Asy Syabab Mujahidin: Kekalahan Pasukan Ethiopia Dalam Penyergapan Oleh Mujahidin di Jalan Antara Bourihkabo dan Wanalwain

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kekalahan Pasukan Ethiopia Dalam Penyergapan Oleh Mujahidin di Jalan Antara Bourihkabo dan Wanalwain

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du.

Saudara-saudara kalian dari batalyon terdepan Harakah Syabab Al Mujahidin –dengan karunia Allah- pada hari Selasa kemarin tanggal 11 Dzulhijjah 1429 Hijriyah bertepatan dengan 09 Desember 2008 menyergap iring-iringan pasukan salib Ethiopia di jalan umum antara daerah Bourihkabo dan Wanalwain perbatasan antara propinsi Baay dan Syibili As Sufla, terjadi peperangan yang sengit antara para pejuang (Harakah Syabab) melawan musuh-musuh Allah yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban tewas dan luka di pihak musuh yaitu ketika batalyon lainnya bergabung dan dilanjutkan dengan penyerangan sengit terhadap pasukan salib tersebut.

Dan ketika musuh-musuh Allah bingung kelabakan dengan situasi tersebut maka para pejuang berpindah ke tempat lainnya yang tidak jauh dari tempat penyergapan tersebut untuk menunggu antek-antek amerika, dan pasukan salib yang masih tersisa mengumpulkan korban luka dalam penyerangan tersebut agar tidak meninggalkan korban tewas mereka yang najis, segala puji dan sanjungan bagi Allah.

Dan seperti diketahui bahwsanya pasukan salib ini keluar dari markasnya di Baidwa ibukota propinsi Baay pada hari Sabtu kemarin menuju ke arah Mogadishu, dan komandan mereka melarang untuk menggunakan kendaraan di jalan karena kekhawatiran terhadap ranjau, sehingga mereka menempuhnya dengan berjalan kaki. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa menyelamatkan mereka dari batalyon-batalyon Ar Rahman yang selalu menunggu mengintai mereka di setiap tempat.
Allahu Akbar, segala puji bagi Allah di awal dan di akhir.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

(Dan kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya)

Ya Allah, Dzat yang menurunkan kitab, yang cepat perhitungannya, hancurkanlah pasukan Ahzab.
Hancurkanlah pasukan salib Ethiopia beserta antek-anteknya yang murtad dan siapa saja yang berada dalam barisan mereka.

Departemen Informasi
Harakah Syabab Al Mujahidin
(Jaish Al ‘Usroh di Somalia)

Rabu, 12 Dzulhijjah 1429 H
10 Desember 2008

Sumber : Markaz Media Shada Al Jihad

Front Media Islam Global
Pengamat Berita Mujahidin dan Pengobar Semangat Kaum Mukminin

Source: Forum Jihadi Al Tawbah (al-tawbah.com/f)

Add comment 3 January 2009

ISRAEL BESAR AMERIKA KECIL

Pengantar:
Tulisan ini lebih sekedar refleksi pribadi saya atas kekejaman yang terjadi baru-baru ini pada para ahli kita di Gaza. Sungguh hati ini pilu dan geram. Beberapa data mungkin tidak tepat, beberapa pernyataan mungkin keliru, berlebih-lebihan, bahkan tidak benar. Mohon dikoreksi.

ISRAEL BESAR AMERIKA KECIL


Peristiwa Sabtu Berdarah

Setelah melewati masa sepekan lebih berakhirnya pakta gencatan senjata antara Israel dengan pemerintah otoritas Palestina di Jalur Gaza, ketegangan antara kedua pihak kembali memuncak. Pemerintah Otoritas Palestina di Jalur Gaza, yang dalam hal ini dikendalikan oleh gerakan Hamas, memang telah menegaskan tidak akan memperpanjang pakta gencatan senjata, karena melihat tidak adanya satupun itikad baik dari Israel. Selama masa enam bulan pakta gencatan senjata, Hamas berusaha ‘mematuhi’ isi perjanjian, dengan berusaha ‘mengendalikan’ keamanan Jalur Gaza. Mengendalikan keamanan Jalur Gaza bisa diartikan menahan sekuat mungkin berbagai kemungkinan serangan militer ke wilayah Israel yang dilancarkan oleh berbagai elemen perlawanan, baik itu sayap militer Hamas, atau sayap militer harakah lainnya.

Tetapi seperti biasa, berbagai ‘itikad baik’ Hamas tidak berbalas hal sepadan dari Israel. Lebih dari 19 bulan sudah blokade ekonomi atas Jalur Gaza, bukan semakin diperlonggar, malah semakin diperketat. Ini saja telah memicu berbagai krisis kemanusiaan yang sangat memilukan yang kita saksikan melanda para ahli (keluarga) kita di Jalur Gaza. Kekurangan bahan makanan, obat-obatan, listrik, energi, dan air bersih, serta berbagai prasarana dasar kehidupan lainnya, telah membuat kehidupan rakyat kita di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Janji proposal pertukaran tahanan antar juga tidak sepenuhnya ditepati. Beberapa prosesi pertukaran tahanan pernah terjadi, tetapi umumnya yang dibebaskan bukanlah tahanan dari pihak ‘gerakan Islam’, tetapi dari faksi-faksi nasionalis sekular seperti Fatah dan PLO pimpinan Mahmud Abbas yang notabene sekutu Israel dari bangsa Palestina. Ketika berbagai upaya pertukaran dan pembebasan tahanan seakan ‘deadlock’, Israel dengan dibantu tangan pemerintah otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas di Tepi Barat tidak berhenti menangkapi berbagai elemen perlawanan di Tepi Barat. Berbagai persoalan di atas semakin diperparah dengan tidak berhentinya proyek perluasan pemukiman Yahudi, penyerobotan tanah atas milik rakyat Palestina, pembekuan dan perampasan asset-aset tetap mereka.

Maka, masa enam bulan gencatan senjata antara rejim otoritas Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dengan Israel, seperti menunggu saja momentum untuk meledak. Ketika masa enam bulan gencatan senjata itu berakhir lebih dari sepekan yang lalu, masing-masing pihak seperti kembali ke baraknya. Elemen perlawanan Palestina tidak bersemangat lagi untuk meneruskan/memperpanjang pakta gencatan senjata. Sementara Israel, seperti diketahui, beberapa pekan menjelang berakhirnya perjanjian gencatan senjata sesungguhnya telah mempersiapkan sebuah program agresi atas Jalur Gaza.

Apa yang kita khawatirkan, namum sesungguhnya sudah kita perkirakan itu akhirnya terjadi. Kami mendengar berita agresi Israel terhadap para ahli kita di Gaza pertamakali dari sms seorang teman yang menyaksikan ‘breaking news’ Al Jazeera pada hari Sabtu malam sekitar pukul 11.30 waktu negeri ini. Dalam gebrakan pembuka dari serangan ini, angkatan udara Israel telah melancarkan serangan bom setidaknya pada 30 titik, menewaskan sekitar 155 orang, dan melukai lebih dari 200 lainnya. Dan dalam kurang dari 3 hari sejak Sabtu, Israel telah melancarkan serangan bom berpresisi atas lebih dari 230 titik, menewaskan lebih dari 315 rakyat Palestina, dan melukai lebih dari 1000 yang lainnya.

Sementara, di tengah (seperti biasa) kecaman berbagai pemimpin dan tokoh dunia termasuk tokoh negeri ini, serta di tengah (seperti biasa) berbagai unjuk rasa mengecam Israel di berbagai negeri, termasuk juga di beberapa kota termasuk ibukota negeri ini, Israel malah tengah menyiapkan 6500 pasukan cadangannya untuk memulai perang darat memasuki Jalur Gaza.


Palestina, Qodliyah Al Markaziyah

Ada satu hal menarik yang setidaknya kami cermati di negeri ini. Jika isu Jihad fi sabilillah dibicarakan, maka arus besar umumnya orang akan memalingkan pandangannya ke Palestina. Pada saat yang bersamaan sesungguhnya banyak elemen perlawanan, banyak kalangan Mujahidin fi Sabilillah, banyak tanah-tanah tsugur, banyak bumi Jihad. Tetapi perhatian orang dan khususnya perhatian ‘aktifis Islam’, tertuju lebih kepada Palestina. Perhatian atas Palestina, diekspresikan dalam berbagai hal, mulai dari menggalang opini massa melalui berbagai media, demonstrasi dan berbagai event, hingga penggalangan dana dan dukungan yang dikhususkan untuk Palestina.

Memang, patut untuk kita sadari, Palestina adalah Qodliyah Al Markaziyah, salah satu ‘persoalan utama’ ummat Islam hari ini. Di Palestina ada masjid suci, yang eksistensinya terkait erat dengan eksistensi ummat ini, sementara masjid suci itu keadaannya tengah terancam hilang eksistensinya akibat program penggusuran sistematis yang dilakukan bangsa Yahudi laknatullah. Palestina adalah jantung Syam. Sementara untuk wilayah Syam (wilayah yang membentang meliputi Syria, Jordania, Libanon, dan Palestina) dan para penduduknya, begitu banyak hadits Rasulullah yang berbicara tentang keutamaannya…
“Syam dan penduduknya, akan sentiasa ada dalam keadaan bersiaga hingga Hari Qiyamat…”
“Kebaikan Allah tambatkan di Bumi Syam…”
“Syam dan penduduknya adalah pecut Allah di muka Bumi…”
“Akan sentiasa ada satu thoifah yang berperang di atas Al Haq… mereka bertempat di Syam…”
Palestina bahkan mungkin salah satu pusat dunia dan dinamika peradaban. Sehingga ada orang berkata, siapa yang menguasai Palestina, maka ia menguasai dunia. Atas dasar ini kita mempersaksikan Palestina menjadi tempat berbagai pergolakan dan dinamika besar yang mempengaruhi jalannya roda sejarah dunia. Palestina adalah bumi yang paling banyak mempersaksikan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah Rabbul Alamin. Palestina dan bumi Syam, adalah wilayah yang terkait sangat erat dengan berbagai ru’yah dan nubuwah Rasulullah tentang berbagai peristiwa masa depan dan rentetan kejadian Akhir Jaman. Seakan Palestina adalah bumi dari sebagian besar masa depan Din ini, dan masa depan dari ummat manusia. Sementara Palestina hari ini, menghadapi musuh paling bengis, makhluq Allah yang sangat buruk. Palestina hari ini menghadapi kepala ular yang ekor dan sulurnya merambat mencengkeram berbagai belahan dunia. Maka wajar jika Palestina adalah salah satu persoalan utama ummat hari ini.

Tanpa bermaksud melebihkan yang satu dan mengecilkan yang lain, kami sepakat bahwa Palestina adalah Qodliyah Al Markaziyah. Tetapi yang kadang kami rasakan, seakan ada sikap dan perhatian yang kurang adil yang kita terapkan ketika kita berbicara tentang isu Jihad, tanah Jihad, dan Mujahidin. Kami tidak menafikan atau mengecilkan persoalan Palestina yang sangat kritis ini serta keadaannya yang demikian memilukan ini. Tetapi bukankah, pada saat yang bersamaan, bertebaran juga berbagai peristiwa memilukan, berbagai keprihatinan, yang terjadi di tanah-tanah Jihad yang lain? Mengapa perhatian kita tidak sama, atensi kita tidak sama, manakala itu adalah tanah Jihad Iraq, atau Afghanistan, atau Bumi Kaukasus, atau Filipina Selatan, atau Thailand, atau Arakan, atau Assam, atau Kashmir, atau Xinjiang, atau bumi Dua Hijrah, Shomalia, atau belahan bumi Jihad lainnya? Mengapa rasanya atensi kita tidak sama, seperti atensi yang sedemikian antusias yang kita berikan untuk Palestina?

Kami merasa sikap yang seakan membeda-bedakan seperti itu, atau sikap yang mengkhususkan Palestina seperti itu, bisa jadi akan sangat merugikan rakyat Palestina dan elemen perlawanan yang ada di sana. Allahu a’lam


Israel Besar Amerika Kecil

Jika kita membaca sejarah berdirinya entitas Israel di atas negeri Palestina, kita dapat melihat dengan gamblang hubungan yang sangat erat antara tiga dari lima negara pendiri PBB yang selanjutnya menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan peran signifikan mereka dalam menggolkan proyek ‘Eretz Yisrael’ di Bumi Palestina. Tiga negara itu adalah Inggris, Perancis, dan Amerika. Perjanjian Sykes Picot antara Inggris, Perancis, dan Spanyol telah membagi dunia Islam umumnya dan wilayah Arab khususnya dalam kapling-kapling yang dibagi antar tiga negara tersebut. Palestina jatuh ke dalam kendali protektorat Inggris. Pada tanggal 2 November 1917, Perdana Menteri Inggris, Sir Arthur Balfour menandatangani ‘Deklarasi Balfour’, yang menegaskan dukungan agar Palestina menjadi ‘national home’ – rumah nasional, bagi bangsa Yahudi. Deklarasi Balfour ini adalah pembuka jalan secara formal bagi berdirinya entitas Israel di Palestina. Pada tahun 1947, sesaat setelah PBB berdiri, di antara hal pertama yang dilakukan lembaga ini adalah menyetujui resolusi untuk membagi Palestina ke dalam dua ‘negara’, satu negara untuk Israel, dan satu negara untuk komunitas Arab. Tanggal 14 Mei 1948, Yahudi di Palestina tersebut mendeklarasikan berdirinya entitas Israel, yang segera didukung oleh negara Inggris, Perancis, dan Amerika.

Karena itu bisa dikatakan, lahirnya entitas Israel merupakan hasil perselingkuhan keji negara-negara tersebut. Selanjutnya, dukungan mereka atas entitas Israel semakin dilanjutkan. Dalam hubungan selanjutnya, peran Inggris selaku ‘bapak pengayom’ Israel diteruskan oleh Amerika. Umumnya orang memandang Amerika hari ini sebagai ‘Bapak Baptis’, pelindung setia Israel. Setiap tahun Amerika mengalokasikan tidak kurang 5 milyar US$ dari penghasilan pajaknya untuk membantu Israel. Setiap tahun, selain bantuan 5 milyar US$ tersebut, Amerika juga mengalokasikan 1.8 US$ khusus untuk membangun militer Israel. Rejim Amerika, dari waktu ke waktu adalah kaisar bagi Israel. Rejim Amerika ini telah setia menekan Konggres untuk membatalkan setiap keberatan yang disampaikan terkait pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel. Konggres dapat memangkas anggaran apa saja, tapi tidak anggaran yang ditujukan untuk Israel. Amerika juga negara yang setia menjegal setiap resolusi apa saja yang dikeluarkan PBB untuk ‘sekedar’ mengecam Israel.

Tetapi kami melihat pola hubungan antara Amerika dan Israel lebih jauh lagi. Amerika bukanlah sekedar sekutu Israel, atau sekedar pengayom dan pelindung Israel. Melihat berbagai kenyataan yang ada, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa Amerika dan Israel itu satu tubuh. Amerika adalah perwujudan Israel sebagaimana Israel adalah representasi Amerika. Amerika adalah Israel Besar, sementara Israel adalah Amerika Kecil. Kuat atau lemahnya keadaan Israel, tergantung dari kuat lemahnya sang ‘Israel Besar’, yaitu Amerika. Sebagaimana juga satu pukulan terhadap Israel, sang ‘Amerika Kecil’, merupakan satu pukulan langsung terhadap Amerika.

Berdasarkan logika ini, maka argumentasi yang kami sebutkan di atas mengenai sikap memilah-milah isu Jihad serta mengkhususkan Palestina, bisa jadi berakibat semakin merugikan rakyat Palestina. Dalam keadaan kita, keadaan ummat Islam yang lemah seperti ini, bukankah setiap aksi ‘kecil’ yang ‘menyentil Israel, akan segera ditanggapi dengan balasan bumi hangus oleh Israel dan tentu didukung Amerika. Satu roket perlawanan, dibalas ratusan rudal berpresisi tinggi dan dukungan penuh sang Israel Besar.

Berdasarkan logika ini, mengapa kita tidak ‘memodifikasi sedikit’ strategi Jihad kita? Sembari kita mempersiapkan diri menuju ‘Al Malahim Kubra’ yang akan terjadi di Elia (Yerusalem) bersama ‘Pasukan Panji Hitam’ untuk menggenapkan Nubuwah Rasulullah tentang kehancuran total Israel dan ditumpasnya bangsa Yahudi laknatullah, mengapa kita tidak ‘meluaskan medan pertempuran’? Mengapa kita tidak memukul Israel, dengan cara memukul ‘Israel Besar’, kita melemahkan Israel supaya kedudukan para ahli kita dan Mujahidin kita kuat di Palestina, dengan cara melemahkan, memecah kekuatan, dan meruntuhkan (insya Allah) Amerika dan segala kesombongannya? Karena ketika Israel besar itu lemah dan terkalahkan, itu pula insya Allah yang terjadi pada Amerika kecil.

Lihatlah kenyataan ini. Pada bulan Juni 2008 Israel bersedia menandatangani kesepakatan gencatan senjata selama enam bulan dengan Hamas di Jalur Gaza. Merupakan suatu hal yang sangat langka, jika tidak ingin dikatakan suatu hal yang tidak mungkin, Israel bersedia menjalin kesepakatan dengan musuhnya. Tetapi ternyata Israel bersedia menyepakati perjanjian gencatan senjata dengan Hamas selama enam bulan. Apa yang terjadi pada masa itu? Pada masa jeda itu, bisa dikatakan Amerika berada dalam posisi lemah. Amerika mengalami kekalahan di berbagai front perangnya. Sementara di dalam negeri, Amerika menghadapi krisis finansial yang mengarah pada krisis ekonomi negerinya. Di tambah lagi, pada masa jeda itu, Amerika berada dalam masa ‘transisi’ karena tengah menjalani kampanye pemilihan presiden barunya.

Ini adalah Perang Semesta

Memang menjadi satu ironi, ketika pandangan kita terpilah-pilah seperti itu, terkotak-kotak, tidak demikian halnya dengan sikap musuh dan pandangan musuh atas kita. Seluruh elemen musuh memandang kita sebagai satu lawan yang harus ditumpas. Karena itu musuh menghimpun seluruh kekuatannya, menyatukan seluruh shaf dan frontnya, lalu memusatkan seluruh kekuatan dan front tersebut untuk menumpas kita dan meluluhlantakkan seluruh sendi kehidupan kita. Dan musuh yang kejam ini tidak membedakan siapa kita, sipil atau militer, militant atau abangan. Musuh yang kejam dan tanpa belas kasih ini menyapu rata serangannya atas seluruh Dunia Islam.

Yang banyak di antara kita belum juga menyadari, sesungguhnya kita saat ini tengah menghadapi ‘The Judeo Christian Crusade Alliance’, yang telah melancarkan perang salib masivnya berpuluh-puluh tahun lamanya atas Dunia Islam. Poros utamanya adalah aliansi Yahudi dan Nashrani. Di lapis keduanya adalah kekuatan kuffar dari kalangan Musyrikin, Atheis, dan sekular. Dan di lapis ketiganya adalah para operator serta komprador pengkhianat dari kalangan murtaddin. Sehingga bagaimana mungkin kita masih saja memiliki pandangan terpilah-pilah seperti ini, padahal yang ada di depan mata itu sesungguhnya Perang Semesta? Hari ini kita menghadapi kondisi Perang Semesta yang dilancarkan aliansi musuh kafir, ‘Harbu Sholibiyah al Alami’, sehingga atas kondisi ini status Jihad telah naik menjadi fardlu ‘ain ala kulli muslim.

Ya Allah! Betapa sama hari-hari ini dengan hari-hari lalu. Ketika hendak memulai agresi atas Afghanistan dan kemudian dilanjutkan ke Iraq pada tahun 2001, Bush seakan mengulangi kembali elegi lama, dengan berkata, “This is crusade war…”. Bush bahkan menegaskan kembali dengan berkata, “Kini Anda harus memilih (dalam Kampanye Perang Salib ini), apakah Anda bersama kami, atau bersama teroris…”

Ya Allah! Betapa sama hari-hari ini dengan hari-hari lalu. Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan kesaksiannya ketika balatentara Tartar memasuki Bumi Islam dan menimpakan fitan yang memilukan atas ummatnya. Menghadapi fitan balatentara Tartar ini, ummat terpecah menjadi tiga golongan:
Kaum Mukholif (golongan yang menyelisihi). Yaitu segolongan ummat yang mereka mengaku beriman dan berislam, tetapi karena gentar dan mencari selamat, mereka memilih bergabung membantu balantentara Tartar. Ketika mereka berdiri membantu musuh yang tengah memerangi ummat Islam, sesungguhnya mereka telah menyelisihi Din dan keimanan mereka, mereka sesungguhnya telah murtad dari Din kendati masih mengaku-aku beriman.
Kaum Mukhodzil (golongan yang menggembosi). Yaitu segolongan ummat yang mereka mengaku beriman dan berislam, tetapi karena gentar dan mencari selamat, maka mereka memilih berdiam diri, melarikan diri, dan menyelamatkan diri sendiri. Mereka tidak membantu atau memihak balatentara Tartar, tetapi mereka juga tidak terjun berjihad bersama Mujahidin untuk menahan serangan Tartar. Kendati mungkin iman dan islamnya tidak batal, mereka telah berdosa atas sikap diam dan melarikan diri dari kancah pertempuran.
Kaum Mujahidin (golongan yang berjuang). Yaitu sekelompok orang dari kalangan kaum muslimin, yang bangkit berdiri menahan serangan musuh, berjuang dengan gigih bersama apa saja yang mereka punya. Mereka menggantungkan nasibnya hanya kepada Allah Sang Pemilih Izzah, menghadapi musuh yang kejam dan bengis, dengan peralatan dan perlengkapan perang paling hebat saat itu.
Mengenai golongan ketiga ini, Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun kelompok-kelompok Mujahidin yang bertahan di Bumi Syam, serta detasemen-detasemen Mujahid yang datang membantu dari arah Kinaan (Mesir), maka golongan inilah yang paling layak mendapat predikat At Thoifah Al Manshurah…”

Maka sungguh tepat kata-kata si Bush dan penegasan Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka di tengah pusaran fitan Perang Semesta ini, tentukanlah di mana posisi kita. Tentukanlah di mana kedudukan kita, apakah kita ini kaum mukholif, atau kaum mukhodzil, atau kaum Mujahid… Tetapi sesungguhnya At Thoifah Al Manshurah itu hanya satu…

Ibrah, Ketepatan Strategi Al Qaidah

Asy Syahid (insya Allah) Al Imam Abdullah Yusuf Azzam pernah berkata dalam salah satu kumpulan risalahnya, sesungguhnya ada tiga simbol kekuatan dan pemersatu Ummat Islam. Yang pertama adalah institusi Khilafah, yang kedua adalah tempat dan tanah suci Ummat Islam, dan yang ketiga adalah Jihad fi Sabilillah (Menara Yang Hilang, kumpulan risalah Al Imam Abdullah Yusuf Azzam yang diterbitkan oleh Pustaka Al Alaq Solo). Karena itu di antara sasaran dari kampanye perang semesta yang dilancarkan musuh dalam rangka melemahkan Ummat Islam, adalah menghancurkan tiga simbol ini. Musuh berhasil menghancurkan simbol yang pertama, yaitu semenjak dihapuskannya institusi Khilafah pada tahun 1924 oleh Mustapha Kemal Pasya laknatullah. Sementara untuk masjid dan tanah suci, maka pada saat ini kesemua tanah suci kita berada dalam bahaya. Aliansi Yahudi Nashrani berhasil menguasai Baitul Maqdis, semenjak 1948 dengan berdirinya entitas Israel di Palestina. Yang mungkin masih banyak ummat Islam tidak menyadari adalah kondisi tanah Haramain, Makkah dan Madinah yang saat ini dalam keadaan kritis. Ummat umumnya tidak menyadari karena mereka merasa masih bisa melihat Makkah dan Madinah, masih dapat mengunjungi Ka’bah dan Masjid Nabawi setiap tahun dalam ibadah hajji atau umrah. Padahal Haramain telah berada dalam ancaman aliansi Yahudi Nashrani semenjak 1996 ketika Monarchi Suud yang khianat merestui masuknya balatentara kafir Amerika ke Tanah Semenanjung Arabia. Kini tinggallah Jihad fi Sabilillah yang tersisa. Sementara Jihad fi Sabilillah tidak henti-hentinya diperangi, mulai dari menebarkan berbagai syubhat dan kerancuan pemahaman tentang Jihad, menimpakan stigma buruk mengenai Jihad, mencap para dan pendukungnya Mujahid sebagai teroris, memisahkan dan memecah ummat ini lalu menjauhkannya dari Jihad dan Mujahidin, serta berbagai tipu daya lain.

Menarik untuk mengkaji bagaimana Mujahidin (baca Al Qaidah dan orang-orang yang semanhaj dengan mereka) memandang seluruh dinamika ini. Sudah lama Mujahidin menyadari Harbu Sholibiyah Al alami ini, sehingga Mujahidin menyeru ummat untuk menghadapi perang salib semesta ini dengan sikap semesta pula. Pada tahun 1996 selepas masuknya armada salib Amerika ke Tanah Semenanjung Arabia, Abu Abdillah, Usamah bin Ladin mengeluarkan deklarasi dari dataran tinggi Hindukush, Afghanistan, yang menyatakan perang terbuka terhadap Amerika dan sekutunya untuk mengusir seluruh kekuatan kafir dari Tanah kelahiran Nabi dan seluruh bumi Islam. Melalui pernyataan deklarasi perang ini pula Abu Abdillah menyeru ummat Islam untuk memerangi kepentingan Amerika dan sekutunya di mana saja berada.

Kembali pada isu Palestina yang tengah menghangat pada hari-hari belakangan ini. Mujahidin sering dituduh mereka mengabaikan Palestina. Mujahidin sering dituduh mereka kurang memberi perhatian pada masalah Palestina. Mereka sering dituduh sibuk mengobarkan perang di Iraq, Afghanistan, Shomalia, meledakkan bom di Islamabad, menyampaikan pernyataan tentang Shesyan, tetapi jarang berbicara tentang Palestina atau melancarkan aksi langsung di Palestina.

Mendahului amaliyat 9 September 2001 atas New York dan Washington, Abu Abdillah pernah menyampaikan rilis pernyataan, “Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Perkasa. Amerika, dan mereka yang tinggal di Amerika, tak akan kami biarkan merasakan keamanan dan kedamaian, hingga kami merasakannya di Palestina, dan hingga seluruh kekuatan kafir diusir dari bumi kelahiran nabi saw, dan bumi Islam seluruhnya…”.
Melalui pernyataan itu Abu Abdillah menegaskan tentang posisi Amerika, dengan apa yang terjadi di Palestina dan Tanah Semenanjung Arabia, serta seluruh bumi Islam lainnya. Kemudian terjadi amaliyat 911 yang penuh berkah,yang oleh beberapa analisis disebutkan sebagai salah satu bentuk ‘pertolongan’ terhadap Palestina khususnya, dan Bumi Islam umumnya.

Awalnya saya pribadi tidak dapat mengerti apa hubungan langsung atau dampak langsung dari amaliyat 911 dengan pertolongan kepada rakyat Palestina. Bahkan memandang negatif amaliyat ini dengan menilainya sebagai aksi yang justru dapat semakin memojokkan posisi ummat Islam. Tetapi perkembangan selanjutnya harus membuat saya mengoreksi pandangan awal tersebut. 911 adalah strategi memancing ‘sang ular’ keluar dari sarang, kemudian memecah kekuatannya. Kalau ular itu sudah keluar dari sarangnya dan terpecah kekuatannya, maka ia lebih mudah untuk dipukul. Segera setelah 911, Amerika terjun langsung ke dalam berbagai front peperangan dengan Mujahidin, mulai dari Afghanistan, Iraq, Shomalia, dan bumi-bumi Jihad lainnya.

Delapan tahun lebih semenjak 911, Amerika terpuruk di berbagai front perang yang mereka terjuni. Ini sedikit banyak melemahkan kondisi dan posisi Amerika, juga menguras potensi-potensi ekonominya. Situs The Washington Post pada bulan Maret 2008 menurunkan rilis mengenai perkiraan biaya perang Amerika. Washington Post menulis biaya perang perbulan untuk Iraq berkisar sekitar 12 milyar US$. Jumlah ini membengkak menjadi sekitar 16 milyar US$ jika ditambah Afghanistan. Itu baru perkiraan konservatif dan baru meliputi biaya operasional penempatan pasukan di Iraq dan Afghanistan. Beberapa analis menyimpulkan salah satu sebab krisis finansial dan ekonomi yang melanda Amerika baru-baru ini, salah satu sebabnya adalah terkurasnya potensi ekonomi Amerika untuk membiayai perangnya.

Dan yang lebih menarik, yang juga dihasilkan dari 8 tahun semenjak 911 adalah berdirinya Daulah Iraq Al Islami dan mulai masuknya elemen Mujahidin berfaham Salafiyah Jihadiyah ke Bumi Al Quds. Jika kita memperhatikan peta Iraq dan negeri sekelilingnya, kita dapat melihat posisi strategis Iraq. Ke arah Selatan Iraq dapat menjadi basis untuk membebaskan Tanah Semenanjung Arabia dan bumi suci Haramain dari cengkeraman kekuatan kafir. Ke arah barat, setelah Iraq adalah wilayah Syam, meliputi Syria, Jordania, Libanon, kemudian Palestina. Maka Daulah Iraq Al Islami, daulah yang didirikan di atas pucuk-pucuk tombak Mujahidin, diharapkan menjadi basis pemberangkatan battalion Mujahid yang akan membelah bumi Syam – Syiria, Jordania, Libanon, untu membebaskan Al Quds. Bersamaan dengan persiapan itu, proses membuka jalan juga disiapkan untuk wilayah Syam. Di wilayah perbatasan, khususnya Libanon, mulai bertumbuh elemen-elemen Mujahidin, yang secara berkala menyusupkan dirinya ke arah Palestina,khususnya Tepi Barat dan Gaza. Keberadaan Tanzhim jihadi seperti Fatah Al Islam di Libanon, bisa jadi merupakan sinyalemen ke arah itu. Selain itu mulai bertumbuhnya juga elemen-elemen Mujahidin Muwahidin, khususnya di Jalur Gaza, seperti Jaisyul Islami fi Filisthin dan Jaisyul Ummah.

Mujahidin memahami bahwa perang yang dilancarkan musuh ini adalah perang semesta dan mensikapinya pula dengan pendekatan menyeluruh. Mujahidin memandang hendaknya seluruh bagian-bagian bumi Jihad itu menjadi satu matarantai perlawanan Islam terhadap aliansi global Yahudi Nashrani yang melancarkan perang salib semesta ini.

Demikianlah, ketika mereka tengah memerangi Amerika di Afghanistan, Iraq, Shomalia, serta seluruh sekutunya di berbagai belahan bumi, sesungguhnya mereka tengah berusaha menahan dan melemahkan serta bahkan meruntuhkan Sang Israel besar itu, dengan Ijin Allah Azza wa Jalla. Keruntuhan sang Israel besar, sudah tentu juga adalah keruntuhan sang Israel kecil. Inilah salah satu pertolongan langsung yang dipahami Mujahidin untuk para ahli kita di Palestina.

Kini kita dapat lebih memahami, betapa benar dan tepat kata-kata Mujahidin. Sungguh benar kata-kata Al Imam Abdullah Yusuf Azzam ketika ditanya mengapa ia memilih berjihad di Afghanistan ketimbang di Palestina serta mendorong orang untuk memulai Jihad di Afghanistan ketimbang Palestina. Al Imam Abdullah Yusuf Azzam berkata, sebagaimana perkataan para Mujahidin Afghan selanjutnya hingga kini, “Kami berjihad di Afghanistan untuk membebaskan Palestina”.
Sungguh benar kata-kata Amir Istisyadiyyyin, Abu Mus’ab Az Zarqawi, semoga Allah menyayanginya, ketika Beliau berkata, sebagaimana perkataan para Mujahidin Bumi Rofidain, “Kami bertempur di Bumi Rofidain, sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.
Demikian pula Mujahidin Shomalia yang berkata, “Kami bertempur di Tanah Dua Hijrah, sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.

Sebagai penutup, kami menyampaikan kata-kata Al Imamul Mujahid, Abu Abdillah, Usamah bin Ladin, semoga Allah menjaganya, yang ia tujukan khususnya pada rakyat Palestina, dan umumnya pada Ummat Islam. Persoalan Palestina tidak mungkin dapat diselesaikan di meja negosiasi, atau di kotak-kotak pemilu, atau mempercayakan pada rejim-rejim khianat, atau pada elemen perlawanan yang telah mandul. Apa-apa milik kita yang telah direnggut musuh dengan besi dan api, tidak dapat direbut kembali, melainkan dengan besi dan api. Sesungguhnya Jihad adalah solusi satu-satunya bagi Palestina.

Kepada kita semua, hendaknya segera bersiap dan berbuatlah. Perang semesta telah ada di depan mata, sementara kita sendiri telah memahami Jihad hari ini hukumnya fardlu ‘ain atas seluruh Muslim. Hendaknya bersiap dan berbuatlah mulai sekarang.

“Wa a’iddu lahum mastatu’tum min quwwah…”

Ya Allah!
Tsabatkan dan berilah pertolongan kepada Saudara kami Mujahidin
di Palestina, Afghanistan, Iraq, Shomalia, Bumi Maghrib Islami, Kashmir, Shesyan, Filipina, Tailand Selatan, Arakan, dan seluruh tempat
Ya Allah!
Persatukanlah shaf-shaf Mujahidin, dan limpahkan kemudahan dalam urusan kebaikan mereka.
Hiburlah keterasingan mereka, dan limpahkan kebercukupan dan pertolongan atas mereka dan keluarga mereka.

Ya Allah!
Hancurkan aliansi Yahudi dan Nashrani beserta seluruh kaki tangan mereka di seluruh bumi.

Wahai Engkau Yang Maha Hidup, Maha Perkasa, Maha Membuka

Dan Izzah itu hanya milik Allah, RasulNya, dan Kaum Mu’minin

Bumi Allah, Selasa 2 Muharrom 1430 Hijrah
Bertepatan 30 Desember 2008.

ditulis oleh: Ansar Mujahidin, Forum Jihadi Al-Tawbah

al-tawbah.com/f

Add comment 3 January 2009

Wahai Kalian Yang Enggan Berjihad!

5 Syawal 1425 H
Gema Jihad
menyampaikan

Risalah Nasihat dan Teguran kepada Saudara-saudaraku yang Enggan Berjihad


Asy-syaikh Al-Mujahid Sulthan bin Bajjaad Al-Utaibi Abu Abdurrahman Al-Atsari
Dari Haramain (Dua kota suci, Makkah dan Madinah) yang kini terjajah

Bismillaahirrahmaanirrahiem

Risalah nasihat dan teguran dari Hamba Allah yang faqir kepada Allah kepada saudara-saudaraku yang enggan untuk berjihad

Assalamu`alaikum Warahmatullahi wabarakaatuhu.

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukiku jalan menuju kemuliaan dan kehormatan. Dan segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan mengenal dan bersahabat dengan para pahlawan ummat ini, semisal komandan Asy-syahid Abdul Aziz Al-Maqran, dan syaikh Isya Al-`Ausyan, Syaikh Ibrahim Ar-riis, Faishal Ad-Dukhail, Nashir Ar-Rasyad, Ibrahim Ad-Dariyham, Turki Al-Muthiiri, Abdul Ilah Al’Utaibi dan selain mereka, dari ikhwan-ikhwan kita semua. Mereka itulah para pendekar yang mengajarkan kita keberanian, mengorbankan jiwa dan raga mereka demi menolong kalimat LAA-ILAAHA ILLALLAAH

Wahai kalian yang enggan berjihad! (Orang-orang yang duduk-duduk tak berjihad):

Sesungguhnya telah teguh hadits dari nabi s.a.w, bahwa beliau bersabda: ‘Tidak beriman seseorang di antara kamu sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”, dan telah teguh pula hadits bahwa beliau s.a.w bersabda: “Ad-dien (agama) adalah nasihat ” maka saya adalah pemberi peringatan yang benar kepada kalian. Hari ini adalah hari berbuat tanpa adanya perhitungan amal, dan hari esok adalah hari perhitungan tanpa amal.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Apakah kalian rela duduk-duduk bersama orang-orang yang tinggal dan tak berjihad? Firman Allah: “Mereka ridha bersama orang-orang yang tinggal tak berjihad, dan Allah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak memahami ” (At-Taubah (9):87)

Sesungguhnya demikianlah kenyataannya, yang selalu saja kalian berpaling ketakutan dari jihad

Apakah kalian ridha untuk tidak berjihad bersama orang-orang munafiq dan orang-orang yang suka beralasan? Apa yang engkau baktikan untuk dien (agama) kalian? Sedangkan anda dengan bebasnya setiap hari bepergian ke seluruh tempat.

Wahai kalian yang enggan berjihad!:

Bagaimana bisa engkau duduk santai sedangkan saudara-saudara kalian di Iraq dibantai dibawah penindasan musuh-musuh Allah, sedangkan kalian bercengkerama dengan istri-istri kalian?! Bahkan bagaimana kamu bisa hidup dengan berleha-leha dan rileks sedangkan saudari-saudari kalian direngggut kehormatan mereka, kehormatan mereka di nodai di penjara Abu Gharib???!!

Wahai kalian yang enggan berjihad!:

Apa alasan kalian di hadapan Allah kelak? Sedangkan saudara-saudara kalian di penjara Abu Gharib, Guantananmo, Ar-Ruwais, dan Al-Hair, mereka semua ditelanjangi. Saya yakin kalian telah melihat foto-foto bukti tentang hal itu, yang berhasil dikeluarkan dari penjara Abu Gharib..,sesungguhnya hal itu tidak lain sebagai gambaran apa yang terjadi terhadap saudara-saudara kita di penjara-penjara Israel, Amerika dan antek-antek mereka.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Sesungguhnya kaum Salibis dan Yahudi benar-benar melecehkan kehormatan kaum Muslimin, dan menindas para pahlawan ummat ini, di kamp-kamp penindasan di Amerika Israel, dan antek-anteknya. Apa lagi yang kalian tunggu?

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Bukankah Allah berfirman: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, dan jadilah seluruh dien (agama) ini milik Allah” (Al-Anfal (8):38) Bukankah kalian telah mengetahui firman Allah ini: “Dan bunuhlah kaum musyrikin itu dimana saja kamu menjumpai mereka, dan tawanlah mereka, dan kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat-tempat pengintaian” (At-Taubah (9):5). Bukankah Allah telah berfirman :”Dan perangilah mereka kelak Allah akan mengadzab mereka dengan tangan-tangan kamu, dan menghinakan mereka dan Allah menolong kalian atas mereka, dan menyembuhkan dada-dada orang beriman, dan menghilangkan panas hati mereka.” (At-Taubah (9):14)Dan Allah memberi ampunan bagi siapa yang dikehendaki

Bukankah Allah Jalla Wa-’Alla berfirman: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (At-Taubah (9):29)

Bukankah Allah berfirman: Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah (9):73, At-Tahrim (66):9) ?!

Bukankah Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(At-Taubah (9):123)!!?

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Allah Jalla Wa’Alaa berfirman: Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah (9):19-20)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(At-Taubah (9):24)

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni`matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(At-Taubah (9):38-39)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(At-Taubah (9):41)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (At-Taubah (9):46)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau mereka mengetahui.Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.(At-Taubah (9):81-82)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Bukankah kalian tahu kisah tentang Tiga orang yang tidak ikut berjihad? Apa dosa mereka? Dan apa kesalahan mereka yang menyebabkan mereka tercela? Tidak lain, dosa mereka adalah karena mereka tidak berjihad! Mereka tidak berjihadan renungkanlah oleh kalian, mereka itu adalah sahabat radhiyallahu ‘anhum..termasuk golongan manusia terbaikan mereka ikut berperang bersama nabi Muhammad s.a.w dalam sebagian peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w apa gerangan balasan mereka? Balasan mereka adalah ; Rasulullah s.a.w memboikot mereka selama Lima puluh malam, padahal mereka sendiri bertaubat kepada Allah..akan tetapi Allah tidak memberi mereka taubat kecuali setelah Limapuluh malam!! Sesungguhnya masalah ini adalah teramat penting. Maka tanyakanlah pada diri-diri kalian, dan hisablah diri-diri kalian sebelum dihisab oleh Allah di hari akhir kelak.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Kalian tidak memperhatikan saudara-saudara kalian di jazirah arab yang sebenarnya mereka telah menolong kalian.. kalian tidak mempedulikan kaum salibis yang memerangi kailan..tetapi kalian asyik berdiam diri!? Mengapa!?

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Sesungguhnya orang-orang jahiliyah di zaman mereka tidak rela mengalami kehinaan sebagaimana kehinaan yang kini dialami oleh ummat Islam. Mereka tidak rela saudari-saudari mereka berada dalam kekuasaan musuh-musuh merekatidak rela kehormatan mereka dinodaitidak rela harga mereka dihinakan!

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Jika kalian mengklaim bahwa peperangan kami terhadap kaum salibis terdapat syubhat -sebagaimana kalian sangka- maka bagaimana dengan Iraq? Inilah Iraq. Peperangan telah meletus, kehormatan dan kebebasan mereka telah dirusakkaum muslimin dibunuhi tanpa dosa apapun yang mereka perbuat, simbol-simbol kaum muslimin dinodai, lalu kenapa kalian masih duduk, tak berjihad?!

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Jika kalian mencela mujahidin pada umumnya dan mujahidin di Jazirah Arab pada khususnya, mencela peperangan kami terhadap tentara-tentara itu, dan kalian bersikeras mempertahankan bahwa mereka adalah muslimin maka demi Allah, kami bertanya kepada kaliansiapakah yang menangkapi kami? Dan menerobos aurat-aurat kami, menangkapi syaikh-syaikh kita dan pejuang-pejuang kita!? Siapakah yang membunuhi orang-orang baik di kalangan kita?! Siapakah yang melampaui batas terhadap wanita-wanita kami, juga harta-harta dan tempat tinggal kami!?

Saya bertanya pada kalian, siapakah Thaghut yang selalu berjaga malam, pasang telinga dan tangan mereka menyiksa kami? Bukankah mereka itu pasukan khusus, yang selalu mengintai dan mencari-cari Mujahidin? Demi Allah saya bertanya kepada kalian, bukankah mereka itu pelindung pasukan salibis? Siapakah yang menjaga dan menjamin Amerika dan kaum salibis di negeri kita? Siapa yang berdiri di antara kami dan salibis dan sekaligus mempertahankan mereka!!! Demi Allah kita telah melihat, tentara negeri ini telah meletakkan leher mereka di bawah ketiak CIA di Riyadh dan menjadi benteng keamanan mereka.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Saya Tanya kalian karena Allah, bukankah banyak di antara tentara-tentara itu yang telah bergaul bersama mujahidin dan mereka benar-benar mengerti bahwa Mujahidin adalah musuh Amerika dan antek-anteknya? Bukankah Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Al-Maidah (5):51)!?

Bukankah ulama telah menyebutkan tentang pembatal-pembatal Islam, diantara mereka adalah Imam dakwah Najd (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa barangsiapa menolong kaum kafir dengan jiwanya atau harta atau pandangan atau bahkan sekedar sebuah kalimat saja, maka dia menjadi kafir dan murtad.

Hal ini membuat saya bingung, demi Allah, ada sebuah permisalan oleh seorang ikhwan yang mengatakan :”Apa bedanya antara Peter dan Hamud”!

Maka Peter datang dari Nevada di Amerika sana, sedangkan Hamud datang dari dataran Nejd, dan dua-duanya berperang di bawah bendera Salib.!!!

Wahai kalian yang enggan berjihad!

“.. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, (An-Nuur (24):2)

Mengapa kalian menyebut orang-orang yang membantu Yahudi di Palestina sebagai mata-mata dan di Kabul kalian namakan kuli, kalian katakan pula orang-orang yang membantu Yahudi di Iraq sebagai pengkhianat. Tetapi apa yang katakan kalian terhadap orang yang membantu salibis dan zionis di Riyadh? Ternyata kalian tidak berkata apapun terhadap ini!

Sesunggunya dienullah (Islam) adalah satu, Rasul pembawa risalahnya satu, dan hukum syar’I adalah satu Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa saudara-saudara kita di Palestina, dan juga yang menyiksa kaum Muslimin di Iraq dan Afghanistan, mereka itulah yang menyiksa kami di Riyadh! Sedangkan Ulama kita, ulama kaum Muslimin telah ijma bahwa diperbolehkan memerangi musuh dalam rangka kita mempertahankan diri dari penjahat. Jika ini tidak dikatakan sebagai penjahat,dan sebelumnya disebut sebagai pengkhianat, lalu nama apa yang pantas diberikan kepada mereka?

Sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Demi Allah orang-orang yang lalu lalang dan memberikan gelaran dan julukan yang buruk terhadap Mujahidin. Mereka menutupi jalan-jalan kami dan mengangkat senjata ke wajah saudara-saudara kami. Para tentara itu mengerti benar bahwa Ibnu Sa’ud dan saudara-saudaranya adalah kroni-kroni Amerika, tidak ada yang tersisa dari jiwa kesatria mereka,dan agama mereka sebelum ini.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Jika kalian mengklaim bahwa kalian berada di front, maka sebenarnya, setelah kami amati dan perhatikan, ternyata kalian berada di ‘front’ wanita-wanita kalian, kalian cinta dunia dan takut mati, inilah kenyataan kalian! Takutlah kepada Allah, kembalilah kepada agama kalian, yaitu berjihadlah kalian! Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal (8):24)

Ibnu Abbas r.a berkata: “Yang dimaksudkan dengan ’suatu yang memberi kehidupan kepada kamu’ dalam ayat di atas adalah Al-Jihad”

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Saya peringatkan kalian dari ulama suu’ (Ulama yang jahat), dan para pemuka-pemuka agama pemerintah..sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah mengabarkan: “Yang lebih aku takuti daripada yang aku takuti terhadap kalian ialah para pemimpin yang menyesatkan”, dan Allah Jalla Wa’Alaa berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib (pemuka agama) Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At-Taubah (9):34), dan firman Allah: Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(At-Taubah (9):31)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Aku bertanya kepada kalian atas nama Allah, apakah kalian menyebut orang-orang yang menangis atas kematian kaum salibis sebagai Ulama? Lihatlah saudara-saudara kita di Jazirah Arab, mereka dibunuhi, mereka ditawan, sedangkan orang-orang yang kalian katakan sebagai ‘ulama’ itu tak berkata sepatahpun, diam seribu bahasa, bahkan di majlis-majlis merekapun tidak ada kata pembelaan terhadap kaum muslimin yang dibunuh dan ditawan itu. Akan tetapi! Ketika Mujahidin berhasil menawan tentara dari tentara-tentara penjajah beragama Kristen, tiba-tiba berteriaklah orang-orang munafiq dan para pembela thaghut itu. Bagaimana bisa kalian bertaqlid urusan agama kalian kepada orang-orang seperti mereka?

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Sesungguhnya ulama-ulama pemerintah dan para pemuka-pemuka agama mereka tidak menolong saudara-saudara kita yang ditawan di Guantananmo, di penjara Abu Gharib ,di Ar-Ruwais , Al-Haa-ir, di Alisyah dan Rashifah. Mereka tidak mengeluarkan satupun fatwa untuk membebaskan mereka. Maka Allah akan menghinakan wajah orang-orang yang murka demi membela kaum salibis sedangkan di masa yang sama mereka tidak pernah marah demi membela kaum Muslimin.

Kepada Khalid bin Walid r.a dikatakan: “Dimana akalmu wahai Khalid, sedangkan cahaya kenabian telah terbit sejak Duapuluh tahun? Khalid bin Walid menjawab: Di hadapanku berderet nama-nama mentereng yang di mata kami mereka penuh kharisma..”

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : Jihad akan tetap menjadi sesuatu yang menarik hati, selagi air tercurah dari langit. Akan datang masanya kepada manusia, orang-orang yang dianggap quraa (mengerti agama) akan berkata kepada mereka : “Sekarang bukan zamannya Jihad”, barangsiapa menjumpai zaman seperti itu, maka Jihad di waktu itu adalah sebaik-baik Jihad. Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah s.a.w: “Apa ada orang yang berkata seperti itu?”, “Ada” yaitu orang-orang yang Allah telah melaknatnya, juga malaikat, bahkan sekalian manusia melaknatnya”, jawab Rasulullah s.a.w. Sebagian ulama melemahkan riwayat ini.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Saya katakan kepada kalian sebagaimana Ibnul Jauzi berkata kepada orang-orang yang sezaman dengannya: “Wahai manusia, perang telah bergema, para penyeru Jihad telah menyeru kalian untuk berjihad, pintu-pintu langit telah terbuka, jika kalian tidak menjadi pendekar dalam peperangan, maka berikan saja jalan-jalan jihad itu kepada wanita, biar mereka menempuh jalan itu! Kenakanlah sanggul dan celak matamu, beserta serban dan jenggot kalian wahai wanita!”

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Bergabunglah kalian dengan kafilah Jihad, merekalah saudara-saudara kalian di Jazirah Arab, mereka memerangi musuh-musuh Allah dari kalangan penjajah Salibis. Bergabunglah kalian bersama mujahidin itu. Jika kalian tidak menemukan jalan untuk bergabung bersama mereka,maka lihatlah para salibis itu dengan pongah dan leluasanya lalu lalang di Jazirah Nabi Muhammad s.a.w. Bunuhlah kafir itu walaupun satu, agar kalian memperoleh apa yang Allah janjikan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w : “Seorang kafir tidak akan berkumpul di dalam neraka dengan orang yang membunuhnya (muslim), selama-lamanya” (HR.Muslim)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-baqarah (2):195). Maksudnya ‘kebinasaan’ dalam ayat ini adalah : meninggalkan jihad dan sibuk dengan diinar (harta)

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Janganlah kalian menjadi orang-orang yang gagah dalam dalam jahiliyah dan pengecut dalam Islam.

Wahai kalian yang enggan berjihad!

Tahukah kalian siapakah mu’min yang sebenarnya?mereka itu adalahsebagaimana difirmankan oleh Allah: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia.” (Al-Anfal (8):74)

Sebagai penutup, saya mohon kepada Allah Jalla Wa-’Alaa, semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan agar Allah meneguhkan kita di jalan Jihad, sampai akhir hayat kita.

Yaa Allah Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, Wahai Yang Maha Gagah dan Pemilik kemuliaan, tunjukilah ummat Muhammad s.a.w untuk berjihad, Ya Allah berilah taufiq kepada pemuda-pemuda Islam untuk menolong-Mu, menolong dien (agama)-Mu, Wahai Rabb (Tuhan) semesta alam. Ya Allah, kepada-Mu kami serahkan Salibis, Yahudi dan antek-antek mereka. Ya Allah, timpakanlah rasa takut di hati mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan seluruh makhluk yang keluar dari bumi dan yang turun dari langit wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Gagah, wahai Yang Mencipta langit dan bumi. Ya Allah tolonglah kami di jazirah Arab. Ya Allah berilah kemenangan bagi kaum Muslimin dengan tangan-tangan kami, dan timpakanlah petaka di leher-leher kaum salib dan penolong-penolong serta antek-antek mereka. Ya Allah kuatkan azam-azam (semangat-semangat) kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan satukanlah hati-hati kami. Ya Allah tolonglah kami dengan pertolongan dari sisi-Mu. Ya Allah, jadikanlah pertolongan itu untuk saudara-saudara kami dari kalangan mustadh’afin (kaum lemah,tertindas) di seluruh tempat di Palestina, di Iraq dan negeri-negeri kaum Muslimin lainnya Ya Allah Rabb (Tuhan) semesta alam

Ya Allah, jadikanlah akhir hayatku dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Yang dengannya Kau ampuni dosa-dosaku, dan dengannya Engkau tertawa terhadapku, yang dengannya Engkau ridha kepadaku wahai Yang Maha Mulia, yang memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang Engkau muliakan.

Wallahu A’lam

Abu Abdurrahman Al-Atsari Sulthan bin Bajjaad Al Utaibi.

Dari Dua negeri suci (Haramain) yang kini terjajah.

Disampaikan lewat:

Global Islamic Media Front
Garda Penerangan Islam Global

Add comment 4 September 2008

MENCARI LAILATUL QADR ATAU…..?

Lailatul qadar adalah malam segala kemuliaan, malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Jika pada malam itu kita melakukan kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kebajikan semisal dalam rentang waktu 83 tahun 4 bulan. Maka sangat tegas dalam hadits disebutkan orang yang terhalang dari kebaikan lailatul qadar atau kebaikan bulan Ramadhan ini sungguh-sungguh telah terhalang dari seluruh kebajikan. Maka amat merugilah orang yang keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak terampuni dosanya.

Imam Bukhari dalam shahih-nya Kitabul Iman hadits ke 35 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, ”Barang siapa menegakkan (sholat tarawih dan witir) pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Berbeda dengan hadits yang menerangkan puasa dan sholat tarawih dan witir yang menggunakan kata kerja lampau (fi’il madhi) man Shaama dan man qaama, dalam hadits tentang lailatul qadar ini menggunakan lafal kata kerja sekarang (fi’il mudhari) man yaqum. Ada rahasia apakah dibalik hal ini ? Imam Al Kirmani, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/123 mencoba mengungkap rahasia ini.

Menurut beliau, karena qiyam dan shiyam Ramadhan itu sudah pasti terlaksana, siapapun bisa melaksanakannya maka dipakailah kata kerja lampau. Berbeda dengan lailatul qadar, tak sembarang orang mampu meraihnya. Juga tidak bisa dipastikan kapan waktunya. Bahkan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam 2/176, para ulama sampai berbeda pendapat sampai 40 pendapat dalam menentukan kapan waktunya, dan menurut catatan ulama inilah masalah yang paling banyak diperdebatkan oleh para fuqaha’. Tentunya kita tak perlu bersusah payah meneliti pendapat mereka, yang jelas menurut pendapat yang kuat berada pada sepuluh malam yang terakhir atau tujuh malam terakhir. Yang lebih jelas lagi, segera beramal sholih menggunakan setiap detik usia kita di bulan Ramadhan ini untuk kebaikan. Jangan lewatkan begitu saja tanpa membawa pahala.

Jadi, memang betul-betul susah mencari lailatul qadar itu. Maka kita semua harus berusaha keras beramal sholih dan berdoa supaya dikarunia lailatul qadar. Bukankah dalam setahun hanya satu malam saja, itupun belum tentu mendapatkannya. Maka, kenapa masih bermalas-malasan ? Tentunya tidak akan diraih kecuali yang benar-benar ikhlas dan sejak awal Ramadhan memang beramal sebanyak mungkin, bukan oleh orang-orang yang mengejar pada malam-malam tertentu sementara pada sebagian malam lainnya tidak bersungguh-sungguh. Barangkali i’tikaf merupakan sarana terbaik untuk mengejar sang buruan ini.
Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan orang yang mendapatkan lailatul qadar itu. Barangkali seakan dunia menjadi miliknya. Barangkali seakan sudah memiliki segala-galanya.

Namun wahai saudaraku, tanpa mengecilkan keagungan lailatul qadar yang telah dinashkan oleh Al Qur’an dan As sunah Ash Shahihah ini…..maukah kami tunjukkan sesuatu yang lain dari ini semua ? Sesuatu yang datangnya juga dari Rasulullah, dan diperhatikan betul oleh shahabat-shahabatnya ? Lho. Memangnya ada yang lebih baik dari lailatul qadar ….?

Ya…..tentu saja ada. Dari Abdullah bin Umar Radhyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda :

Maukah kalian aku beritahu dengan suatu malam yang lebih baik dari lailatul qadar?. Itulah seorang yang hirasah (berjaga) di daerah yang ditakuti (musuh akan menyerang), karena barangkali ia tak akan kembali selama-lamanya kepada keluarganya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ar Rawiyani dalam musnadnya. Syaikh Muhammad Nashirudien Al Albani berkata, ”Sanad ini shahih, para perawinya perawi yang tsiqat, mereka adalah para perawi Imam Bukhari kecuali Abdurahman bin ‘Aidz. Ia ini tsiqah sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya 2/80-81 dan Al Baihaqi adlam sunannya 9/149, serta Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib 2/154.”

Wahai saudaraku….hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir dan Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah 6/739, no. 2811.
Coba bayangkan wahai saudaraku…anda berjaga-jaga di Phattani, Afghanistan, Kasymir, Chechnya, Iraq atau Moro….anda akan melewati hari-hari dan malam-malam yang indah, hari dan malam yang lebih baik dari lailatul qadar.

Wahai saudaraku…..dalam setahun lailatul qadar hanya sekali saja, dan belum tentu kita mendapatkannya….apalagi jika kita banyak dosa dan kurang rajin melaksanakan ketaatan. Rasulullah menjanjikan…jika anda di medan ribath dan anda melakukan hirasah selama sebulan.…maka anda akan mendapati 30 malam yang lebih utama dari lailatul qadar…jika anda melakukan hirasah dan ribath satu tahun, anda akan mendapati seluruh hari dalam satu tahun, sekitar 354 hari (tahun hijriyah) yang lebih baik dari lailatul qadar. Jika anda hirasah satu hari, lima jam atau satu jam…anda akan tetap mendapati yang lebih baik dari lailatul qadar !!!!
Satu jam saja ???? Ya, kenapa tidak…bukankah Rasulullah bersabda :

Tempat kedudukan seorang di jalan Allah lebih utama di sisi Allah dari ibadahnya seseorang selama 60 tahun.” [Al Hakim, shahih menurut syarat Imam Bukhari].

Belum lagi wahai saudaraku….kalau anda di medan ribath dan hirasah mendapati lailatul qadar—insya Allah—maka anda telah mengumpulkan dua kebaikan…Lantas apalagi yang membuat anda bimbang ? Masihkan janji beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam ini kita sia-siakan ? Tidakkah anda tergerak untuk ke arah itu..? Tidakkah anda tergerak untuk memberangkatkan orang ke arah itu …? Sampai kapan anda bermimpi Islam akan menang lewat demo-demo dan diskusi-diskusi serta pernyataan sikap yang selama ini kita kerjakan..? Dengan sekedar doa sekali dua kali yang kita panjatkan….? Sampai kapan ukhuwah kita beranjak dari kertas-kertas buku dan teori-teori di kepala yang kita sampaikan di mimbar-mimbar ke alam kenyataan….? Sampai kapan ‘jihad fi sabilillah jalan kami’ terterjemahkan dalam realita kehidupan…?

Saaudaraku…tak pernahkah kita mendengar dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, Rasulullah bersabda :

Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari saja di jalan Allah (jihad/perang melawan orang-orang kafir), kecuali pasti Allah akan menjauhkannya dengan puasa satu harinya itu wajahnya (dirinya) dari neraka sejauh 70 tahun.” [Muttafaq ‘Alaihi, lafal ini lafal Imam Muslim].

Saudaraku…tak pernahkah kita mengkaji bahwa seluruh ulama pensyarah hadits menyebutkan hadits puasa sehari fi sabili Allah ini dalam bab jihad, berperang di jalan Allah….Saudaraku, masihkah kita mengingkari kenyataan ini….masihkah kita berpura-pura yakin apa yang kita kerjakan hari ini adalah yang terbaik bagi Islam, bagi saudara-saudara kaum muslimin….???? Imam Ash Shan’ani berkata, ”Rasulullah menggunakan kinayah (makna konotasi) selamatnya dirinya dari adzab neraka dengan sabda beliau, ” kecuali pasti Allah akan menjauhkannya dengan puasa satu harinya itu wajahnya (dirinya) dari neraka sejauh 70 tahun” [Subulus Salam 2/167].

Saudaraku..ini baru shaum sehari di medan ribath dan jihad. Maka bagaimana jika anda mampu berada di sana dua, tiga, empat atau lebih hari dari hari-hari sisa di bulan Ramadhan ini ???? Saudaraku, jika anda mampu berangkat, kenapa masih lengket dengan bumi…??? Jika berhalangan dan hanya bisa memberangkatkan orang lain, kenapa tak anda berangkatkan orang lain…??? Saudaraku, tak pernahkan kita membaca surat dari sang kekasih;

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu….” [Al Anfaal : 24].

Saudaraku…tak pernahkah kita mengkaji ayat ini melalui kitab tafasir salafush sholih ? Tak pernahkah kita membaca perkataan Imam Al Wahidi yang disebutkan Imam Ibnu Qayyim dalam Al Fawaid-nya, ”Dan mayoritas ulama menyatakan bahwa makna firman Allah “suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” adalah jihad, dan ini merupakan pendapat Ibnu Ishaq dan mayoritas ahlul ma’ani.”

Lupakah atau tak tahukah kita wahai saudaraku….mengomentari perkataan Imam Al Wahidi dan juga Imam Al Fara’, Imam Ibnu Qayyim berkata,” Jihad adalah hal terbesar yang membawa mereka kepada kehidupan : kehidupan di dunia, kehidupan di alam barzakh dan kehidupan di akhirat.”

Tak tahukah kita wahai saudaraku……Rasulullah ingin terbunuh sepuluh kali dalam jihad fi sabilillah…Tak tahukah kita wahai saudaraku…Imam Ibnu Taimiyah menegaskan kesepakatan ulama, ribath di perbatasan seperti perbatasan Syam dan Mesir lebih utama dari mujawarah (berkunjung) ketiga masjid suci Islam…lebih baik dari beribadah dan tinggal di Masjidil Haram, Nabawi dan Aqsha…Beliau ditanya mana yang lebih utama : beribadah di ketiga masjid suci ini atau ribath di daerah perbatasan dengan daerah musuh. Jika kita masih ingat hadits-hadits seputar haji, maka kita masih akan mengerti bahwa sholat di masjidil Haram nilainya 100.000 kali sholat di masjid selainnya. Tahukah kita apa jawaban beliau terhadap pertanyaan ini …?

Beliau menjawab, ”Al hamdulillah, bahkan bertempat tinggal di daerah-daerah perbatasan umat Islam seperti daerah perbatasan Syam dan Mesir lebih utama dari mujawarah ketiga masjid (AL Haram, AN Nabawi dan AL Aqsa) dan aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini. Lebih dari seorang ulama telah menegaskan hal ini, hal itu dikarenakan ribath termasuk jenis jihad, sedang puncak dari mujawarah adalah menjadi jenis haji, (sedang jihad lebih utama dari haji ) seperti difirmankan Allah,

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” [At Taubah :19].

Beliau kemudian menyebutkan hadits-hadits tentang hal ini, antara lain :

Perang di jalan Allah lebih utama dari 70 kali haji.” [Majmauz Zawaid 5/281].

Dari Salman Al Farisi dari Nabi, beliau bersabda :

Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari shaum satu bulan dan qiyam satu bulan dan barang siapa mati dalam keadaan ribath maka ia mati dalam keadaan berjihad dan dialirkan terus baginya rizki dari surga dan ia akan aman dari malaikat pembawa fitnah kubur (malaikat Munkar dan Nakir).” [HR. Muslim, kitabul Imarah Bab Fadhlu Ribath fi Sabilillah dan Majmauz Zawaid 5/290].

Dari Utsman dari Nabi, beliau bersabda :

Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari 1000 hari di tempat lain.” [An Nasai, kitabul Jihad bab 39. Ad Darimi kitabul Jihad bab 31].

Wahai saudaraku….hadits-hadits shahih ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak hadits masalah tentang amalan ini. Mari kita menengok shahabat yang paling banyak menghafal sunah beliau, yang tentunya termasuk jajaran ulama shahabat dan tokoh hadits terkemuka di dunia ini. Itulah shahabat Abu Hurairah yang hidupnya habis untuk meniba sunah Rasulullah..dan berjihad…Beliau berkata, ”Aku melaksanakan ribath satu malam di jalan Allah lebih aku cintai dari aku melaksanakan qiyam Ramadhan pada malam Lailatul Qadar di sisi Hajarul Aswad.” [lihat selengkapnya Majmu’ Fatawa 28/ dan Al Fatawa Al Kubra 3/531-532].

Wahai saudaraku… kebaikan apalagi yang kita harapkan. Jika anda mampu berangkat atau memberangkatkan orang lain….kenapa tak anda lakukan ??? Minimal anda berazzam kuat dan berdoa, semoga kiranya suatu saat dikaruniai kesempatan indah dan agung ini.

Selanjutnya wahai saudaraku….ingatlah, para ulama dengan tegas menyatakan fi sabilillah dalam ayat At Taubah yang menjadi salah satu dari delapan kelompok penerima zakat adalah para mujahidin dan kepentingan jihad. Ya, bukan selain itu, bukan membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya….Takutlah kepada Allah. Inilah pernyataan para ulama salaf yang konsisten dengan manhaj shahabah…. Inilah pendapat mayoritas ulama salaf dari kalangan mufasirin, muhaditsin dan fuqaha’ yang teguh di atas kebenaran, seperti Imam Thabari (Jamiul Bayan 14/320, tahqiq Ahmad Syakir), Al Qurthubi (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 9/185), Al Jashash (Ahkamul Qur’an 3/156), Ibnul ‘Arabi (Ahkamul Qur’an 1/396), As Suyuthi (Ad Durul Mantsur 3/252), Al Khazin (Lubabu Ta’wil FI Ma’ani Tanzil 3/92), Asy Syaukani (Fathul Qadir 2/373), Ibnu Hajar (Fathul Bari 3/259), Badrudien Al ‘Aini (Umdatul Qari 9/45), Abul Hasan Al Mubarakfuri dan Al Khothobi (Ma’alimu Sunah 2/234-235), Ibnu Atsir Al Jazari (An Nihayah fi Gharibil Hadits 2/245), Al Baruti (Al Hidayah Hamisyu Fathil Qadir 2/17-18), (Al Fatawa Al Hindiyah 1/188), Abul Barakat Ahmad Dardir (Asy Syarhul Kabir Hamisyu Hasyiyah Ad Dasuki 1/456), Asy Syafi’I (Al Ummu 2/60), An Nawawi (Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/211), Ibnu Qudamah (Al Mu’ni’ wa Hasyiyatuhu 1/249), dan Ibnu Hazm (Al Muhalla 6/151).

Karena itu, majlis haiah kibaril ulama Arab Saudi yang terdiri dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Shalih bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Ghadyan dan Syaikh Abdurazaq Afifi dalam rapatnya tanggal 21 Sya’ban 1394 H di Thaif memutuskan keputusan no. 2 tertanggal 21/8/1394 H bahwa makna fi sabilillah dalam ayat penerima zakat ini adalah ghuzat f sabilillah (para mujahidin yang berperang di jalan Allah). [Majalatul Buhuts Al Ilmiyah edisi 2, Syawal-Rabiul Awal 1395/1396 H].
Adapun mereka —ustad, kyiai, ulama, ajengan, syaikh dan doctor— yang mencoba merubah dan membelokkannya untuk membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya…atau bahkan memutarnya untuk usaha, membangun ekonomi umat….maka takutlah kepada Allah…..takutlah kepada Allah….takutlah kepada Allah….anda telah menahan harta Allah yang seharusnya dipergunakan untuk meninggikan kalimat Allah, anda menggunakannya untuk menghancurkan Islam….Na’udzu Billahi.
Bagaimana tidak, bagian zakat fi sabilillah anda tahan, anda pergunakan tidak pada tempatnya dengan berlandaskan pada pemahaman anda yang ”lebih benar dan lebih luas” dari pemahaman salafush sholih ??? berlandaskan pada pendapat anda dan sebagian ulama zaman ini yang “tidak picik”, yang “lebih pandai” dari salafus sholih ???” maka mujahidin Phattani, Moro, Kasymir, Chechnya, Palestina, Afghanistan, Iraq dan ardhul jihad lainnya tak mendapatkan amunisi, logistik, senjata… padahal dunia berkumpul untuk menghancurkan mereka, untuk menenggelamkan Islam ke dasar samudra,….maka tidakkah anda takut kepada Allah ???. Doktor macam apakah, ulama macam apakah….yang lebih pandai dari para mufasirin dan fuqaha’ salaf ???? Apakah pemahaman mereka lebih baik…lebih benar dan lebih diridhoi Allah melebihi pemahaman salaf ???
Kenapa bagian zakat fi sabilillah diberikan untuk membangun masjid, madrasah, jalan raya, yayasan Islam,dst….kenapa tidak sekalian saja diberikan kepada orang yang sholat, membaca Al Qur’an, berdzikir, shoum, dan seterusnya…bukankah semuanya sama-sama mencari ridha Allah. Inilah bukti kerusakan pemahaman mereka yang melenceng dari pemahaman salafush sholih…

Wahai saudara muslimin….renungkanlah…telah lama kita berada dalam kesesatan…kehinaan…jauh dari tuntunan shahabat dan Rasulullah….jika anda belum mampu mengerjakan naasehat ini, minimal niat, minimal niat ikhlash dan kesungguhan anda akan dinilai Allah. Maka camkanlah baik-baik nasehat dari saudara muslim ini, dan sebarkanlah kepada kaum muslimin, semoga kita semua berada di atas jalan petunjuk Allah. Amiin.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Dari Ikhwan Fiddien, Forum Al Tawbah

Add comment 3 September 2008

Seri Syuhada Nahar Al Barid – Abu Turob Asy Syururi

Pahlawan Kamp Nahrul Barid
Organisasi Fatah Al Islam/ Mempersembahkan Seri Kedua dari
“Silsilah Perjalanan Syuhada” di Kamp Nahrul Barid

Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menetapkan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan menghinakan orang-orang kafir serta orang-orang yang menyebarkan ketakutan kepada kaum muslimin. Sholawat dan salam kepada pemimpin mujahidin dan panglima kemuliaan Muhammad bin Abdulloh beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejaknya serta berjalan di atas manhajnya dengan berjihad sesuai dengan apa yang diperintahkannya hingga hari pembalasan.

Alloh berfirman :
Dan jangalah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati akan tetapi sebenarnya mereka itu hidup dan diberi rezki. Mereka bergembira dengan apa yang telah mereka dapatkan dan sebagai kabar gembira bagi orang-orang sesudah mereka agar tidak ada kekhawatiran dan mereka pun tidak bersedih hati”.

Bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam berangan-angan agar mati syahid di jalan Alloh
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku ingin terbunuh di jalan Alloh kemudian dihidupkan lalu terbunuh, dihidupkan lalu terbunuh, dihidupkan lalu terbunuh”.

Di dalam Kitab Bukhori Muslim beliau bersabda :
Sungguh keluar di pagi hari atau sore hari di jalan Alloh (untuk berjihad) adalah lebih baik dari dunia seisinya”.

SILSILAH PERJALANAN SYUHADA
DI
KAMP NAHRUL BARID
SERI KEDUA

Sesungguhnya Mereka adalah Kafilah Syuhada
Derajat yang tinggi baik ketika masih hidup maupun setelah mati, darah yang suci, dan jiwa yang bersih, cita-cita yang tinggi, keahlian yang luar biasa, serta contoh yang nyata. Dengan keberadaan mereka umat ini tersadar dari tidurnya dan sebagai pemompa semangat baru dalam hidup.
Di antara mereka –kami menganggapnya seperti itu dan Alloh adalah sebaik-baik penghisab- para pejuang kami di garis terdepan :

ABU TUROB ASY SYURURI

Dia adalah Jabir Mahdi Ali Husain Al Hamamy, dari negeri haromain wilayah selatan dari kota Syururoh. Dia meninggalkan dunia dengan segala kenikmatannya, teguh pendirian, hati yang dipenuhi keimanan yang benar, mempunyai sikap yang tegas, teman dekatnya adalah Al Qur’an seakan-akan antara dirinya dan Alloh ada rahasia.
Sebelum dia berangkat untuk berjihad, pada suatau hari Abu Turob bertanya kepada salah satu ulama kerajaan tentang hukum jihad pada zaman sekarang ini dan hukum pergi untuk berjihad ?
Dikatakann kepadanya : “Tidak ada yang namanya jihad pada zaman sekarang ini dan kamu tidak boleh keluar untuk pergi berjihad dan wajib bagimu untuk taat kepada pemerintah”. Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- terkejut dengan perkataan ulama ini yang telah rela menjual agamanya dengan secuil bagian dari dunia, serta menampakkan kedengkiannya terhadap pelaku jihad dan istisyhad. Kemudian Abu Turob Asy Syururi pergi dari tempat ulama tadi seakan-akan dirinya tersambar petir karena ucapan ulama kerajaan ini yang selalu mengulang-ulang perkataannya kepada beliau : “Aku menasehatimu untuk tidak pergi berjihad karena sesungguhnya itu adalah sebuah fitnah”.
Sedangkan Alloh Robbul ‘Izzah berfriman di dalam Al Qur’an :
Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sehingga agama itu hanya untuk Alloh, jika mereka berhenti (memerangi kalian) maka tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang dzolim”
Sekarang Abu Turob Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya- mengetahui bahwa pekerjaan ulama kerajaan adalah untuk para thoghut dan tindakan mereka yang keji dalam membela kerajaan dengan fatwa-fatwa mereka yang telah menyesatkan para pemuda islam serta melarang mereka untuk membela tanah-tanah kaum muslimin dan kehormatannya serta rela dengan kehidupan dunia daripada akhirat padahal Alloh berfirman :
Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu”
Akan tetapi akh tercinta Abu Turob Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya- yang hidup di dunia dengan segala kenikmatannya menolak untuk hidup di bawah hukum thoghut di negeri Haromain, dan dia merasa bosan membaca tentang jihad dan kemuliaannya sedangkan dia tidak berbuat sesuatu apapun. Maka akh tercinta Abu Turob Asy Syururi berkehendak untuk pergi ke medan dia antara medan-medan kemuliaan. Dia berangkat bersama saudara sepupunya yaitu Ali Mubarok Al Hamamy-semoga Alloh merahmatinya- (beliau adalah salah satu syuhada di salah satu jalan kota Toroblus).
Abu Turob Asy Syururi menangis tatkala membaca ayat-ayat jihad dan dia merasakan apa arti sebuah kemuliaan. Dia menoleh ke kanan dan kekiri tapi tidak ia dapatkan kecuali kehinaan dan ketundukan. Setelah dia mendapatkan kabar tentang mujahidin maka ia berkeinginan untuk bergabung bersama mereka. Setelah itu dia mempersiapkan bekal sampai tiba waktunya untuk pergi. Dan setelah menempuh perjalanan yang sulit maka sampailah Abu Turob dan saudaranya di Suria.
Dan ketika mereka tiba di Suria maka mereka menghubungi Abu Ritaj –semoga Alloh merahmatinya-. Beliau (Abu Ritaj) meminta mereka untuk bertolak ke Libanon, sehingga sampailah mereka di kota Toroblus dan mereka tinggal di sana selama 2 pekan. Di sana mereka berjumpa dengan saudara mereka yang berasal dari satu kota yaitu Abu Dujanah Asy Syururi –semoga Alloh merahmatinya-. Oleh karena itu Abu Turob dan Abu Dujanah pindah ke kamp Nahrul Barid supaya dapat belajar bersama dengan saudara yang lain tentang ilmu syar’i dan kemiliteran. Akan tetapi keluarga Abu Turob terus mencari kemana beliau pergi dengan menyebarkan fotonya dan akan memberikan imbalan (sejumlah 100.000 riyal) jika ada yang menemukannya , begitu juga dengan Ali Mubarok Al Hamamy atau Ali Abu Khobab. Foto-foto mereka disebar di berbagai wilayah bagian utara.
Ketika beberapa ikhwah mengetahui hal ini maka mereka meminta kedua akh ini untuk tidak menampakkan diri di wilayah kamp, akan tetapi ini tidak berlangsung lama karena setelah itu terjadi pertempuran di Nahrul Barid antara pasukan Ar Rahman dan pengikut setan.
Maka bergabunglah Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- di barisan mujahidin di kamp Nahrul Barid, dan karena beliau telah mengetahui ilmu kemiliteran sebelumnya maka dengan begitu Alloh membukakan kebaikan yang sangat banyak.
Abu Turob datang di kamp Nahrul Barid sebelum pecah peperangan, berkumpul bersama saudara-saudaranya di kamp dan di antara kelebihan yang beliau miliki dari ikhwah yang lain adalah semangatnya untuk membantu saudaranya, mencintai mereka dan menyayangi mereka. Sampai-sampai jika kita melihatnya untuk pertama kali seakan-akan beliau mempunyai kewajiban untuk melaksanakan hal tersebut. Dan jika bergaul dengannya seakan-akan ia adalah seperti ibu yang menjaga anaknya. Jika ada yang sakit di antara mereka maka beliau merawatnya sepanjang malam. Senang menghibur saudara-saudaranya yang sedang bersedih hati karena suatu hal.
Abu Turob tinggal di kamp Nahrul Barid sampai pecah pertempuran, dimana beliau ikut serta bersama dengan yang lainnya. Mereka pun menyertai beliau sampai di Muhawwar Al Mahmaroh dimana disana juga telah terjadi pertempuran yang hebat antara singa-singa Fatah Al Islam dengan pasukan kafir Al Marwani. Beliau –semoga Alloh merahmatinya- itu bagaikan gunung yang kokoh di medan pertempuran Muhawwar Almahromah dan dengan karunia Alloh beliau berhasil membunuh dan melukai pasukan musuh.
Saudara-saudara mujahidin yang lain juga meminta beliau untuk pindah ke Hay Sufuri, disana juga telah terjadi peperangan yang sengit antara singa-singa Fatah Al Islam dengan pasukan kafir Al Marwani. Kemudian setelah itu beliau pindah lagi ke Hay Sa’sai, disana pasukan AlMarwani menyerang dengan bom-bom yang dapat mengakibatkan rumah terbakar. Sehingga diantara para mujahidin ada yang terkena serpihan bom dan mengharuskan mereka untuk berhenti tidak melanjutkan pertempuran. Kemudian Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- menuju tempat tersebut bersama mujahidin yang lain untuk mengadakan penyerbuan terhadap pasukan musuh, sesaat kemudian pasukan AlMarwani mundur dari tempat tersebut dalam keadaan ketakutan dengan meninggalkan beberapa anggota mereka yang terbunuh dan terluka.
Abu Turob –semoga Alloh merahmatinya- adalah orang yang selalu menginvestigasi setiap keadaan dan beliau sendiri adalah seorang ketua regu yang menempati posisi/tempat yang strategis.
Pada suatu ketika beliau menginvestigasi sebuah tempat yang telah dikuasai oleh pasukan Al Marwani (untuk dijadikan tempat istirahat), sedangkan singa-singa tauhid yang lainnya melindunginya dari tempat pengintaian mereka. Kemudian Abu Turob menyusup ke dalam sebuah bangunan yang telah dijadikan markas oleh pasukan musuh akan tetapi salah satu pasukan musuh mengetahuinya maka beliau cepat-cepat pergi dari tempat tersebut dan memberitahu mujahidin yang lain untuk berpindah ke tempat yang telah ditentukan. Setelah itu terjadilah pertempuran yang sengit antara Singa-singa Tauhid dan pasukan Al Marwani, akan tetapi karena pasukan Al Marwani adalah orang-orang yang pengecut maka mereka meninggalkan tempat tersebut dengan cara meledakkan bangunan yang ada tanpa memperdulikan korban-korban diantara mereka yang tertimpa reruntuhan bangunan.
Sesaat kemudian pasukan Al Marwani mulai meluncurkan roket-roket buatan Amerika ke bangunan yang ditempati oleh mujahidin. Sehingga para mujahidin menyangka bahwa pasukan musuh ingin merangsek maju, akan tetapi kemudian muyjahidin tahu bahwa serangan itu dilakukan karena musuh-musuh Alloh tersebut ingin mengirim sekelompok pasukan di salah satu bangunan yang ingin mereka kuasai, dan agar bisa menyergap para sniper mujahidin yang telah mereka ketahui keberadaannya yang tidak jauh dari tempat tersebut. Untuk menjalankan aksinya tersebut pasukan Al Marwani mulai menyerang dengan senapan mesin caliber 12,5 mm (yaitu senapan mesin yang biasanya diletakkan di atas kendaraan tempur).
Dan setelah Abu Turob Asy Syururi dan Abu Anjasy –semoga Alloh merahmati mereka- bertemu maka mereka berjanji untuk tidak meninggalkan tempat tersebut kecuali setelah mereka berhasil menyusup. Setelah berhasil melakukan penyusupan dengan pertolongan Alloh mereka juga berhasil menimpakan kerugian pada musuh-musuh Alloh sehingga tempat tersebut berhasil dikuasai oleh mujahidin.
Abu Turob Asy Syururi -semoga Alloh merahmatinya- adalah salah satu singa di antara singa-singa tauhid di zaman ini yang pantang menyerah dan condong kepada musuh-musuh Alloh. Pada suatu hari sebuah bom jatuh tepat di atas rumah yang ditempati Abu Turob dan para mujahidin sehingga mengakibatkan dinding rumah itu runtuh dan menimpanya akan tetapi Alloh menyelamatkannya dari bawah reruntuhan tanpa luka sedikitpun, begitu juga dengan mujahidin yang lainnya.
Alloh telah memuliakan beliau di hari-hari terakhirnya dengan berhasil membunuh dan melukai 7 tentara dari pasukan kafir Al Marwani yang selalu berusaha menangkap beliau, akan tetapi selalu lolos dengan karunia dari Alloh Ta’la. Dan hal ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit juga disertai banyak korban baik yang terluka maupun yang terbunuh dipihak pasukan Al Marwani.
Sehingga tidak ada cara lain bagi pasukan kafir tersebut kecuali dengan menjatuhkan bom seberat 400 kilogram TNT dari bahan AL pada tempat dimana Abu Turob berada. Dan inilah tempat pertama yang diserang oleh musuh dengan bom melalui pesawat.
Sehingga gugurlah para syuhada –dengan izin Alloh- di antara mereka adalah Abu Turob Asy Syururi, Abu Dzar Al Liby, Abu Mu’tashim As Suriy –semoga Alloh merahmati mereka- pada tanggal 14 Sya’ban 1428 hijriyah.
Semoga Alloh menerima kesyahidan Abu Turob Asy Syururi dan semoga Alloh memberikan rahmat yang luas kepadanya dan kepada syuhada yang lainnya serta dikumpulkan bersama para Nabi, Syuhada dan sholihin. Dan semoga Alloh menetapkan kita di atas jalan jihad dan istisyhad ini dan sesungguhnya Alloh adalah penolong dan penentu semua urusan.
Semoga Alloh merahmati engkau wahai Abu Turob Asy Syururi dengan rahmat yang sangat luas dan kami memohon kepada Alloh agar mengumpulkan kami dan engkau di Firdausil A’la bersama para nabi, shiddiqin, dan orang-orang sholih, dan mereka itulah sebaik-baik teman.

Ketahuilah
Sesungguhnya prinsip itu lebih berharga daripada hidup. Dan keyakinan itu lebih berharga daripada jasad. Serta kelurusan itu lebih agung daripada jiwa.

Sesungguhnya hati akan bersedih, dan mata akan berlinang, sesungguhnya kami merasa bersedih wahai Abu Turob dengan perpisahanmu ini
sebaik-baik mujahid adalah engkau, sebaik-baik penyabar adalah engkau
dan kami tidak mensucikan seorang pun atas Alloh
dan sekali-kali para pengecut tidak akan pernah lalai
dan semoga Alloh memberikan keselamatan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai hari pembalasan
dan doa kami yang terakhir adalah pujian kepada Alloh Robb semesta alam

Saudara kalian di
Departemen Informasi

Tandzim Fatah Al Islam

Penterjemah : Forum Islam Al Tawbah

Add comment 31 July 2008

Seri Syuhada Nahar Al Barid – Abu Al Zabir Al Urduni

Seri Syuhada Nahar Al Barid

Syuhada (Insya Allah) Abu Al Zabir Al Urduni – Pemuda Jordan yang Periang, Penembak Jitu Andalan

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh nasib makhluqNya dan Dia menetapkan bahwa orang-orang Kafir pasti dikalahkan, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Imam Kaum Muttaqin dan Panglima Mujahidin, Muhammad bin Abdullah, shalawat dan salam juga semoga tercurah kepada keluarga Beliau dan para Shahabat Radliallahu’anhum, serta segenap pengikut yang menapak Sunnahnya dan Sunnah Salafush Sholeh, juga segenap hamba Allah yang tsabat di Jalan Jihad fi Sabilillah ini hingga Hari Qiyamat.

Ia dikenal sangat mencintai Al Quran. Ia suka duduk berlama-lama bersama Kitabullah, menghafal dan memahami ayat-ayat Allah. Seorang Hafidzul Quran. Ia seorang ksatria dan pejuang yang tabah, pembawaannya selalu riang dan murah senyum. Dalam usianya yang belia, ia telah mempersembahkan hidupnya untuk Allah. Dia penjaga dan pengawal Din, ketika masa-masa fitnah dan mushibah merajalela. Aku tengah bercerita kepada Anda, tentang Singa Allah yang masih belia ini, salah satu kebanggaan Nahar Al Barid. Dia adalah Muhammad Abu Al Zabiir Al Urduni, dari Bumi Jordan yang diberkati.

Abu Al Zabir berusia sekitar tujuhbelas tahun, seorang pemuda yang berhijrah dari Jordan dan kemudian menjadi Singa Allah, keperwiraannya jarang ditemukan pada kebanyakan orang. Jika Anda melihatnya, Anda pasti akan merasakan dia sebagai seorang yang soleh dan taat. Dia, semoga Allah ridla padanya, seorang anak yatim dan seorang pelajar yang cerdas. Dalam usianya yang masih belia, dia sangat taqwa kepada Allah. Ketaqwaannya itu mendorongnya untuk berhijrah meninggalkan negerinya Jordania, mempersembahkan diri dan hartanya untuk meninggikan Allah Azza wa Jalla. Abu Al Zabir mengikuti perkembangan berita tentang dunia Islam setiap saat, dan ia menyaksikan situasi dari Ummah ini,ketika poros kekuatan Judeo-Christian (Zionis dan Salibis)bersama para sekutu mereka di negeri Islam menjadi semakin kuat dan menampakkan keangkuhannya. Kemudian mereka mulai melemparkan tuduhan dan stigma buruk terhadap Ummah Islam, memperhinakan Islam dan ummatnya, membunuh kaum muslimin dan merampas hak-haknya. Mereka membantai ummah Islam, anak-anak, kaum perempuan, dan orang tua, darah tercecer sepanjang negeri-negeri, mulai dari Palestina, Iraq, Afghanistan, Cecnhya, dan bumi-bumi Islam lainnya. Melihat seluruh kenyataan ini, Abu Al Zabir berpikir, bagaimana caranya ia dapat menolong saudara-saudaranya, bagaimana ia dapat menolong Din Allah dan Ummat Islam, dengan segala yang ia miliki, harta dan jiwa.

Demikianlah, Abu Al Zabir mulai mencari dan mengintai celah jalan yang dapat membawanya untuk menapak Jihad fi Sabilillah dan meraih syahadah. Allah Azza wa Jalla menolongnya. Allah membukakan jalan baginya dan menuntunnya berhijrah ke Bumi Lubnan (Libanon). Ia mengikuti pelatihan dasar di Kamp Burj Al Barajni di Beirut. Di sana ia mendapatkan berbagai pelatihan penggunaan senjata ringan hingga menengah. Ia kemudian dipindahkan ke Kamp Nahar Al Barid di wilayah Utara Libanon, di mana ia tinggal di sana, berribath di bumi yang menjadi front terdepan pergolakan hingga taqdir Allah datang kepadanya.

Abu Al Zabir, semoga Allah menyayanginya, adalah seorang yang berpikir rasional, obyektif, dan bijaksana. Belum pernah ada orang melihatnya marah pada saudaranya yang lain; ia dikenal sangat sholeh, santun, ramah, periang, dan suka humor. Siapa saja yang menyertainya pasti akan senang dan sayang padanya. Ia seorang yang cerdas dan berwawasan luas. Tetapi jangan remehkan pembawaannya yang santun dan rendah hati itu, karena ia seorang yang pemberani tak kenal kompromi. Dalam usianya yang belia, ia tidak pernah minum khamr, sangat takut kepada Allah. Hatinya lembut, besar perhatiannya terhadap nasib Ummat Islam di seluruh dunia. Seorang yang ramah dan lemah lembut pada siapa saja. Ia banyak mendapat pengarahan dan teladan dari salah seorang Ikhwah yang juga berasal dari Jordania, Akh Usamah, semoga Allah ridlo padanya, salah seorang yang menjadi anggota dewan pimpinan Tanzim Fatah Al Islam.

Ketika pertempuran antara hamba-hamba Allah melawan kaum kuffar pecah di Nahar Al Barid, Abu Al Zabir di antara pejuang yang terjun dalam kancah pertempuran sejak hari pertama. Betapa bergembiranya ia, ketika mengetahui saatnya telah tiba untuk berjuang mempertahankan Din, saling berhadapan dengan balatentara Salib. Abu Al Zabir seorang sniper, penembak jitu andalan. Ketika pertempuran pecah, ia menempatkan dirinya di tempat-tempat strategis di puncak gedung-gedung tinggi. Mata elangnya tajam mengawasi setengah wilayah Nahar Al Barid.

Demikianlah seorang pejuang, ketaatannya pada perintah sang komandan membuat ia harus bertahan selama enam hari penuh pada posisinya. Enam hari penuh di satu posisi, enam hari penuh di posisi yang lain, demikian seterusnya. Hampir setiap tiga hari, ia menembak mati sepuluh tentara dari pasukan salib. Tetapi ia tidak puas hanya membidik dan menembak saja. Setelah lewat sebulan, pengalaman telah mengasah keahliannya dalam menembak jitu dan pengintaian, sehingga ia diberi tugas berselang-seling, kadang tugas sebagai sniper, kadang tugas sebagai pengintai.

Ia juga dilibatkan dalam beberapa operasi untuk memukul garis serang terdepan musuh. Ia bertugas mengintai dan mencari titik lemah dari pasukan musuh lalu menerobos dan memecah garis serangnya. Ia singa perang yang tidak mengenal takut, berpindah dari gedung ke gedung yang ada di Kamp Nahar Al Barid. Khususnya ia banyak ditempatkan di blok Al Mehamrah di mana tempat itu adalah medan perang paling sengit antara singa-singa tauhid melawan balatentara salib.

Abu Al Zabir dikenal sangat berani, ia sering memilih gedung yang paling dekat dengan musuh. Ia menyusun rencana operasi untuk mengawasi dan mengeksplorasi daerah di lingkungan Safuri di Jalan Mehamrah. Ia memulai di gedung Naji El Ali sebelum shubuh hingga jam 06.30, kemudian ia shalat. Diteruskan mulai jam 06.30 hingga 09.30 ia mengintai dari ketinggian para tentara salib yang menjadi mangsanya. Ia seorang fotografer yang terampil sehingga ia kadang memotret semua tentara musuh yang ia bunuh. Ia hanya tertawa riang jika saudara-saudaranya memintanya untuk melatih mereka menembak jitu.

Suatu hari, di tengah sengitnya pertempuran, kondisi menjadi sedemikian menegangkan di kompleks Naji El Ali, sebuah gedung setinggi tujuh lantai. Gedung ini menjadi arena pertempuran dan perebutan antara singa-singa Ar Rahman dan pasukan salib yang berusaha berulang kali menerobos masuk untuk merebut gedung. Setelah melalui perlawanan dan pertempuran yang sengit, tentara salib berhasil menguasai sebagian besar area gedung, kemudian mereka menempatkan penembak-penembak jitunya di setiap jendela gedung.

Mereka kemudian segera mengumumkan bahwa area Naji El Ali telah dikuasai. Musuh juga mengibarkan bendera mereka di atas gedung itu. Tetapi tentara kafir ini tidak menyadari apa yang tengah menanti mereka. Mereka tidak mengetahui, seorang pemuda ksatria tengah menunggu dengan sabar untuk melancarkan rencana operasinya terhadap tentara salib ini.

Abu Al Zabir menyusun satu grup kecil berjumlah sekitar lima mujahidin untuk merebut kembali Naji El Ali dari tangan musuh. Dengan satu komando, resimen kecil ini merangsek masuk ke Naji El Ali. Pertempuran kembali pecah antar tentara Tauhid dan tentara penyembah salib. Mujahidin berhasil membunuh banyak tentara musuh dan menyebabkan sebagian yang lain terluka. Begitu sengit pertempuran itu, berlangsung dari ruang ke ruang, lantai demi lantai, hingga pertempuran berpindah ke lantai yang lebih tinggi. Beberapa jam pertempuran berlalu, grup mujahidin yang bertempur di dalam gedung itu kehabisan amunisi. Para Mujahid meminta saran pada Abu Al Zabir apa yang harus dilakukan. Abu Al Zabir kemudian mengeluarkan setumpuk mercon dari kantongnya dan membagikannya kepada anggota pasukan kecilnya itu. Pertempuran kini dilanjutkan, dan Mujahidin melontarkan mercon ke arah pasukan musuh. Subhanallah! Tentara Salib itu malah panik, berteriak ketakutan, saling menembak, dan lari tak terkendali, menyangka bahwa suara ledakan mercon yang menggema akibat pantulan dari dinding gedung itu adalah bunyi rentetan sabuk bom atau high explosive. Akhirnya tentara Kristen Maronit itu mundur dari Naji El Ali dalam keadaan malu dan dihinakan. Setelah pertempuran reda dan tentara musuh telah lari pergi, Saudara kita Abu Al Zabir menurunkan bendera Libanon dan mengibarkan bendera Tauhid di atas gedung Naji El Ali.

Abu Al Zabir juga orang pertama yang menyampaikan pada para ikhwah lainnya, bahwa panji Tauhid telah kembali berkibar di atas gedung Omar Kannan dan Naji El Ali. Ketika tentara Maronit berhasil menguasai gedung Naji El Ali dan mengumumkannya, para wartawan dan berbagai media massa bergegas menuju komplek Naji El Ali. Di saat orang-orang media ini tiba di Naji El Ali, mereka terkejut dan takjub menyaksikan Panji Tauhid – Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah, berkibar dengan gagahnya di atas gedung yang awalnya diklaim telah dikuasai oleh tentara salib.

setelah tinggal selama satu pekan di Naji El Ali dan setelah mengamankan/membersihkan area tersebut, Abu Al Zabir dan pasukannya mendapat perintah untuk berpindah ke lingkungan Saasaa. Di area ini, Abu Al Zabir memimpin satu grup mujahidin yang ditempatkan di tepian sungai tepat di garis depan pertempuran. Semoga Allah memberkahi ruhmu, ya Abu Al Zabir! Engkau komandan yang brilian dan pemimpin lapangan yang cerdas. Sungguh, kami berdoa engkau kini tengah bergembira di Firdaus yang tertinggi, insya Allah.

Seorang penyusun strategi yang brilian. Ia tidak hanya puas menyerang musuh dengan senjata, tapi ia juga merancang dan melancarkan perang psikologi. Perang psikologi ini di antaranya dengan melancarkan orasi dan pidato yang menggema dari gedung ke gedung (Front perang di Nahar Al Barid kebanyakan adalah front perang kota, dari gedung ke gedung. Pent). Dalam perang psikologi ini, Abu Al Zabir ambil bagian juga sebagai orator. Abu Riyad Al Maqdisi (Syakir Al Absi) adalah orang pertama yang menggunakan para orator untuk mengumandangkan azan. Abu Al Zabir memerintahkan pada anggota grup resimennya untuk menggunakan suara azan yang ia kumandangkan sebagai awal komando. Setiap ia mengumandangkan azan, maka seluruh anggota grupnya akan memulai menembakkan senjata ke arah musuh. Setelah ia selesai mengumandangkan azan, ia lalu berorasi dengan berbagai ekspresi yang menggetarkan, seperti, “Menyerahlah kalian semua, tempat ini sebentar lagi kami bakar! Penggal kepala orang kafir ini! Eksekusi tawanan ini!”. Hanya tiga menit setelah Akh Abu Al Zabir menyelesaikan orasinya, tentara musuh lari mundur meninggalkan gedung terdekat sembari melindungi gerak mundurnya dengan hujan mortar dan artileri.

Abu Al Zabir menggunakan taktik perang psikologi ini berkali-kali di berbagai area bersama anggota pasukannya.

Ia memiliki banyak taktik yang sulit diduga. Ia mengumpulkan sisa-sisa bom, eksplosive, dan bekas energy shell (rangka aki/baterai) buatan Amerika yang tidak sempat meledak, lalu merakitnya menjadi booby-traps (semacam eksplosive/ranjau anti personal) yang dilontarkan/ditebar ke arah tentara salib yang tengah menyerbu.

Satu hari ketika ia tengah mengumpulkan bom, seperti biasanya, sebuah energy shell buatan Amerika meledak mengenai dirinya, menyebabkan cedera pada kepala dan kakinya. Salah satu jari kakinya hancur karena ledakan itu. Saudara-saudaranya membawa Abu Al Zabir ke rumah sakit, dokter berkata ia harus mengamputasi jari kaki yang hancur itu, tetapi Abu Al Zabir tertawa dan bergurau dengan berkata pada sang dokter, “Saya tidak ingin jari kaki itu dipotong. Saya tidak ingin berjalan terpincang-pincang di Surga karena jari kaki yang dipotong ini”. (Subhanallah! Ia masih sempat bergurau dan tertawa, padahal ia cedera cukup parah akibat ledakan itu). Tetapi atas ijin Allah dan kuasaNya, Allah menyembuhkan luka dan cedera yang diderita Abu Al Zabir.

Sepekan kemudian, ia sudah kembali ke tempat yang menjadi pos ribathnya bersama pasukannya di tepi sungai. Pertempuran pecah lebih sengit. Tentara salib Libanon menyerbu dalam jumlah masiv, pertempuran berjalan dari gang ke gang, rumah ke rumah, gedung demi gedung, bahkan ruang demi ruang. Ksatria kita Abu Al Zabir dan anggota grup Mujahidinnya bertahan menghadapi serangan musuh dengan sabar dan tabah. Keberanian dan kepahlawanan mereka tiada tara. Sepasukan besar tentara kafir Libanon mengepung ruang tempat Abu Al Zabir bertahan. Tentara musuh kemudian memberondong ruang tersebut dan menghujani dengan lontaran granat. Ledakan susul menyusul lontaran granat itu membuat Sang Singa Allah yang perwira ini terluka parah, sekujur tubuhnya cedera. Salah seorang ikhwan Mujahidin menyeret tubuhnya keluar dari ruangan yang runtuh akibat ledakan itu. Sembari memeluk tubuh Abu Al Zabir yang terluka parah, ikhwan Mujahid ini bergerak mundur mencari tempat berlindung dan bertahan. Di dalam pelukan lengan saudaranya, Abu Al Zabir tidak henti-hentinya berdzikir mengagungkan Asma Allah, darah mengucur terus dari tubuhnya. Sesaat sebelum nafas terakhir dihembuskan, Abu Al Zabir mengucapkan Nama Allah dan menyampaikan pujian dan syukur kepadaNya. Lalu ruhnya lepas dari jasadnya, berangkat ke langit menemui Ar Rahman, sementara sang Ikhwan Mujahid yang menyelamatkannya masih memeluk jasad Abu Al Zabir. Sekujur tubuhnya bersimbah darah sang syahid (insya Allah). Ia tidak menyadari bahwa Sang Komandan perwira ini telah berpulang ke Rahmatullah.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah berkata: Di Hari Qiyamat, ketika orang-orang tengah panik mencari tempat perlindungan, ada sekelompok orang dalam keadaan aman, dilindungi naungan pedang yang meneteskan darah, bertempat di gerbang Surga. Orang-orang bertanya: Siapakah mereka? Dijawab: Mereka orang-orang yang hidup sentiasa

(mohon diperiksa apakah ini benar kata-kata Rasulullah. Pent)

Semoga Allah ridla kepada engkau Ya Abu Al Zabir; Engkau yang terbaik di antara seribu perwira, engkau perwira pilihan di antara kaum pilihan. Wahai Abu Al Zabir, siapakah yang dapat menyamai teladan yang telah engkau tinggalkan? Siapakah yang dapat menapak jejak yang engkau pijak? Hati ini bersedih pilu, mata ini basah menangis… Seakan aku masih melihat engkau di sana, berjaga dalam ribath… Seakan kematianmu baru hari kemarin…

Engkau pejuang yang tabah, seorang perwira pemberani. Kami tidak akan menyampaikan dan menetapkan segala sesuatu di luar kehendak Allah. Insya Allah, kita akan bertemu lagi dalam kesempatan yang baik.

Doakan sentiasa saudara kita, para Syuhada dan Mujahidin

Semoga Allah memberkahi Rasulullah Muhammad dan keluarga Beliau dan para Shahabat Radliallahu’anhum hingga Hari Qiyamat.

Dan kata terakhir kami…

Segala Puji Bagi Allah, Rabb orang-orang Mu’min

Saudara kalian
Media Department
Fatah Al Islam

16 Jamadi Al-Akhir 1429
20 Juni, 2008

Courtesy: Forum At Tawbah

Add comment 31 July 2008

Wasiyat Imam Samudera kepada Syabab

SURAT DARI AL-AKH IMAM SAMUDRA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji hanya milik Allah, sesembahan seluruh makhluk dan shalawat kepada Rasul akhir zaman, Muhammad Shalallohu’alaihi Wassalam.

Telah kuterima suratmu akhi, diantara gerimis hujatan dan cercaan para penguasa dzolim. Sepucuk suratmu telah membangkitkan perasaan dan semangatku. Dari balik jeruji besi ini, aku sampaikan bahwa aku baik dan selalu dalam lindungan Allah, Pemelihara alam semesta dan sesembahan segala makhluk. Tiada kenikmatan yang mampu aku rasakan kecuali dalam jeruji ini. Satu kenikmatan yang hanya aku yang mampu merasakannya.

Akhi, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh ikhwan yang telah mengazzamkan dirinya kepada JIHAD dan MATI SYAHID untuk terus berjihad dan bertempur melawan syetan akbar, Amerika dan Yahudi Laknat.

Akhi, jagalah selalu amalan harian antum. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita dari bahaya futur dan malas hati.

Akhi, jagalah malammu kepada Allah azza wa jalla. Selalulah isi malam-malammu dengan sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya. Ingatlah akhi, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Ingatlah selalu akan janji kita, untuk selalu membentuk generasi pengganti. Satu generasi yang mereka mencintai kematian sebagaimana musuh-musuh Allah mencintai kehidupan. Bangkitkan generasi yang siap menjadi pasukan-pasukan Allah. Binalah suatu generasi yang mereka siap selalu untuk menjadi manusia penghancur kekafiran dan kebathilan. Bangunkan pemuda yang siap menjadi pasukan syahid yang akan menggentarkan musuh Allah, musuh Islam, dan musuh kaum Muslimin.

Kepada antum yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belumlah usai. Justru saat inilah baru dimulai peperangan yang sesungguhnya. Lakukanlah aksi-aksi syahid di manapun antum semua berada. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita akhi. Jikalau teror yang selama ini kita lakukan membuat gentar dan takut, maka teruslah lakukan ke atas semua kepentingan musuh kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir. Sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, ia adalah ISLAM atau KAFIR. Tidak ada beda antara sipil kafir dengan tentaranya. Jika kalian mampu membunuh troop-troop mereka, itu lebih baik bagi kalian daripada ibadah sunah kalian.

Akhi, bersabarlah dengan semua ujian yeng menimpa kita ini. Ingatlah semakin berat ujian ini, semakin dekat pula pertolongan Allah untuk pasukan kita. Buatlah sehingga orang-orang kafir itu tidak kerasan dengan kekafiran mereka di muka bumi ini. Jadikan darah mereka seperti darah anjing yang hina dina. Lakukanlah teror atas mereka sebagaimana mereka melakukan teror dan pembantaian atas saudara kita di Palestina, Afghanistan dan seluruh penjuru bumi. Jika mereka membantai satu saudara kita, bantailah seratus orang dari mereka. Jika mereka membantai sepuluh orang saudara kita, bantailah seribu orang dari mereka, atau bahkan kalau bisa lebih dari itu.

Akhi, jadikan hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh akhi, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran. Sungguh sebutan teroris itu lebih berharga daripada gelar penguasa muslim, namun mereka justru menjadi mesin pembantai kaum Muslimin. Jika kalian membenci dan memusuhi gelar yang diberikan oleh musuh Allah terhadap kita, maka melalui jalan mana lagi kita akan masuk jannah.

Ingatlah akhi, Jannah itu diraih dengan jalan pedang dan pertempuran. Jannah itu diraih dengan darah dan air mata. Jannah itu diraih dengan pembantaian dan kebinasaan. Islam itu ditegakkan dengan perang dan simbahan darah dan air mata. Tidaklah Islam itu jaya melainkan berdiri di atas darah dan tulang belulang para syuhada. Maka, jika kalian tidak sempat mengecap kemenangan Islam, maka kalian akan mengecap nikmatnya Jannah yang telah dijanjikan Allah kepada para pembela dan pengawal Islam.

Ingatlah selalu penderitaan orang-orang tua kita. Kenanglah selalu jerit tangis anak-anak kita. Janganlah hapus dari ingatan antum pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Muslimah kita. Berjanjilah untuk membalasnya akhi. Berjanjilah, bunuhlah para pemimpin orang-orang kafir itu. Hancurkan kesombongan mereka dan hinakan harga diri mereka. Janganlah kalian berhenti memerangi mereka hingga Islam menang atau antum hancur dalam peperangan. Aku akan selalu berdo’a untuk kemenangan Islam, kemenangan antum dan kemenangan pasukan kita, di antara hardikan dan cambukan anjing sipir penjara.

Sekian saja akhi. Bersabarlah dan selalu istiqomah. Alloh di belakang kita, masa depan milik Islam. Allahu Akbar…Allahu Akbar dan kekuatan hanya milik Allah semata.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dari saudaramu FATIH, di antara jeruji besi penguasa kafir Indonesia.

Add comment 26 July 2008

Kepada Para Asraa……..

Tebarkan salam

Berilah makanan

Bebaskan para tawanan

(Rasulullah saw)

“… Sesungguhnya pembebasan kalian adalah hutang yang mengikat leher setiap muslim, yang akan Allah tagih pada hari Kiamat kelak…” (Dokter Aiman Az Zawahiri)

أبشر أخي العاني

محاضرة للشيخ أبو حذيفة بن عبدالرحمن الحرابي الليبي حفظه الله

BERBAHAGIALAH ENGKAU, SAUDARAKU YANG TERTAWAN!

Muhadhoroh Syaikh Abu Hudzaifah bin Abdir Rohman Al-Harobi Al-Liibiy –hafidzahulloh—

Segala puji bagi Alloh, kami memuji-Nya dengan pujian yang layak untuk keagungan Wajah-Nya dan kebesaran kuasa-Nya.. kami memuji-Nya atas limpahan ampunan dan kebesaran anugerah-Nya.. kami memuji-Nya atas rahmat-Nya yang luas dan kebaikan-Nya yang banyak.

Maha Suci Dzat yang semua wajah tertunduk karena keagungan-Nya.. Maha Suci Dzat yang semua jidat terhinakan karena kekuatan-Nya.. Maha Suci Dzat yang orang-orang tertindas menjadi kuat karena kekuatan-Nya.. hingga para polisi segan kepada mereka meskipun mereka terpenjara.. dan para thoghut takut kepada mereka meskipun mereka telah berkalang tanah.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi pengemban dakwah dan nabi pengemban jihad.. nabi pembawa petunjuk dan nabi pembawa kelurusan.. nabi yang lemah lembut sekaligus nabi eksekutor.

Alloh bersholawat kepada putera Aminah yang
Telah melahirkan keturunan mulia
Wahai kalian yang mengharap syafaat darinya,
Haturkanlah sholawat dan salam kepadanya

Semoga sholawat Alloh tercurah kepada beliau, kepada keluarganya yang suci, dan para shahabat, baik khulafaur rosyidin dan orang-orang beriman dari mereka, juga kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari pembalasan.

Alloh (Yang Maha Benar) Tabaroka wa Taala berfirman di dalam Al-Quran:

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ{155} الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ{156} أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ )


“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Al-Baqoroh: 155-157).

Nabi pilihan n bersabda:

إن الله إذا أحب عبداً ابتلاه


“Jika Alloh mencintai seorang hamba, pasti Dia akan mengujinya.”

Sesungguhnya di antara sunatulloh adalah adanya penyaringan dan ujian. Inilah keadaan yang dialami makhluk-makhluk Alloh terbaik; para nabi. Orang-orang sebelum kalian juga tertimpa kesusahan, tersakiti oleh berbagai gangguan. Bahkan saking beratnya ketakutan, kelaparan dan kemiskinan yang terjadi, makhluk Alloh terbaik dan para pengikutnya merasa pertolongan lambat datang, maka mereka bertanya-tanya: Bilakah pertolongan Alloh datang? Dikatakan kepada mereka: Dekat, wahai golongan yang beriman!

Sebagaimana yang Alloh kisahkan dalam Al-Quran:

(أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ )


“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Alloh?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.”
(Al-Baqoroh: 214).

Inilah penjelasan dari manusia yang tak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ini penjelasan dari manusia penerang kegelapan n:

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر


“Dunia adalah penjara orang beriman dan surga orang kafir.”
(HR. Muslim dalam Shohih-nya).

Dan inilah perasaan yang dialami oleh salah seorang pemimpin Islam (Ibnu Taimiyah), ketika orang-orang dzalim menghinakannya dengan tirani mereka:

“Apa yang mau diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Surga dan tamanku ada di hatiku, ke manapun aku pergi ia tak pernah meninggalkanku. Dipenjaranya aku adalah kholwah, dibunuhnya aku adalah kesyahidan, diusirnya aku dari negeriku adalah wisata.”

Saudaraku, yang terpenjara…
Wahai singa yang terkurung dalam kandangnya…
Wahai pahlawan yang teguh, yang musuh tak mendengar keluhan sakitnya…
Kepadamu, wahai gunung menjulang, di tengah siksaan orang-orang kejam.
Kepadamu, wahai yang mengkufuri hukum tandingan-tandingan Alloh dan beriman kepada Robb hari akhirat.
Kepadamu, wahai yang kuat di zaman penuh kelemahan.
Kepadamu, wahai yang menolak kehinaan di hadapan sesama hamba, karena dirinya termasuk dari orang-orang merdeka.
Kepada mereka yang tak sudi mengikut dan menjilat kepada orang-orang murtad yang jahat.

Kuhadiahkan kepadamu, saudaraku, hal paling remeh dari yang seharusnya dihadiakan kepada manusia seperti dirimu. Kuhadiahkan kata-kata dari lubuk hati, semoga saja bisa meringankan keadaanmu..
Sesungguhnya karena ujian orang itu bertingkat-tingkat dan kekuatan imannya berkelas-kelas, maka sudah pasti segolongan manusia memiliki derajat lebih dari golongan yang lain. Orang yang sabar akan diangkat, orang yang tidak sabar berpisah dengan yang enak-enak akan rendahkan.

Alloh telah menentukan –dan tak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya—bahwa iman itu diuji dengan bala’, dan bala’ memerlukan kesabaran, dan kesabaran menggiring ke kemenangan, dan kemenangan adalah satu satu buah dari pertolongan Alloh.
Berbahagialah, saudaraku yang terpenjara.. Alloh telah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang sabar dan yakin. Bahkan Alloh menyebut mereka sebagai pemimpin-pemimpin Islam dan para pemberi petunjuk menuju jalan Robb semesta alam, sebagaimana firman Alloh di dalam Kitab-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ


“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat kami.”
(As-Sajdah: 24).

Duhai penjara, aku jatuh hati kepada rantai-rantaiku
Rantai dan jeruji-jeruji adalah senjataku
Hai penjara, aku sudah akrab dengan selku
Sel-sel dan kegelapan-kegelapan ini adalah selendangku
Di balik jeruji-jerujimu, dengan izzahku aku merasa tinggi
Sedang orang bebas di luar pagarmu sukarela menghinakan diri
Dengan penjara-penjara mereka mereka kekang hidupku
Padahal aku lahir dan meninggal di bawah bayang-bayang rantaimu
Di tembokmu kutulis impian-impianku
Dengan goresan kukuku dan tinta darahku
Dengan darahku kutulis bahwa aku
Berlepas diri dari kekufuran mereka
Dan karena itulah negeriku serasa sempit
Ibu…mengapa kau teteskan air mata.
Jangan…
Jangan begitu, aku menjadi penebusmu, wahai ibu yang penyayang
Ibu…jangan menangis karena aku dipenjara, sabarlah
Fajar sebentar lagi akan terbit
Kekafiran akan tergulung di balik pasukan mereka
Dan cahaya agamaku kan bersinar benderang
Kebenaran akan menang seketat apapun penjara mereka
Dan rantai akan patah dan agamaku kan jadi yang tertinggi

Berbahagialah, saudaraku di penjara..
Thoghut itu hanya meneruskan jalan para pendahulu mereka; memerangi para pengikut kebenaran dan tauhid. Alangkah miripnya petang dan malam. Thoghut-thoghut itu tak punya tempat dan nilai dalam timbangan Alloh, sementara mereka terus mengancam dan menakut-nakuti, seperti dilakukan Firaun pendahulu mereka:

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهاً غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ


“Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar Aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”.”

Berbahagialah, saudaraku di penjara..
Berbahagialah, wahai engkau yang telah menggabungkan antara kesabaran dan jihad..
Wahai engkau yang meninggalkan kelezatan dan lelapnya tidur untuk melangkah di jalan Alloh..
Berbahagialah, Alloh menjanjikan Surga kepadamu. Dan siapakah yang mampu menghalangi anugerah dan karunia Alloh untukmu?

. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Alloh, supaya kamu beruntung.”
(Ali Imron: 200).

Perlihatkanlah kesabaran yang baik kepada Alloh, sehingga Alloh tahu bahwa jihad yang kalian lakukan adalah jihad yang besar dan agung. Dan Alloh Maha tahu apa yang kalian alami di malam hari dan apa yang kalian kerjakan di siang hari, tapi maksud tahu di sini adalah tahu akan balasan Surga atau Neraka yang berhak kalian dapatkan. Itulah maksud dari firman Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemaksa:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 142).

Berbahagialah, saudaraku di penjara.
Berbahagialah, wahai saudaraku yang sabar, akan datang obat penawar bagi semua penyakit.

Berbahagialah oleh masa istirahat dari semua kepayahan.
Berbahagialah oleh kecintaan dari Alloh Yang Maha Agung.
Wahai engkau yang berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi dan kalimat orang kafir menjadi yang terendah;

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُواْ لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا اسْتَكَانُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ


“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Alloh, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Alloh menyukai orang-orang yang sabar.”
(Ali Imron: 146).

Berbahagialah, saudaraku di penjara…

Berkata penulis kitab Al-Fawakih Ad-Dawaanii Syarah Risalah Abi Zaid Al-Qoiruwani: “Dalam sabar menahan musibah ada pahala yang tak terdapat dalam sabar melaksanakan ketaatan (ibadah).”

Ya Alloh, jadikan sabar sebagai bekal kami dan takwa sebagai kekayaan kami.

Berbahagialah saudaraku di penjara, bulan-bulanmu hanyalah menit demi menit dan hari-harimu adalah detik demi detik, asalkan kau habiskan usiamu untuk menjalani ujian Alloh dengan syukur, selalu mengingat nama Dzat Yang Maha Penyayang, dan semua waktu longgar bibirmu selalu terisi dengan dzikir, syukur, dan tasbih untuk Majikanmu.

Ya Alloh, ilhamkanlah kesabaran kepada mereka dan teguhkan hati mereka di atas kebenaran.

Optimis selalu untuk jadi yang terawal meski tanpa kuda balap

Optimis selalu padahal keputus asaan selalu mengintai
Optimis selalu meski frustasi menimpakan kepada kami
panasnya cambukan dan bentakan para algojo.
Optimis selalu wahai kaumku, meski kalian terus menangis
Langit menangis tapi menghidupkan lembah
Optimis selalu oleh buih yang menyiram bumi kita
Langit kita benderang oleh matahari dan cuaca cerah muncul
Optimis terhadap tanaman yang menumbuhkan tunasnya
Meski banyak belalang dan dibabat arit para pemanen
Optimis selalu, karena kabar gembira dari Nabi sudah dekat
Dan esok kan kita tatap munculnya kemuliaan-kemuliaan
Laut tetap bertahan kebaikannya, apakah ia terpengaruh
Oleh jala para nelayan?
Maka biarkan musuh dengan makar dan akibat-akibatnya
Seekor semut bisa merayap di belantara tubuh singa
Aku bersumpah dengan Dzat yang mengisra’kan hamba terbaik-Nya
Dan mentakdirkan kehancuran kaum Aad:
Zaman pasti akan berputar
Dan apa yang disampaikan Nabi pemberi petunjuk pasti terjadi

Saudaraku yang terpenjara… barangkali saya akan mengajakmu dan diriku sendiri untuk keluar dari kesedihan-kesedihan dunia menuju saat-saat, di mana kita mengkaji dan mengingat apa yang Alloh sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di Jannah, lalu kita hidup dengan kebahagiaan yang tak pernah berakhir dan kenikmatan yang tak pernah habis:

Telah bercerita kepada kami Al-Humaidi, telah bercerita kepada kami Sufyan, telah bercerita kepada kami Abuz Zinad, dari Al-A‘roj dari Abu Huroiroh a ia berkata: Rosululloh n bersabda: “Alloh berfirman: “Kusediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh… (berbahagialah wahai saudaraku yang teguh di atas kebenaran di tengah terpaan fitnah dan kegoncangan).. sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbayang dalam benak seorang manusia pun.” Jika kalian mau, bacalah firman Alloh: “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 17).

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muqotil, telah memberitahu kami Abdulloh, telah memberitahu kami Ma‘mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Huroiroh a ia berkata: Rosululloh n bersabda: “Rombongan pertama yang masuk Jannah wajah mereka seperti bulan di malam purnama, mereka tidak meludah di dalamnya, tidak beringus dan tidak buang air besar. Wadah-wadah mereka di sana dari emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, pengasapan minyak wangi mereka dari gaharu, keringat mereka kasturi, dan masing-masing mereka punya dua isteri yang sumsum betisnya bisa dilihat dari balik daging karena saking indahnya, tiada perselisihan di tengah mereka, tidak ada saling marah, hati mereka seperti hati yang satu, mereka bertasbih mensucikan Alloh pagi dan petang.”

Berikut ini kabar gembira untukmu, saudara-saudaraku…wahai orang-orang yang teguh dan bertekad baja:

Telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Abdulloh, ia berkata: telah bercerita kepadaku Malik bin Anas, dari Sofwan bin Sulaim, dari Atho’ bin Yasar dari Abu Said Al-Khudriy a dari Nabi n beliau bersabda: “Sesungguhnya para penduduk Jannah saling melihat ke arah para penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana melihat bintang berkelip di ufuk timur atau barat saking jauhnya jarak mereka.” Para shahabat berkata: “Wahai Rosululloh, tentu itu tempat para nabi yang tak dicapai oleh selain mereka.” Rosululloh bersabda: “Ya, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para rosul.”

Berbahagialah, wahai orang-orang sabar dan beriman. Bergembiralah karena kalian akan melihat Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna ia berkata: telah bercerita kepadaku Abdul Aziz bin Abdus Shomad, telah bercerita kepada kami Abu Imron Al-Jauni dari Abu Bakr bin Abdulloh bin Qois dari ayahnya bahwasanya Rosululloh n bersabda: “Sesungguhnya di Jannah ada kemah yang terbuat dari mutiara berlubang yang panjangnya 60 mil, di setiap sudutnya ada keluarga yang bisa saling melihat, orang-orang beriman mengelilingi mereka. Dan ada dua surga yang bejana-bejana dan seluruh isinya dari perak. Dan dua surga yang bejana-bejana dan seluruh isinya dari ini dan itu. Antara mereka dan melihat wajah Robb mereka hanya dibatasi oleh Selendang Kesombongan di Wajah-Nya di Jannah ‘Aden.”

Allohu Akbar..Allohu Akbar.. Allohu Akbar!

Selanjutnya, di sini saya memanggil saudaraku yang bebas di luar penjara namun dipenjara oleh dunia:

Wahai kalian yang merdeka dari sel-sel besi namun menjadi tawanan bagi seonggok daging kering dan isteri..

Sungguh engkau punya saudara-saudara yang membebaskan mereka adalah wajib, menolong dan menguatkan mereka telah menjadi kewajiban yang hilang. Maka kuingatkan diriku dan dirimu, akhi, tentang keadaan para Salaf yang mulia ketika mengalami kegoncangan dan musibah seperti yang kita alami sekarang.

Imam Ibnul Arobi Al-Maliki v berkata dalam kitab Ahkaamul Quran: “…kecuali jika mereka menjadi tawanan yang tertindas, maka loyalitas terhadap mereka masih tetap berlaku, menolong mereka dengan fisik adalah wajib sampai tidak ada di antara kita mata yang bisa terpejam sampai kita berangkat untuk membebaskan mereka jika jumlah kita mencukupi untuk itu, atau kita keluarkan seluruh harta kita demi membebaskan mereka sampai tidak ada lagi satu dirhampun yang kita miliki. Begitulah yang dinyatakan oleh Imam Malik dan seluruh ulama. Maka innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji‘uun menyaksikan orang-orang yang membiarkan saudara-saudaranya ditawan musuh, padahal di tangan mereka ada tumpukan harta, keadaan lebih, punya perlengkapan dan personel, punya kekuatan dan ketahanan.”

Ini beliau ucapkan di zaman beliau, lalu bagaimana dengan zaman kita?

Ya Alloh, ampunilah kami yang mentelantarkan saudara-saudara kami..

Apakah tawanan-tawanan dari kita selamat, bagaimana kalian ini?

Di hati ini petir serasa menggelegar-gelegar
Apakah para tawanan dari kita dimuliakan, bagaimana kalian ini?
Kehinaan bukan terletak pada penjara dan tembok
Kehinaan terjelek telah kalian tinggalkan
Ketika kalian bela Din Yang Maha Mengetahui perkara ghaib
Sungguh kemuliaan telah kalian raih
Kemuliaan tertinggi ada di rongga hati kalian
Apakah kita melupakan, bahkan menelantarkan, para tawanan kita
Tidak ada singa marah yang bangkit untuk kalian
Dunia kita sudah lama terdiam
Seolah semuanya adalah penyembah salib
Mereka terus berjalan di atas kebenaran dengan yakin
Duhai, menyakitkan sekali ketidak pedulian orang dekat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v, mutiara dari Syam, berkata dalam Majmu‘ Fatawa:
“Membebaskan tawanan termasuk kewajiban yang paling besar, mengorbankan harta baik harta wakaf atau yang lain termasuk ibadah paling agung.”

Amirul Mukminin Umar bin Khothob a berkata: “Sungguh membebaskan satu orang dari tangan orang-orang kafir itu lebih aku sukai daripada Jazirah Arab.”

Ibnun Nahas menukil dari An-Nawawi, sebagaimana di dalam Ar-Roudhoh, perkataan dia: “Sekiranya mereka menawan satu atau dua orang Muslim, maka apakah itu sama dengan ketika musuh masuk ke negeri Islam? Ada dua pendapat, yang pertama: tidak; sebab gangguan musuh terhadap satu orang saja adalah hal yang tak mungkin. Pendapat yang paling benar adalah iya, sebab kehormatan satu orang Muslim lebih besar daripada kehormatan satu negeri.”

Bahkan, kehormatan satu orang Muslim lebih besar di sisi Alloh daripada kehormatan Baitulloh Al-Haram (Ka‘bah).

Al-Izz bin Abdus Salam berkata, sebagaimana di dalam Ahkamul Jihad: “Membebaskan tawanan kaum Muslimin dari tangan orang-orang kafir termasuk ibadah paling agung. Sebagian ulama bahkan mengatakan: ‘Jika mereka menawan satu saja orang Islam, kita wajib terus menerus melancarkan perang terhadap mereka sampai kita berhasil membebaskan mereka atau kita musnahkan mereka. Lalu bagaimana jika mereka menawan banyak sekali kaum Muslimin.”

Dengan kelancangan apa mereka menawannya, katakanlah

Apakah karena ayahku sholat dan shoum?
Bukankah ia menyeru kepada kebenaran secara terus terang?
Dan musuh menyakitinya karena itu?
Bukankah dia menempuh jalan yang lurus,
Yang menerangi jalannya dengan cahaya yang luas?
Bukankah ia menyeru setiap saat,
Kepada tauhid, dan melaksanakan kebaikan?
Bukankah dia yang membangkitkan harapan di tengah kita,
Serta membangunnya ketika sekedar bayangan saja telah hilang?
Bukankah ayahku menolak kehinaan, lalu
Apa kejahatannya hingga penjahat itu menahannya?
Bukankah ia senantiasa memberi makan orang miskin
Dan bergembira ketika bertemu orang fakir?
Hampir saja ia meleleh karena sedih jika bukan
Karena ia mengapung di lautan umat kita
Sabarlah ayahku, sebentar lagi
Pedang akan menghancurkan kesedihan-kesedihanku
Zaman terlelap sudah pergi meninggalkan kita
Musuh-musuh kita takkan terhinakan dengan tidur
Karena kemuliaan takkan diraih suatu kaum
Yang rela hidup di tengah berbagai kesenangan

Berikut ini kisah seorang wanita yang bertemu Al-Manshur bin Abi Amir ketika ia perang dari sebuah pertempuran dan meraih kemenangan. Wanita itu berkata: “Engkau dan orang-orang bergembira sementara aku menangis sedih.”
“Kenapa?” tanya Al-Manshur.
“Anakku ditawan di sebuah negeri Romawi.”
Maka Al-Manshur memberangkatkan pasukannya saat itu juga, kemudian mereka pulang dan menghadirkan anaknya itu kepadanya.

Di dalam atsar diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz ketika ada sebagian kaum Muslimin tertangkap mengirim Abdur Rohman bin Amroh untuk membebaskan mereka, ia berpesan kepadanya: “Berikan kepada mereka semua yang mereka minta untuk menebus satu orang Muslim. Demi Alloh, satu orang dari kaum Muslimin lebih aku sukai daripada semua orang musyrik yang ada di bawah kekuasaanku. Sesungguhnya ketika engkau menebus seorang Muslim, berarti engkau telah meraih keberuntungan, karena pada dasarnya engkau menebus Islam.”

Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz juga pernah menulis surat kepada para tawanan, yang isinya: “Sesungguhnya kalian menggangap diri kalian adalah tawanan, demi Alloh tidak. Kalian adalah orang-orang yang tertahan di jalan Alloh. Ketahuilah, aku tidak membagi sesuatu pun kepada rakyatku kecuali pasti aku khususkan untuk keluarga kalian yang paling banyak dan paling baik. Saya telah mengirim fulan bin fulan kepada kalian dengan uang lima ribu dinar. Kalau bukan karena takut ditahan (tidak diberikan kepada kalian) oleh tirani Romawi, tentu jatah kalian akan kutambah. Aku juga telah mengutus fulan bin fulan untuk menebus yang muda dan yang tua, yang laki-laki dan yang perempuan dari kalian, yang merdeka maupun yang sahaya, sesuai permintaan.

Maka optimislah, kemudian optimislah. Wassalam.”

Ayahku, jangan kau uraikan kesedihan-kesedihan

Aku bukan pengecut dan aku tak melihat dirimu pengecut
Ayahku, penjara bagiku adalah surga
Apakah kau melihat penjara bagi orang sepertiku menjadi surga?
Siapa yang tujuannya Robb Arsy, ia takkan
Rela dengan kehinaan dan tidak mau hidup terhina
Kedua mataku ditutup kain tapi aku melihat
Kelezatan dan rasa aman yang tak bisa kalian lihat
Jasadku menginap terhina dalam belenggu
Sementara jiwaku dalam diri seperti kobaran kawah
Dari atas kepalaku ada dua penjaga yang ketakutan
Terhadap diriku, mereka memperhitungkan apa yang keluar dari mulutku
Putaran nostalgia berjalan di benakku
Maka ia membasahi ruh dan perasaanku
Seolah ibuku tak menyisakan setetes air matapun
Kecuali ia tumpahkan karena sedih dan kasihan
Demi Alloh sekiranya ia tahu Surga hatiku
Tentu matanya mongering karena rasa tenang
Wahai ayahku, apakah kau kira malamku kesepian
Sementara di kegelapan aku lantunkan bacaan Al-Quran?
Tidak! Dadaku tidak sempit bagiku
Dada yang membawa iman takkan pernah sempit
Aku korbankan nyawaku di jalan Alloh
Maka kemuliaan-kemuliaan ditegakkan untukku
Sekiranya mereka sobek-sobek tubuhku, aku takkan sedih
Penyeru jihad memanggil kami menuju Jannah
Ayahku, sampai kapan kita terus begini
Terus berfikir sambil menghitung korban tewas dari kita?
Sampaikanlah tentang keberanian kepada umat kita
Yang hingga kini tak kenal jati dirinya
Dan carilah manusia sejati, ayah, sungguh
Perasaanku sudah penat dan tak menemukan manusia sejati
Ayahku, kini aku dianggap penjahat terbesar
Ketika aku menolak aku tak mau menghinakan diri dan tunduk
“Kamu dituduh teroris,” kata mereka
duh, betapa bahagia aku jika karena Islam aku dituduh teroris
Bagi mereka kejahatan mereka boleh menimpa umatku
Sedangkan melawan tirani kami diharamkan
Dan yahudi boleh melemparkan bom demi bom
Menghapus desa-desa dan mencabik-cabik anak kecil
Namun anak kecil yang melempar beberapa batu
Berarti ia musuh yang jahat dan pengkhianat
Mereka keluar untuk membunuh dua orang di tengah gua mereka
Lalu apa dosa anak-anak kecil sehingga harus mati terang-terangan?
Wahai yang mendatangi Al-Qaeda untuk menghancurkan pondasinya
Lalu kenapa rumah dirampas dan temboknya dirobohkan?
Pastilah jika mereka menyerang bangsa-bangsa
Atau membakar penduduk-penduduk negeri
Kan mereka hancurkan semua rumah, tapi heranlah
Al-Qaeda tetap tak tergoyahkan pilar-pilarnya
Kami tak kenal terror dalam agama kami
Selain untuk orang yang jahat dan menyerang kami
Islam moderat, bagaimana mau menuntut adil kepada
Tangan yang mencuri dan tak kenal keadilan?
Ayahku, ceritakan kepadaku sifat paling mulia
Bersama setiap kuda membawa para ahli kuda
Dan jika kau lihat singa maka ingatlah pahlawan
Yang dia tinggal di dalam penjara terbelenggu
Sungguh kami lihat kezaliman mereka yang belum pernah kami lihat
Dan Alloh Robbul Alamin akan perlihatkan kepada kami
Kehinaan orang-orang kafir dan tidak ada pelindung bagi mereka
Sedangkan Alloh di Ketinggian-Nya adalah pelindung kami

Akhi…yang tidak ditawan dipenjara namun ditawan oleh dunia.

Al-jihad..al-jihad..al-jihad. Jika kalian tak mampu ber I’dadlah, kemudian teruslah ber-I’dad. Tinggalkanlah kelalaian dan tidur. Tinggalkan makar Iblis dan tentaranya yang bangsat itu. Segeralah bekerja keras, carilah kematian di tempat-tempatnya di bawah panji syariat Alloh. Umur ini masih tersisa, sungguh yang akan kita cari adalah kehidupan abadi, Jannah dan kelezatan selama-lamanya.

Kita usir bayangannya dan dia lari menjauhi kita

Kita kejar kasih sayangnya tapi ia halangi kita
Kita katakan padanya: kemarilah, kami
Rindu pada wajah mahalmu. Dan kami
Mengharapkan dirimu sejak lama
Tidakkah kau ulurkan tangan pemberian kepada orang yang mengharap
Dia menolak dan terus berjalan serta menutup semua pintu
Lalu pergi meninggalkan semua jin dan manusia
Aku heran dan mulailah kutanya: mengapa?
Dan bagaimana kemuliaan kita bisa terraih?
Ia berkata: siapa yang kau inginkan? Kukatakan: sesuatu
Yang namanya jihad, jika itu bisa diraih
Maka ia berkata, sambil memutar wajahnya ke arahku
Dengan penuh ceria dan hati tenteram
“Jika kamu ingin membela kebenaran, carilah
jihad seperti jihadnya Abu Ubaidah dan Al-Mutsanna
Dan tinggalkanlah orang yang berjuang untuk dunia
meskipun mulutnya mengucapkan jihad dan menyenandungkannya.”

Nabi n telah berpesan dengan sebaik-baik pesan tentang masalah para tawanan. Beliau menghasung untuk mengorbankan semua yang kalian punya untuk membebaskan mereka dari setiap gangguan. Rosululloh Shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Bebaskanlah tawanan, beri makanlah orang lapar, dan jenguklah orang sakit.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Lalu bagaimana jika pada diri seseorang terkumpul dua sifat dari hadits ini, atau bahkan semuanya, wahai saudara seiman?!!

اللهم فك قيد أسرانا …اللهم فك قيد أسرانا …اللهم فك قيد أسرانا …اللهم إنهم عبيدك سجنوا في سبيلك وسبيل دينك …اللهم أبسط عليهم من السكينة سحابا وافتح لهم من الطمائنينة بابا …اللهم إنك ترا حالهم وترا مكانهم وتعلم ما يطيقون وما لا يطيقون إنك سبحانك علام الغيوب …اللهم خفف عنهم ما لا يطيقون …وأأجرهم في ماعليه يصبرون …وثبتهم اللهم على ما به يؤمنون …اللهم أجعل نار الظالمين عليهم بردا وسلاما …وأجعل لهم القرآن قائدا وإماما …وأجعل لهم دار السلام منزلا ومقاما …اللهم ثبتهم على الحق في كل الأحوال …وأصرف عنهم كل الأهوال …اللهم ثبتهم على الهدى وأصرف عنهم الردى …اللهم أحفظ عليهم دينهم … اللهم أحفظ عليهم دينهم … اللهم أحفظ عليهم دينهم …ويسّر لهم إلى الفردوس الأعلى طريقهم……اللهم إنا لا ندعوك بقلة ذنوبنا ولا بكثرة حسناتنا …اللهم إن ندعوك ونعلم علم اليقين أن طاعتنا لا تنفعك ومعصيتنا لك جل جلالك لا تضرك …اللهم إننا ندعوك بما نعلم من واسع رحمتك وعظيم منّك …اللهم إنا ندعوك بما نعلم من حلمك وكرمك …وانت يا ربنا خير من سئل وأكرم من قصد …اللهم إنا صرفنا عن المخلوقين وجوهنا وقبضنا عن مسائلة غيرك أكفنا …اللهم إنا مرغنا وجوهنا لجبروتك …ووضعنا على الأرض جباهنا ذلاً لعظمتك …اللهم إنا نسألك بكل أعمالنا الصالحات …أن تيسر لنا شهادة ترضيك عنا …اللهم ما ينفعنا علمنا إذا لم يقربنا إلى مرضاتك…وما ينفعنا جهادنا إذا لم يقدنا إلى جناتك …اللهم خذ من دمائنا حتى ترضى … اللهم خذ من دمائنا حتى ترضى… اللهم خذ من دمائنا حتى ترضى …اللهم ألهمنا رشدنا …ولاتكلنا إلى أنفسنا …واغفرلنا ولي إخواننا …


Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, bebaskanlah belenggu tawanan-tawanan kami.
Ya Alloh, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka dipenjara di jalan-Mu dan karena membela agama-Mu. Ya Alloh, bentangkanlah awan ketenangan kepada mereka dan bukakan pintu ketentraman untuk mereka. Ya Alloh sesungguhnya Engkau melihat keadaan dan tempat mereka, Engkau tahu apa yang sanggup mereka pikul dan apa yang tidak sanggup mereka pikul, Maha Suci Engkau, sungguh Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Alloh, ringankanlah apa-apa yang tidak mampu mereka tanggung. Berilah mereka pahala atas perkara yang mereka sabar menahannya. Ya Alloh teguhkan mereka atas perkara yang mereka imani.
Ya Alloh, jadikan api orang-orang dzalim dingin dan kesejahteraan bagi mereka.
Jadikanlah Al-Quran sebagai pemimpin dan imam mereka.
Jadikanlah Darus Salam sebagai rumah dan tempat tinggal mereka.
Ya Alloh teguhkan mereka di atas kebenaran dalam semua kondisi. Palingkan dari mereka semua kengerian.
Ya Alloh teguhkan mereka di atas petunjuk dan palingkan dari mereka kesesatan.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Ya Alloh, jagalah din mereka.
Mudahkan jalan mereka menuju jannah tertinggi, Firdaus.
Ya Alloh, sungguh kami tak berdoa kepada-Mu karena dosa kami sedikit atau amal kebaikan kami banyak. Ya Alloh, sungguh kami berdoa kepadamu sementara kami yakin seyakin-yakinnya bahwa ketaatan kami tak berguna bagi-Mu dan maksiat kami tak membahayakan-Mu. Ya Alloh, kami berdoa kepada-Mu dengan kelapangan rahmat-Mu dan agungnya anugerah-Mu. Ya Alloh, sesungguhnya kami berdoa kepada-Mu dengan apa yang kami ketahui dari Kasih sayang dan Kedermawanan-Mu. Dan Engkau, duhai Robb kami, adalah sebaik-baik yang diminta dan sedermawan-dermawan yang dituju. Ya Alloh, paling wajah-wajah kami dari makhluk-makhluk-Mu dan tahanlah tangan kami dari meminta kepada selain-Mu.
Ya Alloh, kami telungkupkan wajah kami di hadapan Keperkasaan-Mu.
Kami letakkan jidat-jidat kami di tanah karena menghinakan diri di hadapan keagungan-Mu.
Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu dengan amal-amal sholeh kami, mudahkanlah bagi kami menggapai kesyahidan yang membuat-Mu ridho kepada kami.
Ya Alloh, ilmu kami tidak berguna jika tidak bisa mendekatkan diri kami kepada ridho-Mu. Tidak berguna jihad kami jika tidak mengantarkan kami kepada Jannah-jannah-Mu.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho.
Ya Alloh, ilhamkan kelurusan kepada kami dan jangan kau pasrahkan kami kepada diri kami sendiri. Ampuni kami dan saudara-saudara kami.

Sekian.

Semoga Alloh selalu melimpahkan sholawat, keberkahan dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikut dan para shabat beliau.

——————————————————————————

Diterjemahkan oleh al-Akh Khadimul Jihad

jangan lupakan saudara kami dalam do’a kalian yang tulus

saudara mu dari
Battalion Media Al-Tawbah

Add comment 18 July 2008

Bersama Kitab yang Memberi Petunjuk dan Pedang yang Memberi Pertolongan

TEGAKNYA AGAMA DENGAN KITAB YANG MEMBERI PETUNJUK DAN PEDANG YANG MENOLONG DAN CUKUPLAH TUHANMU MENJADI
PEMBERI PETUNJUK DAN PENOLONG
(petikan ceramah Sheikh Abu Muhammad Al Maqdisi)

Berkata Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu sementara ia membawa pedang di salah satu tangannya dan mushhaf di tangannya yang lain, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar memukul dengan ini (pedang) orang yang menyimpang dari ini (kitab).”
Perkataan Jabir bin Abdillah ini merupakan penafsiran terhadap firman Allah Ta’ala :
لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط

Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan timbangan agar manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-hadid : 25)
“Maksud dari diutusnya rasul-rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah agar manusia dapat melaksanakan keadilan dalam hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.” (Fatawa Syaikhul Islam 28/263)
Dan di antara hak Allah Ta’ala yang paling besar yang dengannya diutus seluruh rasul dan diturunkan semua kitabullah adalah agar manusia merealisasikan tauhid yang merupakan pemurnian ibadah kepada Allah dalam semua segi kehidupan mereka. Seluruh dakwah para rasul dan semua kitab yang diturunkan Allah kepada mereka dari pertama hingga terakhir berbicara tentang kebenaran yang agung ini yang intinya adalah :

  • Seruan untuk merealisasikan dan menegakkan kebenaran (tauhid) ini atau perintah untuk berdakwah kepadanya dan bersabar dalam memperjuangkannya atau motivasi untuk berjihad dalam rangka merealisasikan tauhid tersebut serta memberikan loyalitas dan permusuhan karenanya.
  • Berita tentang balasan bagi orang yang merealisasikan, menegakkan, dan menolong tauhid serta berjihad di jalannya dan juga pahala yang besar serta nikmat yang berharga yang dijanjikan Allah.
  • Seruan untuk berlepas diri dari kesyirikan yang membatalkan tauhid dan seruan untuk berjihad melawannya dan berjihad melawan pendukungnya serta berusaha untuk menghancurkan-nya dan mencabut sampai ke akar-akarnya dengan segala bentuknya dari atas muka bumi.
  • Berita tentang tempat kembali bagi orang-orang yang menentang perealisasian tauhid serta orang-orang yang me-meranginya dan memerangi wali-walinya. Tempat kembali mereka adalah kehinaan dan penyesalan serta hukuman yang buruk dan siksa yang kekal yang telah dijanjikan Allah kepada mereka.

Semua kitabullah dan semua risalah nabi-nabi dari pertama hingga terakhir terangkum dalam al-haq (tauhid) ini dan berbicara tentangnya.
Tauhid merupakan tujuan terbesar dan target tertinggi yang karenanya Allah menciptakan makhluk, mengutus rasul-rasul untuk-nya, dan menurunkan kitab-kitab.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman :

وأنزلنا الحديد فيه بأس شديد ومنافع للناس وليعلم الله من ينصره ورسله بالغيب

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.” (Al-hadid : 25)
Barang siapa yang menentang tauhid dan tidak menegakkannya dengan adil dan menolak para rasul dan para da’i,ia diluruskan dengan pedang.
Ini merupakan makna dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

بعثت بالسيف بين يدي الساعة ، حتى يعبد الله وحده لا شريك له ،وجعل رزقي تحت ظل رمحي ،وجعل الذل والصغار على من خالف أمري ،ومن تشبه بقوم فهو منهم

“Aku diutus menjelang datangnya hari kiamat dengan membawa pedang hingga Allah disembah sendirian yang tiada sekutu bagi-Nya dan dijadikan rezekiku berada di bawah bayang-bayang tombakku serta dijadikan hina dan rendah orang yang menyelisihi urusanku. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Imam Ahmad dari Ibnu Umar)
“Barang siapa yang menyimpang dari kitab maka ia diluruskan dengan besi. Oleh karena itu, tegaknya agama adalah dengan mushhaf dan pedang.” (Al-fatawa 28/264)
Sudah semestinya para aktivis dakwah yang terpercaya pada setiap zaman menjadikan tauhid sebagai poros dakwah mereka, titik tolak pembicaraan dan persepsi mereka, dan sandaran timbangan mereka. Mereka berkeliling di sekitarnya dan oleh karenanya mereka diuji dan dipenjara serta di bawah panjinya mereka diperangi dan dibunuh.
Hendaknya mereka senantiasa berusaha untuk menegakkan tauhid berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah dengan argumen dan keterangan. Barang siapa yang menolak tauhid siapa pun orangnya, maka ia diluruskan dengan besi.
Apabila pada suatu masa para aktivis dakwah sulit untuk mempergunakan besi dan tangan mereka tidak mampu untuk melakukannya, mereka tidak boleh menghapus ketentuan ini dari perhitungan mereka atau meninggalkannya. Akan tetapi, mereka harus beredar dengan Al-kitab dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam beri’dad untuk menegakkannya dengan besi.
Setiap orang yang mengetahui hakikat dien ini –hingga musuh-musuhnya-, mereka mengetahui bahwa dien ini adalah tauhid dan jihad, dakwah dan qital, mushhaf dan besi. Mereka benar-benar mengetahui –selama mereka menolak untuk istiqamah dalam dien ini dan menegakkannya dengan adil- bahwa dien ini menolak mereka dan akan mencabut kebatilan mereka hingga ke akar-akarnya di setiap masa dan setiap tempat. Mereka mengetahui bahwa Muham-mad shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyembelih mereka dan menyembelih orang-orang yang serupa dengan mereka. Rasulullah menghadapi orang-orang yang paling dekat dengan itu, yaitu keluarga dan kaumnya ketika mereka menolak untuk melaksanakan tauhid ini dengan adil. Beliau lalu memberitahukan mereka mengenai tujuannya sebelum akhirnya mampu menaklukkan mereka dalam beberapa tahun berikutnya. Beliau bersabda : “Dengarkanlah wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan sembelihan.” Kemudian beliau benar-benar melakukan hal itu dengan hadid (besi) yang dengannya Allah memuliakan Islam dan para penganutnya.
Insya Allah kita senantiasa mengikuti atsarnya, menempuh manhajnya, menegakkan sunnahnya, dan berperang bersamanya.

وكأي من نبي قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم في سبيل الله، وما ضعفوا وما استكانوا والله يحب الصابرين

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Sesungguhnya keadaan nabi yang berperang bersamanya atau dibunuh bersamanya para pengikutnya yang banyak tidak harus nabi tersebut ikut bersama mereka berada dalam peperangan. Akan tetapi, setiap orang yang mengikuti nabi dan berperang demi tegaknya diennya, sungguh ia telah berperang bersama nabi. Inilah yang dipahami oleh para sahabat. Sebab, sebagian besar peperangan yang mereka lakukan terjadi setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka mampu menaklukkan negeri Syam, Mesir, Iraq, Yaman, ‘Ajam, Romawi, negeri-negeri barat, dan negeri-negeri timur. Pada waktu itu cukup banyak orang yang terbunuh bersamanya. Sesungguhnya orang-orang yang berperang kemudian mereka terbunuh di atas dien para nabi sangat banyak. Ayat ini merupakan pelajaran bagi setiap orang beriman hingga datangnya hari kiamat. Sebab, mereka semuanya berperang bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan di atas diennya meskipun beliau telah meninggal. Mereka ini masuk dalam firman Allah Ta’ala : “Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersamanya.” Dan ayat : “Dan orang-orang yang beriman setelahnya dan berhijrah serta berjihad bersama kalian.” Maka, bukan merupakan sebuah syarat bahwa orang yang taat harus menyaksikan orang yang ditaatinya melihatnya.” (Majmu’ Fatawa)
Kita katakan dengan terus terang kepada musuh-musuh kita mengenai tujuan kita dan kita beritahukan kepada mereka bahwa apabila pada hari ini kita lemah, maka hal ini bukan berarti kita menghapus kewajiban ini dari perhitungan kita. Sekali-kali tidak! Bagaimana pun juga, kita tidak boleh melakukannya dan kita tidak memiliki landasan untuk melakukannya. Oleh karena itu, kita berdo’a kepada Allah siang dan malam agar Ia menguatkan kita untuk menebas leher-leher mereka dan leher-leher musuh-musuh dien ini. Setiap gerak, diam, dan nafas kita adalah dalam rangka i’dad untuk menghadapi mereka.
Mereka benar-benar mengetahui hal itu dan juga mengetahui penyimpangan dan kesalahan para aktivis dakwah yang minder dan kalah yang berusaha dengan segala kesia-siaan untuk memisahkan kitab dari hadid (besi). Mereka mengetahui kebodohan aktivis dakwah tersebut terhadap hakikat dien ini dan bahwa ia telah menyimpang dari perintah syar’i Allah dan sunnah kauniyah-Nya dan tidak memahami dienul Islam.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Dan dienul Islam, hendaknya pedang mengikuti kitab. Apabila telah muncul ilmu berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah sedangkan pedang mengikuti-nya, maka urusan Islam akan tegak.” (Al-fatawa 20/393)
Ia juga berkata : “Maka tegaknya agama adalah dengan Kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.

Ditulis pada Muharram 1422 H.

Add comment 1 July 2008

In Memorial: Al Imam Sheikh Yusuf bin Sholeh Al Uyairi (Yusuf Al Battar)

Sosok Manusia Mulia Pada Zaman Kehinaan

Syaikh Mujahid Yusuf al ‘Uyairi -Rahimahullahu Ta’ala-

Penulis : Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-

Penerjemah : Team Forum Islam Al-Tawbah

Kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sosok mujahid yang banyak dilupakan para pemuda jihad hari ini, beliau adalah Syaikh Mujahid Yusuf al-Uyairi -semoga Alloh menerima beliau sebagai syuhada-, beliau adalah sosok generasi shahabat yang terlahir kembali pada zaman kita sekarang ini, sungguh manhaj salaf itu bukan hanya teori dan kata-kata, tetapi ia adalah amal nyata sebagaimana yang di buktikan oleh Syaikh Yusuf… wahai para pemuda lihatlah kepada Syaikh yang mulia ini, semoga kita bisa mengambil ibroh dari kehidupan dan kematian beliau…

Nama : Syaikh Mujahid Al Hafidh Abu Muhammad Yusuf bin Sholih bin Fahd Al ‘Uyairi -rahimahullahu ta’ala-
Lahir : hari senin 1/4/1394 H
Anak : 3 orang anak perempuan.

Syahid : beliau syahid di tangan tentara thoghut Saudi pada hari sabtu malam ahad 30/3/1424 H di daerah Hail. Umur beliau ketika syahid adalah 30 tahun. Semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Semoga Allah melimpahkan kasih-Nya kepadamu wahai Yusuf al ‘Uyairi ! engkau mengejar kesyahidan di Afganistán dan di Somalia, tetapi ia malah datang menemuimu di negeri Jazirah Arab.

Ketika saya mendengar, pada malam Sabtu 30/03/1424 H, berita pembunuhan saudara saya, Syaikh Mujahid Yusuf Bin Salih Bin Fahd al ‘UIyairi.

Saya tidak dapat menguasai diri saya dan menangis sangat sedih atas kepergiaanya, pada hari-hari yang genting ini ketika gerakan kekejaman murtadin semakin menggila dan merebak di seluruh jazirah Arab yang terus berusaha untuk menyerang, membunuh dan memenjarakan setiap muslim yang berperang melawan salibis dan sedang mempertahankan kaum muslimin.

Saya memutuskan, pada waktu itu, untuk menulis biografi Syaikh Mujahid ini, yang mana ikhwan-ikhwan terus mendesak diri saya untuk menulis nama sesungguhnya dari beliau, karena nama beliau sering muncul di kalangan masyarakat, beliau menjadi terkenal di kalangan mereka, semenjak terdapatnya kesan pengaruh atas mereka dengan kemunculan ilmu pengetahuan daripada ilmuan mujahid;seterusnya beliau menjadi contoh teladan.

Beliau menikah dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shoq’abi, Buroidah. Istrinya adalah saudara kandung dari istri Syaikh Sulaiman Al ‘Unwan.

Pendidikan: beliau setelah menamatkan madrasah mutawassithoh (SLTP) melanjutkan ke madrasah tsanawiyah (SLTA) selama tiga bulan. Kemudian beliau tinggalkan sekolah dan pergi berjihad ke Afghanistan.

Setelah itu beliau pergi ke Afghanistan sebagai seorang pemuda yang perkasa sementara umurnya belum lewat 18 tahun. Di sanalah akhirnya jihad berbaur dengan hatinya dan menguasai seluruh anggota badannya.

Beliau dikaruniai otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat sehingga setelah itu beliau mampu menjadi salah satu pelatih di kamp Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.

Beliau menyelesaikan latihan selama beberapa tahun, di mana beliau memiliki kelebihan dalam kemauan yang kuat dan kesungguhan. Sampai-sampai beliau pernah mengadakan sebuah training di kamp Al Faruq, di mana ketika itu beliau mengatakan kepada ikhwah yang lain: Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat. Beliau mengatakan kepada ikhwah: Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan. Menurut perkiraanku beliau memulai dengan latihan tank dan akan diakhiri setelah empat bulan kemudian dengan latihan pistol, di mana tidak akan ada seorangpun yang mampu bertahan kecuali sedikit dari para pemuda.

Para ikhwah menceritakan bagaimana hafalan beliau yang sangat luar biasa mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Selain itu beliau memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan yang beliau temui dalam berbagai pertempuran yang dengannya Alloh muliakan beliau dengan debu peperangan yang menempel pada kedua kaki beliau.

Ketika terjadi pertikaian antar kelompok jihad Afghan, Syaikh Yusuf adalah penjaga pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh. Kemudian tatkala Syaikh Usamah memutuskan untuk pergi ke Sudan dengan menggunakan sebuah pesawat, Syaikh Yusuf termasuk salah seorang petinggi Al Qaeda yang menyertai Syaikh Usamah bin Ladin. Di sana Syaikh Yusuf tinggal selama empat bulan, dan selama itu pula beliau menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh.

Selama masa itu Syaikh Usamah mengenal berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Syaikh Yusuf Al ‘Uyairi, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepada Syaikh Yusuf beberapa urusan-urusannya. Dan sungguh aku ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai Syaikh Usamah di Sudan, bagaimana kehidupan beliau, jihad beliau dan pengorbanan beliau, di mana banyak sekali yang menjadikan orang terkagum-kagum ketika mendengarnya. Ketika aku mendengarkan cerita beliau ini aku lihat pada kedua matanya terpancar kerinduan kepada Syaikh Usamah dan kepada hari-hari yang telah lalu ..

Aku juga ingat ketika Syaikh Yusuf bercerita kepadaku mengenai kecemerlangan Abu Hafsh Al Mishri rohimahulloh dan berbagai serangan-serangan militer yang beliau kendalikan di sana, baik yang di Somalia atau proyek beliau terhadap Qorniq (kaum nasrani di wilayah selatan) dan perencanaan beliau untuk menyerang mereka sesuai dengan taktik militer yang telah dicanangkan oleh Syaikh Usamah dan Abu Hafsh.

Syaikh Yusuf juga ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Dan beliau termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, di mana pada masa itu para pemuda Islam seusia beliau tengah lalai dengan kondisi umat.

Dan ketika terjadi tragedi Bosnia, Syaikh Yusuf memiliki peran yang sangat besar bersama para ikhwah di Damam, dan demikian pula di Kosova. Beliau berperan sebagai pengumpul dana untuk mereka dan memberikan bantuan kepada mereka semampu beliau. Beliau membuat sebuah program selama dua minggu bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.

Kemudian terjadi peledakan di Khobar. Beliaupun dipenjara dan disiksa dengan siksaan yang keras di penjara reserse umum, Damam, dengan tuduhan beliau termasuk orang-orang yang melakukan peledakan tersebut. Para ikhwah yang bersama beliau bercerita tentang beliau: Kami lihat beliau diangkut memakai usungan setiap kali selesai diintrogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang beliau alami. Beliau dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya yang menyebabkan akhirnya Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudi bahwa dialah yang melakukan peledakan.

Syaikh Yusuf rohimahulloh mengatakan kepadaku: Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, aku meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena aku ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar saja, permintaanku dikabulkan. Akupun dipanggil dari sel dan aku didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan aku sampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, pemimpin penjara itu mengatakan kepadaku: Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu …

Maka dengan dingin aku katakan kepada mereka: Aku tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi aku akan merelakan diriku untuk kalian. Aku akan memberikan pengakuan bahwa akulah yang melakukan peledakan itu dan aku siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku. Ketika aku tanyakan kepada Syaikh Yusuf kenapa beliau melakukan hal itu, beliau menjawab: Demi Alloh kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan. Syaikh Yusuf melanjutkan: Ketika aku selesai berbicara pimpinan penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan: Keluarkan dan beri pelajaran dia!..

Kemudian penyiksaan yang luar biasa pun terus berlanjut sampai akhirnya Alloh berkenan untuk menyingkap siapa aktor peledakan yang sebenarnya sesuai pengakuan reserse. Syaikh Yusuf bercerita kepadaku: Suatu saat aku dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku: Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rofidloh (Syi’ah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun..!! Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel.

Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka: Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!! Benar saja, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan syariat Saudi ..

Kemudian setelah itu Syaikh Yusuf tinggal di penjara. Di mana beberapa waktu pernah beliau dikumpulkan bersama orang-orang Rofidloh (Syi’ah) yang diantaranya ada yang setingkat ayatulloh atau sayyid. Di sana Syaikh Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan mereka sampai-sampai ayatulloh mereka melarang orang-orang Rofidloh lainnya untuk mendekatinya atau bergaul dengannya. Syaikh Yusuf berkata: Pernah suatu saat aku pura-pura tidur. Lalu ayatulloh mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rofidloh lainnya. Lalu aku dengarkan ceramahnya sampai ketika aku mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya .. Mereka semua terkagung dengan Syaikh Yusuf karena kuatnya hujjah dan penjelasan beliau.

Setelah itu Syaikh Yusuf dipindah ke penjara umum bersama Ahlus Sunnah. Setelah berjalan beberapa waktu Syaikh Yusuf mogok makan karena beliau ingin disel (penjara individu) saja supaya beliau dapat menggunakan waktu secara maksimal dan dapat menyendiri dengan Robbnya. Maka permintaannyapun dipenuhi sehingga beliau tinggal di dalam sel selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu beliau bebas …

Katika aku bertanya kepada Syaikh Yusuf mengenai kehidupannya di sel dan apakah beliau merasa bosan? Beliau menjawab dengan satu kata: Demi Alloh aku tidak memiliki waktu untuk mandi kacuali mandi janabat dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!..

Di sel beliau gunakan waktu untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiyah. Maka beliau hafal Al Qur’an secara lancar dan tepat, hafal Shohih Al Bukhori dan Muslim, beliau konsentrasi membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama’, sehingga pada suatu hari pernah seorang penjaga mengatakan kepada beliau: Demi Alloh aku kasihan dengan kondisimu ..?!

Maka Syaikh Yusuf mengatakan kepadanya: Demi Alloh justeru akulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam pasti aku setuju karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!.

Hal itu karena penjaga itu merasa heran dengan kondisi Syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Di mana beliau tidak keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak, karena saking kuatnya keinginan beliau dalam memanfaatkan waktu secara maksimal. Syaikh Yusuf pernah mengatakan kepadaku: Demi Alloh aku pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Alloh. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasanku dari penjara, tanpa sadar aku gertak dia: Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!! Itu saya lakukan di luar kesadaranku akan tetapi itu ku lakukan karena saking besarnya kenikmatan yang aku dapatkan dalam penjara, dan betapa besarnya ilmu yang ku dapatkan dalam penjara.

Dan ketika Syaikh Yusuf bebas dari penjara beliau teruskan hubungan beliau dengan jihad dan mujahidin, khususnya dengan Syaikhul Mujahidin Usamah bin Ladin hafidlohulloh.

Kemudian datanglah peristiwa Chechnya, dan beberapa saat sebelumnya peristiwa Dagestan, maka Syaikh Yusuf pun mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mereka. Beliau menulis berbagai kajian syar’i untuk situs Shoutul Jihad. Untuk situs itu beliau menulis buku-buku sebagai berikut:

Hidayatul Hayaro Fi Hukmil Usaro, Al ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah Intiharun Am Syahadah, dan juga kajian-kajian strategis lainnya di mana yang terakhir adalah yang buku yang berjudul ‘Amaliyatul Masrohi Fi Moskow Wa Madza Istafada Minha Al Mujahidun.

Syaikh Yusuf juga menjalin hubungan dengan Komandan Khothob dan melakukan surat-menyurat mengenai persoalan militer. Di mana Syaikh Yusuf memberikan taktik-taktik militer yang cemerlang yang mencengangkan setiap orang yang bergaul dengannya atau membacanya … di antaranya adalah beliau pernah berkirim surat kepada Khothob seusai perang konvensional yang pertama yang kemudian disusul dengan perang gerilya, di mana ketika itu kondisi mujahidin semakin sulit. Maka Syaikh Yusuf mengirim surat kepada komandan Khothob yang isinya adalah 18 prediksi perang dan apa yang harus mereka lakukan untuk masing-masing dari yang diprediksikan tersebut. Komandan Khothob pun banyak mengambil manfaat dari surat tersebut dan berterima kasih banyak kepada Syaikh Yusuf.

Syaikh Yusuf juga memiliki andil dalam mengumpulkan dana untuk mujahidin Chechnya. Di mana beliau berhasil mengumpulkan dana yang banyak sekali. Dan dalam rangka itu, terjadilah banyak kasus yang sangat disayangkan antara beliau dengan beberapa ulama’. Di mana para ulama’ tersebut mengabaikan beliau dan tidak mau membantunya. Misalnya adalah pengalaman beliau bersama Syaikh Salman Al ‘Audah. Di mana ketika itu Komandan Khothob mengatakan kepada para ikhwah pada saat masih di Dagestan: Berikan satu juta dollar supaya kami dapat bertahan melawan Rusia sampai akhir musim dingin ..

Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui seorang kaya, dan orang kaya itupun bersedia untuk memberikan 8 juta real kepadanya akan tetapi dengan syarat Syaikh Salman mau membuat memo kepadanya atau menelphonya. Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui Salman Al ‘Audah akan tetapi usahanya ini tidak membuahkan hasil. Syaikh Salman selalu mengulur-ulur waktu kemudian pada akhirnya mengatakan kepada Syaikh Yusuf: Sebenarnya aku ini sama sekali tidak senang dengan persoalan Chechnya.!!

Demikianlah. Syaikh Yusuf meneruskan langkah jihadnya yang penuh dengan pengorbanan dan kerja keras yang hanya sedikit saja orang yang mampu melakukannya.

Hubungan Syaikh Yusuf dengan persoalan Chechnya pun terus berlanjut. Akan tetapi semakin mengecil karena beliau tersibukkan dengan persoalan Afghanistan dan pemerintahan Tholiban. Ketika itu beliau mencurahkan kebanyakan waktunya untuk mempelajari gerakan ini dan kredibilitasnya. Kemudian datanglah hari-hari yang penuh berkah di mana patung-patung Budha di Afghanistan dihancurkan. Maka Syaikh Yusufpun memusatkan perhatiannya kepada persoalan ini dan membuat proyek-proyek buka puasa dan penyembelihan qurban di Afghanistan. Kemudian beliau menghubungi Amirul Mukminin dan para menteri Tholiban, kemudian Syaikh Yusuf berusaha untuk menghubungkan mereka semua dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh. Pada musim haji tahun 1421 H Syaikh Yusuf bertemu dengan beberapa menteri Tholiban yang datang untuk menunaikan haji dan beliau bersama para menteri tersebut hendak membuat hubungan telephon antara Amirul Mukminin dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh, tepatnya setelah hari-hari tasyriq jam 9 sore. Syaikh Yusuf mengatakan kepadaku: Kami berangkat meninggalkan Mekah sementara kami berpacu dengan waktu. Sementara kami tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan karena Syaikh Hamud berada di Qoshim. Sementara kami dalam keadaan kecapaian. Maka aku putuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian. Jika dia mengemudikan mobil maka aku usahakan tidur, kemudian aku mengemudikan mobil dan dia istirahat .. Kami pun terus meneruskan perjalanan sampai akhirnya aku ketiduran dan tidak terbangun kecuali ketika mobil sudah terbalik setelah menabrak onta peliharaan. Maka kamipun akhirnya gagal untuk bertemu. Dan sebenarnya selama itu telah terjadi sebuah peristiwa yang unik bersama para petugas reserse, akan tetapi atas bimbingan Alloh beliau telah bebas satu bulan sebelum peristiwa 11 september, untuk suatu perkara yang Alloh inginkan.

Dan tatkala beliau bebas dari penjara, beliau memiliki jasa yang besar dalam menulis mengenai jihad, mengupas berbagai persoalannya berdasarkan dalil syar’i, membelanya dan membantah berbagai syubhat yang disebarkan oleh para mukhodzil (pelemah semangat jihad) dan munafik. Beliau juga ikut aktif di beberapa forum paltalk dengan nama Azzam.

Syaikh Yusuf rohimahulloh sibuk untuk melatih para pemuda dan menghasung mereka agar pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan kamp-kamp latihan di sana. Beliau menerbitkan empat kaset rekaman untuk mengobarkan semangat jihad dan i’dad. Di antaranya adalah sebuah kaset rekaman yang memuat materi fikih dengan suara beliau.

Kemudian terjadi peristiwa besar dalam sejarah Afghanistan yaitu dibunuhnya komandan yang keji Ahmad Syah Mas’ud. Ketika itu kegembiraan Syaikh Yusuf tidak terbayang. Aku ingat ketika itu aku lewat di depannya lalu aku bertanya kepadanya ada informasi apa?

Beliau menjawab bahwa Syaikh Usamah mengatakan kepada para ikhwah: Siapakah yang dapat menyelesaikan Ahmad Syah Mas’ud untukku, karena dia telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya. Maka beberapa ikhwah berangkat atas kesadaran mereka sendiri untuk membunuhnya dengan hanya mengharap pahala dari Alloh yang Mahamulia. Maka datanglah informasi yang menggembirakan sebagaimana yang telah kalian dengar ..

Setelah itu terjadilah serangan yang penuh berkah di Amerika, sarang kekafiran. Maka rasa-rasanya Syaikh Yusuf mau terbang lantaran senangnya. Ketika itu aku menghubungi Syaikh Yusuf, beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau sedang ada pertemuan dengan para ulama’ Qoshim. Di sana ada beberapa ulama’ yang mengkritisi serangan yang terjadi di Amerika itu!!

Beliau juga menceritakan kepadaku mengenai beberapa diskusi dan pertemuan dengan para ulama’ tersebut yang akhirnya dapat menimbulkan dampak yang baik pada mereka dalam mendukung jihad dan mujahidin.

Setelah itu Syaikh mulai menulis bukunya yang bagus yang berjudul Haqiqotul Harbish Sholibiyah, dalam buku itu beliau mengemukakan dalil-dalil amaliyah istisyhadiyah dan membantah berbagai syubhat yang muncul seputar persoalan ini. Di dalam buku itu beliau juga menghasung umat agar bangkit dari kelalaian yang tengah kita alami. Ini merupakan buku bagus dalam persoalan ini, yang ditulis oleh Syaikh Yusuf selama sembilan atau sepuluh hari!!

Sampai-sampai tatkala buku itu sampai kepada Syaikh Usamah, beliau mengatakan kepada para ikhwah: Sepertinya buku ini telah ditulis sebelum terjadi serangan. Karena tidak mungkin buku ini ditulis secapat itu!!

Padahal aku berani bersumpah demi Alloh bahwa Syaikh Yusuf tidak menulis buku itu kecuali setelah peristiwa serang tersebut, akan tetapi beliau memang berkonsentrasi penuh sampai akhirnya beliau menyelesaikan kajian fikih, hadits dan ushul fikih ini yang tidak ada seorangpun dapat membantahnya.

Demikianlah, Syaikh Yusuf itu banyak jasanya dalam memperbanyak barisan ulama’ yang mendukung serangan 11 september karena alasan-alasan ilmiyah yang beliau ungkapkan dalam buku tersebut, dengan menggunakan ungkapan yang sederhana namun serius dan sarat dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.

Dan ketika beliau selesai menulis buku tersebut, beliau langsung melakukan koreksi akhir terhadap bukunya yang berjudul Al Mizan Li Harokati Tholiban. Kemudian selesai dan beliau sebarkan.

Demikianlah tulisan-tulisannya terus bergulir ibarat air yang mengucur, yang memancarkan cahaya Al Qur’an dan Sunnah, di antaranya adalah:

1- Daurun Nisa’ Fi Jihadil A’da’ yang diterbitkan secara ilegal dengan menggunakan nama ‘Abdulloh Az Zaid.

2- Tsawabit ‘Ala Thoriqil Jihad, dalam buku ini beliau menulis prinsip-prinsip jihad yang ditulis dalam beberapa seri yang terpisah-pisah.

Juga tulisan-tulisan lainnya yang disebarkan di Markaz Ad Dirosat dan di forum-forum umum di internet.

Di antara hal yang sangat menyedihkan Syaikh Yusuf adalah para ulama’ yang acuh dengan jihad, sampai-sampai pada suatu saat aku ingat ketika aku berbincang-bincang dengan beliau mengenai sikap acuh para ulama’ terhadap jihad, beliau berbicara dengan kata-kata yang sangat berkesan kemudian beliau menangis!!.

Oleh karena itulah beliau menulis berbagai buku dan bantahan di mana tujuan pokok Syaikh Yusuf adalah membela kehormatan saudara-saudara kita mujahidin yang berada di daerah-daerah perbatasan (tsughur).

Beliau juga berperan aktif dalam menulis serial perang salib terhadap Irak yang diangkat di situs Ad Dirosat, di sana beliau memiliki peran yang sangat besar bahkan tulisan-tulisan beliau di sana hampir mencapai 80%.

Beliau dikaruniai Alloh dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya dalam membuat tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik, semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang seluas-luasnya.

Memang Syaikh Yusuf sendiri telah dikenal di kalangan banyak ulama’ memiliki sifat-sifat tersebut, di mana mereka mengakui bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang memiliki kelebihan dan keunggulan dalam hal itu.

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat ulet dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kasus. Seringkali beliau diuji dengan kawan dan orang yang ia cintai di medan jihad yang mati syahid, terluka dan tertawan. Akan tetapi meskipun demikian beliau tetap ridlo dengan ketetapan dan taqdir Alloh, serta pasrah kepada apa yang telah ditetapkan oleh Robbnya terhadap dirinya.

Syaikh Yusuf adalah orang yang berhati lembut, berperasaan sensitif dan cepat mengalirkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Alloh. Sungguh aku tidak akan lupa ketika beliau menceritakan Abu Hajir Al ‘Iroqi yang ditahan di penjara Amerika mengenai profil dan pengorbanannya, kemudian beliau menangis terisak-isak!!.

Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, khususnya apabila mengingatkan mengenai Alloh, akherat, jihad dan mati syahid di jalan Alloh.

Beliau juga menegaskan akan hubungan jihad dan perasaannya dengan aqidah yang benar dan dengan ilmu syar’i. Beliau mengatakan bahwa kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat laa ilaaha illalloh Muhammad rosululloh. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini. Beliau selalu mengingatkanku dengan perkataan Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh mengenai hal ini: Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad. Maksudnya adalah sejumlah orang pergi ke medan jihad hanya karena terdorong emosi saja terhadap sebuah gambaran yang ia lihat berupa penyiksaan orang Islam atau pemerkosaan wanita muslimah. Emosi semacam ini memang baik akan tetapi yang lebih baik adalah hendaknya seorang mujahid itu berangkat berjihad berdasarkan sebuah keyakinan yang mendalam terhadap wajibnya menempuh jalan jihad ini dan sejauh mana hubungannya dengan aqidah tauhid, serta menghidupkan tekad untuk menyerbarkannya di tengah-tengah manusia, dan menegakkan daulah yang melaksanakan dan merealisasikan jihad.

Seluruh kenikmatan dunia ini telah terpampang di hadapan Syaikh Yusuf. Akan tetapi ia talak tiga semua itu, beliau lebih memilih untuk hidup sebagai orang yang mulia sampai ia meraih apa yang ia inginkan. Ayahnya seorang saudagar yang Alloh berikan kesuksesan. Akan tetapi Yusuf tidak memiliki perhatian terhadap dunia. Yusuf sendiri mendapatkan dukungan dan ridlo dari ayahnya terhadap kehidupan jihad yang ia pilih itu. Terlebih lagi ibunya. Ia sering kali memberikan dukungan dan pengukuhan, bahkan senantiasa memberi nasehat kepada Syaikh Yusuf agar tidak menyerahkan diri .. Sungguh demi Alloh, ia adalah seorang ibu yang mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati ..

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat tawadlu’, sampai-sampai ia tidak menghargai dirinya sendiri. Dan jika engkau bersanding dengan beliau, pasti beliau meyakini bahwa engkau adalah orang yang lebih mengerti dan lebih paham daripada dirinya. Ia tidak suka untuk mendahului dalam berbicara khususnya terhadap orang yang berilmu atau seorang penuntut ilmu. Ketawadlu’annya ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya akan tetapi ini merupakan watak bawaannya yang Alloh anugerahkan kepada beliau.

Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiyah dalam semua persoalan. Jika ia berbicara mengenai ilmu syar’i tentu engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila ia berbicara mengenai persoalan politik pasti engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu beliau juga memiliki perhatian menganai ilmu computer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer sebagaimana seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai tophographi, teghnologi dan elektronik.

Alloh berikan anugerah kepadanya untuk diterima di hadapan manusia. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya kecuali pasti orang tersebut akan mencintai Syaikh Yusuf. Aku belum pernah menemukan seorangpun yang mencela beliau dari sisi akhlaq atau karakter, akan tetapi justeru beliau diterima di hadapan manusia karena beliau memiliki akhlaq yang baik dan perilaku yang bersih, demikianlah beliau dalam pandangan kami dan hanya Alloh sajalah yang tahu. Nahsabuhu kadzalik wa la nuzakki ‘alallohi ahada.

Beliau rohimahulloh senantiasa mengajak para pemuda dan mujahidin agar meninggalkan kemewahan dan kenikmatan, dan beliau mengajak mereka untuk hidup secara sederhana agar jiwa itu terbiasa untuk sabar dan memikul kesusahan di bumi jihad. Pernah selama berhari-hari beliau tidak makan kecuali sedikit padahal beliau adalah orang yang berkecukupan, akan tetapi beliau ingin membiasakan diri untuk hidup susah.

Beliau adalah orang yang dermawan, tidak merasa berat untuk memberi dan berkorban kepada saudara-saudaranya. Namun demikian beliau adalah orang yang kuat memegang amanah dan sungguh-sungguh dalam menjaga harta mujahidin yang ada di tangannya sehingga ia berikan harta itu kepada orang yang berhak atas harta tersebut.

Beliau masuk DPO Saudi atas permintaan Amerika. Mereka meminta agar beliau menyerahkan diri selama satu tahun lebih, namun beliau menolak untuk menyerahkan diri atau menghinakan diri dalam persoalan agama. Al Hamdulillah, beliau melakukan hal itu dan selama itu beliau dapat melakukan banyak jasa besar untuk Islam dan umat Islam, di mana jasa-jasa itu sewajarnya tidak dapat dilakukan kecuali dalam tempo lima tahun!!..

Aku sampaikan itu semua bukan untuk melebih-lebihkan, demi Alloh bukan. Akan tetapi ini adalah sebagai informasi mengenai apa yang aku lihat, bahkan ini hanya sebagian dari apa yang kulihat .. Pernah selama berjam-jam beliau tidak istirahat atau tidur. Bahkan terkadang selama beberapa hari beliau tidak tidur .. di dalam jadwal hariannya tidak ada waktu tidur kecuali hanya sedikit yang hanya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya.

Selama satu tahun itu beliau hidup sebagai buronan yang senantiasa waspada terhadap musuh siang dan malam. Senjatanya tidak pernah berpisah dengannya. Dia selalu siap siaga dan hati-hati.

Beliau pernah mengatakan kepadaku: Akhi, kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rosul SAW, di mana mereka hidup di Madinah dalam keadaan takut dan was-was sampai mereka dapat mengusir orang-orang Yahudi dari sana. Lalu beliau menyampaikan kepadaku perkataan seorang sahabat:

وما بنا يا رسول الله إلا الخوف وسيف أحدنا على عاتقه..


Wahai Rosululloh, tidak ada yang ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.

Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridlwanullohu ‘alaihim.

Syaikh Yusuf jarang sekali melihat keluarganya — bapak-ibunya —. Sampai pada masa-masa terakhir ketika perburuan semakin ketat hubungan mereka terputus sama sekali. Bahkan hubungan beliau dengan ketiga puterinya juga terputus. Puterinya yang paling besar namanya adalah Maryam. Pada hari-hari terakhir beliau menulis sebuah syair yang sangat berkesan untuk mereka, yang dicantumkan dalam surat beliau sebelum beliau mati syahid dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih mati di jalan Alloh daripada ditawan oleh Thoghut Saudi, semoga Alloh menyegerakan siksaannya terhadap para thoghut itu. Dalam hal ini beliau meneladani seorang sahabat mulia ketika tertangkap musuh: Adapun aku, pada hari ini aku tidak akan mau tunduk dalam penguasaan orang kafir. Dengan begitu seolah-olah beliau mengatakan:

ولست أبالي حين أقتل مسلما
على أي جنب كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله وإن يشأ
يبارك على أوصال شلو ممزع


Aku tidak peduli ketika aku terbunuh sebagai orang muslim …

Pada sisi mana aku tersungkur di jalan Alloh …

Itu semua hanya untuk Dzat Alloh, dan jika Ia kehendaki …

niscaya memberkati persendian-persendian tubuh yang terpotong-potong …

Abu Muhammad (Syaikh Yusuf) telah pergi meninggalkan kita, sementara beliau adalah orang yang tersembunyi dan tidak dikenal oleh banyak manusia. Namun semua itu tidak ia hiraukan selama Alloh mengenalnya. Dan semua jasa-jasanya yang besar untuk membela Islam dan membantu mujahidin kelak akan menjadi saksi bahwa beliau adalah termasuk orang pilihan dari umat Islam hari ini.

Dengan demikian berakhirlah kehidupan seorang pemuda dan seorang Syaikh dari kalangan pemuda Islam, yang terkumpul padanya berbagai keutamaan, seperti ilmu, dakwah, jihad, dan ibadah yang terbaik insya Alloh. Beliau telah meraih apa yang dirindukan oleh setiap pemuda yang mengenal jalan petunjuk, maka selamat berbahagia wahai Abu Muhammad ..

Sungguh kami menangisimu melebihi tangisan kami kepada banyak orang-orang yang kami cintai ..

Kami menangisimu dan kami berharap apa yang di sisi Alloh lebih baik untukmu ..

Namun dahulu kami mengharapkan dirimu hidup menyertai umat Islam yang malang ini, yang tidak mendapatkan orang membelanya dan menegakkan syariat Alloh pada mereka kecuali sedikit orang …

Sungguh kami takkan melupakanmu wahai Abu Muhammad ..

Demi Alloh, orang yang pernah hidup bersamamu pasti akan sulit untuk mengabaikan pengaruhmu pada kehidupannya.

Kami melihat dirimu telah berbuat sesuatu untuk membela jihad, yang tidak dapat dilakukan oleh berbagai organisasi dan orang-orang yang bekerja secara konsentrasi.

Sungguh engkau adalah teladan yang langka, semua waktumu engkau berikan untuk jihad dan mujahidin.

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..

Add comment 29 June 2008

Previous Posts


Risalah