Seri Syuhada Nahar Al Barid – Abu Turob Asy Syururi
31 July 2008
Pahlawan Kamp Nahrul Barid
Organisasi Fatah Al Islam/ Mempersembahkan Seri Kedua dari
“Silsilah Perjalanan Syuhada” di Kamp Nahrul Barid
“Silsilah Perjalanan Syuhada” di Kamp Nahrul Barid
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menetapkan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan menghinakan orang-orang kafir serta orang-orang yang menyebarkan ketakutan kepada kaum muslimin. Sholawat dan salam kepada pemimpin mujahidin dan panglima kemuliaan Muhammad bin Abdulloh beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejaknya serta berjalan di atas manhajnya dengan berjihad sesuai dengan apa yang diperintahkannya hingga hari pembalasan.
Alloh berfirman :
“Dan jangalah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati akan tetapi sebenarnya mereka itu hidup dan diberi rezki. Mereka bergembira dengan apa yang telah mereka dapatkan dan sebagai kabar gembira bagi orang-orang sesudah mereka agar tidak ada kekhawatiran dan mereka pun tidak bersedih hati”.
Bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam berangan-angan agar mati syahid di jalan Alloh
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Alloh kemudian dihidupkan lalu terbunuh, dihidupkan lalu terbunuh, dihidupkan lalu terbunuh”.
Di dalam Kitab Bukhori Muslim beliau bersabda :
“Sungguh keluar di pagi hari atau sore hari di jalan Alloh (untuk berjihad) adalah lebih baik dari dunia seisinya”.
SILSILAH PERJALANAN SYUHADA
DI
KAMP NAHRUL BARID
SERI KEDUA
Sesungguhnya Mereka adalah Kafilah Syuhada
Derajat yang tinggi baik ketika masih hidup maupun setelah mati, darah yang suci, dan jiwa yang bersih, cita-cita yang tinggi, keahlian yang luar biasa, serta contoh yang nyata. Dengan keberadaan mereka umat ini tersadar dari tidurnya dan sebagai pemompa semangat baru dalam hidup.
Di antara mereka –kami menganggapnya seperti itu dan Alloh adalah sebaik-baik penghisab- para pejuang kami di garis terdepan :
ABU TUROB ASY SYURURI
Dia adalah Jabir Mahdi Ali Husain Al Hamamy, dari negeri haromain wilayah selatan dari kota Syururoh. Dia meninggalkan dunia dengan segala kenikmatannya, teguh pendirian, hati yang dipenuhi keimanan yang benar, mempunyai sikap yang tegas, teman dekatnya adalah Al Qur’an seakan-akan antara dirinya dan Alloh ada rahasia.
Sebelum dia berangkat untuk berjihad, pada suatau hari Abu Turob bertanya kepada salah satu ulama kerajaan tentang hukum jihad pada zaman sekarang ini dan hukum pergi untuk berjihad ?
Dikatakann kepadanya : “Tidak ada yang namanya jihad pada zaman sekarang ini dan kamu tidak boleh keluar untuk pergi berjihad dan wajib bagimu untuk taat kepada pemerintah”. Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- terkejut dengan perkataan ulama ini yang telah rela menjual agamanya dengan secuil bagian dari dunia, serta menampakkan kedengkiannya terhadap pelaku jihad dan istisyhad. Kemudian Abu Turob Asy Syururi pergi dari tempat ulama tadi seakan-akan dirinya tersambar petir karena ucapan ulama kerajaan ini yang selalu mengulang-ulang perkataannya kepada beliau : “Aku menasehatimu untuk tidak pergi berjihad karena sesungguhnya itu adalah sebuah fitnah”.
Sedangkan Alloh Robbul ‘Izzah berfriman di dalam Al Qur’an :
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sehingga agama itu hanya untuk Alloh, jika mereka berhenti (memerangi kalian) maka tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang dzolim”
Sekarang Abu Turob Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya- mengetahui bahwa pekerjaan ulama kerajaan adalah untuk para thoghut dan tindakan mereka yang keji dalam membela kerajaan dengan fatwa-fatwa mereka yang telah menyesatkan para pemuda islam serta melarang mereka untuk membela tanah-tanah kaum muslimin dan kehormatannya serta rela dengan kehidupan dunia daripada akhirat padahal Alloh berfirman :
“ Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu”
Akan tetapi akh tercinta Abu Turob Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya- yang hidup di dunia dengan segala kenikmatannya menolak untuk hidup di bawah hukum thoghut di negeri Haromain, dan dia merasa bosan membaca tentang jihad dan kemuliaannya sedangkan dia tidak berbuat sesuatu apapun. Maka akh tercinta Abu Turob Asy Syururi berkehendak untuk pergi ke medan dia antara medan-medan kemuliaan. Dia berangkat bersama saudara sepupunya yaitu Ali Mubarok Al Hamamy-semoga Alloh merahmatinya- (beliau adalah salah satu syuhada di salah satu jalan kota Toroblus).
Abu Turob Asy Syururi menangis tatkala membaca ayat-ayat jihad dan dia merasakan apa arti sebuah kemuliaan. Dia menoleh ke kanan dan kekiri tapi tidak ia dapatkan kecuali kehinaan dan ketundukan. Setelah dia mendapatkan kabar tentang mujahidin maka ia berkeinginan untuk bergabung bersama mereka. Setelah itu dia mempersiapkan bekal sampai tiba waktunya untuk pergi. Dan setelah menempuh perjalanan yang sulit maka sampailah Abu Turob dan saudaranya di Suria.
Dan ketika mereka tiba di Suria maka mereka menghubungi Abu Ritaj –semoga Alloh merahmatinya-. Beliau (Abu Ritaj) meminta mereka untuk bertolak ke Libanon, sehingga sampailah mereka di kota Toroblus dan mereka tinggal di sana selama 2 pekan. Di sana mereka berjumpa dengan saudara mereka yang berasal dari satu kota yaitu Abu Dujanah Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya-. Oleh karena itu Abu Turob dan Abu Dujanah pindah ke kamp Nahrul Barid supaya dapat belajar bersama dengan saudara yang lain tentang ilmu syar’i dan kemiliteran. Akan tetapi keluarga Abu Turob terus mencari kemana beliau pergi dengan menyebarkan fotonya dan akan memberikan imbalan (sejumlah 100.000 riyal) jika ada yang menemukannya , begitu juga dengan Ali Mubarok Al Hamamy atau Ali Abu Khobab. Foto-foto mereka disebar di berbagai wilayah bagian utara.
Ketika beberapa ikhwah mengetahui hal ini maka mereka meminta kedua akh ini untuk tidak menampakkan diri di wilayah kamp, akan tetapi ini tidak berlangsung lama karena setelah itu terjadi pertempuran di Nahrul Barid antara pasukan Ar Rahman dan pengikut setan.
Maka bergabunglah Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- di barisan mujahidin di kamp Nahrul Barid, dan karena beliau telah mengetahui ilmu kemiliteran sebelumnya maka dengan begitu Alloh membukakan kebaikan yang sangat banyak.
Abu Turob datang di kamp Nahrul Barid sebelum pecah peperangan, berkumpul bersama saudara-saudaranya di kamp dan di antara kelebihan yang beliau miliki dari ikhwah yang lain adalah semangatnya untuk membantu saudaranya, mencintai mereka dan menyayangi mereka. Sampai-sampai jika kita melihatnya untuk pertama kali seakan-akan beliau mempunyai kewajiban untuk melaksanakan hal tersebut. Dan jika bergaul dengannya seakan-akan ia adalah seperti ibu yang menjaga anaknya. Jika ada yang sakit di antara mereka maka beliau merawatnya sepanjang malam. Senang menghibur saudara-saudaranya yang sedang bersedih hati karena suatu hal.
Abu Turob tinggal di kamp Nahrul Barid sampai pecah pertempuran, dimana beliau ikut serta bersama dengan yang lainnya. Mereka pun menyertai beliau sampai di Muhawwar Al Mahmaroh dimana disana juga telah terjadi pertempuran yang hebat antara singa-singa Fatah Al Islam dengan pasukan kafir Al Marwani. Beliau –semoga Alloh merahmatinya- itu bagaikan gunung yang kokoh di medan pertempuran Muhawwar Almahromah dan dengan karunia Alloh beliau berhasil membunuh dan melukai pasukan musuh.
Saudara-saudara mujahidin yang lain juga meminta beliau untuk pindah ke Hay Sufuri, disana juga telah terjadi peperangan yang sengit antara singa-singa Fatah Al Islam dengan pasukan kafir Al Marwani. Kemudian setelah itu beliau pindah lagi ke Hay Sa’sai, disana pasukan AlMarwani menyerang dengan bom-bom yang dapat mengakibatkan rumah terbakar. Sehingga diantara para mujahidin ada yang terkena serpihan bom dan mengharuskan mereka untuk berhenti tidak melanjutkan pertempuran. Kemudian Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- menuju tempat tersebut bersama mujahidin yang lain untuk mengadakan penyerbuan terhadap pasukan musuh, sesaat kemudian pasukan AlMarwani mundur dari tempat tersebut dalam keadaan ketakutan dengan meninggalkan beberapa anggota mereka yang terbunuh dan terluka.
Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- adalah orang yang selalu menginvestigasi setiap keadaan dan beliau sendiri adalah seorang ketua regu yang menempati posisi/tempat yang strategis.
Pada suatu ketika beliau menginvestigasi sebuah tempat yang telah dikuasai oleh pasukan Al Marwani (untuk dijadikan tempat istirahat), sedangkan singa-singa tauhid yang lainnya melindunginya dari tempat pengintaian mereka. Kemudian Abu Turob menyusup ke dalam sebuah bangunan yang telah dijadikan markas oleh pasukan musuh akan tetapi salah satu pasukan musuh mengetahuinya maka beliau cepat-cepat pergi dari tempat tersebut dan memberitahu mujahidin yang lain untuk berpindah ke tempat yang telah ditentukan. Setelah itu terjadilah pertempuran yang sengit antara Singa-singa Tauhid dan pasukan Al Marwani, akan tetapi karena pasukan Al Marwani adalah orang-orang yang pengecut maka mereka meninggalkan tempat tersebut dengan cara meledakkan bangunan yang ada tanpa memperdulikan korban-korban diantara mereka yang tertimpa reruntuhan bangunan.
Sesaat kemudian pasukan Al Marwani mulai meluncurkan roket-roket buatan Amerika ke bangunan yang ditempati oleh mujahidin. Sehingga para mujahidin menyangka bahwa pasukan musuh ingin merangsek maju, akan tetapi kemudian muyjahidin tahu bahwa serangan itu dilakukan karena musuh-musuh Alloh tersebut ingin mengirim sekelompok pasukan di salah satu bangunan yang ingin mereka kuasai, dan agar bisa menyergap para sniper mujahidin yang telah mereka ketahui keberadaannya yang tidak jauh dari tempat tersebut. Untuk menjalankan aksinya tersebut pasukan Al Marwani mulai menyerang dengan senapan mesin caliber 12,5 mm (yaitu senapan mesin yang biasanya diletakkan di atas kendaraan tempur).
Dan setelah Abu Turob Asy Syururi dan Abu Anjasy –semoga Alloh merahmati mereka- bertemu maka mereka berjanji untuk tidak meninggalkan tempat tersebut kecuali setelah mereka berhasil menyusup. Setelah berhasil melakukan penyusupan dengan pertolongan Alloh mereka juga berhasil menimpakan kerugian pada musuh-musuh Alloh sehingga tempat tersebut berhasil dikuasai oleh mujahidin.
Abu Turob Asy Syururi -semoga Alloh merahmatinya- adalah salah satu singa di antara singa-singa tauhid di zaman ini yang pantang menyerah dan condong kepada musuh-musuh Alloh. Pada suatu hari sebuah bom jatuh tepat di atas rumah yang ditempati Abu Turob dan para mujahidin sehingga mengakibatkan dinding rumah itu runtuh dan menimpanya akan tetapi Alloh menyelamatkannya dari bawah reruntuhan tanpa luka sedikitpun, begitu juga dengan mujahidin yang lainnya.
Alloh telah memuliakan beliau di hari-hari terakhirnya dengan berhasil membunuh dan melukai 7 tentara dari pasukan kafir Al Marwani yang selalu berusaha menangkap beliau, akan tetapi selalu lolos dengan karunia dari Alloh Ta’la. Dan hal ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit juga disertai banyak korban baik yang terluka maupun yang terbunuh dipihak pasukan Al Marwani.
Sehingga tidak ada cara lain bagi pasukan kafir tersebut kecuali dengan menjatuhkan bom seberat 400 kilogram TNT dari bahan AL pada tempat dimana Abu Turob berada. Dan inilah tempat pertama yang diserang oleh musuh dengan bom melalui pesawat.
Sehingga gugurlah para syuhada –dengan izin Alloh- di antara mereka adalah Abu Turob Asy Syururi, Abu Dzar Al Liby, Abu Mu’tashim As Suriy –semoga Alloh merahmati mereka- pada tanggal 14 Sya’ban 1428 hijriyah.
Semoga Alloh menerima kesyahidan Abu Turob Asy Syururi dan semoga Alloh memberikan rahmat yang luas kepadanya dan kepada syuhada yang lainnya serta dikumpulkan bersama para Nabi, Syuhada dan sholihin. Dan semoga Alloh menetapkan kita di atas jalan jihad dan istisyhad ini dan sesungguhnya Alloh adalah penolong dan penentu semua urusan.
Semoga Alloh merahmati engkau wahai Abu Turob Asy Syururi dengan rahmat yang sangat luas dan kami memohon kepada Alloh agar mengumpulkan kami dan engkau di Firdausil A’la bersama para nabi, shiddiqin, dan orang-orang sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.
Ketahuilah
Sesungguhnya prinsip itu lebih berharga daripada hidup. Dan keyakinan itu lebih berharga daripada jasad. Serta kelurusan itu lebih agung daripada jiwa.
Sesungguhnya hati akan bersedih, dan mata akan berlinang, sesungguhnya kami merasa bersedih wahai Abu Turob dengan perpisahanmu ini
sebaik-baik mujahid adalah engkau, sebaik-baik penyabar adalah engkau
dan kami tidak mensucikan seorang pun atas Alloh
dan sekali-kali para pengecut tidak akan pernah lalai
dan semoga Alloh memberikan keselamatan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai hari pembalasan
dan doa kami yang terakhir adalah pujian kepada Alloh Robb semesta alam
Saudara kalian di
Departemen Informasi
Tandzim Fatah Al Islam
Penterjemah : Forum Islam Al Tawbah
Entry Filed under: Kisah dan Profil. Tags: Fatah Al Islam, Libanon, mujahidin, Nahar Al Barid, syuhada.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed