyan, Filipina, Tailand Selatan, Arakan, dan seluruh tempat
Ya Allah!
Persatukanlah shaf-shaf Mujahidin, dan limpahkan kemudahan dalam urusan kebaikan mereka.
Hiburlah keterasingan mereka, dan limpahkan kebercukupan dan pertolongan atas mereka dan keluarga mereka.

Ya Allah!
Hancurkan aliansi Yahudi dan Nashrani beserta seluruh kaki tangan mereka di seluruh bumi.

Wahai Engkau Yang Maha Hidup, Maha Perkasa, Maha Membuka

Dan Izzah itu hanya milik Allah, RasulNya, dan Kaum Mu’minin

Bumi Allah, Selasa 2 Muharrom 1430 Hijrah
Bertepatan 30 Desember 2008.

ditulis oleh: Ansar Mujahidin, Forum Jihadi Al-Tawbah

al-tawbah.com/f

Add comment 3 January 2009

Surat dari Penunggang Kuda Somalia

Segala puji milik Allah, sholawat dan salam keatas penghulu para Nabi dan Rosul, Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma Ba’d :

Allah berfirman : “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun”(At Taubah : 39).

Ini adalah surat yang kami kirim dari Asy Syababul Mujahidin (para pemuda mujahidin) kepada saudara kami para pemuda ‘Al Qoidun’ (yang duduk-duduk) yang mencintai jihad akan tetapi terhalang oleh udzur bagi diri mereka. Terkadang jiwanya membisikinya agar menyelesaikan kuliah baru kemudian berangkat berjihad. Terkadang jiwanya mengatakan aku menikah terlebih dahulu baru kemudian aku pergi berjihad. Dia mencari-cari suatu pekerjaan lalu kemudian membangun sebuah rumah dan kemudian menikah. Atau dia menanti-nantikan sebuah pesawat yang dikirimkan mujahidin khusus untuk mengangkutnya dari rumah langsung menuju Kandahar atau Baghdad atau Dagestan atau Mogadhisu.. Tidak! dan ini tidak akan pernah terjadi!

Sesungguhnya, semenjak tahun-tahun yang telah lalu, sedikit sekali dari umat ini yang memahami problematika umat dan perang salib yang diumumkan dengan gamblang dalam setiap kesempatan. Dan sekarang, setelah peperangan melawan salibis diumumkan oleh mujahidin di setiap tempat, dan terjadilah bencana yang menimpa Amerika dan sekutunya, lalu kekuatannya menjadi lemah dan mulai goyah yang sebentar lagi akan tumbang – dengan izin Allah. Para pemuda mulai beranjak menuju problem tersebut dan setelah jelas bagi mereka berbagai klaim ulama-ulama suu’ dan para penjual dien, dan setelah tersingkap konspirasi pemerintahan mereka dan lenyapnya berbagai syubhat mukhodzdziliin (para penggembos), para pemuda muwahhid dari berbagai tempat mulai menyambut penyeru jihad.

Lalu muncullah, dengan sangat disayangkan, perkumpulan-perkumpulan pemuda yang tak terhitung yang mencintai jihad akan tetapi mereka menjadikan diri mereka hanya sekedar pencinta jihad atau dengan istilah yang lebih jelas “Jamahir” yang memberi tepuk tangan bagi mujahidin dan hanya menantikan berbagai aksi berani mereka melawan Amerika dan antek-anteknya dengan penuh takjub. Hati mereka tidak tergerak untuk menolong mustadh’afin (orang-orang lemah) atau ikut bergabung dengan mujahidin dan syuhada’, akan tetapi hanya mencukupkan diri dengan mengikuti perkembangan berita mujahidin dan memekikkan takbir seusai menyaksikan sebuah operasi mujahidin. Sebagian mereka membanggakan diri bahwa mereka memiliki banyak koleksi film-film mujahidin, dimana mereka merasakan kecapaian saat mengumpulkannya dari internet. Sebagian lagi menisbahkan dirinya dengan “komentator olah raga” di berbagai forum olah raga lalu berkomentar bahwa ini tidak bagus dan semestinya begini, harus begitu, dengan cara begini agar lebih ok.. dan seterusnya.

Maaf wahai saudara-saudaraku.. Aku tidak bermaksud dengan hal yang menghalanginya sebagai udzur dan dunia menjadi sempit, sementara dia mencari-cari siapa yang akan membawanya menuju medan jihad.
Perkenanlah kami memetik beberapa faedah dari surat At Taubah – semoga Allah menerima taubat kami dan kalian. Di surat tersebut terdapat makna yang cukup untuk menggerakkan jiwa orang-orang yang duduk dan membangkitkan ‘azm (keinginan yang kuat) untuk berjihad dan membantah berbagai hujjah para mukhodzdzil. Kita mulai dari firman-Nya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat”(At-Taubah : 41), apakah kalian mengerti wahai saudaraku bahwa ayat ini ditafsirkan oleh Syekh Abu Tholhah – semoga Allah meridhoinya -, ketika membacanya beliau mengatakan kepada anak-anaknya “aku melihat Robb kita menyuruh kita untuk berangkat, baik tua maupun muda.. Siapkankanlah aku wahai anakku!”. Dan dia – semoga Allah meridhoinya – ikut berperang bersama Rosulullah SAW sampai meninggalnya beliau, dan berperang bersama Abu Bakar sampai meninggalnya Abu Bakar, dan berperang bersama Umar sampai meninggalnya Umar, sementara itu dia tidak melihat udzur bagi dirinya untuk hanya duduk-duduk saja, maka dia pun mengarungi lautan untuk berperang sampai dia meninggal dan tidak ditemukan satu daratan untuk menguburkannya kecuali setelah sembilan hari dan jasadnya tidak berubah sama sekali – semoga Allah merahmatinya. Ibnu Katsir – semoga Allah merahmatinya – menyebutkan perkataan sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan ayat “ringan maupun berat”, beliau menyebutkan (kaya dan miskin, sibuk dan tidak sibuk, senang maupun tidak senang, berat dan memiliki keperluan, dalam kondisi susah maupun senang, menunggang kendaraan maupun jalan kaki, kaya dan fakir). Ayat tersebut tidak mengecualikan seorangpun dan tidak membiarkan satu hujjah pun, dimanakah posisi kita dari orang-orang itu? Kemudian pada ayat selanjutnya Allah berfirman : “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu”(At Taubah : 42). Sekiranya melakukan safar kepada selain jihad, semisal untuk berdagang, mencari keuntungan dunia dan semisalnya, niscaya mereka akan bersegera menuju kepadanya. Lihatlah kondisi kaum muslimin, betapa banyak para pelancong dan betapa banyak para musafir yang menghendaki kesenangan dunia. Langit dipenuhi dengan pesawat-pesawat, laut didesaki dengan kapal-kapal, akan tetapi tidaklah mereka melakukan safar untuk berperang kecuali hanya segelintir saja sementara mereka merasa sangat ketakutan, wallahulmusta’an.

Dan kepada mereka, orang-orang yang mencari-cari udzur dan menjadikannya sebagai alasan untuk duduk-duduk, dan mengedepankan satu kaki dan membelakangkan yang lainnya. Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya”(At Taubah : 44). Ayat ini menunjukkan secara singkat bahwa tidak ada izin untuk duduk dan tinggal diam dari jihad bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir karena hati mereka ditimpa dengan kebimbangan dan keraguan.

Sebagian lagi merasa takut dengan berbagai fitnah/ujian dalam perjalanan, sementara itu kami takut mereka terkena firman Allah : “Di antara mereka ada orang yang berkata: ‘Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah’. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah”(At Taubah : 49). Fitnah yang besar adalah meninggalkan jihad dan tinggal diam dari berperang, bahkan bisa saja perkataan ini membawa ke Jahanam. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”(An Nisa’ : 97). Perhatikanlah wahai saudaraku!

Allah azza wa jalla mengecualikan diantara Al Qoidin (orang-orang yang duduk) bagi orang yang memiliki udzur. Allah berfirman : “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya”(At-Taubah : 91). Allah juga mengecualikan orang-orang yang berusaha mencari jalan untuk berjihad di setiap tempat, akan tetapi ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk berangkat dan setiap jalan di depan mereka ditutup mereka tidak terus kembali menuju rumah mereka dengan merasa senang karena dapat duduk-duduk santai, akan tetapi mata mereka dibanjiri dengan peluh dan mereka merasa sangat sedih karena mereka tidak dapat berangkat untuk berjihad.

Inilah surat dari negri Somalia, negri jihad dan ribath, kepada orang-orang yang menangis karena duduk-duduk mereka. Kami katakan kepada mereka : bergembiralah kalian, telah datang jalan keluar dan pintu diantara pintu-pintu surga telah dibuka di Somalia, dan Somalia menjadi medan orang-orang yang berlomba dan berpacu di jalan Allah. Cepatlah kalian dengan segera. Kemenangan tinggal menanti sesaat lagi. Peperangan melawan penolong koalisi tidak akan pernah dimulai sampai tampak pertanda kemenangan dan banyak kabar gembira. Maka larilah para pasukan koalisi dari darat dan dari laut dengan meninggalkan senjata mereka di belakang mereka sebagai ghonimah untuk mujahidin, dan mereka meninggalkan saudara mereka orang-orang murtad yang terkena hujaman panah mujahidin siang dan malam.

Wahai pasukan Allah di setiap tempat! Kami berjanji kepada kalian bahwa kami akan memanggul panji “laa ilaaha illallah” yang cemerlang dan tidak ada debu padanya, dan kami akan menyemainya dengan darah kami sebagaimana saudara-saudara syuhada’ kami yang telah mendahului. Kami hanyalah pasukan diantara pasukan-pasukan kaum muslimin, kami menolong islam dimanapun tempatnya. Dan syariat islam kami mewajibkan kami untuk menolong kaum muslimin yang berada di Somalia dan jihad melawan penjajah di negri ini juga mewajibkan kami untuk memerangi mereka di setiap negri islam. Seorang yang berakal tidak akan pernah mengatakan bahwa hukum jihad berubah menurut pembatasan Sykes Pickot, dan jihad tidak akan pernah gugur kewajibannya dari seorang muslim selama negri Palestina masih terjajah, dan tentara salibis merendahkan kaum muslimin di Irak, Afganistan, Chechnya dan seluruh negri kaum muslimin yang dijajah oleh Amerika melalui antek-anteknya, para thogut Arab. Dan Somalia hanyalah salah satu parit diantara parit-parit kaum muslimin, tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk tinggal diam darinya selama dia mampu untuk menuju kesana.

Jihad kami akan terus berjalan dengan izin Allah azza wa jalla, kami tidak akan terganggu dengan orang yang menyelisihi kami dan tidak juga orang yang menelantarkan kami, sampai kalian melihat kemuliaan dan kekuasaan pada umat kami, atau kami menemui Allah azza wa jalla dalam kondisi menghadap dan tidak mundur.

Dan penutup doa kami ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.

Penunggang kuda dari Somalia
Courtesy: Al Tawbah Forum

Add comment 29 June 2008

Manhaj Perjuangan Al Qaidah – Apakah Ia Berasal dari Planet Merkurius?

Manhaj Perjuangan Al Qaidah – Apakah ia berasal dari Planet Merkurius?

Sungguh mengherankan mendapati banyak ‘ulama’, ketika mereka ditanya oleh berbagai chanel berita tentang pandangan mereka terhadap Al Qaidah, para ulama dan cendekiawan muslim ini berkata, mereka tidak memahami manhaj perjuangan Al Qaidah, mereka tidak mengerti metodologi Al Qaidah!!!

Apakah manhaj Al Qaidah begitu sulit dan rumitnya, sehingga bahkan para ulama muslim tidak bisa memahaminya?
Ataukah fikrah Al Qaidah itu sedemikian misterius?
Benarkah mafahim Al Qaidah sedemikian peliknya sehingga para ulama tidak mampu memahaminya secara menyeluruh?

Jika Anda bertanya pada para ulama ini, tentang visi atau fikrah atau mafahim dari berbagai harakah islam, berbagai tanzim (organisasi) atau partai islam, baik yang lama atau yang baru berdiri, yang besar atau yang kecil, organisasi yang popular ataupun yang tidak, maka menjadi satu ‘aib’ yang ‘tidak dapat diterima’ jika para ulama ini berkata “Saya tidak tahu”. Kata-kata “Saya tidak tahu” tersebut tentu akan menurunkan kredibilitas keilmuannya. Apalagi jika ulama tersebut telah terjun dan mengambil posisi dalam dunia politik (bagaimana mungkin seorang cendekia, seorang alim, seorang tokoh politik yang tentu membutuhkan popularitas, berkata “Saya tidak tahu…”)

Baiklah, kita maklumi saja beberapa ‘ulama’ ini ketika mereka berkata bahwa mereka tidak tahu dan tidak memahami fikrah Al Qaidah, atau mereka mungkin merasa tidak perlu peduli atau tidak memiliki perhatian untuk mempelajari manhaj Al Qaidah. Kita juga mungkin harus memaklumi, para ulama ini tentu memiliki alasan mereka tersendiri yang membuat mereka tidak memiliki perhatian untuk membaca atau berusaha menelaah manhaj Al Qaidah. Atas nama kebebasan individu, mereka berhak untuk melakukan itu, dan menjadi alasan yang cukup untuk menghentikan kita dari mengganggu mereka dengan bertanya soal ini.

Tetapi kemudian salah seorang ‘kibarul ulama’ berkata ketika ia ditanya oleh salah seorang wartawan tentang panji/slogan Al Qaidah, “Saya tidak begitu memperhatikan manhaj Al Qaidah tetapi jika segala sesuatu yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia ini merupakan bagian dari rencana Al Qaidah, maka ini satu hal dan kenyataan yang buruk”. Demikian kurang lebih ia berkata.

Ini yang dikatakan oleh salah seorang ‘ulama besar’ di Iraq, dan banyak ‘ulama’ yang lain meniru kata-katanya, baik ulama di Iraq maupun di luar Iraq, sehingga kata-kata semakna ini menjadi kelaziman yang diucapkan. (Jadi mereka ini berkata “Saya tidak tahu tentang Al Qaidah”, tetapi mereka juga berkata “Al Qaidah adalah sumber segala keburukan dan kemalangan di dunia ini”. Pent)

Jika kita menerima hal ini sebagai hak dari para ‘ulama’ untuk bersikap dan menyatakan demikian, maka kita juga jadi tidak punya hak untuk menyalahkan masyarakat barat yang atas dasar ketidaktahuannya menuduh Islam sebagai agama fasisme, kebodohan, dan keterbelakangan.

Masyarakat barat ini menyatakan hal tersebut, karena mereka secara nyata memang melihat beberapa aspek keterbelakangan pada sebagian kecil masyarakat muslim migrant yang tinggal di negeri-negeri mereka (negeri barat). Sehingga mereka langsung menyimpulkan dengan timbangan ‘mayoritas yang hebat dan megah’ dengan ‘minoritas yang tersisih dan terbelakang’, tanpa berusaha mencari atau menyelidiki realitas Islam dan dasar-dasar ajarannya yang benar. Karena ketidaktahuannya itu mereka menuduh Islam dengan segala prasangka apa saja yang mereka mau!!!

Tidakkah ini dapat dipertanggungjawabkan?

Bisakah para cendekiawan dan ulama muslim itu menyalahkan masyarakat barat karena mereka telah menuduh Islam dengan segala tuduhan yang tidak beralasan itu, dan mereka menyimpulkan demikian semata berdasarkan pandangan sekilas tanpa memahami realitas yang hakiki? Dan mereka telah menggunakan analogi yang keliru tetapi mereka menganggap dirinya cukup berhak menghakimi Islam, karena mereka merasa sedemikian ‘modern’ untuk memahami Islam dan segala aspek realitasnya, karena segala ‘bahan kuliah’ tentang Islam itu tersedia luas di website-website internet… Mereka merasa cukup kapabel untuk memberikan penilaian tentang Islam tanpa mengumpulkan informasi yang valid dan menyeluruh atau mereka merasa bisa membuat penilaian setelah mengakui bahwa mereka tidak peduli dengan seluruh realitas Islam itu?!!!
(Tentu para ulama itu akan berkata, bahwa masyarakat barat tidak adil ketika mereka menuduh Islam tanpa tahu hakikat kebenaran Islam. Tentu para ulama itu juga akan berkata, bahwa masyarakat barat tidak adil ketika mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki cukup informasi yang benar tentang Islam tetapi mereka tetap juga menuduh Islam dengan segala tuduhan yang keliru itu. Pent.)

Jika Anda bertanya pada seorang remaja di pegunungan Himalaya, atau seorang tua di pedalaman Afrika, atau seorang pejalan kaki di jalan-jalan kota New York, tentang Al Qaidah dan apa tujuannya, mereka pasti akan merespon pertanyaan Anda dengan segera dan antusias, apakah mereka pro ataupun kontra dengan Al Qaidah, dan Anda tidak akan mendapati mereka berkata “Saya tidak tahu”, karena itu satu hal yang tidak dapat diterima! Karena kenyataannya tidak ada satupun gerakan atau organisasi yang sedemikian luas dikenal/terkenal saat ini seperti Al Qaidah, baik oleh mereka yang mendukungnya atau mereka yang kontra terhadapnya. Tetapi jika Anda bertanya pada para ‘ulama’ kita tentang Al Qaidah mereka berkata mereka tidak tahu. Sungguh satu ironi, kita bisa mengistilahkannya ‘mushibah keulamaan’.

Jika Anda bertanya pada para ‘ulama’ ini tentang teori relativitas, tentu mereka akan merespon Anda segera dan antusias entah respon itu benar atau keliru, karena dalam kebanyakan kesempatan mereka tentu tidak berani berkata “Saya tidak tahu” tentang teori yang terkenal ini.

Betapa memalukan bagi masyarakat berbudaya jika tidak tahu sedikitpun tentang teori relativitas.

Bahkan orang yang tidak berpendidikan sekalipun akan menghindari berkata “Saya tidak tahu”,lalu mengapa para ulama begitu mudah berkata “Saya tidak tahu”?

Apakah teori relativitas lebih popular dan mudah dimengerti ketimbang Al Qaidah?
Atau apakah manhaj Al Qaidah begitu rumitnya melebihi rumitnya teori relativitas?

Di antara tanda-tanda umum gerakan yang sukses dalam sejarah, ialah bahwa manhaj gerakan itu harus:
Sangat jelas
Sangat simple/sederhana
Sangat dapat diterima

Dan tujuan dari gerakan tersebut haruslah:
Tepat dan akurat
Dapat diteliti dan dieksporasi
Memenuhi harapan dari siapa saja yang mengembannya

Mengenai manhaj Al Qaidah di mana banyak orang mengklaim tidak memahaminya, maka Al Qaidah tidak memiliki manhaj yang lain selain Din Islam yang telah mengangkat status ulama itu.

Jika Komunisme mendasarkan metodologi dan manhajnya berdasarkan fikrah Marx dan Hegel, dan menjadikan pemikiran mereka ini sebagai din (agama), maka Al Qaidah menjadikan Din Islam sebagai manhajnya. Sungguh satu perbedaan seperti langit dan bumi, membandingkan antara orang yang mengambil pemikiran manusia sebagai din dengan orang yang mengambil Din Allah sebagai manhajnya.

Front peperangan melawan terorisme yang dilancarkan Rejim Pemerintah Amerika terbagi dalam tiga bagian:
1.Menyerang basis terorisme di Afghanistan dan memotong jalur bantuannya
2.Melindungi Amerika dari berbagai serangan selanjutnya
3.Memerangi pemikiran terorisme dan mengalahkannya

Dan dengan mengetahui tiga front perang ini, kita segera menyadari bahwa mereka (Amerika) akan kalah.

Mereka telah gagal di tahap pertama, karena para ‘teroris’ itu tidak memiliki satu basispun di tempat itu, yang dapat/layak dijadikan sasaran penyerangan, dan apa yang kita sebut sebagai ‘kamp pelatihan’ di Afghanistan itu lebih tepat disebut wilayah tanah tandus ketimbang sebuah kamp pelatihan.

Sementara melindungi Amerika dari serangan selanjutnya, maka itu adalah satu hal yang sulit dicapai. Dan berkurang atau tidak adanya serangan terhadap Amerika pada saat akhir-akhir ini bukan berarti serangan terhadap Amerika berhenti dilancarkan. Ini hanya masalah waktu, karena setiap misi telah ditetapkan jadualnya. Serangan 9/11 yang legendaris itu membutuhkan tidak kurang dari 5 tahun waktu untuk persiapannya. Dan sebagai sebuah rencana, maka ia sudah dicetuskan 20 tahun sebelumnya (semenjak penyerangan Libanon pada dekade 80an sebagaimana dikatakan Sheikh Usamah bin Ladin).
Sementara target untuk ‘memotong’ sumber inspirasi dan membuat Al Qaidah mati sebelum berkembang, dengan cara memerangi dan mengalahkan ideologi/fikrah ‘teroris’, maka pada hakikatnya adalah memerangi fikrah Islam.

Khusus dalam front ini, kami tidak akan terlalu terlibat dalam pertempuran, karena ini adalah medan pertempuran antara kaum ‘Neo Konservatif’ dan ideologi Globalisme mereka melawan Allah Yang Maha Perkasa, yang telah menurunkan Din Islam ini. Siapakah nanti pemenangnya? Sebuah kenyataan yang tidak memerlukan klarifikasi panjang lebar jika yang membaca ini adalah seorang muslim atau setidaknya mereka para ‘ulama’ muslim itu.

Panji/slogan Al Qaidah sangat sederhana. Ia berbunyi:
“Al Quran yang memberi petunjuk dan pedang yang memberi pertolongan”
(Seperti kata-kata Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika mengomentari ayat 25 Surat Al Hadid, “… dan Din Islam ini ditegakkan, bersama Kitab [Al Quran] yang memberi petunjuk, dan besi [pedang] yang memberi pertolongan”)

Ini lebih komprehensif dan lebih ringan ketimbang slogan berbagai organisasi dan jamaah Islam. Dan tentu ini lebih pendek dari slogan
“Singgasana kekuasaan adalah tujuan kami
Dan Barat adalah teladan kami
Dan referendum-pemilu adalah Quran kami
Dan hidup di jalan parlemen adalah cita kami tertinggi”

Sementara tujuan Al Qaidah…
Maka ia bukanlah satu hal yang sangat pelik seperti soal logaritma
Atau soal persamaan al jabar lainnya.

Tujuan Al Qaidah sederhana dan jelas

Di antara tujuan taktisnya adalah:
“Aku bersumpah demi Allah, Yang Maha Perkasa, Yang telah menegakkan langit tanpa tiang, Amerika dan mereka yang tinggal di Amerika tidak akan pernah merasakan keamanan dan kedamaian, hingga kami merasakan keamanan dan kedamaian di Palestina, dan hingga seluruh tentara kafir dan kekuatan kafir keluar dari Bumi Suci kelahiran Nabi shallahu’alaihi wa salam”.

Allahu Akbar!
Kemuliaan hanya milik Islam
Dan keberkahan serta keselamatan semoga dicurahkan Allah atas Anda semua

Yang sangat membutuhkan Allah
Abdur Rahman Faqeer

———————————–

Battalion Media Al-Tawbah

Add comment 29 June 2008

Ijinkan Saya Bertanya

Ini sebuah artikel yang ditulis oleh Sheikh Maulana Mas’ud Azhar, salah seorang tokoh jihad dan mujahidin dari Tanah Hindustan. Beliau pernah menyerta jihad di Afghan pada medio 1980, kemudian kembali ke negerinya, dan terlibat secara aktif dalam berdakwah, membina pemuda, dan mengorganisasi jihad fi sabilillah, khususnya di Tanah Kashmir. Beliau dikenal sebagai orator yang cerdas, penulis, dan pejuang yang tabah. Sempat dipenjara beberapa waktu oleh militer India.

Tulisan Beliau ini disadur dan diterjemahkan dari situs Islamicawakening.com, dengan judul “I Have A Question”.

Semoga bermanfaat

Ijinkan saya bertanya

Ditulis oleh: Maulana Mas’ud Azhar

Di sebuah masjid. Sebuah khutbah yang menggugah hati tengah disampaikan. Khutbah ini mengalir begitu lancar, kuat, dan tajam. Para jamaah mendengarkan dengan tekun dan khusyu. Sang khatib berbicara dengan bahasa yang luwes, kadang ia mengutip ayat Al Quran dengan fasih dan merdu, di kali yang lain ia membacakan hadits nabi yang menelisik menembus kalbu para pendengarnya.

Kadang pembicaraan berbelok mendiskusikan masalah politik dan perkembangan terkini; pemilu distrik dan perkembangan dakwah parlemen. Kadang ceramah menukik menceritakan kisah gemilang teladan masa Shahabat Ridwanullahu ‘alaihim. Syair urdu dan persia ikut melengkapi kisah sehingga membuat ceramahnya begitu berkesan. Kini sang maulana yang tengah berkhutbah menjadi semakin emosional. Kata-katanya bergetar dan memenuhi ruangan masjid, menyusup ke dalam relung kalbu para jamaah yang semakin khusyu dan tekun menyimak. Menggetarkan.

Orang-orang yang mendengarkan khutbah begitu membludak hingga masjid besar nan mewah itu tak dapat menampung jamaah. Orang-orang saling berdesak terutama di sekeliling mihrab. Semuanya hening, tidak ada yang berbicara. Semuanya berkonsentrasi menyimak kata-kata khutbah yang sangat menyentuh itu. Kadang suasana hening dipecahkan dengan teriakan slogan “Takbir!”…. Allahu Akbar!”. Lalu diikuti dengan teriakan, “Bi Ruh bid Dam Nafdika Ya Islam!”. Para pendengar yang tengah khusyu sontak ikut bertakbir dan meneriakkan slogan. Ini memberi kesempatan pada sang maulana untuk rehat sejenak. Kemudian kembali kata-katanya menggelegar menggetarkan masjid dan jamaahnya. Setiap orang berdoa agar ceramah ini dapat berlangsung terus sepanjang hari dan agar Allah memberi kekuatan kepada sang maulana yang tengah berkhutbah itu.

Tiba-tiba khutbah berhenti. Orang yang berkumpul bergumam dan berbicara. Orang-orang memusatkan perhatiannya kepada sang maulana dan menunggu khutbah selanjutnya. Hanya Allah yang mengetahui doa apa yang dipanjatkan sang maulana selama jeda yang tidak lama itu, karena setelah jeda itu ia kembali berkhutbah dan khutbahnya semakin bernas. Topiknya kini adalah tentang Syumuliyah (komprehensivitas) Din Islam. Ia menyampaikan kata-katanya dengan gaya yang khas,

“Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, saya menyatakan dengan penuh keyakinan dan iman dan pernyataan saya ini jelas dan terang sejelas sinar matahari. Saya menyatakan bahwa Din Islam ini adalah ajaran yang lengkap dan komprehensif. Segala hal, baik itu mengenai urusan dunia maupun urusan akhirat, Islam memiliki solusinya. Dunia mungkin berubah, sikap masyarakat bisa berubah, budaya bisa berubah, tetapi Din kita ini memiliki solusi yang dapat menjawab tantangan setiap setiap era, setiap kebutuhan, setiap kelas masyarakat, dan juga solusi terbaik atas setiap budaya. Apakah itu masalah yang terkait dengan ibadah, atau pranata sosial, atau problem ekonomi, atau peradaban; Islam memiliki paradigma yang tetap. Apakah kita berjalan di atas angkasa atau menyelam ke dalam bumi sekalipun, kita akan temukan petunjuk Islam. Jika ada di antara anda sekalian yang masih memiliki keraguan, maka silakan ia menyampaikan pertanyaan dalam sesi diskusi setelah khutbah saya ini”.

Dua sesi khutbah hari itu telah berlalu tetapi sedikitpun tidak tampak rasa lelah atau jemu di wajah para jamaah. Sang maulana mengakhiri khutbahnya dan mengumumkan, siapa yang ingin meninggalkan tempat dipersilakan, sementara panitia masjid tengah mempersiapkan sesi diskusi dalam suasana yang lebih informal. Tetapi tampaknya tidak ada seorangpun yang ingin pergi. Semua menunggu sesi diskusi dimulai.

Sesi diskusi pun dimulai. Kini sang maulana sudah turun dari mimbar dan ikut duduk bersila di tengah-tengah kumpulan massa. Seseorang berdiri dan berkata, “Islam telah menetapkan berbagai aturan yang dapat dilaksanakan oleh orang yang normal. Tapi bagaimana keadaannya untuk orang yang sakit seperti saya? Saya memiliki penyakit, hidung saya selalu mengeluarkan darah, sehingga saya tidak bisa menyempurnakan wudlu. Kadang terjadi darah mengalir dan mengotori baju saya, sehingga tidak pernah saya shalat melainkan pasti baju saya terkena najis dari darah saya. Saya merasa malu melaksanakan shalat dalam keadaan kotor seperti itu di hadapan Allah Rabbul ‘alamin. Karena itu saya akhir-akhir ini sering tidak melaksanakan shalat. Bagaimana hukum syariat terhadap saya ini?”

Sang maulana mengusap janggutnya yang hampir memutih itu, lalu berkata dengan intonasi yang kuat, “Anda tetap tidak boleh meninggalkan shalat. Anda harus berwudlu dan melaksanakan shalat dan Allah memaafkan anda. Darah yang mengalir itu tidak membatalkan wudlu dan shalat anda”.

Seorang yang lain berdiri dan berkata, “Saya ingin bertanya tentang isteri saya dan masalah haidhnya. Tapi saya merasa malu, sehingga saya ragu untuk bertanya”. Sang pengkhutbah menjawab, “Anda tidak perlu malu bertanya masalah agama. Sungguh, syariah kita telah menetapkan aturan yang mendetail mengenai ‘darah wanita’”. Kemudian sang maulana meneruskan dengan menerangkan permasalahan yang ditanyakan tersebut dengan detail.

Sesi diskusi berlanjut dan setiap orang menikmatinya. Suasananya berlangsung hangat dan akrab. Sang maulana menjawab setiap pertanyaan dengan dalil dan hujjah yang kuat, sehingga memuaskan setiap orang. Para jamaah semakin menaruh kepercayaan kepadanya.

Tiba-tiba seseorang berdiri dari satu sudut masjid. Penampilannya kurus, di wajahnya terlihat jelas rona kekecewaan. Wajahnya dan bajunya lusuh kusut masai. Sebagian bajunya sobek-sobek. Umurnya sekitar 20 hingga 30. Kendati wajahnya terlihat lelah, orang-orang dapat merasakan nur memancar dari wajah pemuda lusuh ini. Pemuda ini berdiri dan berjalan mendekat. Kumpulan orang seperti tersibak. Terdengar gumam ketidaksetujuan beberapa jamaah terhadap anak muda lusuh ini. Sang pemuda kemudian berkata, “Tuan yang terhormat, apakah anda juga memiliki jawaban atas pertanyaan saya?”. Suaranya lirih, tetapi mengandung kekuatan. Anak muda itu mengatakannya dengan bibir bergetar, sementara matanya mulai berkaca-kaca. Seketika ruang masjid yang besar itu menjadi hening.

Sang maulana memandang lurus ke arah anak muda itu. Ia dapat melihat selarik air mata mulai jatuh membelah wajah anak muda itu. Sang maulana kemudian tersenyum berusaha menenangkan. Ia lalu berkata, “Sampaikan pertanyaan Anda. Din kita memiliki solusi atas setiap masalah, insya Allah. Agama kita akan menolong setiap orang yang dalam kesusahan dan masalah. Alhamdulillah. Din kita pasti memberikan jalan keluar dari setiap bencana. Sampaikan pertanyaan anda, dan jangan takut”.

Anak muda itu diam sejenak dan menenangkan dirinya. Kemudian ia berkata, “Saya akan memperkenalkan diri saya, sehingga anda semua dapat lebih mudah memahami permasalah saya ini. Saya datang dari sebuah lembah yang indah bernama Kashmir. Pertanyaan yang saya sampaikan tidaklah menyangkut persoalan pribadi. Saya berdiri di sini mewakili ummah. Akankah anda mengijinkan saya untuk berkata?”

Sang maulana menjawab dengan nada yang ramah dan hangat, “Ya, tentu! Anda juga memiliki hak untuk bicara. Bahkan kami layak menghormati anda karena anda adalah tamu kami”.

Anak muda itu telah siap menyampaikan kata-katanya, tetapi air mata telah deras membasahi wajahnya. Ia berkata dengan suara bergetar, “Maulana yang saya hormati, dan saudara-saudara saya warga pakistan. Jangan kalian salah menyangka saya seorang pengemis karena penampilan saya. Saya berdiri di tengah anda semua, untuk menyampaikan permasalahan yang menyangkut diri saya dan kalian semuanya. Saya memohon agar anda dapat mendengar dengan khidmat, karena situasi yang sama bisa anda alami. Dan jangan menyangka kabar yang saya sampaikan sekedar kisah menjelang tidur. Sesungguhnya saya menyampaikan kebenaran.

Wahai Ulama! Pernyataan anda bahwa Din kita memiliki jawaban dan solusi atas setiap masalah telah mendorong saya untuk menyampaikan beberapa pertanyaan. Sebelum saya menyampaikan topik utama, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan lebih dulu. Saya berharap anda dapat menjawab secara jujur dan terbuka. Pertanyaan pertama saya adalah tentang kata ‘Jihad’ yang telah disebutkan begitu banyak dalan Quran dan hadits. Apa artinya?”.

Sang maulana menjawab langsung, “Jihad berasal dari kata Juhd, yang artinya bersungguh-sungguh. Maka siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam Din masuk dalam kategori jihad. Apakah seseorang berdakwah, atau berparlemen, atau mengajarkan agama, atau menulis topik yang penting, atau menyampaikan khutbah. Semua masuk dalam kategori jihad”.

Pemuda Kashmir itu kemudian berkata dengan suara yang kuat, “Wahai Tuan! Saya tidak bertanya tentang makna literal dari jihad atau dalam konteks umum. Tetapi saya bertanya tentang pengertian syar’i dari jihad. Saya bertanya tentang Jihad Fi Sabilillah, jihad yang juga diartikan dengan Qital (berperang). Saya bertanya tentang jihad yang membuat orang yang melakukannya pantas disebut Mujahid. Saya bertanya tentang jihad, yang ketika perintah ini diumumkan di jalan-jalan Madinah, para Shahabat Radliallahu’anhum segera bergegas mempersiapkan diri mereka dengan senjata dan berangkat ke medan perang. Saya bertanya tentang jihad, di mana Allah telah memerintahkan dalam salah satu ayat Quran agar Nabi mendesak orang-orang mu’min menunaikannya. Saya bertanya tentang jihad, yang hanya kepada orang yang melakukannya Allah menjanjikan satu dari dua kemenangan, syahadah, atau menang dan ghanimah.

Jihad yang saya maksudkan, adalah jihad yang tercantum dalam banyak kitab hadits shahih yang masyur. Imam Bukhari Rahimahullah mencantumkan tidak kurang dalam 241 bab berisi sekian banyak ahaadits dalam judul Jihad. Yang saya tanyakan adalah jihad, di mana Imam Muslim Rahmatullah menuliskan dalam kitab shahihnya lebih dari 100 bab di bawah judul Jihad, Imam Abu Daud mencantumkan 11 bab tentang keutamaan Jihad, Imam An Nasaa’i menulis 48 bab dalam kitabnya untuk dijadikan hujjah dan dalil wajibnya menunaikan jihad. Dan Imam Ibnu Majah menyebutkan tidak kurang dari 46 bab mengenai hal ini dalam sunannya.

Wahai Ulama! Jihad yang telah disebutkan dalam begitu banyak kitab yang ditulis oleh ulama-ulama besar muhadditsin ini, umumnya berisi seputar persenjataan, syuhada, membunuh dan terbunuh, kuda perang, panah dan melontar, intelijen, keutamaan para pejuang dan penempur, ribath dan berjaga-jaga, keutamaan terluka di Jalan Allah. Saya tidak mendapati apa-apa yang anda sebutkan, masuk dalam kategori jihad seperti yang dituliskan para ulama muhadditsin ini dalam kitab-kitab shahih mereka.

Saya bertanya kepada anda tentang jihad yang dengan itu Islam jadi mulia, jihad yang dengan itu Allah memisahkan mu’min shodiqun dengan munafiq, jihad yang dengan itu muslim diperintahkan memerangi negara kuffar dan membolehkan kita menebarkan teror ke wilayah orang-orang kafir, jihad yang dengan itu khilafah akan dapat tegak berdiri. Saya bertanya tentang jihad yang dengannya seluruh fitnah akan dihapuskan. Saya bertanya tentang jihad, yang dengannya Nabi kita shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabatnya turut menyerta, jihad yang dengannya para malaikat turun dari langit, jihad yang dengannya disebutkan Huur al ‘ain (bidadari Surga bermata jeli).

Saya mendengar bahwa Nabi menyertai Jihad ini tidak kurang dari 27 kali dan mengirimkan banyak ekspedisi terkait dengannya. Saya bertanya tentang jihad yang membuat Hazrat Kaab bin Malik Radliallahu’anhu harus diasingkan oleh para Shahabat lain karena lalai tidak menyertainya.

Saya bertanya tentang jihad yang berbicara tentang ribath, berbicara tentang kuda-kuda yang dipacu untuk mendobrak barikade musuh sehingga Allah Tertawa, darah yang mengalir dan darah itu menjadi harum mewangi, Jihad di mana “Mu’min membeli Jannah dengan diri dan hartanya…”

Kata-kata pemuda Kashmir itu menggema jelas, memenuhi ruangan masjid. Setiap orang menjadi takjub mendengarnya. Pemuda Kashmir itu melanjutkan, “Wahai Tuan! Saya bertanya tentang Jihad yang setiap bangsa dan ummat pasti akan dihinakan jika mereka melalaikannya. Saya bertanya tentang jihad yang disebutkan sebagai ‘Dzarwatus Sanam’ – puncak-puncak ketinggian dan perlindungan Din Islam”.

Sejenak pemuda Kashmir tadi menghentikan kata-katanya. Seluruh ruangan masjid menjadi hening. Kini pandangan seluruh jamaah beralih menuju sang maulana yang duduk terdiam. Kepalanya menunduk dalam. Wajahnya tertangkup di antara kedua tangannya. Lama ia terdiam. Masjid jadi semakin hening. Kemudian sembari menarik nafas panjang ia mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajahnya ke arah pemuda Kashmir, “Wahai Teman, anda telah berkata benar. Pengertian syar’i dari jihad adalah berperang, bertempur di Jalan Allah. Demikian pula ini menjadi pengertian sebagaimana yang dituliskan jumhur fuqoha dalam kitab-kitab fiqh mereka. Orang-orang kafir harus diajak memeluk Islam. Jika mereka menolak dakwah dan menolak membayar jizyah, maka mereka harus diperangi. Ini masuk dalam kategori Jihad fatah wa talab, jihad Ofensif. Bertempur dan berperang adalah bagian mayoritas dari makna sebenarnya dalam istilah Jihad Fi Sabilillah. Dan kenyataannya, seseorang Mujahid hanyalah mereka yang bertempur di medan perang untuk mempertahankan Islam.

Wahai teman! Jihad adalah salah satu kewajiban dalam Islam dan ia adalah salah satu kewajiban paling mulia. Orang yang mati karena menunaikannya boleh menyandang gelar Syuhada dan siapa saja yang dapat kembali pulang dalam keadaan hidup dipanggil dengan sebutan Ghazi. Jihad adalah satu-satunya jalan untuk meninggikan dan menegakkan kemuliaan Islam. Makna sesungguhnya jihad adalah mempersiapkan segala perlengkapan militer dan kekuatan senjata, lalu berangkat ke medan perang untuk menghancurkan kekuatan musuh-musuh Islam. Debu-debu dari medan jihad fi sabilillah yang menempel pada tubuh seseorang, maka Allah SWT haramkan api neraka menyentuh tubuh itu.

Wahai anak saudaraku! Apa yang engkau nukil bahwa para ulama muhadditsin mengartikan jihad dalam konteks berperang, juga sepenuhnya benar!”

Kini seluruh jamaah masjid jadi bertambah semakin hening. Kesemuanya tenggelam dalam pikiran yang dalam, dan merasakan sesuatu berkecamuk dalam pikiran dan qolbu mereka setelah menyimak untaian kata-kata jawaban dari sang maulana pengkhutbah. Baru kali ini rasanya mereka mendengar bahwa menantang musuh Islam dalam pertempuran adalah juga satu kewajiban, sama seperti kewajiban yang lain seperti shalat dan shoum; adalah juga satu bagian ibadah, sama seperti ibadah yang lain seperti berdakwah dan berhajji.

Sekilas rona puas menyaput di wajah sang pemuda Kashmir. Kemudian ia berkata, “Wahai maulana yang saya hormati! Saya sungguh berterima kasih kepada anda karena telah menyampaikan pengertian yang benar tentang jihad, sebagaimana yang dipahami, ditulis, maupun dibuktikan lewat teladan nyata amal mulia oleh para pendahulu kita kalangan Salafush Sholeh. Pertanyaan kedua saya, apakah kedudukan syariat atas Jihad itu? Apakah fardlu, wajib, sunnah, atau mustahab? Apakah ia satu amal yang penting atau tidak?”

Sang maulana berkata, “Syariat menetapkan ada dua pembagian Jihad. Jihad Tholab dan Jihad Difaa’. Jihad Tholab atau jihad ofensif, adalah setiap muslim wajib berdakwah kepada orang kafir untuk mengajak mereka memeluk Islam. Jika mereka menolak, maka mereka harus membayar jizyah. Jika mereka menolak juga, maka perang harus dilancarkan kepada mereka. Alasannya, adalah satu hal yang tidak mungkin, seorang kafir, seorang yang memberontak melawan kuasa Allah dan menolak Islam dapat bebas memerintah dan berkuasa di atas Bumi milik Allah. Jihad ini dilakukan umumnya bersama-sama dengan Sulthan. Jihad jenis ini hukumnya fardlu kifayah; jika ada sekelompok ummat telah menunaikannya, maka hal itu mewakili seluruh ummah.

Yang kedua adalah Jihad Difaa’ atau jihad defensif. Jika orang-orang kafir telah menyerang dan memasuki negeri Islam, maka hukumnya fardlu ‘ain atas seluruh penduduk negeri itu untuk menunaikan jihad hingga musuh dapat dihancurkan dan diusir keluar dari wilayah Islam. Jika umat Islam di sana tidak mencukupi, maka kewajiban fardlu ‘ain tersebut meluas ke wilayah atau negeri sekitarnya. Dan jika mereka juga tidak mencukupi, entah karena mereka lemah, atau karena mereka enggan, maka fardlu ‘ain meluas ke wilayah-wilayah selanjutnya dalam pola radius, hingga Jihad menjadi Fardlu ‘Ain atas seluruh Ummat Islam dari belahan timur hingga ujung barat bumi ini. Jihad dikatakan fardlu ‘ain, artinya wajib hukumnya atas setiap pribadi muslim. Ketika ia menjadi fardlu ‘ain, maka tidak diperlukan ijin dari orang tua atau wali atau penjamin atau saran siapapun. Jihad menjadi fardlu ‘ain ketika orang kafir memasuki dan menguasai sejengkal saja Bumi Islam, atau mereka melarang disebarkannya Da’wah, atau mereka menangkap atau memenjarakan satu saja orang muslim, atau ketika dua pasukan telah saling berhadapan di medan perang. Dan selamanya menjadi fardlu ‘ain, sampai seluruh Bumi Islam dapat kembali dibebaskan, atau sampai Da’wah dapat kembali ditegakkan, atau sampai orang terakhir yang ditawan dapat diselamatkan. Jihad menjadi fardlu ‘ain dalam kondisi-kondisi di atas. Hukum fardlu ‘ain, barangsiapa melalaikannya, maka ia menjadi Fasiq (berdosa besar)”.

Pemuda Kashmir itu berkata, “Wahai maulana yang saya hormati! Pertanyaan penting yang lain, apakah berperang di Jalan Allah itu satu kewajiban yang berlaku hanya untuk masa Rasulullah, atau ia berlaku juga atas seluruh muslim hingga ditegakkannya Hari Qiyamat? Saya juga ingin meminta penjelasan dari anda, apakah pertolongan Allah dan kekuatanNya yang menyertai para pejuang, akan berlaku sepanjang masa, atau berlaku untuk masa tertentu? Juga ayat Quran yang artinya, “Jika kalian tidak berangkat berjihad Allah akan menimpakan bencana kepada kalian”. Juga hadits yang berbunyi kurang lebih; “Jika kalian telah menggandrungi dunia ini dan takut kepada kematian di Jalan Allah, maka bangsa-bangsa akan mengepung kalian seperti hewan buas mengelilingi seonggok daging di atas meja”. Juga hadits lain yang menegaskan, “Jika kalian melalaikan Jihad, kalian akan ditimpa kehinaan”. Semua pernyataan itu, apakah berlaku untuk satu era tertentu, atau ia berlaku sepanjang masa?”

Sang maulana menjawab, “Wahai sahabat muda! Jihad fi Sabilillah adalah salah satu kewajiban Islam. Bahkan seluruh kewajiban mendapat perlindungan melalui Jihad. Kewajiban ini berlaku sampai Hari Qiyamat. Nabi shallallahu’alaihi wa salam telah menetapkan, “Jihad akan terus berlangsung sampai Hari Qiyamat”. Nabi juga menyatakan, “Akan senantiasa ada satu thoifah dari kalangan umatku yang berperang di atas Al Haq, … hingga tibanya Hari Qiyamat”. Kita mendapati dari hadits-hadits yang berbicara tentang Thoifah Manshurah, bahwa ciri utama thoifah yang mendapatkan pertolongan Allah ini, bahwa mereka adalah thoifah yang berperang menantang kekuatan kuffar. Keberadaan mereka akan berlangsung sampai Hari Qiyamat. Pertolongan Allah akan selalu menyertai para Mujahid. Kapan saja para mujahid berangkat ke medan perang, ia tidak akan sendirian. Kuasa Allah akan menyertainya, apakah mujahid itu dalam keadaan kuat atau lemah, dalam keadaan banyak atau sedikit, dalam keadaan memiliki perlengkapan atau tidak. Allah Rabbul ‘alamin akan berdiri menyertainya manakala ia berdiri menantang musuh kafir dengan hati dan niat yang tulus.

Wahai anak muda! Hadits-hadits yang anda sebutkan tadi, juga ayat Quran yang anda bacakan, kesemuanya benar. Allah memerintahkan kita berjihad, dan perintah itu tetap hingga Hari Qiyamat. Dari sini kita melihat, mengapa para ulama muhadditsin, juga para ulama fuqoha, dari kalangan Salafush Sholeh, belum pernah, bahkan tidak pernah, menulis atau mengabarkan bahwa kewajiban Jihad telah dicabut. Tetapi kemudian tentu, kaum penjajah, seperti Inggris, merancang berbagai makar, mengatasnamakan Nabi Shallallahu’alaihi wa salam yang mulia, untuk membiaskan, memudarkan, bahkan menghilangkan pemahaman yang benar tentang Jihad dari fikrah Umat Islam. Mereka mengkampanyekan bahwa Din Islam adalah agama perdamaian, Din Salaam. Dan ummat Islam adalah umat pencinta damai. Mereka mengkampanyekan, ‘apa yang didapat orang muslim dengan berjihad? – selain kematian, kehilangan orang-orang dicinta, penderitaan, juga cap buruk bahwa kita umat teroris, bahwa Din ini disebarkan dengan paksaan, bahwa Nabi memegang Kitab dan Pedang, bahwa umat ini kelompok manusia yang haus darah… Ini semua mereka lakukan, sehingga kita menjadi lalai, dan kita melupakan kewajiban agama yang sangat penting ini, melupakan ibadah syar’i ini. Lalu pada saatnya, penjajah kafir itu dapat menumpas kita dengan mudah. Maka penjajah Inggris mendorong munculnya dajjal-dajjal – nabi palsu, seperti Mirza Qodiyani ini, yang mengumumkan bahwa kewajiban jihad telah dibatalkan”.

Sang maulana terdiam setelah untaian kata-kata jawabannya selesai. Bersamaan dengan itu, ia telah menambahkan beberapa poin-poin baru dalam pemahaman para jamaahnya:

Berperang di Jalan Allah, Jihad Fi Sabilillah adalah salah satu kewajiban Islam, sama seperti kewajiban yang lain semisal shalat, shoum, zakat, hajji, berdakwah.

Kewajiban Jihad ini berlaku hingga Hari Qiyamat

Jika Ummat Islam melalaikan kewajiban Jihad, Allah SWT pasti akan menimpakan kehinaan atas mereka

Seseorang yang menolak atau membelokkan pengertian Jihad dalam konsep ini, maka ia menyelisihi pemahaman kalangan Salafush Sholeh. Lalu jika ia tidak memahami Islam seperti yang dipahami Salafush Sholeh, apakah masih bisa ia disebut seorang muslim?

Kaum kafir penjajah, seperti Inggris, menebarkan ghozwul fikr, salah satu caranya dengan menggunakan ‘agen-agen’ dari kalangan umat Islam sendiri, yang mengkampanyekan pemahaman yang menyelisihi dari pemahaman Salafush Sholeh. Contohnya nabi palsu Mirza Qodiyani yang mengumumkan kewajiban Jihad telah dicabut.

Sekali lagi, suara pemuda Kashmir memecahkan keheningan, “Beberapa hari telah berlalu semenjak saya meninggalkan Kashmir dan sampai di sini. Anda semua pasti telah mengetahui, bahwa Lembah Kashmir adalah kampung halaman dari ummat Islam. Kini, lembah nan subur itu telah berubah menjadi parit-parit api. Rakyat muslim Kashmir tengah berupaya untuk dimusnahkan, hanya karena mereka menjadi muslim. Serigala-serigala Hindu haus darah berkeliaran mencari mangsa dengan bebasnya. Sekolah-sekolah dibakar, dan anak-anak kami yang tak berdosa dicampakkan hidup-hidup ke tengah kobaran api. Masjid dan madrasah dihancurkan sementara jamaah dan santrinya dikurung di dalamnya.

Wahai maulana yang saya hormati! Kejahatan terbesar yang berlaku di lembah Kashmir adalah memeluk Din Islam. Dosa terbesar adalah jika anda terbukti seorang muslim. Para muslimah, saudari kita seiman, banyak yang menjadi janda. Tak sedikit kanak-kanak telah menjadi yatim.

Tuan yang terhormat! Penindasan yang terjadi di Kashmir telah sedemikian kejam dan bengis, hingga langit terguncang. Anda mungkin tidak akan percaya hal-hal buruk seperti ini terjadi di masa ini…. Yang mereka sukai, di antaranya adalah menghujamkan pipa besi ke arah kemaluan saudari muslimah kita – seperti yang dilakukan nenek moyang mereka dulu kepada Bunda Sumayyah, kemudian menembak kepalanya. Gadis-gadis terhormat diperkosa secara brutal sebelum dibantai.

Dalam situasi yang sangat kritis ini, kami, saudara seiman anda di Kashmir, telah melakukan segala hal yang kami bisa, kami korbankan segalanya yang kami punya, hingga anak-anak terakhir kami, hingga nyawa-nyawa terakhir kami, untuk membela Islam dan meninggikan panjiNya. Bahkan kaum perempuan kami ikut terjun berhadapan dengan orang kafir di medan tempur. Tuan, kami berperang untuk membela Islam dan melindungi Quran. Kami memahami musuh yang datang menyerang ini, mempersiapkan diri dengan persenjataan lengkap, kekuatan, teknologi, dan strategi. Dan mereka datang dengan membawa dendam membara yang dipendam berabad-abad yang lalu. Mereka datang ke lembah Kashmir, untuk menghapuskan Islam dan Ummatnya selama-lamanya dari lembah Kashmir.

Kami dalam keadaan lemah, tidak terlatih dan berpengalaman, serta tidak memiliki perlengkapan. Kami menghadapi medan pertempuran hanya menyandarkan diri kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Kami berpikir, seandainya semenjak awal kami diajarkan tentang kewajiban Jihad, hukumnya, serta persiapannya, sebagaimana Quran memerintahkan, niscaya kami, insya Allah, dapat mengimbangi kekuatan musuh dan memberi mereka pukulan telak. Selama ini yang diajarkan kepada kami, segala hal yang sifatnya baik, dan indah. Kita diajarkan tentang keutamaan dan fadlilah serta hukum dari wudlu, thaharoh, hajji, zakat, dll. Kita diajarkan tentang adab dan keutamaan menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Tapi kita tidak pernah diajarkan secara terbuka bagaimana hukum Islam yang sebenarnya ketika berurusan dengan musuh kuffar. Ternyata selama ini, ada yang tersembunyikan, yang belum diajarkan dengan benar, dari pemahaman para pendahulu kita kalangan Salafush Sholeh. Tidak semua ajaran mereka sampai kepada kita dengan semestinya, seperti yang mereka pahami dan mereka amalkan. Kita kemudian jadi terbiasa, dan tidak merasa malu atau berdosa, jika kita bersikap enggan atau jadi pengecut. Sementara kalangan Salaf memandang kepengecutan dan sikap tidak perduli, sebagai salah satu dosa besar.

Baru sekarang kami tahu, ternyata Nabi kita yang sangat santun itu, mendapat perintah dari Allah untuk berperang, dan mendesak umat Islam pengikutnya untuk berperang. Nabi kita memerintahkan umatnya untuk bertempur, dan Beliau sendiri ikut serta bertempur.

Inilah, mengapa orang-orang di Jaman mereka mampu meraih kemuliaan dan izzah. Mereka hidup dalam keadaan damai dan terhormat, tetapi kita tidak diberitahu tentang bagaimana mereka meraih kondisi terhormat itu. Seakan ayat Quran, dan warisan Nabi tentang hal ini baru kita dengar sekarang. Maka hari-hari ini, kita mempersaksikan penindasan musuh menimpa kita, padahal kita tidak menuntut kecuali yang menjadi hak kita. Kita mempersaksikan kehormatan muslimah saudara kita diperhinakan di depan mata kita. Sementara kita semua hanya bisa diam.

Tuan, anda mungkin tidak percaya, tetapi saudari muslimah kita ditelanjangi dengan paksa di depan mata saudaranya. Seorang ibu diperkosa di hadapan anak-anaknya, dan isteri diperkosa di depan suaminya.

Maulana yang terhormat! Seandainya saja semenjak awal kita diajarkan untuk bersiap, memahami hakikat pertempuran, dilatih menggunakan peralatan militer… seandainya saja semenjak awal kita diberitahu bahwa berlatih bertempur itu adalah salah satu kewajiban agama… jika memang ini merupakan salah satu kewajiban agama yang sangat penting, lantas mengapa seakan seluruh hal yang terkait dengan jihad ini disembunyikan dari kita, kalaupun diajarkan, umumnya dibiaskan dan dibelokkan pengertiannya, tidak seperti yang dipahami pendahulu kita Salafush Sholeh. Kini kita semua menanggung akibatnya karena melalaikan kewajiban ini.

Alhamdulillah, kini kami telah memulai Jihad fi Sabilillah, meskipun tidak memiliki senjata atau pengalaman. Kami menyandarkan diri kepada Allah. Juga kami menyandarkan diri kepada keyakinan, bahwa kami muslim, dan kami meyakini ikatan ukhuwah. Kami memiliki saudara di seluruh penjuru dunia yang jumlahnya lebih dari satu miliar. Kami meyakini saudara kami seiman tidak akan tinggal diam. Bukankah kita pemeluk Din yang sama seperti yang dipeluk oleh Komander Muhammad bin Qasim. Sementara Beliau Rahmatullah telah memimpin langsung satu armada yang dikerahkan dari Hijaz menuju Kabul hanya karena mendengar teriakan minta tolong seorang gadis muslimah. Bukankah kita pemeluk din yang sama seperti yang dipeluk Sulthan Al Mu’tasim, yang mengerahkan bala tentara besar untuk membebaskan hanya satu muslimah yang ditawan orang-orang Banu Asfar. Bukankah kita pengikut millah yang sama seperti millah Komander Thoriq bin Ziyad, yang telah mencatat penaklukan bersejarah di pantai Andalus untuk membawa keadilan bagi seorang perempuan kristen yang meminta pertolongan. Kita juga pemeluk din yang sama yang dipeluk Mahmud Ghaznawi dan Ahmad Shah Abdal, yang telah memimpin pasukan Islam dari Tanah Khurasan Afghanistan hingga memasuki India.

Kami menyakini sepenuhnya, atas dasar ikatan ukhuwah yang suci ini, bahwa jika tangis pilu dan rintih meminta pertolongan dari para bunda kita dan para saudari muslimah kita bergema dari celah-celah bukit Kashmir, maka para pemuda dan putra-putra Islam terbaik yang ada di Pakistan akan menjadi resah hatinya. Kami meyakini, tentu mereka akan terguncang dan marah jika mendengar adik-adik kecil mereka di Kashmir, yang dilemparkan dengan bengis ke tengah kobaran api.

Wahai maulana! Para bunda kami senantiasa menghibur anak-anaknya, ketika malam telah larut dan suasana mencekam karena penindasan; jangan bersedih dan jangan berputus asa. Malam kelam penindasan ini akan segera berakhir, insya Allah. Kalian akan lihat, bersama dengan terbitnya fajar di ufuk timur esok hari, seorang alim dari ummah ini, pengikut setia dari Nabi shallallahu’alaihi wa salam, seorang pemuda robbani dalam wujud Panglima Sholahuddin, memimpin sepuluh ribu tentara terbaik dari kaum yang sholeh, akan datang untuk membebaskan kita, menyingkirkan keterhinaan, dan mengembalikan kehormatan dan izzah kita.

Tuan, saya datang membawa pesan yang sama untuk seluruh saudara saya seiman, kaum muslim Pakistan. Saya ketuk pintu setiap orang, saya memohon, saya meminta, saya menyampaikan kepada mereka berdasarkan sumpah ikatan ukhuwah Islam yang suci, saya mengingatkan mereka dengan nama Allah yang agung, saya sampaikan kepada mereka peringatan akan bahaya besar, tetapi sedikit sekali orang yang mendengarkan. Beberapa orang jadi tersentuh hatinya dan menangis. Beberapa orang mengutuk aksi biadab orang Hindu. Beberapa orang membuktikan simpati mereka dengan menulis artikel tentang Kashmir di koran dan majalah. Beberapa mengorganisir aksi protes, atau konferensi solidaritas Kashmir, atau demonstrasi, membakar bendera India, mengibarkan bendera La ilaaha illa Allah, bertakbir dan memprotes, meneriakkan jihad, dan bernasyid. Tapi kesemua mereka setelah itu duduk diam. Merasa merasa telah cukup berjihad dan menunaikan kewajiban agama dan ukhuwah yang suci.

Tetapi musuh tetap membunuh bunda dan saudari kita muslimah Kashmir. Musuh tetap menghancurkan masjid-masjid dan membantai umat Islam. Kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas simpati yang dalam yang telah ditunjukkan oleh seluruh saudara kami warga Pakistan. Tetapi adakah cukup kesemua itu, dan apakah demikian yang diperintahkan Din kita? Kanak-kanak yatim kita membutuhkan lebih dari sekedar air mata simpati dan diskusi dalam konferensi untuk menolong nyawa mereka. Kaum tertindas, lembaran-lembaran Quran yang terbakar membutuhkan lebih dari sekedar demonstrasi atau ungkapan solidaritas atau aksi protes, agar mereka dapat kembali meraih kemerdekaan dan harga dirinya.

Maulana yang terhormat, dan saudaraku seiman! Apakah hukum agama kita dalam menghadapi kondisi sangat kritis ini? Pantaskah kita tetap berdiam di tempat kita? Pantaskah kita berkata, “Tunggu sebentar karena setiap amal ada aulawiyatnya, dan aulawiyat terikat dengan waqi’iyah dari tempat kita tinggal”? Atau kita berkata, “Kami memiliki kewajiban pula di negeri kami, dakwah, membina, dan ishlahul hukuma”? Atau kita berkata, “Tunggu dan bersabarlah kalian hingga nanti kami dapat menguasai negara di Pakistan, sehingga kami dapat mengirimkan pasukan kepada kalian”? Atau kita berkata, “Prioritas kami saat ini adalah memasuki dakwah parlemen dan pemilu distrik, tetapi kami insya Allah tidak pernah melupakan kalian”? Masihkah kita layak menyebut diri kita seorang muslim? Apakah ketetapan Islam atas kondisi dan masa seperti sekarang ini? Apakah hukum Islam yang berlaku menghadapi kondisi ini, atas diri kami dan seluruh umat Islam, atas diri kalian dan seluruh ummat Pakistan?

Pemuda Kashmir itu telah menyelesaikan kata-katanya, kata-kata yang telah membuat setiap hati terguncang, setiap perasaan iman tersentuh. Ruangan masjid yang besar itu dipenuhi dengan suara isak tangis. Di tiap-tiap sudut, orang-orang menangis, mengucapkan istirja kepada Allah, beristighfar dan memohon ampun, sebagian tidak sanggup menegakkan lagi kepala dan mukanya. Janggut, pipi, dan baju mereka basah oleh air mata. Sementara sang maulana pengkhutbah, menunduk sangat dalam. Ia menangis hingga terguncang dadanya. Berulang kali ia menggelengkan kepala sembari berdzikir, mengucapkan istirja, dan memohon ampun kepada Allah. Janggut dan bajunya basah oleh air mata.

Cukup lama isak tangis terdengar menggema di tiap sudut masjid. Tidak ada orang yang bicara. Hingga kemudian suara pemuda Kashmir kembali memecahkan keheningan, “Wahai Tuan sekalian! Jika Islam berhasil dihapuskan dari lembah Kashmir, maka penindasan yang sama akan berulang dan terjadi di Pakistan.

Ambisi orang-orang kafir Hindu tidak hanya terbatas pada Kashmir, tetapi mereka juga mengklaim bahwa Pakistan adalah bagian integral dari Pak Hindustan. Tuan maulana! Tidaklah kami sangsikan bahwa Islam adalah Din yang sempurna, syumul. Karena itu beritahukan kepada kami apa prosedur dan aturan Islam yang sejati yang harus kami lakukan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan bagi Din yang sempurna ini beserta seluruh pengikutnya?”

Setelah sekian lama diam, sang maulana mulai menjawab dengan suara yang pelan, “Wahai anakku! Engkau telah membangkitkan emosi iman kami. Sungguh tidaklah diragukan, Islam telah mengatur secara jelas mengenai perintah Jihad ini, tetapi cinta kepada dunia, ambisi untuk hidup enak dan mewah, serta takut kematian telah melalaikan kita dari kewajiban yang penting ini.

Anak muda! Kenyataannya adalah kami belum mengalami langsung apa yang telah engkau alami. Kami hidup dalam suasana tenang dan damai, dalam kemewahan. Inilah mengapa hingga saat ini kami tidak pernah bisa benar-benar menyelami makna yang sejati dari Jihad itu. Kadang kami juga merasa bahwa Din Allah ini sedang diperhinakan, hukum Quran tidak ditegakkan, bahkan berada di bawah hukum yang lain. Di sini hukum Inggris lebih diterapkan ketimbang hukum Quran. Tetapi kita masih berfikir bahwa kehormatan kita masih terjaga, karena melihat kita masih dibolehkan shalat, berpuasa, dan berhajji.

Anak muda! Jihad hanya dapat dimengerti dengan benar oleh mereka yang menyaksikan dan mengalami langsung. Sementara kami hingga hari ini menyaksikan hanya dari kejauhan. Kita berkata, atau menulis, atau berdiskusi tentang jihad. Kita membicarakannya, di forum-forum, dalam lingkar-lingkar halaqoh, dalam demonstrasi. Kita menulis tentang jihad dalam buku, atau artikel, atau majalah. Tetapi mereka yang berbicara tentang jihad itu, berdiskusi tentang jihad itu, menulis dalam artikel atau buku, belum pernah mereka menembakkan satu butir pun peluru di jalan Allah, belum pernah menghabiskan barang sedetik ribath di parit jihad. Untuk menulis dengan pena, atau sekedar berkata, bukanlah suatu hal yang sulit. Tetapi seseorang yang menyaksikan anak perempuannya dinistakan di depan matanya, jika ia ditanya tentang apa kedudukan syariah dari jihad itu, tentu ia akan dapat menjawab dengan tepat.

Mata kita memang tidak buta. Tetapi kehidupan tenang dan damai yang melingkupi kita telah menumpulkan nurani.

Anakku! Saya juga mengakui bahwa tidak ada jalan yang sejati yang dapat mengembalikan kehormatan dan harga diri Din Islam dan umatnya, kecuali Jihad fi Sabilillah. Jika kita melalaikan kewajiban ini, maka musuh Islam akan leluasa menyebarkan kebathilan. Saya juga mengakui, di antara kewajiban ulama dan ahlul ilmi adalah menerangkan umat seluruhnya tentang faridlah ini, serta mendorong umat untuk melaksanakannya melalui kata-kata kita dan teladan nyata dari amal kita. Tapi hingga hari ini kami banyak melalaikannya, dengan berbagai alasan.

Beginilah kita, ketika orang kafir tengah menyerang dan menindas saudara kita di Bukhara dan Samarkand, para ulama Afghanistan masih saja sibuk memperdebatkan tentang definisi jihad, apakah fardlu kifayah atau fardlu ‘ain, kondisi jihad, hukum syariah tentang jihad, dll. Ketika musuh menyerang dan menindas mereka, baru mereka mengerti apa arti jihad itu.

Anak muda! Semoga Allah membalasmu dengan pahala; karena engkau telah mengajarkan dan mengarahkan kami kepada jalan kemuliaan dan kemerdekaan. Dengan jalan ini kita berharap keridlaan Allah dan kecintaan rasulNya. Tanpa keraguan, kita menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah rasul pembawa damai, tetapi ia juga rasul yang menggenggam pedang dan panglima perang. Nabi kita maju ke medan perang, mengenakan baju besi dan menghunus senjata. Nabi kita juga memimpin langsung para shahabat di medan pertempuran. Jika masih ingin diakui sebagai pengikut nabi, maka kita juga harus meneladani jalan Beliau shallallahu’alaihi wasallam.

Wahai saudara-saudaraku warga Pakistan yang perwira! Sudah saatnya kita bersiap…. Persiapkanlah dengan segala kemampuanmu dari seluruh kekuatan… dan agar kita bersegera dan tidak menunda lagi. Kita akan berangkat ke Kashmir untuk melindungi dan menolong para ibunda kita dan saudara kita seiman. Dan kita akan mengorbankan seluruh milik kita hingga Allah ridla dan cinta. Insya Allah.

Ya Allah, tolonglah kami untuk memahami realitas, dan kewajiban kami atas Din dan ummah, tolonglah kami ya Allah, agar kami dapat menyerta dan melanjutkan perjuangan di JalanMu… Amin ya Rabbal ‘alamin”.

Maulana Mas’ud Azhar

Add comment 14 May 2008

Sejarah Tanah Kandahar

Pelajaran dari Masjid Kandahar. Setelah solat asar, salah seorang Mulla (Kyai) yang sudah biasa mengajar di jami, masjid Kandahar duduk bersandar pada salah satu sudut masjid, kemudian beberapa puluh pemuda kelihatan berebutan untuk duduk mendekatinya. Setelah melihat murid muridnya duduk dengan tertib, Mulla itu berkata sambil menunjukkan sebuah kitab yang di bawanya: Saya membawa Kitab Sejarah Kandahar, dan hari ini kita akan membaca sejarah Mujahid bernama Usamah.

Lalu beliau memberikan kitab itu kepada salah seorang murid yang duduk di pinggirnya sambil menyuruhnya untuk membaca kitab itu dan memperdengarkan suaranya kepada seluruh teman temannya, pemuda itu menerima kitab itu dengan penuh semangat dan sopan, ia kelihatan bangga mendapat tugas itu dari Mulla. Lalu ia mulai membuka daftar isi Kitab, dan memilih sebuah judul yang bertulis kisah Kedatangan Usamah bin Ladin ke Afghanistan dan perjuangannya dengan Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid. kemudian ia mulai membaca Basmalah dan puji pujian kepada Allah swt. Dan di teruskan dengan membaca buku itu dengan lantang:

Pada tahun 1417H pada bulan Allah Muharram Usamah datang ke bumi Kandahar, kedatangannya adalah karena ia terusir dari kaumnya di sebabkan ia tegas menolak untuk ikut menyembah berhala yang bernama Amerika, ia bertekad untuk memerangi Amerika tetapi ia tidak mendapat sambutan kaumnya kecuali hanya segelintir dari mereka, dan ada juga beberapa gelintir dari negeri negeri lain yang sudi untuk ikut bersamanya, tetapi mereka semua asing dan lemah, mereka tidak punya kekuatan untuk membela diri.

Kemudian Usamah mendatangi pimpinan pimpinan Qabilah qabilah Arab, meminta mereka untuk membantunya dan memberi jaminan tempat tinggal baginya dan pengikutnya untuk mempersiapkan diri melawan kekuatan si Berhala Amerika.

Suatu hari ia mendengar bahwa hukum Islam di laksanakan di Sudan, ia mengirim utusan untuk menemui sang Raja umtuk meminta bantuan jaminan tempat tinggal baginya dan pengikutnya.

Sang Raja berkata,”pintu kami selalu terbuka dan bumi kami adalah milik kita bersama .. datanglah sebagai tamu terhormat, tanamkan hartamu di sini dan jika kau sudi ikutlah bersama kami berjihad.” (melawan pemberontak Sudan yang di ketuai oleh John Garang)

Usamah sangat gembira mendegar jawaban itu dan segera mempersiapkan diri untuk berhijrah ke negeri Sudan, kemudian ia tinggal di sana dan mendirikan berbagai Mu’askar (camp) dan melatih Mujahidin bersama pejuang dari kalangan tentara Sang Raja, dan mereka gembira di sana untuk beberapa waktu sambil membina negeri, jalan jalan di perbaiki, pasar pasar menjadi ramai, dan negeripun makin makmur.

Suatu hari berhala Amerika membentak Sang Raja dan berkata “keluarkan mereka dari negerimu !!”
Sang Raja menjawab “daulat tuan.. titahmu kami junjung tinggi, demi mencari ridho mu”
Sang Raja berbalik kepada Usamah seraya berkata: “Keluar dari negeri kami..!!!”
Usamah menajwab “Bukankah kita telah mengikat perjanjian untuk berjihad bersama?”
Sang Raja menjawab “ya..tetapi Jihad melawan John Garang dan bukan Amerika”
Usamah menjawab “Sejak dahulu aku berniat menghancurkannya dan teman temannya”
Sang Raja menjawab “tiadalah kami mempunyai kekuatan, keluarlah dari negeri ini”.

Mulla memberi Isyarat kepada muridnya yang sedang asyik membaca untuk berhenti sejenak karena beliau ingin memberi sedikit keterangan, lalu Mulla berkata,”Dalam hal Usamah, Sudan ternyata lebih takut kepada Amerika berbanding kepada Allah swt, dan ketika itu Sudan sempat kebingungan karena harus melepaskan harta Usamah yang telah banyak di tanamkan bagi perdagangan negeri itu, tetapi ketakutan Sang Raja Sudan kepada Amerika ternyata lebih besar dari kepentingan rakyatnya sendiri, hingga Sang Raja lebih memilih mengusir Usamah demi relanya sang berhala, walau Amerika tetap masih tidak rela kepada Sang Raja Sudan, karena Sang Raja enggan untuk turun dan di ganti oleh John Garang.

Kemudian Mulla berkata,”Baiklah, teruskan bacaanmu nak..!!!” Si pemuda yang tenggelam dengan keterangan Mulla tersentak dan bergegas mencari baris terakhir yang di bacanya tadi..lalu ia meneruskan bacannya Usamah terpaksa mencari siapa yang sudi menjamin dan menolongnya untuk menghancurkan sang berhala, lalu ia mendengar bahwa hukum Islam kembali di laksanakan di Kandahar oleh suatu kaum yang menamakan diri sebagai Taliban, mereka di pimpin oleh si pemberani bernama Mulla Muhammad Umar Mujahid yang di juluki sebagai sang Amir, lalu Usamah mengutus utusan kepadanya.

Amir Taliban berkata: “Mari kita angkat senjata, melawan pemberontak dan perampok perampok di negeri kami”.

Usamah menjawab “Tujuan kami menghancurkan sang berhala”.

Amir menjawab “Allahu Akbar, menghancurkan berhala adalah Hobi kami.”

Usamah menjawab “Bukan sekadar hobi..tetapi demi Jihad Fi sabilillah.”

Amir menjawab “Kami memang Manusia Jihad dan anak anak yang lahir bersama desingan peluru, Peperangan adalah ibu yang menyusui kami.”

Usamah berkata “Sanggupkah kamu bersamaku memerangi Salib?”

Amir menjawab “Berperang dan berdamailah kepada siapapun yang kau kehendaki, berhubunganlah dengan siapapun yang kau kehendaki, ambil seberapa banyak yang kau kehendaki dari harta kami, kami pasti sabar dalam berperang dan berani melangkah kedepan, walau kau ajak kami mengharungi lautan benua untuk memerangi sang Berhala, pasti kan kami harungi bersamamu”.

Usamah berkata “Tapi kau akan ditembak oleh seluruh kaum Arab dan Romawi dari busur panah yang sama,”

Amir menjawab “Yakinlah bahwa semua itu tiada akan terjadi kecuali jika telah diizinkan oleh yang maha Menjadikan.”

Usamah berkata “Tetapi sang berhala akan datang dan mengupah berbagai Kabilah untuk mebnghabisimu,”

Amir menjawab “Allah pelindung kami, sedang mereka tiada memiliki pelindung.”

Usamah masih belum yakin, dan berkata “Tahukah engkau bahwa sang berhala mempunyai bala tentara dan pedang yang sangat tajam? Mereka akan datang dan menguasai negerimu.”

Amir menjawab “Ya kami tahu, tetapi kami tidak akan berkata seperti perkataan kaum Musa as. Kepada Nabinya ‘Pergilah engkau (wahai Musa) berperang bersama Robbmu, dan kami akan tetap tinggal di sini’, sungguh wahai Usamah kami akan mengawalmu dari kanan dan kiri, depan dan belakangmu, dengan harapan semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa yang menyenangkan hatimu, sungguh negeri ini belum pernah di jajah oleh suatu tentara, pasti mereka akan lintang pukang lari- kecuali tentara Qutaibah.”

Usamah berkata “Umat manusia akan berlepas diri darimu dan penduduk bumi akan meninggalkanmu sendiri.”

Amir menjawab “Cukuplah bagi kami keberadaan Allah, dan jika ia sudi akan menyatukan kami dengan penghuni Firdaus di Langit.”

Usamah berkata “Mereka akan memboikotmu dan membiarkanmu kelaparan.”

Amir menjawab “Sesungguhnya Allah maha memberi Rezki dan maha mempunyai kekuatan yang besar.”

Usamah berkata “Mereka hanya ingin menangkapku.”

Amir menjawab “Tenanglah, mereka tidak akan menyentuhmu selagi mata kami belum tertidur.”

Usamah berkata “Apakah kalian akan menjagaku sebagaimana kalian menjaga anak dan Isteri?”

Amir menjawab “Ya DemiAllah, bahkan mereka akan kami keluarkan dari rumah kami agar kau bisa tinggal di rumah kami, Darah harus dibayar darah, kehancuran pun begitu, Pukullah si berhala dan jangan lupa membaca Basmalah, pukullah..!!! akan kami korbankan anak anak dan ibu ibu kami, pukullah dan berlindunglah di belakang kami, biar leher kami mereka cekik asal lehermu selamat, teruskan pukulanmu semoga Rabbul Jabbar bersama kita.”

Tiba-tiba si pemuda berhenti membaca karena mendegar isakan dari Mulla, ia terkejut melihat Mulla telah menutupi mukanya dengan serban dan badannya bergoncang menahan isakan sambil terus menerus bertakbir, seluruh pemuda terdiam tanpa sepatah kata. Mulla mulai membersihkan matanya yang telah di penuhi genangan air, kemudian berkata : “Aku telah banyak membaca buku buku sejarah, tetapi aku belum mendapati suatu kaum yang lebih jujur dari mereka ketika menolong seseorang, kecuali kaum Aus dan Khazraj, para Anshar yang menolong Rasul saw. Lihatlah kubur kubur mereka di lereng lereng pegunungan Tora Bora, Shahikot, Kandahar dan Kabul sebagai bukti bahwa mereka benar benar pemberani.

Aku mendengar bahwa tentara Salib sempat menawan salah seorang dari mereka, kemudian ia ditawari agar memberi tahukan keberadaan Usamah yang bersembunyi dengan imbalan ia akan di bebaskan kembali dan di beri uang tetapi ia menjawab ‘Demi Allah kalau Usamah bersembunyi di bawah telapak kakiku, aku tidak akan mengangkatnya untuk menunjukkannya kepadamu’.” Kemudian Mulla kembali terisak, dan kali ini terdengar makin keras.. nampaknya Mulla sudah tidak bisa meneruskan pelajarannya lagi.. ia bangun meninggalkan kumpulan pemuda itu sambil terus menangis…

Posted by Fadly on 11/07 at 12:59 AM

Courtessy: Arrahmah.com

Add comment 14 May 2008


Risalah